DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Sketsa Seekor Burung


__ADS_3

Keesokan harinya, seluruh media Turki memberitakan kabar tertangkapnya Ted Baxter. Berita itu juga sampai di telinga Harun Fallay yang saat ini berada di ruang kerjanya di rumah. Ia benar-benar murka pagi ini, anak buahnya tidak ada yang berani membuka suaranya apalagi mendekatinya.


Pria paruh baya itu menghancurkan semua perabot besar dan kecil yang ada di ruang kerjanya, seluruh perabot yang ada tidak luput dari amarahnya. "Bawa orang itu kemari !!" perintahnya kepada salah satu anak buahnya.


Pintu ruang kerjanya terbuka, salah satu anak buahnya membawa paksa seorang laki-laki muda untuk masuk ke dalam. Laki-laki itu adalah orang kepercayaan Harun untuk mengawasi setiap gerak-gerik Ted Baxter. Laki-laki itu berdiri di belakang Harun dengan tubuh yang gemetar, ia mengetahui bahwa dirinya telah berbuat kesalahan kepada tuannya.


Harun mendekati orang kepercayaannya itu, kemudian menepuk salah satu pipi laki-laki muda itu, " Kau tahu apa salahmu?" tanya Harun dengan senyumannya yang mematikan yang terpancar dari wajahnya. Senyuman Harun itu mampu mengintimidasi laki-laki muda tersebut. Ia menggigil ketakutan di hadapan Harun.


"Ampuni aku, Tuan. Biarkan aku hidup...," mohon laki-laki itu.


"Seorang Harun Fallay hanya memberikan kesempatan satu kali, jika kau gagal, maka tidak ada gunanya lagi kau hidup," ucap Harun dengan penuh penekanan.


Dor....!! suara tembakan peluru mengenai kepala laki-laki itu, dengan kedua bola matanya yang masih terbuka, laki-laki muda itu jatuh ke lantai dan tewas seketika. Harun memerintahkan kepada anak buahnya yang lain untuk melemparkan mayat laki-laki muda tersebut ke laut dan membersihkan semua kekacauan yang ada di ruang kerjanya. Ia pun keluar dari ruang kerjanya mencari keberadaan putranya.


"Dimana Kenan?" tanya Harun kepada seorang pelayan yang ada di rumahnya.


"Tuan Kenan sudah berangkat ke kantor dari tadi, Tuan," jawab pelayannya sambil menundukkan kepalanya.


Selama ini Kenan, putra Harun Fallay itu tidak pernah mengetahui bisnis dan perbuatan kotor ayahnya. Ibunya meninggal dunia sejak ia berusia sepuluh tahun. Sejak kematian ibunya, Kenan merasa sangat kesepian karena ayahnya selalu sibuk dengan bisnisnya. Ketika berusia lima belas tahun, ayahnya mengirimnya keluar negeri dan ia tinggal bersama dengan saudara ibunya. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah pulang ke Turki. Baru sejak lima tahun yang lalu, ayahnya memanggilnya pulang untuk meneruskan perusahaan ayahnya.


"Penerus perusahaan" dua kata itulah yang sering disebutkan orang kepadanya. Tetapi pada kenyataannya, ia hanyalah bayang-bayang ayahnya. Tetap ayahnya yang selalu memegang kendali dan mengambil keputusan dalam perusahaannya. Di usianya yang hampir kepala tiga, ayahnya masih tidak memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada dirinya.


Harun Fallay berjalan di taman belakang rumahnya, sambil memasukkan salah satu telapak tangannya di dalam saku celananya. Sedang tangannya yang lain ia gunakan untuk memegang ponselnya, ia sedang berbicara dengan seseorang.


"Aku memberikanmu kesempatan sekali lagi, segera tutup kasus ini bagaimanapun caranya !! Jika kau melakukan kesalahan, aku tidak segan-segan melenyapkan mu !!" ancam Harun pada seseorang di seberang ponselnya.


Pengacara Alfred memandangi layar ponselnya, kali ini ancaman Harun Fallay tidak main-main. Dirinya memang telah kehilangan banyak informasi tentang kasus kematian Danner. Ia tidak menyangka pembunuh bayaran Harun Fallay itu akhirnya tertangkap. Usahanya untuk mengulur kasus ini tidak berjalan lancar, padahal selangkah lagi kasus ini seharusnya di tutup untuk selamanya. Tetapi Yafet selangkah lebih cepat dari dirinya. Ia mengutuk putra Emir itu yang mengacaukan rencananya.

__ADS_1


Hari ini, pengacara itu mewakili Emir Aksal pergi ke kantor polisi. Ia hendak mengetahui perkembangan yang terjadi.


Di kantor polisi, Ted Baxter sedang berada di ruangan khusus yang kedap suara. Seorang Kapten Polisi sedang menginterogasi dirinya. TetapiTed Baxter tidak mau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Kapten Polisi tersebut.


"Kau benar-benar menguji kesabaran ku !!" teriak Kapten Polisi yang berusia sekitar tiga puluh lima tahunan. Ia menggebrak meja yang ada di depannya dan mencengkeram baju Ted Baxter.


"Apa mau mu, hah?" teriak Kapten Polisi itu di depan Ted Baxter. Tetapi teriakan Kapten itu hanya di sambut dengan tatapan datar oleh Ted. Kapten itu membanting sebuah berkas di depan wajah penjahat tersebut. Sedangkan laki-laki gundul itu tidak terkejut sama sekali, ia tampak duduk dengan tenang sambil kedua tangannya yang masih terborgol di belakang.


