DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Kericuhan Di Pagi Hari


__ADS_3

Di rumah keluarga Aksal...


Fajar pagi mulai menyingsing, Meral baru saja bangun dari tidurnya. Wanita berumur enam puluh tahun itu keluar dari kamarnya. Ia menyalakan beberapa titik lampu untuk menerangi ruangan di sekitarnya. Beberapa pelayan sudah mulai sibuk membersihkan setiap sudut rumah. Langkah kakinya membawa wanita itu menuju ruang tamu, bermaksud untuk membuka pintu utama yang semalam terkunci.


"Yafet...!" teriak Meral yang melihat putranya sudah jatuh terkapar di lantai ruang tamu. Ia menepuk-nepuk pipi Yafet, telapak tangannya merasakan rasa panas di area wajah putranya. Tangannya menyentuh mantel dan pakaian yang di kenakan Yafet, masih terasa basah.


"Kau pasti demam," gumam Meral yang segera pergi memanggil beberapa orang penjaga rumah.


"Cepat, kalian bantu aku untuk membawa Yafet ke kamar tamu!" perintah Meral kepada empat orang laki-laki yang bertubuh tegap. Empat orang penjaga rumah itu segera mengangkat tubuh putra Emir dan membawanya ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.


"Nuran, siapkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil!" Pelayan wanita itu segera berlari ke dapur dan menyiapkan apa yang diminta oleh nyonya nya. Ia segera membawa kedua benda itu ke dalam kamar tamu.


Meral segera mengompres kening Yafet setelah penjaga rumah selesai mengganti pakaian Yafet yang basah dengan pakaian bersih. Wanita paruh baya itu langsung menghubungi dokter keluarga.


"Hazal...," ucap Yafet lirih di tengah kesadaran dan ketidaksadarannya. Kedua kelopak matanya masih tertutup.


"Apa Hazal belum pulang semalam?" tanya Meral pada Nuran ketika pelayan wanita itu masih berdiri di samping Meral.


"Belum, Nyonya. Saya tadi membersihkan kamar Nona Hazal, tetapi Nona tidak ada di kamarnya. Mobilnya juga tidak ada di garasi."


"Kemana perginya anak itu? Tidak biasanya, Hazal pergi tanpa kabar."


Meral mencoba menghubungi ponsel Hazal. Kini ponsel itu tidak aktif. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil membetulkan ikatan piyama tidurnya yang hampir terlepas.


"Nuran, kau tetaplah di sini! Aku akan bicara dengan suamiku," kata Meral yang segera keluar dari kamar tamu.


Di perjalanan menuju ke kamarnya, Meral bertemu dengan Selina di bawah tangga. Istri Yafet itu baru saja bangun dan hendak menuju ke ruang makan.


"Ibu, ada keributan apa pagi ini?"


"Lihatlah sendiri ke kamar tamu!" ketus Meral menjawab pertanyaan sang menantu. Ia sedang panik memikirkan kedua anaknya dan tidak sempat menjelaskan pertanyaan Selina. Ia segera meninggalkan menantunya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Emir yang baru saja bangun dan terduduk di ranjangnya juga ikut terkejut mendengar teriakan Meral di pagi hari.


"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi? Apa Yafet dan Hazal sudah pulang?"


"Yafet sudah pulang. Kini badannya panas, kemungkinan ia mengalami demam karena hujan badai semalam. Aku sudah menghubungi dokter, mungkin sebentar lagi dokter akan datang," jelas Meral yang duduk di samping suaminya.


"Lalu Hazal?"


Meral terdiam untuk beberapa saat, ia hanya bisa memijat jari jemari tangannya, "Hazal belum pulang dari semalam. Ponsel nya juga tidak aktif."


"Aku akan segera menghubungi polisi, untuk mencari keberadaan Hazal!" Emir segera bangkit berdiri dan mengambil ponselnya.


Emir menghubungi Kapten Ismail. Dengan cepat Kapten Polisi itu menjawab panggilan telepon Emir Aksal. Emir menceritakan tentang Hazal yang menghilang sejak kemarin dan belum pulang ke rumah hingga pagi ini.

