
Hazal keluar dari pintu rumahnya. Ia mengayunkan langkah kakinya menyusuri halaman depan, selangkah demi selangkah. Sepatu high heels nya terdengar bergesekan dengan lantai paving yang ada di halaman depan. Gaun hitamnya melambai terkena tiupan angin musim dingin yang hampir berakhir di tahun ini.
Kumpulan bulu domba yang melekat pada mantelnya itu tampak menari-nari di tubuh Hazal. Sesekali ia menjinjing gaunnya agar lebih mudah berjalan.
Seorang penjaga rumah membuka pintu gerbang tinggi kediaman keluarga Aksal. Kenan yang sejak tadi menunggu Hazal di depan mobilnya, begitu mendengar suara pintu raksasa itu di buka segera merapikan pakaian parlente nya. Ia terlihat sangat gagah dan tampan. Tak jauh berbeda dengan penampilan Yafet yang menggunakan tuksedo nya.
Sesosok tubuh yang ramping dengan tinggi semampai keluar dari balik pintu gerbang tersebut. Seorang wanita yang tampak anggun dan glamor. Sesaat manik mata abu-abu gelap itu terkesima menyaksikan penampilan Hazal yang tidak seperti biasanya. Aura kecantikan Hazal benar-benar mampu menyihirnya dalam beberapa detik.
Hazal berdeham melihat Kenan yang terus menatapnya. "Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" tanyanya sambil melihat ke bagian bawah gaunnya.
"Tidak. Ehm... maksudku penampilan mu tidak seperti biasanya," ucap Kenan agak gugup.
"Baiklah, aku akan menggantinya dengan pakaian kerjaku." Hazal segera membalikkan tubuhnya. Tetapi Kenan dengan cepat menarik tangannya, membuat tubuh mereka saling bersentuhan.
"Jangan. Pakailah gaun ini, gaun ini sangat cocok untukmu," puji Kenan.
Kedua manik mata itu saling berpandangan. Kenan mencium aroma wangi bunga mawar pada tubuh wanita yang ada di depannya. Begitu juga dengan Hazal, aroma maskulin pria itu menggelitik di indera penciumannya.
Sepasang mata elang yang sejak tadi memperhatikan kedua insan manusia itu, menatap dengan garang. Rahangnya mulai menegang. Telapak tangannya mengepal menggenggam erat setir kemudinya. Raungan knalpot mobil meraung-raung di dalam garasi. Yafet sedang memainkan pedal gas mobil sportnya. Ia akan mengeluarkan mobil kesayangannya itu setelah Kenan telah membawa pergi Hazal.
Ketika Kenan sudah melajukan mobilnya menjauhi rumah keluarga Aksal, Yafet segera memasukkan persneling mobilnya, dan menekan pedal gas nya dalam-dalam. Raungan knalpot itu terdengar semakin garang, menandakan bahwa mobil itu akan keluar dari sarangnya.
Langit Istanbul sudah mulai gelap, dua insan berbeda jenis itu telah meninggalkan rumah keluarga Aksal. Cahaya lampu kuning yang berasal dari penerangan jalan raya menyirami wajah mereka berdua. Hazal melihat dari kaca spionnya, mobil Yafet berada di belakangnya. Rupanya pria yang duduk disampingnya itu tak menyadari bahwa sejak tadi Yafet terus mengikuti mobilnya.
Beberapa menit kemudian, kedua mobil itu telah sampai di sebuah gedung pertemuan yang cukup besar dan luas. Kumpulan mobil mewah milik para pengusaha tampak berbaris rapi di halaman gedung tersebut.
Hazal dan Kenan yang baru saja keluar dari mobil, segera berjalan di hamparan salju yang sudah mulai menipis. Beberapa anak tangga telah di lalui mereka untuk masuk ke dalam gedung tersebut.
Salah satu penerima tamu meminta Hazal untuk melepaskan mantel bulunya. Ia segera menuruti permintaan petugas itu, dan menyerahkan mantel bulunya untuk di simpan di tempat yang sudah di sediakan. Kini tubuhnya terlihat lebih terbuka memperlihatkan kulitnya yang putih bersih dan belahan dadanya.
