
Mobil polisi yang membawa Emir Aksal ke kantor polisi segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Aksal. Begitu juga dengan pria misterius yang sejak tadi memperhatikan rumah keluarga Aksal, dan menyaksikan penangkapan Emir Aksal.
Para wartawan yang sejak dari tadi menunggu di depan pintu gerbang, mulai segera masuk ketika pintu itu terbuka. Mereka hendak mewawancarai Hazal, selaku putri keluarga Aksal. Tetapi dengan sigap, petugas keamanan dan penjaga pintu berhasil menghalau para pembuat berita itu.
Hazal segera lari masuk ke dalam rumah, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Yafet. Tapi pria itu tidak mengangkat ponselnya, karena Yafet mengubah mode ponselnya menjadi senyap. Demi menghindari Selina.
Hazal berjalan mondar-mandir di ruang keluarganya, sementara ibu angkatnya menangis di sofa ditemani Nuran dan Carina. Kedua wanita itu berusaha menghibur Meral.
Sudah hampir tiga puluh menit, Hazal menunggu dan menghubungi Yafet. Tapi laki-laki itu tidak muncul dan tidak memberinya kabar. Kesabaran Hazal sudah habis, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Ibu, aku akan ke kantor polisi sekarang. Ibu, kumohon jangan menangis. Aku janji, aku akan segera membebaskan ayah," ucap Hazal sambil memegang tangan Meral.
"Nuran, aku titip ibuku. Aku turut berdukacita atas meninggalnya suamimu," ujar Hazal yang hanya melihat wajah datar Nuran. Wanita itu hanya menganggukkam kepalanya. Entah apakah pelayan wanita itu merasa kehilangan atau dia memang sudah lama menganggap suaminya itu tidak ada.
"Carina, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu ke hotel," ajak Hazal. Kedua wanita muda itu kemudian berpamitan pada Meral.
Keluar dari ruang keluarga, Hazal melihat Selina yang sibuk menyantap sarapan paginya dengan nikmat. "Apa kau tidak mengajak kakak iparmu?" tanya Carina.
"Biarkan saja dia, sepertinya dia tidak peduli dengan keluarga ini. Dia bahkan tidak tahu suaminya sekarang berada di mana!" tandas Hazal yang segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil, Hazal meminta bantuan Carina untuk menghubungi keempat pria itu. Tapi tak satupun dari mereka yang mengangkat ponsel mereka.
Mobil Hazal pun berhenti di depan lobi hotel AKSAL. "Carina, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke kamar. Aku harus segera membebaskan ayahku," ucap Hazal yang masih duduk di depan setir kemudinya.
"Tak apa, Hazal. Semoga ayahmu segera di bebaskan," ujar Carina yang segera masuk ke dalam hotel. Hazal segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor polisi.
Carina segera masuk ke dalam kamar hotelnya, betapa terkejutnya wanita itu. Pemandangan botol-botol minuman berserakan di atas meja dan di lantai, bau alkohol menyeruak di dalam ruang kamarnya. Empat pasang sepatu tergeletak begitu saja di lantai.
Ia kemudian membuka pintu ruang tidurnya. Matanya terbelalak melihat empat pria itu sedang tertidur dengan posisi yang saling tumpang tindih. Bunyi dengkuran saling bersahutan membentuk sebuah irama. Ia mencari suaminya di antara mereka.
"Lee..., bangun...Lee," panggil Carina sambil menepuk-nepuk pipi suaminya.
Lee yang setengah sadar itu mengerjap-ngerjap kan kedua matanya yang kecil. Dilihatnya wajah Carina yang berada tepat di depan matanya. Pria Jepang itu mengucek kedua matanya dan mengusap wajahnya. Ia pun terduduk di atas tempat tidur.
"Sayang... pukul berapa ini? Aku masih ngantuk...," ucap Lee yang ingin merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Tetapi dengan cepat, Carina menarik tangan Lee.
Tapi suaminya itu seperti tidak punya tenaga, Carina segera mencium bibir suaminya untuk membangunkan pria itu. Wanita itu ******* dan menggigit bibir suaminya. Rasa minuman alkohol itu masih menempel di bibir Lee.
Suami Carina itu terkejut merasakan sentuhan Carina yang tiba-tiba. Carina segera melepaskan ciumannya. "Akhirnya kau bangun juga," kata Carina sambil tersenyum.
"Bukan hanya aku saja yang bangun, tapi kau membangunkan milikku," bisik Lee di telinga Carina dan memeluk tubuh istrinya itu.
Carina segera menahan tubuh Lee yang hendak menciumnya kembali, "Sayang...sayang, sekarang waktunya tidak tepat. Kita lakukan saja di rumah kita. Oke! Aku sekarang perlu bantuan mu."
"Bantuan apa?"
