
Pagi ini di rumah keluarga Aksal....
Hazal sedang berada di dapur untuk membuat secangkir kopi. Mesin pemanas air itu berbunyi, kepulan asap kecil membumbung tinggi ke atas. Hazal menuang teko yang berisi kopi panas itu ke dalam cangkirnya.
"Hazal...." Putri angkat Emir itu menghentikan kegiatannya. Tersadar bahwa ada orang lain berada di belakangnya.
"Ya...," jawab Hazal kepada Selina. Dilihatnya istri Yafet itu sedang membawa sebuah cangkir dan menghampirinya.
"Boleh aku minta kopi buatanmu?" tanya Selina begitu ia sudah berada di samping Hazal.
Hazal meletakkan teko panas itu di samping tangan Selina. "Kau bisa menuangnya sendiri." Dalam diam, dia berjalan menjauhi Selina.
"Apa kau tahu siapa kekasih Yafet?" tanya Selina tiba-tiba, ketika dia sedang menuang kopi buatan Hazal ke dalam cangkir kosongnya.
Hazal terdiam untuk beberapa detik, tanpa membalikkan badannya, dia menjawab pertanyaan Selina. "Aku tidak tahu, kau bisa menanyakan sendiri pada suamimu."
Hazal kembali melanjutkan langkah kecilnya. "Kekasih Yafet itu bernama Ha...," ucapan Selina terhenti, ia ingin memancing Hazal untuk mengatakan yang sebenarnya. Wajah Hazal yang membelakangi Selina terlihat pucat dan kikuk.
Apa dia sudah mengetahui yang sebenarnya?
Langkah kecil Hazal berhenti, begitu mendengar perkataan Selina. Dengan cepat, ia kembali menguasai dirinya. Mengubah ekspresi wajahnya menjadi setenang air.
"Ha... siapa? Yang aku tahu, kakakku sudah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya itu, hanya untuk menikahi denganmu!" seru Hazal sembari membalikkan badannya ke arah Selina.
"Daripada kau membuang waktumu untuk memikirkan siapa mantan kekasih kakakku, lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya mendapatkan kembali cinta Yafet!" seru Hazal sambil menatap tajam wajah kakak iparnya.
Selina terdiam sambil meminum kopi buatan Hazal. Setengah manik matanya, menatap punggung Hazal yang telah pergi meninggalkannya. Jari telunjuknya memutari bibir cangkirnya itu.
Cepat atau lambat, aku akan menemukan siapa wanita itu....
Setelah meninggalkan dapur, Hazal melangkahkan kedua kakinya menuju ke kamar Nuran. Ibu dan anak itu sedang merapikan tumpukan pakaian mereka yang ada di dalam keranjang rotan.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Hazal yang mendongakkan kepalanya di depan pintu. Ia segera masuk ke dalam kamar, dan berjongkok di samping Nuran. Hazal membantu mereka melipat pakaian yang telah di bersihkan dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Tak sengaja manik mata Hazal tertuju pada sebuah pucuk kertas berwarna yang ada di tumpukan baju Nuran. Tanpa bertanya pada pemiliknya, Hazal menarik kertas itu. Foto lama Ted Baxter, dengan raut wajah yang masih muda.
"Maaf... aku telah lancang mengambil foto ini," ucap Hazal yang menyadari sikap lancangnya.
"Tak apa," jawab Nuran sambil mengambil foto almarhum suaminya itu dari tangan Hazal. Sebuah senyuman terlukis dari bibirnya yang pucat.
Mereka berdua saling menyimpan foto masing-masing. Aku tahu kalian sebenarnya saling mencintai. Takdir selalu mempermainkan setiap manusia....
Hazal memperhatikan sikap Nuran yang kembali memasukan foto suaminya di antara tumpukan pakaiannya.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di halaman depan," kata Hazal bangkit berdiri dan berjalan keluar.
Hazal memasang mantelnya ketika ia keluar ke halaman depan. Putri angkat keluarga Aksal itu sedang melihat Yafet sedang memanasi mobilnya.
"Kau mau kemana?" tanya Yafet setelah pria itu menutup pintu mobil sportnya.
"Menemani Nuran dan Ali ke pemakaman Ted Baxter," jawab Hazal yang menghampiri Yafet.
"Apa?" Yafet terkejut. "Kau ingin mendoakan arwahnya agar masuk surga?" Pria itu tertawa terkekeh-kekeh. Entah siapa yang ia tertawa kan. Hazal atau almarhum Ted Baxter.