Tiba-tiba penjahat itu mengeluarkan suaranya. "Kau ingin tahu, apa mau ku?" tanya Ted dengan suaranya yang merendah. "Kemarilah..." Ted meminta Kapten Polisi itu untuk mendekat kepadanya. Kapten itu pun memajukan wajahnya mendekati Ted Baxter, sebuah senjata api terlihat di dalam jaket kulitnya. "Berikan aku selembar kertas dan sebuah pena," bisik Ted kepada Kapten Polisi itu.


Segera Kapten itu memberikan apa yang diminta oleh Ted. Selembar kertas dan sebuah pena ia letakkan di atas meja. Ted Baxter hanya menatap kedua benda itu dengan ekspresi wajah yang datar. Kapten Polisi itu seolah-olah mengerti apa yang diinginkan oleh Ted. Ia pun membuka borgol yang ada di pergelangan tangan Ted.


Dalam diam, Ted mengambil pena dan menggoreskan sesuatu di kertas itu. Rupanya penjahat itu sedang menggambar sesuatu. Kapten Polisi itu mendekati Ted, ia hendak melihat apa yang di gambar oleh penjahat tersebut. Ted Baxter masih saja terus menggambar dan tidak memperdulikan kehadiran Kapten Polisi yang sedang membungkuk dan menempelkan tangannya di atas meja. Ted Baxter sedang menggambar seekor burung yang berdiri dengan kedua sayapnya yang besar.


Kapten Polisi itu terkesima melihat gambaran Ted, bagaikan seorang anak kecil yang terkagum dengan gambaran sang guru. Punggung tangannya ia letakkan di atas meja. Ted Baxter masih melanjutkan gambarnya, hampir selesai. Menit pun berganti...


Kapten Polisi yang baru sadar bahwa tersangkanya melarikan diri, segera membunyikan alarmnya. Ia pun mengejar penjahat itu bersama dengan anggota polisi yang lain. Terjadi tembak menembak di depan kantor Polisi. Para warga sipil yang tidak tahu apa-apa lari ketakutan menyelamatkan diri mereka sendiri.


Pengacara Alfred yang sejak tadi ada di kantor polisi, menyunggingkan senyumnya. Ia telah mempermudah tugasku, lari lah...sejauh mungkin.


Detik demi detik dan menit demi menit sudah berjalan. Tampak terjadi kekalahan di pihak anggota polisi, ada dua anggota polisi yang tertembak. Sedangkan Ted Baxter yang sudah kehabisan pelurunya, berusaha untuk sembunyi di belakang mobil polisi.


"Kau takkan bisa lari kemana-mana Ted, menyerahlah !!" teriak Kapten Polisi dengan alat pengeras suaranya.


Seorang anggota polisi yang melihat sosok Ted berada di belakang mobil polisi, segera menembak mobil itu dan pelurunya berhasil menyerempet daun telinga Ted. Penjahat itu melemparkan senjata apinya dan menutup daun telinganya yang berdarah. Salah satu anggota polisi yang melihat arah senjata api itu di lempar, segera memberikan kode kepada Kapten Polisi.


Segera Kapten Polisi dan beberapa anggota polisi yang lain mengepung persembunyian Ted Baxter. Laki-laki gundul itu terkejut karena pasukan polisi itu telah membentuk lingkaran di sekelilingnya. Ketika ia hendak melawan, seorang anggota polisi itu menghadiahi sebuah timah panas yang menempel di betisnya. Penjahat itu meringis kesakitan, darah mengalir membasahi celana panjangnya. Petugas polisi segera memborgol Ted Baxter, dan membawanya kembali ke kantor polisi.

__ADS_1


Ted Baxter berjalan tertatih-tatih dengan di tuntun oleh dua orang anggota polisi. Pengacara Alfred melihatnya dari kejauhan. Tatapan kedua anak buah Harun Fallay ini saling bertemu dalam beberapa detik. Tampak pengacara Alfred tersenyum kecut melihat Ted Baxter yang tertangkap kembali.


"Lepaskan aku...!! Lepaskan aku...!!" teriak Ted Baxter sampai seorang anggota polisi melemparkannya kembali ke ruang tahanan.


"Kalian tidak bisa menahan ku, tanpa pengacara !! Berikan aku pengacara !!" teriaknya sekali lagi kepada anggota polisi yang sedang mengunci jeruji besinya.


Anggota polisi itupun memberitahukan kepada Kapten Polisi bahwa penjahat itu meminta seorang pengacara. " Berikan dia pengacara dan seorang dokter, setelah keadaannya membaik, kita akan memulai kembali proses interogasinya," perintah Kapten Polisi kepada anak buahnya.


Kapten Polisi itu tengah memandangi sketsa seekor burung yang sedang berdiri dan mengepakkan sayapnya. Sepertinya sketsa itu belum sepenuhnya selesai. Sketsa yang di gambar oleh Ted Baxter.


Apa arti gambar ini? Dan apa maksudnya ia menggambar burung ini? Apakah ia hanya iseng?


Bonus Visual Ted Baxter sebelum cambang nya di cukur 🤭



❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca tulisan ku ini. Ku harap kalian menyukainya ❣️ Jangan lupa kasih tip ya buat Author 😊 bisa berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian

__ADS_1


Makasih 🥰🥰


__ADS_2