
Kapten Polisi itu masih memandangi sketsa burung yang di gambar oleh Ted. Ia hendak membuang kertas itu ke tempat sampah yang ada di bawah meja kerjanya, tetapi ia merasa sayang untuk membuangnya. Kemudian di masukkan nya kertas itu ke dalam berkas Ted Baxter. "Mungkin saja, gambaran ini berguna untuk penyelidikan," gumamnya.
Setelah mengetahui bahwa Ted Baxter meminta seorang pengacara. Pengacara Alfred menghubungi Harun Fallay.
"Baru saja Ted hendak kabur dari kantor polisi, dan sekarang ia meminta seorang pengacara. Apa Tuan akan mengirimkan pengacara padanya?" lapor dan tanya pengacara senior itu.
"Apa kau sudah gila? Memintaku untuk mengirim seorang pengacara pada penjahat itu? Aku tidak akan mengirim satu orang untuk membantunya !!" teriak Harun Fallay dengan keras di depan ponselnya, dan kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Halo... halo Tuan." Pengacara Alfred masih mencoba berbicara pada Harun.
"Dia sudah benar-benar gila. Dia ingin cuci tangan dari semua ini," ucap Pengacara Alfred di depan layar ponselnya.
Setelah menghubungi Harun, pengacara itu menyalakan mesin mobilnya menuju ke rumah sakit untuk menemui Emir Aksal. Ia baru saja mengetahui kabar masuknya Hazal ke rumah sakit.
Pengacara Alfred sudah berada di ruang ICU, di depan kamar Hazal. Dari balik jendela pintu kamar, ia melihat Hazal sedang berbaring koma dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Pandangannya menatap tajam ke arah kelopak mata Hazal yang masih tertutup.
"Putri Danner ini akan menjadi kartu As bagiku untuk menghadapi psikopat gila seperti Harun Fallay. Semoga kau masih hidup, Hazal," kata Pengacara Alfred berkata dalam hatinya.
Ia juga melihat Yafet yang berada di samping ranjang Hazal. Ia sungguh malas bertemu dengan putra Emir itu.
"Kau sudah ada di sini, Alfred?" Suara Emir Aksal mengejutkan Pengacara Alfred. Emir baru saja keluar dari toilet dan melihat pengacaranya itu sudah ada di depan pintu ruang ICU.
"Ya Tuan Emir. Aku baru saja sampai. Semoga Hazal bisa segera pulih," ucap Pengacara Alfred yang pura-pura prihatin.
Yafet yang mendengar suara ayahnya sedang berbicara dengan seseorang di luar, berusaha melihat siapa yang datang. Ia pun meninggalkan Hazal seorang diri di ruang ICU.
__ADS_1
"Oh ternyata kau... Mau apa kau kemari?" tanya Yafet kepada pengacara itu tanpa sopan santun.
"Yafet !! Bicaralah yang sopan pada orang yang lebih tua !!" teriak Emir mengingatkan putranya.
"Tak apa Tuan Emir. Yah... beginilah anak muda yang terlalu lama tinggal di luar negeri," ejek Pengacara Alfred dengan wajah yang terlihat masam, mendengar perkataan Yafet yang tidak menghormati dirinya. Yafet hanya menyeringai menanggapi ejekan pengacara keluarganya itu.
"Tuan Emir, bisa kita bicara?" tanya pengacara itu.
"Ya... ada berita apa tentang Ted Baxter?" tanya Emir yang berdiri di depan Pengacara Alfred.
Pengacara itu melirik ke arah Yafet yang berdiri di samping ayahnya, bermaksud memberikan kode pada Emir bahwa ia ingin bicara berdua dengannya.
"Bicaralah di sini. Aku juga ingin Yafet mendengarnya," ucap Emir yang mengerti maksud kode yang diberikan oleh pengacara bunglon itu. Yafet hanya tersenyum melihat kelakuan pengacara itu. Putra Emir itu sudah merasakan ada yang tidak beres dengan pengacara ini.
"Baiklah Tuan, jika itu mau mu. Polisi sedang menyelidiki kasus ini dengan menginterogasi Ted Baxter. Tetapi penjahat itu tidak mau bicara jika dia tidak di dampingi oleh seorang pengacara," jelas sang pengacara.
Dengan cepat pengacara itu menjawab pernyataan Emir, " Orang itu tidak akan membantunya."
"Bagaimana kau tahu pengacara Alfred yang terhormat? Apa kau mengenal orang itu?" Pertanyaan Yafet membuat pengacara itu terkejut. Ia terlihat gugup.
"Tidak, aku tidak tahu. Aku hanya mencoba menebaknya," elak pengacara Alfred. Kedua mata elang putra Emir itu menatap tajam dirinya, wajah dingin Yafet seolah-olah hendak menindih tubuhnya. Ia benar-benar merasa terintimidasi jika berada di dekat Yafet. Ia pun dengan cepat berpamitan kepada Emir dan Yafet.
Sementara itu di dalam kamar ICU, jari tangan Hazal sedikit bergerak. Denyut nadinya yang semula lemah mengalami peningkatan, pergerakannya semakin cepat. Tetapi ia masih menutup kedua matanya. Tidak ada satu orang pun yang melihat kondisi Hazal saat ini.
Setelah kepergian Pengacara Alfred, ayah dan anak Aksal kembali masuk ke dalam ruang ICU. Mereka tidak melihat jari Hazal yang tadi bergerak. Mereka terus bergantian menjaga Hazal. Melihat kondisi Yafet yang terlihat lelah karena harus begadang setiap malam menjaga Hazal, Emir menyuruh Yafet untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Tetapi putranya itu menolak.
__ADS_1
"Apa kau sudah menghubungi kekasih Hazal?" tanya Emir kepada Yafet yang berdiri di dekat ranjang Hazal.
"Kekasih?" tanya Yafet nampak kebingungan dengan pertanyaan ayahnya.
"Hazal pernah memberitahu ayah bahwa ia sudah mempunyai kekasih. Jadi kau coba hubungi kekasihnya, beritahu kondisi Hazal. Agar laki-laki itu datang ke sini. Ayah juga ingin bertemu dengan nya," ucap Emir yang memberikan ponselnya kepada Yafet.
"Aku... ehm... anu... kekasih Hazal...," jawab Yafet tak karuan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa kau tidak tahu siapa kekasih Hazal?" tanya Emir yang mencoba menerka maksud perkataan putranya.
"Aku tidak tahu...," jawab Yafet sambil menghela nafas panjang.
"Bagaimana kau tidak tahu? Kalian kan selalu bersama di New York, Hazal pasti memberitahu mu atau mengenalkan kekasihnya padamu. Awas saja, jika laki-laki itu tidak mengunjungi Hazal selama dia sakit. Ayah tidak akan pernah merestui hubungi mereka. Laki-laki macam apa dia !!" umpat Emir dengan wajah kesalnya.
Yafet terkejut sambil membelalakkan kedua mata elangnya, ketika ia mendengar umpatan ayahnya. Entah apa dia harus tertawa atau menanggapinya nya dengan serius. "Ayah, sebenarnya keka ---"
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca tulisan ku ini. Ku harap kalian menyukainya ❣️ Jangan lupa kasih tip ya buat Author 😊 bisa berupa...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
__ADS_1
🤗 Vote kalian
Makasih 🥰🥰