Hazal mendengus kesal mendengar perkataan Yafet. "Balas dendam ku padanya sudah selesai!"
"Baiklah Nona Hazal Aksal...aku akan mengantarmu ke pemakaman, kemudian kita akan Mansion," ucap Yafet sambil menggiring Hazal untuk masuk ke dalam mobil wanita itu. Tak lama kemudian, Nuran dan Ali menyusul mereka.
Selama perjalanan ke tempat pemakaman, mereka berempat hanya duduk diam. Dalam pikiran masing-masing.
Mobil milik Hazal memasuki area pemakaman. Tempat yang sama dimana orang tua kandung Hazal di makamkan. Butiran salju berguguran di mana-mana. Menjatuhi rambut dan pakaian mereka.
Nuran merapikan tudung kepalanya yang berwarna hitam. Kedua matanya tampak memerah. Semua kebencian itu tiba-tiba sirna ketika melihat peti mati itu masuk ke dalam liang lahat. Tangis wanita itu pecah dan wajahnya memerah.
__ADS_1
"Ted...., Ted....," jerit Nuran di tengah tangisannya.
Begitu juga Ali, anak muda itu bertahun-tahun tidak merasakan kasih sayang ayahnya. Mendadak ia mendapat kabar bahwa ayahnya adalah seorang pembunuh, harus di penjara, sampai akhirnya terbunuh di dalam ruang tahanan itu.
Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, kenapa sewaktu ayahnya masih hidup, ia tidak pernah menjenguk pria itu di dalam penjara. Ingin sekali ia memeluk ayahnya, tapi semuanya terlambat. Peti mati itu memisahkan mereka selama-lamanya.
Tidak seperti ibunya yang bisa melampiaskan kesedihannya. Ali hanya berdiri menatap liang lahat yang sudah di penuhi tanah dalam diam. Tanpa sebutir cairan bening yang jatuh membasahi wajahnya.
Setelah selesai acara pemakaman, Kapten Ismail menghampiri Hazal, "Ternyata kau di sini juga?"
"Aku hanya menemani istri dan anak almarhum," jawab Hazal.
"Aku sangat salut padamu, Hazal. Kau berbesar hati mengantar kepergian orang yang telah membunuh orang tuamu, bahkan kau peduli pada keluarganya. Hatimu terlalu baik," puji sang Kapten.
Hazal tersenyum manis membalas pujian Kapten Ismail. "Kau terlalu memuji, Ismail. Ted Baxter sudah mendapatkan hukumannya, baik di dunia ini maupun di alam sana."
"Apa kau sudah berhasil menemukan jawaban teka-teki Ted Baxter?" tanya Ismail yang sejak tadi memandang lembut wajah Hazal. Tanpa di sadari oleh sang Kapten. Yafet yang berdiri tidak jauh dari Hazal, memperhatikan Kapten Polisi itu.
"Hari ini aku akan mencari jawabannya. Mungkin kau mau ikut denganku?" tanya Hazal. Tapi sepertinya Ismail tidak mendengar perkataan Hazal, karena tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia berjalan menjauhi Hazal untuk menjawab panggilan ponselnya.
Yafet segera menghampiri Hazal. "Apa kau ingin mengajaknya ke Mansion?" tanya Yafet yang mendengar perkataan Hazal kepada Kapten Ismail.
"Ya, mungkin saja ia bisa membantu kita," jawab Hazal ketika pria itu sudah berdiri di depannya.
"Kau melarang ku untuk melibatkan orang luar, tapi kau sendiri?" tanya Yafet sambil melepas kacamata hitamnya. Sebenarnya ia tidak rela melihat kedekatan Hazal dengan Kapten Polisi itu.
"Aku tidak mengerti dengan sikapmu! Ismail bukan orang luar, dia seorang polisi! Kau dan aku mengenalnya!" sengit Hazal.
"Ya... aku tahu dia seorang polisi. Tapi dia bukanlah anggota keluarga kita! Sedikit orang yang mengetahui masalah ini, itu lebih baik!" seru Yafet sambil berbisik di telinga Hazal.
Hazal terdiam mendengar kata-kata Yafet. Apa yang laki-laki itu katakan ada benarnya. Semakin banyak telinga yang mendengar, maka semakin banyak mulut yang berbicara.
