DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Berakhir di Januari


__ADS_3

"Hazal...!" pekik Meral yang terkejut melihat putri angkatnya sudah berdiri di depan pintu. Hazal seakan tidak percaya dengan apa yang barusan saja ia lihat dan yang baru saja ia dengar, ia menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kedua manik mata coklat itu nampak berkaca-kaca.


Mendengar pekikan Meral, membuat Yafet dan Emir segera menoleh ke arah pintu kamar.


"Hazal...," ucap Yafet dan Emir secara bersamaan. Belum sempat Yafet berdiri dan mengejar kekasihnya, Hazal sudah lari keluar sambil mengusap air matanya dan meninggalkan kamar ayahnya.


"Hazal...!" teriak Yafet yang segera berdiri dan mengejar wanita itu. Tetapi Hazal tidak memperdulikan teriakan Yafet yang memanggil namanya, ia masih saja terus berlari semakin jauh. Hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan Yafet.


"Hazal...!" teriak Yafet yang mengejar Hazal hingga ke lobi rumah sakit, tetapi Hazal terus berlari melewati pintu kaca, hingga dirinya keluar dari rumah sakit dan berada di jalan raya yang di penuhi dengan gundukan dan hamparan salju yang sudah mengeras.


Setelah berlari sekitar satu kilometer, napas Hazal mulai terengah-engah. Ia sudah tidak kuat berlari lagi. Butiran-butiran benda putih yang dingin dan lembut itu jatuh di atas kepalanya yang tertutup oleh topi rajut berwarna merah. Sepasang kakinya yang terbungkus sepatu boot itu melangkah menuju ke sebuah pohon yang berada di depan, sekitar lima langkah dari tempat dia berdiri saat ini. Tangan kanannya ia sandarkan di batang pohon yang besar, yang sebagian daun-daunnya tertutup oleh salju.


Yafet yang masih terus berlari mengikuti Hazal, melihat kekasihnya itu sedang menyandarkan dirinya di sebuah pohon besar. Di langkahkan kakinya menuju ke tempat di mana Hazal berdiri.


"Hazal...," ucapnya.


Ketika dilihat Hazal bahwa Yafet akan menghampiri dirinya, wanita itu berniat untuk lari menjauhi Yafet. Tetapi dengan cepat Yafet menarik baju dingin Hazal, dan membuat langkah kaki Hazal berhenti.


"Lepaskan aku...!" teriak Hazal yang mencoba menarik baju dinginnya yang berwarna merah dari tangah Yafet.


Tidak ada perkataan yang keluar dari bibir laki-laki itu, Yafet mengatupkan kedua bibirnya, diam membisu. Yang dilakukannya hanya menarik tubuh Hazal dan memeluknya.


"Lepaskan aku....lepaskan aku...!" Hazal berteriak-teriak di dalam pelukan Yafet, tubuhnya meronta dan mulai memberontak. Semakin Hazal ingin melepaskan dirinya, semakin erat Yafet memeluknya.


"Ijinkan aku memelukmu saat ini, mungkin ini adalah... pelukan terakhirku untukmu," ucap Yafet dengan pelan di telinga Hazal. Ia tidak sanggup untuk mengatakan perpisahan dengan Hazal.


Tubuh Hazal masih memberontak, ia ingin melepaskan diri dari pelukan Yafet. Tetapi kemudian dia menangis di dada Yafet.


"Lepaskan aku... kumohon lepaskan aku...," isak tangis Hazal yang memohon dengan sangat pada Yafet. Laki-laki itu melepaskan pelukannya, dilihatnya wajah Hazal yang penuh dengan air mata. Ia mengusap lelehan cairan bening yang mengalir di bawah mata Hazal, tetapi Hazal segera menangkis tangan Yafet untuk tidak menyentuh wajahnya.


"Jangan mengasihani aku! Jika pada akhirnya kau akan meninggalkanku!" teriak Hazal dalam tangisannya. Ia mengusap sendiri air matanya dengan salah satu telapak tangannya.


"Kenapa....kenapa kau lakukan ini padaku? Aku mempercayaimu... aku percaya bahwa kau sangat mencintaiku... aku percaya padamu, Yafet...," isak tangis Hazal yang membuat manik mata dan hidungnya memerah.


Yafet hanya terdiam seperti seorang pengecut yang tidak bisa memberikan penjelasan kepada Hazal.


"Aku percaya... bahwa kau... tidak akan melakukan hal itu dengan Selina! Tapi kenapa...kenapa kau menghancurkan semuanya, Yafet...!" teriak Hazal sambil menangis di hadapan laki-laki itu.


"Kau menghancurkan semua impian kita, impianmu dan impianku...!" Hazal memukuli dada Yafet berulang kali.


"Sekarang aku bertanya padamu, jawab aku dengan jujur! Apa...apa betul....kau akan menikahi Selina?" tanya Hazal dengan penekanan suaranya.


Sekali lagi... tidak ada yang keluar dari mulut pria itu. Kedua bibir tipis berwarna merah muda itu tertutup rapat. Sepasang mata elang itu hanya menatap sepasang manik mata coklat yang telah memerah.


