DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Di Ambang Kematian


__ADS_3

Di area pemakaman, Yafet masih memeluk dan berteriak memanggil nama Hazal, tidak hanya pria itu yang merasakan kesedihan yang mendalam. Bahkan langit pun yang menjadi saksi cinta mereka ikut berduka dengan menurunkan hujan lebat yang mengguyur tubuh Yafet dan Hazal.


"Buka matamu, sayang... buka matamu !!" teriak Yafet dengan lirihnya. Tetapi kedua manik mata coklat itu seakan sembunyi di balik kelopak mata Hazal. Tidak ada satupun anggota tubuhnya yang bergerak.


"Kenapa setelah penjahat itu tertangkap, kau malah mengambil Hazal dari ku? Kenapa?" teriak Yafet yang seakan memprotes takdir, kenapa takdir begitu kejam padanya.


"Ambil nyawaku !!! Ambil hidupku sekarang !!! Kumohon kembalikan Hazal...," teriak Yafet kepada langit.


Pria itu masih terus memeluk tubuh Hazal, seakan ia tidak ingin menerima kepergian Hazal. Ketika pelukan tangannya menempel di leher Hazal, jari telunjuknya merasakan sesuatu di leher kekasihnya. Denyut nadi Hazal masih terasa. "Kau masih hidup, sayang," gumam Yafet yang kembali bersemangat. Ia mengusap air matanya dan mencoba mengangkat tubuh Hazal.


Ketika hendak berdiri, ia melihat sebuah pusara yang ada di samping Hazal. Pusara kecil yang bertuliskan nama FATIMAH BAXTER (Ny. Baxter). Yafet tampak terkejut, hampir saja tubuh Hazal jatuh dalam gendongannya.


Jadi penjahat itu datang ke Turki, untuk menguburkan ibunya....


Ternyata takdir memberikan jalan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Selama bertahun-tahun, ia dan Smith mencari penjahat itu. Tetapi takdir mengirim penjahat itu dengan sendirinya untuk datang kepadanya. Entah apa ia harus tertawa melihat permainan takdir ini, atau ia harus bersedih karena kematian Nyonya Baxter yang telah membantunya untuk menangkap penjahat itu.


Ia berjalan tertatih-tatih sambil membawa tubuh Hazal, angin dan hujan lebat membuat langkah nya semakin berat. Sampailah Yafet di tempat parkir mobil dan memasukkan tubuh Hazal di samping kemudinya.


Hujan masih terus mengguyur ketika Yafet meninggalkan area pemakaman dan mengemudikan mobilnya untuk membawa Hazal ke rumah sakit. "Bertahanlah, sayang. Kau harus menyaksikan sendiri bagaimana penjahat itu harus membayar dosa-dosanya," ucap Yafet yang menggenggam tangan Hazal. Tetapi pemilik tangan itu tidak merespon sama sekali.


Tak berapa lama kemudian, Yafet telah sampai di rumah sakit. Ia berteriak memanggil suster dan dokter yang ada di sana untuk segera menangani Hazal. Seorang suster juga telah membersihkan luka di wajah Yafet dan memberikan seragam pasien untuk Yafet, karena pakaiannya yang basah kuyup.


Dokter memutuskan untuk mengoperasi kepala Hazal, karena benturan keras yang ia alami membuat Hazal kehilangan banyak darah. Yafet menghubungi ayah dan ibunya, memberi kabar bahwa saat ini Hazal sedang berada di rumah sakit. Mereka pun sangat terkejut dengan berita yang baru saja di katakan oleh Yafet. Seiring menunggu kedatangan orang tuanya, Yafet duduk di kursi tunggu sambil menunggunya jalannya operasi Hazal.


Tak perlu menunggu lama, suami istri Aksal itu datang dengan arah yang berbeda. Mereka bertemu di lobi rumah sakit. Mereka mencari informasi tentang keberadaan putri mereka, petugas menginformasikan bahwa pasien yang bernama Hazal Aksal sedang berada di dalam ruang operasi. Mendengar perkataan petugas, kedua kaki Meral terasa lemas. Hampir saja wanita paruh baya itu terjatuh ke lantai lobi rumah sakit jika suaminya tidak menahan tubuhnya.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Meral pada suaminya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kita harus pergi ke ruang operasi, mungkin Yafet sudah ada di sana," ucap Emir yang menggandeng tangan istrinya dan berjalan tergopoh-gopoh mencari ruang operasi Hazal.

__ADS_1


Di area ruang operasi, mereka melihat Yafet yang tengah duduk meratapi keadaan Hazal. Pria itu tengah termenung sambil memegangi dahinya dengan kedua tangannya.


"Yafet, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Hazal bisa masuk rumah sakit?" tanya Emir yang menghampiri putranya.


"Bukankah tadi pagi kalian berpamitan akan mengunjungi makam orang tuanya? Kenapa pulang-pulang kalian sudah berada di rumah sakit? Dan kenapa Hazal harus di operasi?" tanya Meral yang duduk di samping Yafet.


Pemuda itu tidak mengeluarkan satu kata pun, ia memandang wajah orang tuanya dengan wajah yang nestapa.


Meral menyentuh pundak Yafet, membuat hati Yafet terasa lebih tenang, kemudian ia berkata dengan lirih, "Seharusnya aku tidak meninggalkan Hazal sendirian di pemakaman, aku malah memilih mengejar Ted Baxter." Ia merasa sangat bersalah.


"Ted Baxter? Apa maksudmu? Penjahat itu ada di sini?" tanya Emir yang segera duduk di samping putranya.


