DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Bertemu


__ADS_3

Yafet dan Hazal sudah memasuki lobby Hotel Hilton. Yafet segera menghubungi David dengan ponselnya.


"Aku sudah di lobby. Kau dimana?"


"Naiklah ke lantai 15. Aku ada di rooftop Bar NYC," tutur David di balik ponselnya.


Pembicaraan di ponsel pun berhenti, segera Yafet mengajak Hazal menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 15. Lampu lift menyala dan pintu lift terbuka secara otomatis begitu mereka berada di lantai 15. Dua pasang kaki itu melangkah keluar, berjalan di atas lantai granit dengan corak warna abu-abu dan hitam.


Mereka berjalan menuju ke rooftop Bar NYC yang berada tidak jauh dari pintu lift. Sebuah bar yang berkonsep outdoor yang di bangun di atas gedung Hotel Hilton. Dengan dinding kaca setinggi pinggang orang dewasa, membuat setiap pengunjung di sana merasakan keindahan langit New York yang di kelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan melihat ke bawah pemandangan lalu lintas perkotaan kota New York yang cukup padat.


David melambaikan tangan ke arah sepasang kekasih itu. Hazal yang melihat lambaian tangan David, segera mengajak Yafet menuju ke main terrace.


Tampak di sana sudah berkumpul David, Jason dan Lee yang duduk di satu sofa besar berwarna abu-abu. Dan ada satu orang pria asing yang membelakangi mereka berdua, lelaki itu duduk sendirian di atas sofa single berwarna hitam. Yafet dan Hazal memilih untuk duduk menghadap ketiga teman nya.


"Maaf kami sedikit terlambat." ucap Yafet setelah melihat seluruh teman nya sudah datang kemudian pandangan nya tertuju pada seorang pria asing yang sedang duduk di samping tempat duduk nya.


"Smith Lloyd" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangan nya dan di sambut oleh Yafet dan Hazal. Pria berkebangsaan Amerika Serikat ini adalah saudara sepupu David. Smith adalah anak dari saudara Ayah David. Smith bekerja di FBI sejak lima tahun yang lalu. Pria berambut coklat itu berumur 30 tahun lebih. Lebih tua dari mereka semua.


"Kau yang bernama Hazal?" tanya Smith memandang ke arah Hazal dan mulai membuka pembicaraannya.


"Hazal Danner adalah nama asliku." ucap Hazal memperkenalkan dirinya kepada Smith.


"Hazal, aku dengar dari David, kau sedang mencari pembunuh orang tuamu, bisa kau ceritakan kejadian tentang pembunuhan itu?"


Hazal mencoba menenangkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya di atas sofa, mencoba mengingat kejadian dua belas tahun yang lalu. Ia menutup kelopak matanya... perlahan-lahan dia menceritakan kepada mereka yang ada di sana. Smith mulai menjalankan tugasnya, pria itu mengambil sebuah buku catatan kecil dari dalam saku jas hitam nya, dan menulis setiap detil penjelasan Hazal.


"Kau tak apa? Jangan paksakan dirimu," ucap Yafet yang melihat Hazal memegangi kepalanya yang mulai sakit. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dan berusaha menahan rasa pening tersebut.


"Ada apa dengan nya?" tanya Smith yang terheran melihat reaksi Hazal.


"Dia mengalami trauma otak karena kejadian itu, dokter di rumah sakit Swiss telah menyembuhkannya. Hanya saja...setelah dewasa, dia ingin mencari pembunuh orang tuanya. Setiap dia memaksakan dirinya untuk mengingat kejadian itu, dia mengalami sakit kepala," jelas Yafet kepada Smith dan teman-teman nya.


Wajah Hazal semakin terlihat pucat, dan sakit kepala nya semakin terasa berat. Smith segera menyudahi keterangan dari Hazal.


"Sepertinya kau kurang sehat, Hazal."


"Aku baik-baik saja, Tuan Smith. Bisakah kita melanjutkannya?"


"Aku sudah mendapat gambaran dari ceritamu tadi, tetapi aku ada satu pertanyaan untuk mu?"


"Katakan pertanyaan mu, Tuan Smith."


"Kau mendengar pembunuh itu berbicara kepada mendiang ibumu?"


"Ya...bahkan aku masih mengenali jenis suaranya. Pembunuh itu mengatakan...." Tiba-tiba ucapan Hazal terhenti. Dia mencoba mengingat nya, gadis itu mengerang kesakitan memegang kepalanya, keempat pemuda itu panik melihat Hazal yang kesakitan. Gadis itu memberi isyarat, bahwa ia masih bisa bertahan. Kemudian Hazal melanjutkan perkataannya...