"Kenapa kau diam saja? Jawab aku Yafet?" teriak Hazal yang mencengkram bagian leher jaket hitam Yafet dan mengguncang tubuh laki-laki itu.


"Jawab aku..., apa yang kau katakan tadi di kamar ayah itu benar? Apa kau akan menikah dengan Selina?" teriaknya di depan wajah Yafet. Suasana menjadi hening.


"Jawab aku Yafet...." Suara Hazal semakin lama semakin melemah.


Yafet memegang telapak tangan Hazal yang masih memegang jaketnya. "Itu... benar. Aku...aku akan... menikahi Selina," kata Yafet dengan suara pelan, ia tak kuasa mengatakan hal yang menyakitkan ini. Mata elang itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak sanggup melihat kedua manik mata Hazal.


Hazal melepaskan tangannya dari jaket Yafet dengan perlahan. Kali ini dirinya mendengar perkataan itu cukup jelas, tepat di depan mata dan telinganya.


Plaaakkkk......!


Tangan lembut Hazal itu melayang di pipi kanan Yafet. Sebuah tamparan yang meninggalkan rasa panas dan merah di wajah Yafet. Pria itu hanya memejamkan kedua matanya, baginya tamparan Hazal itu kurang cukup untuk menghukum dirinya. Tanpa ia sadari, cairan kristal bening itu mengalir membasahi hidung mancungnya.


"Pukul aku... jika itu bisa... menebus kesalahanku padamu...," ucap Yafet yang berdiri mematung di depan Hazal. Pria itu siap menerima tamparan atau pukulan lebih banyak lagi dari Hazal.


Tetapi Hazal sedang berusaha melepas cincin pemberian Yafet. "Jangan... jangan kau lepas cincin ini," ucap Yafet yang berusaha memasukkan kembali cincin pemberiannya ke jari Hazal. Terjadi tarik menarik di antara mereka. Tetapi sayang, cincin itu telah terlepas dari jari Hazal.


"Jika kau memilih Selina, untuk apa cincin ini ada di jariku? Mulai saat ini, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, karena...karena bagiku pria yang aku cintai sudah mati! Dia akan menjadi milik wanita lain!" teriak Hazal di depan Yafet.


Kemudian dia melempar jauh cincin itu dan logam mulia itu terjatuh menggelinding di sebuah danau yang sudah membeku. Setelah melempar cincin tersebut, Hazal mendorong tubuh Yafet untuk menjauh darinya.


"Aku membencimu Yafet Aksal! Aku sangat membencimu!" teriak Hazal yang kemudian lari meninggalkan Yafet.

__ADS_1


Pria itu tidak mengejar Hazal, ia tidak sanggup untuk memberikan penjelasan kepada wanita itu. Kakinya terasa lemas untuk melangkah, ia hanya melihat punggung Hazal yang semakin lama semakin menghilang. Tubuhnya terjatuh dengan posisi berlutut, kedua lututnya menyentuh hamparan salju yang sangat luas.


"Haaaaazzaaaall.....!" Yafet menjerit sambil membentangkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Seakan ia berusaha ikhlas melepas kepergian wanita yang sangat dicintainya. Laki-laki itu menangis tersedu-sedu sambil mengutuk dirinya.


"Kenapa Tuhan? Kenapa Kau membiarkan aku mencintainya, tapi pada akhirnya aku tidak bisa memilikinya? Kenapa?"


Tangisan putra Emir itu pecah, dia berubah menjadi pria baik karena Hazal. Dia belajar membangun komitmen untuk mencintai satu orang wanita juga karena Hazal. Semuanya karena Hazal. Hazal lah yang telah membuat dia berubah.


"Aku sangat mencintaimu, Hazal....!" jerit Yafet.


Backsound lagu Glend Friedly yang berjudul Januari ini mewakili perasaan Yafet saat ini....


*Berat beban ku....Meninggalkanmu


Separuh napas jiwaku... Sirna...


Bukan salahmu... Apa dayaku...


Mungkin benar... Cinta sejati


Tak berpihak pada kita...


Reff:


Kasihku...


Sampai di sini kisah kita


Jangan tangisi keadaannya


Bukan karna kita berbeda


Dengarkan


Dengarkan lagu.... Lagu ini


Melodi rintihan hati ini


Kisah kita berakhir di Januari


Selamat tinggal kisah sejati ku


Wooo... pergilah....


Woo... Kasihku


Sampai di sini kisah kita


Jangan tangisi keadaannya


Bukan karna kita berbeda


Ooh.... Dengarkan lagu


Lagu ini ..


Melodi rintihan hati ini


Kisah kita berakhir di Januari


Woo, wohoo....


Woo, wohoooo


Yeah.....


Ooh, dengarkan lagu

__ADS_1


Lagu ini


Melodi rintihan hati ini


Kisah kita berakhir wohooo


Berakhir...


Berakhir di Januari


Hu*....


Hazal yang masih terus berlari sambil menangis dan mengusap air matanya, tiba di sebuah taman yang mengelilingi sebuah danau buatan yang sudah membeku karena musim dingin. Ia menunduk, merasakan napasnya yang mulai tersengal-sengal.