"Bantu aku untuk membangunkan Yafet, ayah nya saat ini berada di penjara. Tadi pagi polisi menangkap ayahnya," jelas Carina sambil menarik tangan suaminya dan mereka berjalan mendekati Yafet.
"Di penjara? Kenapa?" Mata Lee membulat kecil.
"Kasus pembunuhan," jawab Carina singkat.
__ADS_1
"Apa?" teriak Lee.
"Ayo sayang, bantu aku untuk membangunkan Yafet. Kita tidak punya banyak waktu. Hazal sedang menunggunya di kantor polisi."
Berkali-kali Lee menepuk-nepuk pipi Yafet, Carina menggoyang-goyang tubuh pria itu. Tetapi pria Turki itu tetap tidak membuka matanya.
"Jangan kau pakai caramu yang tadi untuk membangunkan aku!" seru Lee yang melihat Carina mendekati wajah Yafet.
"Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya melakukan itu denganmu. Aku mau menempelkan air dingin ini ke wajahnya," jawab Carina yang menunjukkan sebuah botol minuman dingin yang ada di tangannya.
"Itu tidak akan berhasil. Berikan padaku!" seru Lee yang mengambil botol minuman itu dari tangan Carina. Pria Jepang itu membuka botol plastik tersebut dan menuangkan semua isinya ke wajah Yafet. Carina hanya bisa menutup mulutnya melihat kelakuan suaminya.
Air dingin itu membasahi wajah dan bantal Yafet. Pria itu pun langsung terduduk dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya yang basah. Raut mukanya menahan marah, karena tidurnya terganggu.
"Brengsek kau, Lee!" teriak Yafet yang langsung melempar bantalnya yang basah ke tubuh Lee. Ia menuduh suami Carina itu yang telah membangunkannya.
"Tahan emosimu... Ada hal yang...." Carina langsung memotong perkataan Lee. Wanita itu segera menghampiri Yafet.
"Cepat kau bersihkan dirimu dan segeralah ke kantor polisi! Hazal menunggumu!" seru Carina.
"Ada apa dengan Hazal?" tanya Yafet yang terkejut mendengar perkataan Carina.
"Aku tidak bisa menjelaskannya," jawab Carina yang segera menarik tangan Yafet dan di bantu Lee. Sepasang suami istri itu segera membawa Yafet ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Lakukan dengan cepat!" teriak Lee bagaikan seorang ibu tiri kepada anak tirinya. Pria Jepang dan istrinya itu tertawa terbahak-bahak.
Di Kantor Polisi...
"Ayahku tidak bersalah!" seru Hazal di hadapan Kapten Ismail.
"Pihak polisi punya bukti keterlibatan Tuan Emir," jawab sang Kapten yang segera memberikan beberapa lembar foto kepada Hazal.
Hazal melihat foto-foto itu. Foto mayat Ted Baxter. Ia hanya bisa melihat foto itu dengan wajah dingin. Tampak di salah satu foto, telapak tangan Ted Baxter yang tergores. Goresan itu membentuk nama Emir Aksal.
Ini pasti tidak mungkin. Kemarin Ted menghubungiku, dia akan memberitahuku siapa yang telah menyuruhnya. Apa maksudnya ini? Apa dia ingin aku tahu, bahwa ayah Emir adalah dalang dari semua ini?
Hazal meletakkan foto-foto itu. "Itu tidak mungkin," gumamnya pelan.
"Apa kau tahu sesuatu?" tanya Kapten Ismail kepada Hazal. Kapten polisi itu seperti mendengar suatu perkataan yang di katakan oleh Hazal.
Hazal menceritakan pembicaraannya dengan Ted Baxter kepada Kapten Ismail, sebelum pria gundul itu terbunuh. "Kurasa ini hanya sebuah kebetulan atau ada seseorang yang sedang memfitnah ayahku, Kapten."
"Siapa?" tanya Kapten Ismail yang duduk di kursi kerjanya.
"Aku tidak tahu, tapi... goresan di telapak tangan Ted bukan Ted yang melakukannya. Jika dia ingin bertemu denganku, pasti dia akan langsung mengatakan siapa orang yang telah menyuruhnya, dia tidak perlu melukai tangannya sendiri," jelas Hazal yang mengemukakan pendapatnya.
"Pasti orang yang membunuh Ted Baxter itu yang melakukannya, jika seseorang mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Ted Baxter, sangat tidak mungkin pembunuh bayaran itu memberikan informasi siapa orang yang menyuruhnya, jika dia tidak tertangkap!" seru Hazal yang duduk menghadap Kapten Ismail.