__ADS_1


Mendengar kabar menghilangnya Hazal, Kapten Ismail segera pergi ke kediaman Keluarga Aksal.


Selina yang melihat Yafet sedang tertidur di kamar tamu, menghampiri suaminya. Wanita Inggris itu menatap Nuran dengan tatapan tidak bersahabat.


"Pergilah...! Aku akan menemani suamiku di sini," ucap Selina dengan ketus.


"Tapi, Nyonya Meral menyuruh saya untuk menjaga Tuan Yafet." Nuran masih tetap berdiri di depan ranjang tempat tidur.


"Apa kau tak mengerti ucapan ku? Dasar pelayan tak tahu diri!" teriakan Selina membuat Yafet mengernyitkan dahinya, laki-laki itu sedikit membuka salah satu kelopak matanya.


Nuran segera keluar dari kamar tamu dan meninggalkan suami istri itu. Di saat yang sama, Meral sedang membawa semangkuk bubur hangat untuk Yafet.


"Apa Selina ada di dalam?" tanya Meral ketika ia melihat Nuran baru saja keluar dari kamar tamu.


"Iya, Nyonya. Nona Selina meminta saya keluar."


"Baiklah, lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Meral sambil menghela napasnya. Ia segera membuka pintu kamar tamu dan melihat Selina sedang berbicara keras sambil mondar-mandir di depan ranjang Yafet.


"Lihat dirimu sekarang! Kau sakit karena kau memaksakan dirimu mencari Hazal! Adikmu itu tidak pantas kau perhatikan, mungkin saja dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya!" seru Selina.


"Cukup Selina! Jaga ucapan mu! Jika kau tidak bisa merawat suamimu, setidaknya kau bisa duduk dan diamlah!" tegur Meral kepada menantunya itu.


"Ibu, apa aku salah? Kemarin aku sudah meminta anakmu ini agar dia tidak mencari Hazal! Lihatlah, dia pulang tanpa membawa hasil, malah jatuh sakit! Hazal benar-benar telah merepotkan kita semua!" cerca Selina di hadapan ibu mertuanya.


Meral sangat terkejut dengan perkataan Selina. Mendengar perkataan menantunya itu, ia semakin tidak menyukai istri Yafet.


Sebelum ibu mertuanya menyuruhnya keluar, Selina sudah lebih dulu keluar dari kamar tamu dan membanting pintu kayu itu dengan keras. Di dalam kamar, Meral hanya bisa mengusap dadanya melihat kelakuan menantunya itu.


Meral mencoba menyuapi Yafet, tetapi mulut putranya itu tertutup rapat. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk membujuk Yafet agar mau memakan buburnya. Tetapi usahanya itu tidak berhasil. Ia akhirnya meletakkan mangkuk bubur itu di atas nakas.


"Apa Hazal sudah... pulang?" tanya Yafet dengan suara lemahnya.


"Belum. Ayahmu sudah menghubungi polisi, agar mereka membantu mencari keberadaan Hazal," jawab Meral sambil mengompres ulang kening Yafet.


Pintu kamar tamu pun terbuka, masuklah seorang dokter laki-laki seumuran Meral. Dokter ini adalah dokter keluarga Aksal. Dokter tersebut mulai memeriksa kondisi Yafet dengan alatnya dan memeriksa suhu tubuh putra Emir itu.


"39°C," kata Dokter berkacamata tersebut, setelah ia melihat hasil angka pada termometernya.


Dokter segera memberikan resep obat pada Meral. Emir mengantar dokter keluarganya itu sampai ke depan pintu gerbang dan mengucapkan terimakasih kepada Dokter tersebut.


Ketika Emir dan Dokter itu berbicara di depan pintu gerbang, datanglah Kapten Ismail menggunakan mobil sedannya yang berwarna putih. Melihat kedatangan Ismail, dokter keluarga Aksal itu langsung berpamitan kepada sang tuan rumah.