Tak bisa di pungkiri oleh Kenan, penampilan Hazal dengan gaun yang terbuka di bagian atas membuat birahinya semakin meningkat. Tapi lelaki itu berusaha untuk mengontrol dirinya, ia tahu bagaimana memperlakukan Hazal layaknya seorang wanita dari keluarga terhormat, bukan wanita murahan yang biasa ia temui di club' malam.
Acara pun di mulai, Hazal mengambil dua gelas minuman dari meja panjang. Kemudian memberikannya kepada Kenan. Mereka berdua saling bersulang dan meneguk kedua minuman itu. Tampak di tengah-tengah ruangan, Yafet sedang sibuk berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya.
"Kenapa kau tidak berkumpul dengan pengusaha yang lain?" tanya Hazal setelah ia meletakkan gelas minumannya dan mengambil beberapa cemilan.
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka pesta dan kerumunan orang." Kenan meneguk minumannya kembali.
"Waktu dulu aku datang ke pesta ulang tahun perusahaan ayahmu, aku lebih suka duduk di sudut ruangan. Kau tahu apa yang di katakan Mehmet padaku waktu itu?" Kenan tertawa sambil membayangkan kejadian waktu itu.
"Apa...?" Hazal nampak menyukai cerita Kenan. Ia memberikan sebuah cemilan kepada Kenan. Sebuah senyuman tersungging di atas bibirnya.
"Ia mengataiku Upik Labu. Disaat semua orang berpesta, aku malah sibuk memainkan ponselku," seloroh putra Harun itu, membuat Hazal tertawa terpingkal-pingkal.
"Lantas kenapa kau membawaku ke tempat ini? Kalau kau tak menyukai pesta. Kita bisa makan malam di tempat yang lebih privat," tanya Hazal.
Pandangan matanya menatap sosok Yafet yang berdiri tidak jauh darinya. Kakak angkatnya itu benar-benar menikmati pesta malam ini.
"Ayahku yang menyuruhku untuk datang ke pesta ini. Semua ini demi perusahaan, karena itu aku mengajakmu untuk menemaniku. Apa kau ingin kita pergi dari sini?" tanya Kenan sambil mengambil segelas wiski tanpa es dari tangan seorang pelayan.
"Malam ini?" Hazal segera menggelengkan kepalanya. Setelah pesta ini berakhir dirinya masih harus bertemu dengan Mert.
__ADS_1
Terdengar suara panitia pelaksana membacakan penobatan untuk Pengusaha Muda yang sukses dan produktif tahun ini.
"Pengusaha Muda yang sukses dan produktif tahun ini adalah...." Terdengar suara seorang wanita yang berbicara dengan lantang. Semua orang pun terdiam menunggu satu nama yang terucap dari bibir wanita yang ada di atas panggung.
"Yafet Aksal selaku Presiden Direktur Perusahaan Aksal!" seru wanita tersebut.
Semua orang memandang putra Emir yang maju ke depan dan naik ke atas panggung. Suara tepukan tangan membahana di seluruh ruangan besar itu. Cahaya lampu kilat menghujani wajah Yafet. Berbagai awak media sedang mengabadikan momen tersebut.
"Bukankah itu saudaramu?" tanya Kenan kepada Hazal yang sedang berdiri di sampingnya.
"Ya. Dia kakakku," jawab Hazal singkat. Manik mata coklatnya sibuk memandang Yafet yang berdiri di atas panggung.
Kenan memperhatikan sorot mata Hazal yang terus memandang Yafet. Membuatnya juga ikut memperhatikan Yafet yang sedang turun dari panggung sambil membawa trophy penghargaan.
"Sampaikan ucapan selamatku untuk kakakmu," ujar Kenan sambil mengangkat gelas wiski nya.