Hazal memajukan tubuhnya, dan menatap tajam Kapten Ismail, "Kapten, kurasa kau salah jalan jika kau menangkap ayahku! Pembunuh Ted sebenarnya masih berada di dalam penjara, dia bukan orang luar. Entah Ted Baxter di bunuh karena pria gundul itu punya masalah dengan sesama tahanan atau dia dibunuh karena seseorang tidak menginginkan kehadirannya di ruang sidang!"
Jaksa muda ini benar-benar cerdas dan mematikan. Alibinya tentang Ted Baxter mungkin saja benar. Tapi polisi bekerja berdasarkan bukti, semua bukti mengarah pada Emir Aksal...
__ADS_1
"Foto ini tidak bisa di jadikan bukti, bahwa ayahku adalah pembunuh Ted Baxter!" pekik Hazal yang melempar seluruh foto itu ke atas meja kerja.
"Kapten Ismail yang terhormat, kenapa polisi tidak mencari senjata yang di gunakan untuk membunuh Ted Baxter dan menginterogasi semua tahanan yang ada di sini?" tanya Hazal dengan penekanan suaranya.
"Tapi anda...! Malah langsung berasumsi bahwa ayahku lah pelaku pembunuhan Ted Baxter!" gertak Hazal yang menggebrak meja dan menuding Kapten Ismail.
Kapten Polisi itu hanya mengatupkan bibirnya, apa yang dikatakan Hazal memang benar. Ia langsung membuat surat perintah penangkapan Emir Aksal. Tanpa penyelidikan lebih dalam.
"Pihak polisi masih menyelidiki kasus ini," kata Kapten Ismail.
"Jika polisi masih menyelidiki kasus ini, bebaskan ayahku sekarang, Kapten!" seru Hazal.
"Itu tidak bisa, jaksa Hazal. Kau tidak bisa menggunakan otoritasmu sebagai Jaksa untuk menekan ku!" seru Kapten Ismail yang tidak mau kalah.
"Aku di sini bukan sebagai Jaksa, Kapten! Tapi aku di sini sebagai seorang anak yang ingin membebaskan ayahnya dari tuduhan yang tidak pernah ayahnya perbuat!" balas Hazal yang tak kalah sengitnya.
Tok... tok.... tok....!
Suara ketukan pintu menyudahi perdebatan mereka. Seorang petugas polisi membawa sekantung plastik yang berisi pisau lipat dengan noda berwarna merah.
"Lapor Kapten...! Ini senjata tajam yang di gunakan untuk menusuk Ted Baxter. Barang bukti ini kami temukan di tempat sampah," ucap petugas polisi itu memberi laporannya dan menyerahkan kantung plastik berisi pisau lipat itu kepada Kapten Ismail.
Di luar kantong plastik itu sudah ada keterangan bahwa darah yang menempel di pisau lipat itu adalah darah Ted Baxter.
"Bagaimana dengan sidik jari yang ada di pisau ini?" tanya Kapten Ismail kepada anak buahnya.
"Kami telah menemukan pemilik sidik jari yang ada di pisau lipat ini. Dia adalah salah satu tahanan yang ada di sini. Kami mengurungnya di ruang isolasi," jawab anggota polisi itu.
"Bawa orang itu ke ruang interogasi, kita harus segera menyelesaikan kasus ini!" seru Kapten Ismail yang segera berjalan menuju ke ruang interogasi meninggalkan Hazal.
Ketika Kapten Ismail sedang berada di ruang interogasi, Yafet tiba di kantor polisi. Pria itu segera mencari Hazal dan menemukan wanita itu berada di ruang sang Kapten.
"Hazal, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau ada masalah atau seseorang melukaimu?" tanya Yafet tiba-tiba.
"Kemana saja kau? Aku mencari mu dan menghubungimu!" sengit Hazal yang marah melihat sikap Yafet.
"Semalam aku ke Club' malam bersama dengan yang lain dan aku tidur di hotel dengan mereka," jawab Yafet. "Kenapa kau ke kantor polisi?"
Hazal menyuruh Yafet untuk duduk sambil mendengarkan ceritanya. Ia menceritakan semua yang terjadi kepada Yafet.
"Apa ayah akan di bebaskan?" tanya Yafet.
"Aku sedang mengusahakannya," jawab Hazal.
Kedua anak Aksal ini diam dalam keheningan. Menunggu detik-detik hasil interogasi. Tak lama kemudian, pintu ruang kerja itu pun terbuka.
"Ayah...!" seru Hazal yang melihat ayah angkatnya muncul, begitu pintu itu terbuka. Hazal segera memeluk Emir dengan erat. Yafet juga menghampiri ayahnya dan memeluk ayahnya.
Kapten Ismail segera masuk ke ruang kerjanya kembali. "Aku membebaskan ayahmu, Hazal. Tuan Emir terbukti tidak bersalah. Tahanan itu telah mengakui semua perbuatannya, yang menyuruhnya adalah....."
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... terimakasih 🙏😊