
Keesokan harinya setelah waktu subuh berakhir di kota Istanbul. Terlihat sebuah bangunan apartemen bertingkat sepuluh di kawasan barat kota itu. Tampak seorang Kenan Fallay tengah duduk di tepi ranjangnya seorang diri di dalam sebuah kamar apartemen yang minimalis.
Setelah pertemuannya dengan Selina kemarin sore, ia masih mendiamkan buku harian Hazal. Kenan hanya meletakkannya di atas meja tanpa membacanya. Ia masih berharap Hazal benar-benar mencintainya seperti dirinya mencintai wanita itu.
Di seretnya kedua kakinya menuju kamar mandi. Ia memejamkan matanya di tengah guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya.
Hatiku belum siap menerima jika ternyata di dalam buku itu tertulis semua kebenaran tentang dirimu, Hazal. Apa yang harus aku lakukan?
Ia mengusap wajahnya, menyeka buliran air yang membasahi tubuhnya dengan selembar handuk dan mulai bersiap untuk menjemput Hazal. Hari ini adalah hari dimana dirinya dan Hazal akan terbang ke Swiss.
Ketika Kenan akan membawa kopernya, biji matanya menatap buku harian itu. Di satu sisi ia juga ingin mengetahui kebenaran seperti apa yang ada di dalam diri kekasihnya itu. Akhirnya ia meraih buku tebal dan kepingan CD itu dan memasukkan semuanya ke dalam kopernya.
Sinar mentari sudah mulai memunculkan sinar putihnya, mobil Kenan sudah mulai meluncur ke rumah keluarga Aksal. Jalanan masih begitu sepi di pagi ini, hanya terdapat beberapa kendaraan yang bisa dihitung oleh jari.
"Ayah Ibu, aku pergi dulu," pamit Hazal kepada orang tua angkatnya.
"Jaga dirimu, nak. Berhati-hatilah di sana," pesan Emir dan Meral.
Setelah berpamitan dengan orang tua angkatnya, Hazal keluar dari kamar Emir. Ia melihat Yafet yang sudah menunggunya di anak tangga yang paling bawah. Pria itu kini sudah berdiri di depannya.
Hazal berjalan menghampiri Yafet, "Aku pergi dulu."
Yafet segera memeluk Hazal dengan erat. "Maaf, aku belum bisa menemukan buku harian mu."
"Tak apa. Aku akan memberi kabar kepada mu apabila aku sudah tiba di Swiss," kata Hazal yang berbicara di dalam pelukan Yafet.
Tangan kekar itu mengusap puncak kepala Hazal, "Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesan ku. Jika dalam tiga hari kau tidak pulang, aku akan menyusul mu dan membuat perhitungan dengan anak pembunuh itu!"
Hazal menganggukkan kepalanya. "Pagi ini Mert akan melakukan aksinya, jika waktu kami bersamaan. Bawa kunci itu ke bandara, sebelum pukul sembilan pagi. Aku akan menunggu kalian."
"Baiklah, aku akan membawa kunci dan pencurinya itu kepada mu," sahut Yafet dengan tawanya.
Kini ia mulai mengerti kenapa Hazal memilih Mert untuk menyusup ke rumah Harun, karena pemuda itu mantan seorang pencuri.
Yafet mengantar dan membawakan koper Hazal hingga ke teras depan. Ia masih belum melihat mobil Kenan di depan rumahnya.
"Masuklah, mungkin sebentar lagi Kenan akan datang," kata Hazal yang melambaikan tangannya kepada kakak angkatnya itu.
__ADS_1
Yafet segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Semetara Hazal tengah duduk di pertengahan anak tangga menunggu kedatangan kekasihnya itu.
Beberapa menit kemudian mobil Kenan berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Hazal melihat Kenan turun sambil memakai kacamata hitamnya.
Putri angkat Emir itu segera berdiri dan menuruni anak tangga.
Seorang penjaga membuka pintu gerbang besar yang terlihat sangat kokoh dan seorang penjaga lain membantu Hazal untuk memasukkan kopernya ke mobil Kenan.
Hazal melemparkan senyum manisnya kepada kekasihnya. Tetapi putra Harun itu hanya menyambut Hazal dengan senyum tipisnya. Tidak seperti biasanya.
"Kau sudah siap?" tanya Kenan yang hendak menyalakan mesin mobilnya.
"Ya, ayo kita berangkat!" seru Hazal dengan bersemangat.
"Kita ke kantor dulu, aku ingin memastikan apa dokumen yang telah kita siapkan itu sudah lengkap atau belum." Kenan segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Fallay.