"Kau bisa mengucapkan sendiri pada kakakku nanti," balas Hazal yang menempelkan gelas minuman non alkoholnya di gelas Kenan. Mereka berdua bersulang kembali.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, Kenan mengajak Hazal keluar menuju balkon yang ada di luar gedung. Kini mereka berdiri di belakang pagar pembatas setinggi pinggang orang dewasa.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Udara di luar sangat dingin." Hazal menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, untuk menghangatkan tubuhnya.
Kenan melepas jas nya dan menutupi tubuh Hazal yang terbuka dengan pakaian luarnya itu. Manik mata Hazal bergerak-gerak mengamati apa yang sedang putra Harun itu lakukan padanya.
Kenapa dia jadi perhatian padaku? Ini yang sering Yafet lakukan padaku, ketika aku keluar rumah tanpa memakai mantel. Yafet akan memberikan pakaiannya, asal aku tidak kedinginan.
"Lihatlah di atas, bukankah katamu kau sangat menyukai bintang di langit!" seru Kenan sambil menunjuk beberapa bintang yang terlihat menempel di hamparan langit yang gelap.
Yafet yang sejak tadi sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya, merasa kehilangan jejak Hazal dan Kenan. Manik matanya mulai mencari sosok wanita yang di cintainya itu. Ia pun berjalan ke sana kemari mencari Hazal.
Beberapa menit kemudian, Yafet melihat Hazal dan Kenan tengah asyik melihat bintang di luar. Raut wajahnya mulai menegang. Ia merasa cemburu melihat kedekatan mereka. Segera ia berjalan menuju balkon.
"Hazal...!" Suara Yafet yang tiba-tiba datang, mengejutkan kedua insan itu. Mereka pun membalikkan badannya menghadap ke arah Yafet.
"Kakak...?" Hazal segera memainkan sandiwara nya, dari sejak kecil ia tidak pernah memanggil Yafet dengan sebutan kakak, karena pria itu melarangnya.
Yafet segera menarik tangan Hazal agar masuk ke dalam. Dengan cepat di singkirkannya jas Kenan yang tadi dikenakan oleh Hazal.
"Ambil ini! Kau bisa membuatnya sakit jika ia berdiri di tempat dingin seperti ini!" pekik Yafet yang segera menggandeng tangan Hazal pergi menjauhi Kenan. Putra Emir itu tidak memberikan kesempatan laki-laki itu berbicara.
Kenan sangat terkejut dengan reaksi yang di berikan oleh Yafet. Ia tak menyangka Yafet bersikap dingin padanya. Dikenakannya kembali jas miliknya sambil menatap dingin kepergian Yafet dan Hazal.
Kau cukup beruntung Yafet Aksal. Aku masih menghormati mu karena kau adalah kakak Hazal. Tapi jika kau orang lain, aku mungkin akan membuat perhitungan denganmu...
Yafet menggandeng tangan Hazal hingga sampai di sudut ruangan. Ia segera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hazal.
"Kenapa kau dan anak pembunuh itu berduaan di luar?" Hazal segera menutup mulut Yafet. Kali ini suara Yafet terdengar cukup keras.
"Pelan kan suaramu! Aku hanya menemaninya saja, ia merasa bosan di dalam. Kemudian ia menunjukkan bintang-bintang di langit. Itu saja!" jelas Hazal.
Yafet hanya menghela napasnya dalam-dalam, ia menatap manik mata dan wajah cantik Hazal. Sangat cantik menurut dirinya.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang aku ingin mengajakmu berdansa. Bukankah kau ingin membuat dia jatuh cinta padamu, buat dia cemburu ketika melihat kita bersama," cetus Yafet dengan idenya.
"Apa itu bisa berhasil? Karena setahu dia, kau adalah kakak ku." Hazal nampak ragu-ragu untuk mengikuti ide Yafet.
"Kita lihat saja nanti, ayo kita lakukan!" ajak Yafet yang mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Hazal.
Kedua saudara angkat itu berjalan di tengah ruangan, membaur dengan beberapa pasangan yang tengah sibuk berdansa. Meskipun ini hanyalah sandiwara untuk membuat Kenan cemburu, tetapi mereka berdansa dengan penuh perasaan mengikuti irama musik yang mengalun dengan indah.