Dilihatnya taman itu dengan pepohonan yang berselimutkan salju putih di seluruh daun hijaunya. Ia menuruni beberapa anak tangga untuk mendekati danau yang telah memutih itu. Setiap kenangannya bersama Yafet muncul di dalam memori otaknya. Pertemuan pertamanya dengan laki-laki itu, ciuman pertamanya, pelukan pertamanya, dan kebersamaan mereka di New York dan di Turki. Semuanya itu berputar begitu saja di dalam pikirannya.


"Apa yang kau janjikan padaku, Yafet? Bukankah kau berjanji akan melamar ku di depan ayah dan ibu? Bukankah kau juga berjanji akan menjadikanku istrimu dan ibu dari anak-anakmu?" Hazal berbicara pada danau yang ada di depannya.


"Tapi kenapa? Kenapa kau mengingkari janjimu? Kenapa?"


"Aku mencintaimu....Yaffeett....!" jerit Hazal di tengah-tengah taman dan danau itu. Suara tangisannya pecah di tengah kerumunan beberapa orang yang ada di taman itu.


Di dekat taman itu, duduklah seorang pria berusia hampir 30 tahun. Pria itu sedang mengingat kenangan masa kecilnya bersama dengan ibunya. Ibunya sering membawanya untuk bermain di taman ini, sewaktu musim dingin, tepat di bulan Januari seperti saat ini. Saling melempar bola salju dan membuat boneka salju adalah kegiatan yang sering dilakukannya dengan ibunya di taman ini. Tetapi sekarang wanita itu sudah pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.


Pria itu sangat terkejut mendengar jeritan Hazal yang tidak jauh dari tempat di mana ia duduk. Merasa ada yang mengusik lamunannya, ia segera menghampiri Hazal untuk menegurnya. Tetapi ia mengurungkan niatnya setelah ia mengenali wajah samping Hazal.


"Dasar wanita bar-bar! Tidak tahu aturan...!" pekiknya pelan.


Pria itu membalikkan badannya menjauhi Hazal, ia berharap tidak pernah bertemu dengan Hazal setelah peristiwa yang mempermalukan dirinya di pesta ulang tahun perusahaan Aksal.


"Untuk apa ikut campur urusannya," gumamnya yang segera berjalan meninggalkan Hazal.


Tetapi baru beberapa langkah saja ia berjalan, pria itu berhenti. "Tunggu...ini kesempatanku untuk mengejeknya dan membalas perlakuannya yang telah mempermalukan ku," gumam pria itu yang segera berbalik dan berjalan mendekati Hazal.


Setelah ia kembali ke tempat Hazal, wanita itu ternyata sudah tidak ada di sana. Pria itu mengarahkan pandangannya ke sekeliling taman. Dilihatnya Hazal yang berjalan menuju ke tengah danau yang sudah membeku permukaannya.


"Apa yang sedang dia lakukan di sana?" gumamnya pada dirinya sendiri.


Pria itupun melangkah dan alangkah terkejutnya, permukaan danau yang ia injak itu membentuk garis yang berujung di kaki Hazal. Terdengar suara pergerakan dari bawah kakinya. Garis retakan itu semakin lama semakin jelas, yang artinya bongkahan es itu akan pecah dan danau ini akan mencair.


"Hei..., wanita bar-bar...!" teriak pria itu yang ingin memperingati Hazal.


Tetapi Hazal yang pikiran dan perasaannya hanya terlintas kenangannya bersama Yafet, tidak mendengar teriakan pria itu. Pria itu mengulangi teriakannya memanggil nama Hazal dengan sebutan wanita bar-bar. Tetapi Hazal masih saja terus berjalan semakin ke tengah. Garis retakan yang ada di permukaan danau itu semakin lama semakin jelas dan memperlihatkan kedalamannya.


Tanpa berpikir panjang, pria itu segera berlari menuju ke tempat Hazal. Hamparan salju yang membeku itu bergerak dan membelah menjadi beberapa bagian seiring pria itu berlari mendekati Hazal.


Hazal yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, sangat terkejut ketika ada orang yang mendorongnya. Kedua orang itupun tercebur ke dalam danau yang airnya sangat dingin.


Mereka berdua berusaha naik ke permukaan air, menggoyang-goyangkan kedua kaki mereka di dalam air dan meraih apapun yang ada di dekat mereka.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mendorongku? Apa kau sudah gila? Dasar maniak!" teriak Hazal yang memaki-maki pria itu.


❤️ Bersambung ❤️


Aku mau buat kuis nih...untuk semua pembaca novelku ini dimana pun kalian berada.... Ada hadiah pulsa handphone sebesar 25 ribu buat kamu yang beruntung. Caranya cukup mudah.....🤭


Jawab pertanyaan ku ya...


Siapa pria yang menyebut Hazal dengan sebutan wanita bar-bar?


Note : Aku akan pilih satu orang pemenang dengan jawaban yang benar dan tercepat. Jawaban tulis di komentar ya 😊


Terimakasih buat kalian yang sudah menunggu kelanjutan cerita novel ini. Jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima

__ADS_1


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian


__ADS_2