
Sore ini Hazal sedang berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya. Dengan memakai baju setelan two pieces yang terbuat dari kain sifon yang berwarna nude. Memperlihatkan lengannya yang terbuka. Sebuah rok bawah dengan model asimetris yang jatuh melambai, membuat gadis muda ini terlihat anggun. Diangkatnya rambutnya ke atas, membentuk sebuah gelungan dan di hiasinya dengan karet rambut berwarna senada dengan warna rambutnya. Ia menyisakan beberapa anak rambut yang menghiasi leher jenjangnya.
"Wow... kau sangat cantik Hazal," puji Carina yang baru saja masuk ke dalam kamar, dan berdiri di belakang Hazal. Melihat bayangan temannya dari pantulan cermin yang ada di depannya.
"Kau terlalu memuji ku Carina, lihatlah dirimu... Kau juga sangat cantik. Pantas saja Lee tergila-gila padamu. Hazal balas memuji penampilan Carina yang memakai gaun one shoulder nya yang berwarna merah. Kedua pipi chubby Carina memerah mendengar perkataan Hazal.
Gadis Turki itu mendekati Carina, mengajaknya untuk duduk di atas tempat tidurnya yang di dominasi oleh warna putih. "Bagaimana hubunganmu dengan Lee? Apakah kau telah jatuh cinta padanya?"
Carina hanya menatap wajah Hazal dalam diam. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Lee. Mengingat bagaimana waktu itu Lee mendekatinya hanya karena ingin memanfaatkan nya saja, tapi seiring berjalannya waktu, ia juga merasakan perhatian Lee kepada dirinya.
"Hei, kenapa kau diam saja?" tanya Hazal dengan suara manjanya.
"Entahlah. Waktu itu hubungan kami hanya sekedar transaksi saja. Aku memberikan apa yang dia butuhkan, begitu juga sebaliknya."
"Tapi hari ini, dia mengajakmu berkencan. Pasti ada sesuatu yang akan di bicarakan nya. Setelah pulang nanti, ceritakan padaku apa yang terjadi. Jika Lee membuatmu menangis, awas saja !!! Aku akan membantumu menghajar pria Jepang itu !!" ujar Hazal yang mengepalkan tangannya ke udara. Kedua gadis itu tertawa bersama-sama, hingga sebuah bunyi bel apartemen mengejutkan mereka.
Mereka saling berpandangan, menebak pangeran siapa yang datang menjemput mereka. Setelah bel berbunyi untuk kedua kalinya, mereka memutuskan untuk membuka pintu itu bersama-sama.
Terlihat ada dua buket bunga yang menutupi dua wajah pria yang ada di depan mereka. Buket bunga pertama adalah bunga mawar merah, sedangkan buket bunga kedua adalah bunga tulip merah. Kedua pria itu masing-masing memberikan satu lembar kertas kepada kedua gadis yang ada di depannya. "Apa ini?" tanya Hazal dan Carina.
Kedua gadis itu membaca kertas yang ada di genggaman tangan mereka, sebuah kalimat yang meminta mereka untuk memilih bunga kesukaan mereka. Hazal dan Carina saling berpandangan, beberapa detik kemudian tangan mereka telah memegang bunga yang mereka sukai. Hazal memilih bunga mawar merah, sedangkan Carina memilih bunga tulip merah. Tangan mereka saling menyilang. Kedua gadis itu memegang tangan pria yang di pilihnya, dan membawa mereka masuk ke dalam apartemen.
Ternyata tebakan para gadis itu benar !! Kedua pria itu adalah Yafet dan Lee. Yafet langsung mendaratkan ciuman nya di pipi Hazal, dan memberikan buket bunga mawar kepada kekasihnya itu. Lee memberikan pelukan nya kepada Carina dan memberikan bunga tulip itu kepadanya. Kedua gadis itu tersenyum bahagia, dengan kedatangan pangeran mereka.
Setelah meletakkan kedua buket bunga itu ke dalam kamar, kedua gadis itu segera menemui kekasih mereka. Yafet dan Lee mengajak kedua gadis itu untuk melakukan double date.