Kapten Ismail kembali menghampiri Hazal dan Yafet. "Maaf aku tadi menyela pembicaraanmu, tadi kau ingin mengajakku kemana?"
"Kau tak perlu minta maaf padaku karena hal itu," ucap Hazal yang tersenyum sambil menyentuh lengan kanan sang Kapten.
Kapten Ismail pun membalas senyuman Hazal. Membuat hati Yafet bertambah panas.
Acara pemakaman telah selesai, Yafet dan Hazal mengantar Nuran dan Ali kembali ke rumah keluarga Aksal. Setelah menurunkan ibu dan anak itu, Yafet segera melajukan mobil Hazal menuju ke rumah masa kecil Hazal.
"Sejak kapan kau dan kapten polisi itu saling akrab?" selidik Yafet.
"Baru saja. Oh iya... kau belum menceritakan tentang pengacara Alfred. Apa dia sudah tertangkap?" Hazal berusaha membelokkan arah pembicaraan Yafet.
Pria itu mendengus kesal, sambil melirik Hazal yang ada di sampingnya. Ia memindahkan persneling mobil Hazal dengan kasar.
"Pria itu sudah mati, entah siapa yang membunuhnya. Kurasa kapten idolamu itu pasti mengetahuinya."
Hazal tertawa melihat sikap Yafet. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia tidak melihat kecemburuan Yafet. Terakhir kali ia melihat mantan kekasihnya itu cemburu saat teman sekolahnya yang bernama Ozcan mengajaknya kencan.
Yafet mendengus kesal sambil menekuk wajahnya. Pria itu tidak menghiraukan Hazal yang masih terus tertawa. "Dasar tidak peka!" gumam Yafet pelan sambil menghadap kaca jendela yang ada di sampingnya.
Yafet memarkirkan mobil Hazal di depan bangunan besar yang ada di daerah Bosphorus, Istanbul. Sebuah tulisan dengan tinta emas masih terpampang melekat di dinding pagar. WATERSIDE MANSION DANNER.
Hazal membuka gembok gerbang rumah masa kecilnya. Mereka berjalan menuruni beberapa anak tangga yang membawa mereka ke sebuah taman yang tertutup salju tebal. Setelah melewati taman, mereka menapaki satu per satu anak tangga untuk menuju ke pintu utama.
Hazal masih menyimpan kunci pemberian Emir, sewaktu ia berulang tahun ke tujuh belas. Dengan kunci itu, ia berusaha membuka pintu utama Mansion. Meskipun sedikit susah, Hazal berhasil membuka pintu besar itu.
Suara pintu kayu yang terbuka itu membahana di dalam Mansion itu. Aroma bangunan tua tercium begitu pintu di buka. Setelah bertahun-tahun, Mansion ini tertutup dan tidak berpenghuni.
Sarang laba-laba dan debu muncul di mana-mana. Kain putih yang sudah memudar itu menutupi seluruh perabot di dalam Mansion ini.
Ingatan masa kecilnya kembali muncul di dalam pikiran Hazal.
__ADS_1
*Hazal, apa kau suka jika Ayah meletakkan mu di belakang leher Ayah? Yaa... aku terbang
Tangkap bolanya, Hazal....
Kau tahu Hazal, jika kau besar nanti... Kau pasti akan menjadi seorang gadis yang sangat cantik...
Ibu akan selalu ada untukmu, sayang...
Setiap hari Ibu akan menguncir rambutmu seperti seekor kelinci...
Ayah akan selalu bersamamu... kita bertiga tidak akan pernah terpisahkan*...
Tanpa terasa air mata itu menetes membasahi wajah Hazal, ketika langkah kakinya melangkah dengan gontai.
"Ayah....Ibu...!" jerit Hazal tiba-tiba sambil menutup kedua telinganya dan membungkukkan dirinya.
Yafet segera menghampiri dan memeluk Hazal dengan erat. Tangan kekarnya mengusap dengan lembut rambut coklat Hazal, "Tenanglah... aku ada di sini. Jangan takut...."
"A-aku melihat ma-sa kecil ku... di rumah ini. A-aku melihat a-ayah dan i-ibuku. Me-mereka bermain ber-samaku," ucap Hazal sambil terbata-bata karena menahan tangisnya.
"Tenangkan pikiranmu, aku tahu kau sangat merindukan orang tuamu. Tapi kita tidak punya banyak waktu untuk mencari rahasia orang tuamu. Sebelum hari gelap, kita harus segera pergi dari tempat ini," hibur Yafet yang masih mendekap Hazal dalam pelukannya.