"Pembunuh itu mengatakan... Tenang saja, aku akan mengurangi penderitaanmu....sebentar lagi aku akan mengirim kalian berdua ke neraka." ucap Hazal dalam bahasa Inggris.


"Apakah pembunuh itu berbicara dalam bahasa Turki?" tanya Smith menyelidik, karena berdasarkan instingnya Hazal waktu itu masih berusia lima tahun, dan orang tuanya meninggal di Swiss. Jika perkataan pembunuh itu masih terngiang-ngiang di telinganya, sangat tidak mungkin jika pembunuh itu menggunakan bahasa asing.


"Ya...dia berbicara dalam bahasa Turki." ucap Hazal sambil membuka matanya.

__ADS_1


"BINGO....!!!" seru Smith Lloyd dengan kedua biji matanya yang bersinar.


Keempat pria yang sedari tadi hanya berdiam dan mendengar pembicaraan Hazal dan Smith, mengernyitkan dahi mereka bersamaan.


"Maksud mu? Bingo.....Binggo....atau apalah....aku tidak mengerti?" tanya David.


Smith memajukan sofa tempat duduknya, pria itu kelihatan nya cukup cerdas dalam hal penyelidikan.


"Sepertinya aku sangat tertarik dengan kasus mu ini, Hazal." ucap Smith yang meletakkan buku catatan kecil nya ke atas meja kaca berbentuk persegi panjang itu.


Mereka berlima mendengarkan penjelasan Smith dengan serius.


"Dengan mengetahui bahasa pembunuh itu, setidaknya itu bisa mengurangi kerja ku. Bisa di pastikan bahwa pembunuh itu adalah orang Turki, sama seperti dirimu."


"Aku akan ke kantor FBI sekarang, dan mencari berkas-berkas tentang identitasnya."


"Apa kau bisa menemukan orang itu? Maaf bukan aku meremehkan mu, Tuan Smith. Selama dua belas tahun pengacara Ayah angkat ku tidak berhasil menemukan nya, dan pihak Kepolisian di Swiss sudah menyerah dan tidak mau menangani kasus ini," ucap Hazal dengan hati-hati.


"Jangan panggil aku Smith Lloyd, jika aku tidak bisa membongkar kasus ini." seru Smith penuh percaya diri.


"Ini nomer ponsel ku," ucap Smith yang memberikan kartu nama nya kepada Hazal. Kemudian agen FBI itu segera keluar meninggalkan Hotel Hilton.


*******


Setelah pertemuannya dengan Smith Lloyd di Hotel Hilton, Yafet mengajak Hazal untuk makan malam di sebuah restoran Italia. Seorang pelayan meletakkan dua porsi pasta, seporsi roti pizza dengan ukuran besar dan seporsi salad buah.


Yafet yang sudah sangat kelaparan segera memakan pasta miliknya dan mengambil beberapa potong pizza di depan nya. Tidak perlu menunggu waktu lama, Yafet sudah menghabiskan pasta bolognese miliknya.


Pria berdarah Timur Tengah itu memandang wajah kekasih nya yang hanya diam saja menatap makanannya.


Hazal hanya menggelengkan kepalanya.


"Apakah kau sakit?" tanya Yafet yang segera beralih ke tempat duduk Hazal dan memegang tangan dan kening gadis itu.


"Aku sehat-sehat saja." jawab Hazal lirih.


"Oh...aku tau, mau aku suapin?"


Hazal hanya menggelengkan kepalanya tanda penolakan.


"Lalu kau kenapa?"


Hazal menyandarkan tubuhnya di sofa panjang berwarna merah. Dia memegang lengan Yafet, "Aku teringat Selina."


"Cukup Hazal !! Aku tidak ingin mendengar nama nya saat aku bersama dengan mu." pekik Yafet yang ingin berdiri dari tempat duduk Hazal. Tetapi tangan Hazal menahan Yafet.


"Aku...hanya..." ucap Hazal yang tidak meneruskan perkataannya.


"Hanya apa?" tanya Yafet dengan sengit dan menatap wajah kekasih nya itu dengan tajam.


"Bagaimana kalau ternyata... Selina hamil dan mengandung anak mu? Kau lihat kan, bagaimana dia selalu aktif mengejar mu, meskipun kalian sudah berpisah."

__ADS_1


"Hazal..... dengarkan aku !! Itu tidak akan terjadi !!" teriak Yafet dengan amarahnya.