Ketika mereka akan masuk ke dalam lift apartemen, tiba-tiba ponsel Yafet berbunyi. Sebuah panggilan dari David menghentikan langkah kaki mereka. Panggilan telepon yang membuat kedua pasang kekasih ini batal melakukan kencan bersama mereka.
"Ladies, maafkan kami. David dan Smith sudah menunggu kita. Mungkin kita bisa melakukan double date kita lain waktu," ucap Yafet dan Lee kepada Hazal dan Carina.
"Oke... kami akan ikut bersama kalian," ucap Hazal yang di setujui oleh Carina. Kedua gadis itu menarik lengan pria mereka untuk masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke pintu keluar yang berada di lantai satu. Mereka pergi menemui David dengan membawa dua mobil.
***
Tiga puluh menit kemudian, mereka memasuki suatu kawasan hunian di pinggiran kota New York. Di lingkungan ini banyak di tinggali oleh kaum pendatang yang berasal dari luar Amerika Serikat. Lee dan Yafet memarkirkan mobil mereka di depan mobil Smith yang berwarna biru. Mereka pun keluar dari mobil mereka masing-masing dan berjalan menghampiri Smith, David dan Jason yang sudah berdiri di depan sebuah bangunan apartemen yang di dominasi dengan warna hijau.
Smith hanya mengajak Yafet dan Hazal untuk masuk ke dalam bangunan apartemen tersebut, agen FBI itu hanya mengajak mereka berdua karena ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan penghuni apartemen. Mereka semua pun menyetujui permintaan Smith.
Ketiga orang itu menapaki satu per satu anak tangga. Tibalah mereka berada di depan sebuah pintu apartemen dengan nomor 505.
Smith mengetuk pintu kayu yang ada di depannya, dan beberapa detik kemudian, seorang wanita tua yang berumur sekitar 60 tahunan berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Kalian mencari siapa?" tanya wanita tua tersebut dengan bahasa Turki nya. Smith menepuk dadanya beberapa kali sambil tersenyum, beruntung dirinya membawa Yafet dan Hazal yang fasih berbahasa Turki. Jika dirinya mengajak yang lain, maka dia akan menggunakan bahasa Tarsan untuk berbicara dengan wanita tua ini.
"Apa betul ini rumah Ted Baxter ?" tanya Yafet
"Iya, ini rumah Ted. Aku ibunya," jawab Nyonya Baxter yang tersenyum dengan lembut. Terlihat kerutan-kerutan halus di wajahnya. Wanita tua itu mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di dalam.
"Ada keperluan apa kalian mencari anak ku?" tanya Nyoba Baxter ketika ketiga tamu asingnya itu telah duduk di hadapannya. Yafet dan Hazal saling berpandangan, tetapi beberapa detik kemudian Hazal membuka suaranya.
"Nyonya Baxter, perkenalkan nama ku Leyla. Dia adalah kakak ku, Yafet dan dia adalah teman kakak ku, Smith." Hazal memperkenalkan kedua lelaki itu kepada ibunya Ted. Mereka pun saling bersalaman.
"Maaf jika kedatangan ku ke sini mengganggu Nyonya. Saat ini aku sedang mencari anak Nyonya. Apa Ted ada di sini?" tanya Hazal dengan suara lirihnya dan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ted tidak ada di sini, sudah beberapa bulan ini dia tidak pulang kemari," jawab Nyonya Baxter.
"Tiba-tiba Hazal menangis pelan dan mengusap air matanya, "Kemana lagi aku harus mencari mu Ted?" Yafet dan Smith terkejut melihat Hazal yang tiba-tiba menangis.
"Ada apa nak? Apa Ted telah melakukan sesuatu padamu?" tanya Nyonya Baxter yang segera memberikan sekotak tisu kepada Hazal. Gadis itu mengambil satu lembar tisu dan menghapus air mata palsunya.