Yafet pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Pertemuannya dengan Ted Baxter di tempat pemakaman, sakit kepala Hazal, sampai akhirnya penjahat itu berhasil di tangkap oleh polisi dan berakhir dengan tergeletak nya Hazal di area pemakaman. "Aku benar-benar menyesal tidak menjaganya," ucap Yafet yang merutuki dirinya sendiri.


Meral memeluk Yafet dari samping, ia mengerti perasaan yang sedang di alami oleh putranya. Di satu sisi putranya itu ingin mengeluarkan kesedihannya, tapi di sisi lain dia harus merahasiakan hubungannya dengan Hazal.


Emir menepuk pundak Yafet dan berkata, "Jangan merutuki dirimu, apa yang kau lakukan sudah benar. Jika kau tidak mengejar penjahat itu, maka selamanya kita tidak akan pernah bisa berhasil menemukannya. Mungkin ini sudah takdir yang harus Hazal jalani. Kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya."


"Kenapa kau diam saja, dokter? Cepat katakan, bagaimana kondisi Hazal !!" teriak Yafet sambil mencengkeram seragam putih yang dikenakan oleh dokter senior itu. Emir dan Meral mencoba menenangkan Yafet, dan mengingatkan putranya bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.


Akhirnya dokter senior itu pun bicara, "Sebenarnya ada yang ingin saya katakan kepada kalian, ada kabar baik dan kabar buruk."


"Katakan semuanya, dokter," pinta Emir.


"Kabar baiknya adalah karena benturan keras yang di alami oleh Hazal, membuat trauma kecelakaan yang di alaminya waktu kecil berangsur sembuh. Darah yang keluar dari kepalanya adalah darah yang selama ini menggumpal yang membuatnya selalu merasakan sakit kepala ketika ia mencoba mengingat peristiwa di masa lalunya," terang dokter senior itu yang berdiri di depan anggota keluarga Aksal.


"Lalu kabar buruknya apa?" tanya Yafet yang tidak sabar ingin melihat kondisi Hazal.


Dokter senior itu menghela nafasnya dalam-dalam, mencari perbendaharaan kata yang tepat untuk keluarga pasiennya, kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Saat ini nona Hazal sedang mengalami masa kritis."

__ADS_1


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Meral yang mendengar perkataan dokter itu, langsung terjatuh di pelukan Emir. Wanita paruh baya itu pingsan tak sadarkan diri. Kedua pria itupun sangat terkejut. Akhirnya Emir menyuruh Yafet untuk melihat kondisi Hazal lebih dulu, sedangkan Emir membawa istrinya ke kamar inap untuk mendapatkan perawatan.


Seorang suster mengijinkan Yafet untuk melihat kondisi Hazal. Dengan memakai masker dan seragam ICU, Yafet menghampiri Hazal yang terbaring tidak sadarkan diri. Sebuah perban berwarna putih melingkar menutupi kepalanya, jarum infus menusuk punggung tangannya, alat bantu pernapasan dan sebuah mesin yang ada di samping ranjang nya yang selalu berbunyi tit...tit...tit....


Yafet menggenggam telapak tangan Hazal, mendekatkan telapak tangan itu di samping pipinya, "Bangunlah sayang... aku sangat merindukanmu. Kau tahu? Aku telah berhasil mengejar Ted Baxter, polisi telah menangkapnya, dan memasukkannya ke dalam penjara. Kau harus bangun, sayang !! Kau harus sembuh !! Bukankah ini penantianmu sejak lama... Kumohon bukalah matamu...," isak Yafet di telinga Hazal. Tetapi Hazal tidak merespon apa-apa.


"Aku tidak ingin menukar kehidupan Ted Baxter dengan nyawamu, sayang. Kenapa takdir selalu mempermainkan kita? Bukankah seharusnya kisah kita berakhir dengan bahagia karena Ted berhasil di tangkap? Aku bisa melamar mu di depan ayah dan ibu... dan kita akan menikah...Kumohon jangan tinggalkan aku seperti ini, Hazal...." Yafet tak kuasa menahan air matanya. Hatinya benar-benar hancur, bagaikan sebuah pisau tajam yang menyayat hatinya.


Terdengar suara pintu ruang ICU terbuka, Yafet segera menghapus air matanya dan menghentikan ucapannya. Rupanya ayahnya datang ingin melihat keadaan Hazal. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa melihat kondisi putri angkatnya itu.


Emir terus menatap wajah Hazal sambil berkata, "Ayah teringat ketika ayah bertemu denganmu di sebuah rumah sakit di Swiss. Anak kecil yang malang... dan sekarang kau kembali lagi terbaring di sini. Mempertaruhkan hidup dan mati mu, nak. Ayah harap... ayah bisa melihatmu kembali tersenyum, putriku. Melihatmu kembali hidup, seperti dulu."


Emir memegang tangan Hazal dan terduduk di samping Hazal. "Erkan...Ayla... kumohon... jangan bawa Hazal pergi dari keluargaku. Biarkan aku memberikan kebahagiaan yang belum pernah aku berikan sebagai seorang ayah. Aku ingin melihatnya berjalan di altar pernikahan, menyerahkannya kepada suaminya yang kelak akan menggantikanku menjaga Hazal. Kumohon Erkan... jangan bawa pergi putriku," ucap Emir dengan suara lirihnya. Yafet yang tak tahan mendengar ucapan ayahnya, tak kuasa menahan air matanya.


"Bagaimana kondisi ibu?" tanya Yafet kepada ayahnya.


"Ibumu sudah siuman, tapi dokter belum mengijinkannya untuk melihat Hazal, karena tekanan darah ibumu sangat tinggi," jawab Emir.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah mampir dan baca novelku ini. Semoga kalian menyukainya. Jangan lupa kasih tip ya buat Author berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian ya...

__ADS_1


Makasih 🥰🥰🥰


__ADS_2