"Kalian berdua sudah melakukan nya, bisa saja itu terjadi, Yafet !"


Yafet mengusap wajahnya dengan cepat, pandangannya menatap ke langit-langit restoran Italia yang berwarna hitam. Pria berambut hitam ini menghela nafasnya, kemudian pandangannya beralih ke gadis dengan iris mata coklat yang duduk di sampingnya.


"Aku dan Selina sudah putus beberapa bulan yang lalu sebelum aku pulang ke Turki untuk menghadiri pesta ulang tahunmu. Sudah sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu. Kau lihat dirinya, apakah dia terlihat sedang hamil tujuh bulan, delapan bulan atau sembilan bulan? Sekalipun dia hamil saat ini, anak itu bukanlah anak ku."


"Yafet...!!"


"Itu benar Hazal, apakah kau tak mempercayai perkataan ku?"


Hazal hanya bisa memandang mata elang itu dengan nanar. Penjelasan Yafet memang ada benarnya, tubuh Selina masih seksi dan perutnya rata, tidak seperti orang hamil. Ini adalah ke khawatiran nya yang berlebihan.


"Apakah kau takut, aku akan kembali pada nya?" goda Yafet sambil memeluk pundak Hazal.


"Mungkin....." ucap Hazal dengan senyum manis nya.


Yafet segera menarik tubuh Hazal ke dalam dekapannya, mencium kening dan pipi Hazal serta mencubit hidung mancung gadisnya itu, "Itu tidak akan pernah terjadi. Tapi aku senang melihat mu khawatir kehilangan aku."


Hazal hanya bisa tersenyum di depan dada bidang Yafet. Ia yakin sekarang, bahwa hubungannya dengan Yafet akan berjalan lancar. Menurut perkiraan nya. (Hanya Author yang tahu hari depannya heheheheh)


"Buka mulutmu," seru Yafet yang mengambil sebuah garpu dan menggulung beberapa helai pasta milik Hazal. Segera gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar dan memakan habis pasta yang Yafet berikan.


"Hmmm.....ini lezat."


"Kau mau lagi?"


"Berikan garpu itu padaku, aku akan memakannya sendiri."


Yafet memperhatikan Hazal yang sedang menikmati makanannya. Sekali-kali ia menaruh rambut Hazal ke belakang telinganya.


Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang memperhatikan sikap mereka. Seorang gadis berambut hitam dengan pakaian seksinya dan seorang gadis dengan tubuh curvy berambut blonde. Dia adalah Selina dan sahabatnya, Jasmine. Mereka juga berada di restoran yang sama dengan Yafet dan Hazal. Jarak meja mereka dengan tempat duduk Hazal sekitar dua meter, terpisah satu meja. Mereka duduk membelakangi tempat duduk Hazal. Mereka mendengar setiap percakapan sepasang kekasih itu tetapi tidak mengerti arti pembicara mereka, karena jika Yafet dan Hazal sedang berdua mereka lebih suka memakai bahasa Turki. Selina hampir ingin mendekati meja Yafet dan hendak melabrak gadis baru mantan kekasihnya itu, tapi Jasmine menghalanginya.


"Kenapa kau mencegah ku?" sengit Selina.


"Pelankan suaramu... Aku tau kau marah melihat Yafet bersama gadis itu, tapi jangan permalukan dirimu di muka umum seperti di kampus tadi." ujar Jasmine.


"Lalu aku harus bagaimana, melihat Yafet bersenang-senang dengan gadis barunya?" tanya Selina dengan pandangan nya yang tidak lepas melihat kemesraan mantan kekasihnya itu.


"Apakah kau masih mencintainya?" tanya Jasmine dengan memainkan gelas nya yang berisi minuman dingin.


"Cinta kau bilang !?!? Aku tidak peduli dengan perasaan itu !! Yafet telah membuang ku seperti kotoran, dan mempermalukan ku !! Aku bersumpah Jasmine !! Aku akan menghancurkan hidupnya."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku belum memikirkannya, tapi jika hari pembalasan ku tiba, aku akan mengundang mu ke pesta ku."


"Aku tidak sabar menunggu hari itu Selina."


Kedua wanita cantik itu bersulang dengan wajah culas mereka, memandang Yafet dari belakang.

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like dan komen kalian ya....tekan tombol hati juga buat diri ku 🤗 dan terimakasih sudah meluangkan waktu kalian utnuk membaca tulisan novel ku ini 🤗🙏


__ADS_2