"Dia... dia telah menghamili diriku. Saat ini aku tengah mengandung anaknya. Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi aku tidak bisa menemukannya. Kami telah menjalin hubungan sekitar enam bulan, dan aku telah menyerahkan segalanya yang aku miliki karena dia berjanji akan menikahi ku. Tetapi nyatanya ketika aku memberitahu dia, bahwa aku telah hamil, dia malah menghindari ku, aku mencoba menghubungi ponsel nya tapi selalu tidak berhasil," ucap Hazal dengan air mata palsunya yang mengalir membasahi wajahnya. Melihat akting Hazal, Yafet tertawa di dalam hatinya, "Bagaimana dia bisa punya ide sekonyol itu?" Sedangkan Smith yang tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Hazal, hanya bisa menikmati opera sabun yang dimainkan oleh Hazal.
Nyonya Baxter terlihat seperti terpukul mendengar cerita Hazal. Tangan wanita tua itu bergetar ketika ia memegang tangan Hazal. Ia tak menyangka anaknya akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. "Apa benar yang kau katakan?" tanya Nyonya Baxter yang memandang wajah Hazal yang telah basah karena air matanya.
"Semua yang aku katakan itu benar, Nyonya. Aku tidak bohong. Saat ini aku menemui mu karena ku pikir, Nyonya adalah satu-satunya harapan ku untuk menemukan Ted. Aku hanya ingin dia menikahiku, Nyonya. Aku tidak bisa pulang kembali ke Turki dengan keadaan ku yang seperti ini. Bagaimana aku bisa menghadapi kedua orang tuaku. Kumohon bantulah aku, Nyonya. Dimana aku bisa menemukan Ted?" mohon Hazal kepada wanita tua itu. Gadis itu tak henti-hentinya menangis di depan Nyonya Baxter.
Nyonya Baxter memikirkan sejenak apa yang harus ia lakukan. Kemudian wanita tua itu mengambil sebuah buku kecil yang ada di atas meja dan meletakkan kacamata bacanya di daun telinganya. Ia mencari nama Ted di buku kecil yang di pegang nya.
"Nah, ini dia. Aku tidak tahu apakah Ted masih tinggal di sana atau tidak," ucap Nyonya Baxter yang menunjukkan buku kecil itu kepada Hazal. Gadis itupun mencatat alamat Ted yang ada di Turki di ponselnya.
"Nyonya, alamat siapa yang ada di baris kedua ini?" tanya Hazal yang mengembalikan buku kecil itu kepada Nyonya Baxter.
"Alamat pertama adalah rumah almarhum suamiku, ayah Ted. Setelah ayah Ted meninggal Ted mengajak ku untuk tinggal di New York. Sedangkan alamat yang kedua adalah alamat istri Ted," jawab Nyonya Baxter yang memberi intonasi pelan ketika menyebut kata istri Ted kepada Hazal.
"Apa? Jadi laki-laki itu sudah menikah? Kakak apa yang harus aku lakukan, apa aku gugurkan saja anak dalam kandungan ku ini? Ted sudah membuat hidupku hancur," tangis palsu Hazal kian menjadi. Dengan cepat Nyonya Baxter memeluk Hazal, gadis itu merasa bersalah telah membohongi wanita tua ini.
"Tidak... kau tidak boleh menggugurkan kandunganmu !! Itu dosa !! Anak ini tidak bersalah. Kuharap Ted bisa berubah. Sebenarnya dia adalah anak yang baik, hanya saja pergaulan membuat dia menjadi seperti ini. Dulunya Ted adalah seorang anggota pasukan militer di Turki, ayahnya sangat berharap Ted bisa mempunyai karir di sana. Tetapi karena ia telah melakukan kesalahan, maka Ted di pecat dan di keluarkan dari kesatuan militer itu, sejak itu Ted menempuh jalan yang salah. Entah sudah berapa banyak hal yang sudah ia perbuat," ucap Nyonya Baxter yang menangis di depan mereka semua.
"Nyonya, kira-kira kapan Ted akan kembali ke New York?" tanya Yafet.