Setelah Hazal kembali tenang, ia melepaskan dirinya dari pelukan Yafet. Ia mengusap cairan bening itu dari wajahnya. "Ya...kau benar. Aku harus fokus mencari jawaban teka-teki itu."
Mereka berdua memasuki ruangan demi ruangan yang ada di Mansion besar ini. Mereka membuka setiap laci dan lemari yang ada. Hingga akhirnya, satu ruangan terakhir yang belum mereka masuki. Ruang kerja Erkan Danner.
Pintu kayu bercat putih itu terbuka lebar. Seekor tikus hitam keluar dari ruangan itu menyapa mereka. Hazal segera melompat ke arah Yafet, begitu binatang berbulu itu berlari ke arahnya. Dengan spontan, Yafet menggendong Hazal. Membuat kedua bibir itu saling menempel.
Mereka saling memandang cukup lama, hingga akhirnya Hazal menyadari statusnya saat ini. Ia segera turun dari gendongan Yafet dan memasuki ruangan itu.
"Aku...," ucap Hazal dengan kikuk di depan mantan kekasihnya itu.
Yafet hanya tersenyum melihat tingkah laku wanita yang dicintainya itu. "Ayo kita periksa ruangan ini!" ajaknya.
Yafet dan Hazal membongkar lemari buku yang ada di sisi kanan ruangan. Aroma buku tua dan berjamur menyeruak begitu lemari kaca itu dibuka. Di lemari buku ini mereka tidak menemukan apa-apa selain buku-buku bisnis dan fashion yang berjejer rapi di dalam lemari. Kertas-kertas itu sudah lapuk berwarna kecoklatan.
Hazal menghampiri meja kerja ayahnya. Sementara Yafet membuka laci-laci kecil yang ada di bawah lemari buku. Beberapa alat tulis, buku agenda, kalender duduk tahun 2000, dan sebuah notes kecil ada di atas meja tersebut.
Hazal membuka agenda milik ayahnya, setiap lembar ia buka. Tulisan-tulisan ayahnya yang berisi jadwal rapat dan jadwal kegiatan kerja lainnya. Ia meletakkan kembali agenda itu.
Pandangan Hazal seketika tertuju pada letak gagang telepon yang janggal. Gagang telepon itu tidak menempel sempurna di tempatnya.
Apa waktu itu ayah sedang menghubungi seseorang dan tiba-tiba ia keluar. Atau ada orang lain yang masuk ke ruangan ini? Aku rasa tidak ada seorang pun yang masuk ke Mansion ini sejak orang tua ku meninggal.
Hazal meletakkan gagang telepon itu ke pesawat nya dengan benar. Kemudian ia mengambil kalender duduk itu, tidak ada coretan atau tanda-tanda tulisan di sana. Ia mengembalikan kembali kalender duduk di atas meja.
Sekarang manik matanya tertuju pada notes kecil yang tergeletak di samping pesawat telepon. Di bukanya lembaran-lembaran notes yang perekatnya sudah mulai menghilang. Kosong. Tidak ada memo atau pesan yang di tulis ayahnya.
Keempat jari kanannya merasakan sesuatu di lembaran pertama notes itu. Sebuah garis kasat mata, tak terlihat. "Apa ini? Sepertinya ada goresan di kertas ini," gumam Hazal.
Segera ia mengambil sebuah pensil di kotak alat tulis yang ada di atas meja. Hazal meng-arsir goresan kasat mata yang ada di kertas notes itu. Semakin lama....arsiran itu membentuk sebuah huruf-huruf kapital.
Hazal meng-arsir penuh satu lembar kertas kecil itu. Pensil itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
"Yafet...!" pekik Hazal dengan keras. Membuat pria yang ada di dekatnya itu terkejut.
"Ada apa?" tanya Yafet yang segera mendatangi Hazal. "Apa ada tikus lagi?"
"Kau lihat ini....! Kau lihat arsiran pada kertas kecil ini...!" seru Hazal sambil menunjukkan kertas itu kepada Yafet.
Pria itu mengambil dan membaca huruf-huruf yang muncul di tengah-tengah arsiran Hazal. Huruf-huruf kapital itu membentuk suatu nama yaitu FALLAY.
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa setelah baca kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... Terimakasih 🙏😊🤗