Di waktu yang sama, Mert tengah melancarkan aksinya di rumah Harun. Pemuda itu mengetahui kebiasaan Harun yang masih tertidur lelap di pagi ini, segera menawarkan dirinya untuk membersihkan ruang kerja rubah tua itu.
"Pergilah, ingat bersihkan yang bersih! Tuan Harun tidak ingin ada satu debu pun menempel di ruangannya!" seru pelayan senior sambil mengingatkan Mert. Seorang wanita setengah tua yang bertubuh gembul, dengan tumpukan lemak yang tersusun di perutnya.
Pemuda itu menurunkan lukisan burung phoenix yang tergantung di dinding dan meletakkannya di atas lantai. Dibukanya papan kayu yang terlihat di belakang lukisan itu. Tampak sebuah lubang berukuran 20 x 30 sentimeter kini berada di depan Mert.
Manik matanya melihat kotak besi yang ada di dalam lubang tersebut.
Tidak ada yang berubah.
Diambilnya kotak besi itu kemudian diletakkannya benda itu di atas meja kerja Harun. Ia kemudian mengambil kumpulan anak kunci yang ada di belakang kotak besi tadi. Kini kedua benda itu sudah berada di atas meja.
Apa sebaiknya aku membawa kotak besi ini sekalian dan kuberikan kepada Hazal. Mungkin ia memerlukannya.
Mert segera menutup papan kayu itu dan meletakkan kembali lukisan burung phoenix ke tempatnya semula.
Pemuda itu menyimpan kotak besi dan kumpulan anak kunci di dalam embernya dan menutupinya dengan kain pembersih meja dan pembersih lantai.
Raut wajahnya tampak terkejut, ketika ia melihat Harun sudah berdiri di depannya tepat ketika ia membuka pintu ruangan itu.
"Pagi Tuan Harun," sapa Mert yang berusaha bersikap santai di depan majikannya itu.
__ADS_1
"Kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Harun dengan tatapan menyelidik. Manik matanya melihat Mert mulai dari atas hingga bawah dan berhenti di ember yang di bawa pelayannya itu.
"Maaf. Itu kebiasaan lamaku, Tuan. Aku tidak ingin temanku mengganggu pekerjaan ku," jawab Mert dengan meyakinkan.
"Pergilah! Kerjakan pekerjaanmu yang lain!" perintah Harun yang segera masuk ke dalam ruangannya.
Mert segera mengembalikan alat-alat kebersihan itu ke tempat nya semula. Ia memeluk kotak besi itu dan memasukkan kumpulan anak kunci itu di saku celananya. Ia memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Aku tidak bisa menyimpan kedua benda ini di sini. Tuan Harun pasti segera menyadarinya. Apa yang harus aku lakukan?
Di Perusahaan Fallay
Hazal yang baru saja selesai menyiapkan berkas-berkas yang akan di bawanya ke Swiss, segera keluar dari ruangan Kenan. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dua jam lagi pesawat nya akan lepas landas.
"Kenan, aku menunggumu di luar," ucap Hazal yang melihat Kenan sedang menelepon calon bisnisnya yang ada di Swiss. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Hazal.
Seperti biasa Hazal sedang berdiri di lorong koridor lantai delapan. Menikmati pemandangan langit pagi hari di musim semi. Seberkas cahaya sinar mentari jatuh mengenai dedaunan. Membuat daun-daun hijau itu tampak berkilau. Dari atas ia bisa melihat bunga-bunga mulai bermekaran bagaikan hamparan permadani yang berwarna-warni.
Hazal merasakan ponsel nya bergetar di dalam tasnya. Ia segera merogoh tangannya mencari-cari benda tipis berwarna merah itu.
Ketemu!
Ia melihat nama Mert di layar ponselnya.
"Halo," sapa Hazal setelah ia menggeser tanda berwarna hijau di layar sentuh ponselnya.
"Hazal, kedua benda itu ada di tanganku sekarang. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" terdengar suara Mert yang berbisik di ujung ponsel Hazal.
Hazal melihat sekelilingnya dilihatnya Kenan sudah keluar dari ruangannya. Dengan spontan Hazal menjawab pertanyaan Mert, "Larilah sejauh mungkin!"
"Siapa yang kau suruh lari?" suara Kenan sudah terdengar di belakang Hazal dan di ujung ponsel Mert.
Mert segera memutuskan panggilannya, begitu juga dengan Hazal.
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya.
__ADS_1