Yafet memeluk pinggang Hazal, kedua tangan wanita itu berada di atas pundaknya. Tatapan mata mereka saling beradu dan saling menyelami.
Sentuhan tangannya benar-benar membangunkan kembali perasaan wanita itu. Ia memeluk erat tubuh Hazal, membuat wanita itu mengalungkan kedua lengannya di belakang lehernya.
"Ini bukan sandiwara. Hari ini aku sangat merindukanmu. Malam ini kau terlihat sangat cantik," bisik Yafet dengan lembut.
Perasaan Hazal berkecamuk tak karuan. Ia mencengkeram tuksedo Yafet dan meletakkan kepalanya di atas pundak laki-laki itu. Tanpa sadar ia memejamkan kedua kelopak matanya. Membuat Yafet bisa mencium rambut coklat Hazal yang wangi. Mereka berdua benar-benar hanyut dalam perasaan mereka yang sesungguhnya di tambah dengan alunan musik romantis yang mengalun dengan indah.
Aku juga sangat merindukanmu. Sangat. Dengan memelukku seperti ini, seakan kau membuatku lupa... bahwa kita sudah tidak seperti dulu lagi. Bisakah aku berharap waktu ini akan berhenti?
Hazal hanya menggigit bawah bibirnya, ia memilih untuk diam dan tidak menjawab perkataan Yafet.
Seandainya kau tahu... ya seandainya kau menyadari. Bahwa aku masih sangat mencintaimu Yafet...
Yafet mencoba memahami perasaan Hazal. Ia tidak ingin menanyakan kenapa wanita itu diam membisu. Tangannya membelai rambut Hazal yang ada di bawah dagunya.
Sampai kapanpun perasaan ku padamu tidak akan berubah, Hazal. Asal kau belum menjadi milik pria lain, aku akan mencari jalan keluar untuk memperjuangkan cinta kita. Tunggu aku sayang...
Kenan menatap dari kejauhan adegan dansa yang dilakukan oleh kakak beradik Aksal itu.
Apa yang sedang mereka lakukan? Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Bukan seperti dua orang bersaudara!
Kenan menggelengkan kepalanya, dia mencoba mengingkari kenyataan yang dilihatnya. Ia berjalan menghampiri Hazal yang masih dalam pelukan Yafet.
"Pulanglah bersama ku," ucap Yafet setelah ia melepas pelukannya, dan memasukkan kedua tangannya di leher Hazal.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?" tanya Yafet sambil menyentuh kening Hazal dengan keningnya sendiri.
"Biarkan Kenan yang mengantarku pulang. Tunggu aku di depan pintu gerbang, malam ini aku akan menyelesaikan sesuatu!" seru Hazal dengan pelan.
Kenan segera memanggil Hazal, ketika ia sudah berada di samping wanita itu. Hazal segera melepaskan tangannya dari tangan Yafet.
"Kenan, maaf tadi sikap kakakku sedikit berlebihan. Ia memang sangat menjagaku," ucap Hazal dengan lembut sambil menatap wajah Kenan dan Yafet secara bergantian.
Kenan memandang wajah Yafet, tetapi putra Emir itu malah mendongakkan kepalanya.
"Selamat untukmu, Yafet Aksal!" seru Kenan yang mengulurkan tangannya kepada Yafet karena telah terpilih menjadi pengusaha muda yang sukses. Yafet membalas uluran tangan putra Harun itu. Jabatan kedua pejantan itu benar-benar erat.
Kenan tampak ingin bersikap baik kepada Yafet, karena ia ingin mendekati Hazal. Ia berharap kakak Hazal itu memberinya lampu hijau untuk mendekati adiknya. Kenyataan yang tidak ia ketahui, bahwa rival terberatnya untuk mendapatkan Hazal bukanlah Kapten Ismail melainkan Yafet Aksal.
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua pembaca yang merayakan. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf jika tanpa kusadari, ada kata-kata ku yang salah dan sudah menyinggung kalian semua Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