Emir mengajak Kapten Ismail untuk masuk ke dalam rumahnya. Di dalam ruang tamu, Emir menceritakan hilangnya Hazal sejak kemarin. Disaat mereka sedang berbincang-bincang, sebuah mobil keluaran Eropa berwarna hitam berhenti di depan rumah keluarga Aksal.


"Apa kau mengijinkan aku untuk masuk ke rumahmu?" tanya Kenan kepada Hazal ketika mereka masih berada di dalam mobil. Kenan menepati janjinya untuk mengantar sekretarisnya itu pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Hazal hanya terdiam sambil melepas sabuk pengamannya, kemudian ia hanya menatap lurus ke depan.


"Aku hanya ingin minta maaf kepada orang tuamu. Karena aku, semalam kau tidak pulang ke rumah," ucap Kenan.


Mungkin lebih baik, aku mengenalkan Kenan kepada ayah dan ibu. Terutama Selina, jika wanita itu melihat aku dekat dengan Kenan, ia tidak akan mencurigai ku sebagai mantan kekasih Yafet.


"Masuklah, aku akan sekalian mengenalkanmu pada anggota keluarga ku," ajak Hazal sambil tersenyum.


Mereka berdua keluar dari pintu mobil yang berbeda. Hazal mengajak Kenan untuk masuk ke halaman rumahnya.


"Halaman rumahmu sangat luas!" seru Kenan yang melihat sekelilingnya.


"Ya. Waktu kecil aku suka bermain sepeda di sini," jawab Hazal sambil tertawa kecil.


Hazal membuka pintu rumahnya, ia dan Kenan melihat Emir dan Ismail sedang duduk bersama di sofa ruang tamu.


"Ayah... Ismail...," sapa Hazal kepada kedua orang itu.


"Hazal...!" seru Emir dan Ismail yang langsung berdiri begitu melihat Hazal pulang ke rumah.


Hazal segera menghampiri Emir dan memeluk ayah angkatnya. "Akhirnya kau pulang, nak...."


Emir dan Ismail melihat sosok laki-laki muda seumuran Yafet yang berdiri di belakang Hazal.


"Siapa dia? Kenapa kau pulang bersamanya?" tanya Emir dengan pandangan menyelidik. Pria paruh baya itu memicingkan kedua matanya ke arah Kenan. Begitu juga dengan Ismail yang menatap tajam wajah Kenan, seakan mencurigai sesuatu.


Belum sempat Hazal menjelaskan, Emir sudah langsung menghampiri Kenan. "Kau bawa kemana putri ku semalam, hah?"


Hazal menarik lengan Ayah angkatnya agar sedikit menjauhi Kenan. "Ayah, kemarin sore aku terjebak di dalam lift kantor. Dia yang menolongku dan membawaku keluar dari lift. Tetapi karena kemarin hujan badai, kami tidak bisa pulang ke rumah. Aku juga tidak bisa menghubungi kalian, karena itu aku terpaksa menginap di apartemennya." jelas Hazal.


Emir menatap tajam wajah Kenan. "Siapa nama mu?"


Kenan mengulurkan tangan kanannya ke arah Emir, kedua laki-laki itu saling berjabat tangan. Putra Harun itu lupa untuk memperkenalkan dirinya, yang dia ingat bahwa dia harus minta maaf pada keluarga Hazal.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian bingung mencari Hazal. Tetapi memang keadaan kemarin, membuatku tidak bisa mengantar Hazal untuk pulang ke rumahnya. Sekali lagi aku minta maaf, Tuan."


Wajah Emir mulai mencair. Ia melihat sopan santun Kenan, cara bicara pemuda itu untuk meminta maaf dan menghormati orang yang lebih tua. Sebuah nilai positif telah diberikan Emir pada Kenan.


"Terimakasih kau sudah mengantar Hazal pulang ke rumah dengan selamat. Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku. Siapa nama mu anak muda?"


"Kenan Fallay."


Sontak wajah Emir Aksal berubah merah padam dan menegang mendengar kata Fallay di nama belakang Kenan.


❤️Bersambung❤️

__ADS_1


Jangan lupa setelah membaca, kasih tip ya buat Author 😊 gak mahal kok 😆 cukup kasih Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian. Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2