"Aku tidak tahu, bisa tiga bulan sekali, atau sebulan sekali dia akan mengunjungi ku," jawab Nyonya Baxter. Wanita tua itu mengambil ponselnya dan memberitahukan nomor ponsel Ted kepada Hazal.
Setelah mencatat nomor ponsel Ted, Smith memberikan kode untuk menyudahi percakapan merek. Hazal dan Yafet berpamitan kepada Nyonya Baxter. Mereka bertiga berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Tunggu nak Leyla, bagaimana kau tahu tempat tinggal ku?" tanya Nyonya Baxter kepada Hazal. Sejenak Hazal berpikir, jawaban apa yang harus ia katakan.
"Waktu itu Ted pernah mengatakan padaku, bahwa ia tinggal di New York bersama dengan ibunya di pinggiran kota New York, di kawasan khusus kaum pendatang. Jadi aku mencoba mencarinya di daerah sini, bertanya pada orang-orang sekitar sini, sampai akhirnya ada seseorang yang memberitahu tempat tinggal Nyonya," jelas Hazal.
"Baiklah, nak. Jaga dirimu baik-baik. Semoga kau bisa menemukan Ted dan menyelesaikan masalah kalian," ucap Nyonya Baxter yang memeluk Hazal dan mengusap punggung gadis itu. Setelah Nyonya Baxter melepaskan pelukannya, wanita tua itu mengijinkan mereka untuk keluar dari apartemen nya.
Dengan cepat mereka bertiga menuruni anak tangga untuk menemui teman-teman mereka di bawah. Tetapi karena Hazal kurang hati-hati, kaki gadis itu terkilir dan terjatuh di tangga.
"Hazal....!!" teriak Yafet yang segera menghampiri kekasihnya itu. Beruntung mereka sudah sampai di lantai satu, teriakan Yafet tidak terdengar di telinga Nyonya Baxter. Smith juga menghampiri Hazal, "Kau tak apa-apa ?"
"Kaki ku... kaki ku sepertinya terkilir. Rasanya sakit sekali," jawab Hazal yang memegangi pergelangan kaki kanannya. Yafet segera menggendong Hazal dan membawanya keluar apartemen.
Begitu mereka tiba di luar apartemen, Yafet mendudukkan Hazal di atas kap mesin mobil Smith.
"Apa yang terjadi dengan mu, Hazal?" tanya Carina yang melihat Hazal yang tidak bisa berdiri.
"Kurasa aku terkena karma, karena telah membohongi wanita tua itu," jawab Hazal yang membuat Carina dan yang lainnya kebingungan.
"Maksudmu?" tanya Carina sambil memicingkan kedua matanya.
Yafet menceritakan sandiwara spontan yang di buat oleh Hazal untuk mendapatkan informasi tentang Ted Baxter dari ibu penjahat itu.
"Apa? Kau mengatakan bahwa kau mengandung anak Ted? Bisa kubayangkan jika itu sungguhan terjadi, maka kekasih mu ini akan mencincang habis penjahat itu," seru Lee kepada Hazal dan Yafet yang membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Kalian lihat, bagaimana ekspresi wajah Hazal yang menangis histeris saat itu," ucap Smith yang masih tidak bisa menahan tawanya.
"Oh ya? Kurasa Hazal lebih cocok sebagai pemain film daripada menjadi seorang Jaksa," seru David dengan wajah konyolnya.
"Sudahlah kalian membuatku malu. Apa kalian masih ingin tertawa sampai pagi? Ayo cepat... kita harus segera pergi dari sini," ajak Hazal yang segera membubarkan mereka semua. Segera mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Yafet menggendong Hazal seperti seorang pengantin dan membawa gadis itu ke dalam mobilnya. Beberapa menit kemudian, mereka telah meninggalkan daerah itu.
❤️ Bersambung ❤️
Teman-teman semua terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu kelanjutan novel "Dangerous Love" ini 😍 Jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian yah...
__ADS_1
Supaya aku makin semangat nulisnya dan bisa kasih sesuatu yang menarik di novel ku ini 😊 Terima kasih 😘🤗😘🤗