
Terdengar suara langkah kaki memasuki rumah yang ditinggali oleh Carina. Bukan hanya sepasang kaki tapi ada empat orang laki-laki yang memasuki halaman depan rumah. Terdengar sayup-sayup pembicaraan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, tidak terdengar jelas di telinga Carina yang saat itu berdiri di ruang makan. Seseorang berteriak memanggil namanya begitu pintu depan terbuka. Gadis itu sudah menduga, siapa laki-laki yang memanggil namanya. Segera Carina berjalan menemui Max, ayah tirinya. Dilihatnya Max dan ketiga temannya yang mempunyai penampilan yang hampir sama dengan ayah tirinya. Mereka semua tampak seperti preman atau lebih mirip seorang penjahat, dengan tubuh kekar berotot dan rajahan tato di sepanjang lengan mereka. Bulu kuduk Carina terasa berdiri melihat penampilan mereka.
Tidak ada pelukan hangat dari seorang ayah yang Carina dapatkan, juga tidak ada buah tangan yang akan di berikan padanya. Hanya tatapan mata yang bengis dan penuh kebencian yang ia dapatkan tatkala ia memandang wajah Max. Pria setengah tua dengan tinggi sekitar 170 centimeter, tidak terlalu tinggi buat Carina yang mempunyai tinggi 160 centimeter. Tapi Carina selalu bergidik ketakutan, setiap kali Max memanggil nama nya. Entah apa yang akan di lakukan Max padanya, jika ayah tirinya itu mendapati isi kotak kayu kesayangannya itu telah raib tak bersisa.
"Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada, hah?" teriak Max yang dengan tiba-tiba menampar wajah Carina. Gadis itu hanya bisa menyembunyikan pipinya yang memerah di balik telapak tangannya. Air mata nya telah kering menghadapi siksaan dan perilaku ayah tirinya, bagaikan kulit badak yang tebal karena perlakuan kasar yang sering ia terima
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa." Suara Carina terdengar bergetar. Kedua tangannya ia genggam erat, menahan kegeraman.
"Sudah berani kau membohongiku, hah? Kemana kau tiga hari ini, kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" tanya Max yang sedang mengapit kedua pipi Carina dengan jari tangannya. Gadis itu menahan rasa sakit di pipinya akibat tamparan Max.
"Pon... ponsel ku rusak dan... dan aku sedang sakit," ucap Carina terbata-bata.
Max tidak mempercayai perkataan Carina, ia menyeret tangan Carina dan melempar gadis itu ke lantai, tubuh Carina tersungkur di lantai kamar Max. Laki-laki itu menunduk dan hendak menjambak rambut pirang Carina, tetapi kedua bola matanya tertuju pada sebuah kotak kayu yang ia simpan di bawah ranjang tempat tidurnya.
Ada sesuatu yang berbeda dari kotak kayu tersebut. Tangan Max meraih kotak itu, dilihatnya gembok dan pengaitnya telah rusak. Kedua biji mata Max hampir saja keluar, ketika mendapati bahwa isi kotak itu telah kosong. Dengan penuh amarah, di lemparkannya kotak kayu tersebut ke lantai, hingga pecah menjadi dua. Melihat kemarahan Max, tubuh Carina bergetar hebat, gadis itu benar-benar ketakutan.
"Apa yang kau lakukan dengan kotak ku ini?" teriak Max yang mencengkeram kedua lengan Carina dengan kasar. Gadis itu merintih kesakitan tetapi tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Apa yang akan ia jelaskan, apa ia akan berbicara yang sebenarnya. Tidak. Itulah pikirannya saat ini.
"Dasar kau wanita tidak berguna !! Percuma saja aku memelihara hidupmu !! Lebih baik kau mati menyusul ibumu !!" teriak Max memaki Carina. Laki-laki itu menjambak rambut panjang Carina, menyeretnya keluar dan melemparkan tubuh Carina hingga mengenai kaki meja makan. Carina menahan rasa sakit yang luar biasa pada tulang punggung dan kepalanya. Dia menyeringai menatap wajah Max.
"Bunuh saja aku, Max !! Lebih baik aku mati menyusul ayah ibuku. Daripada aku hidup dengan binatang keji seperti dirimu !!" teriak Carina memberontak. Semakin cepat maut menjemputnya, maka semakin baik baginya. Pikiran gadis itu mengatakan demikian.
Ketiga teman Max hanya tertawa melihat kebrutalan sikap Max kepada Carina. Mereka semua tidak mempunyai rasa belas kasihan sedikitpun pada gadis itu. Max mengambil tongkat pemukul yang ada di kamarnya, ia berjalan mendekati Carina.
"Cepat katakan !! Kau apakan isi kotak itu, hah? Aku sudah memberitahumu, jangan pernah kau sentuh barang ku !!" pekik Max dengan suara keras.
"Sampai matipun, aku tidak akan pernah mengatakan di mana isi kotak itu !!" tantang Carina. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya bernafas di dunia yang fana ini. "Ayah ibu... jemput aku. Bawa aku bersama kalian, aku tidak ingin hidup bersama monster ini."
"Oh... jadi kau ingin menyusul ibumu? Dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaanmu !!" seru Max. Pria setengah tua itu mengayunkan tongkat pemukul yang ada di tangannya. Benda panjang yang terbuat dari kayu itu menyentuh punggung dan kaki Carina dengan keras, rintihan kesakitan terlukis di balik wajah cantik gadis itu. Tatapan matanya memandang pintu belakang yang tertutup, seolah-olah ia hendak memanggil Lee. Tetapi gadis itu hanya bisa mengatupkan mulutnya, tanpa suara, tanpa teriakan, dan tanpa tangisan. Dengan geram Lee melihat kejadian itu di balik jendela yang bertirai, ingin rasanya ia segera masuk dan menolong Carina. Tetapi tangan nya di tahan oleh Jason.
Setelah puas memukul Carina, Max mengapit wajah Carina dengan jari kanannya dan berkata dengan penuh amarah, "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah !!" Kemudian dia memanggil ketiga temannya yang dari tadi hanya menjadi penonton dan berseru kepada mereka, "Nikmati tubuh indahnya sampai dia menemui ajalnya !! Jangan biarkan dia hidup !!"
Ketiga teman Max itupun berdiri dan berjalan menghampiri Carina, tatapan mata mereka bagaikan sekumpulan binatang yang sangat kelaparan, yang ingin menelan Carina hidup-hidup. Gadis itu berdiri dengan perlahan, memundurkan langkahnya dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Berhenti kalian, jangan mendekat !! Max kau benar-benar binatang !!" teriak Carina yang memaki ayah tirinya. Tapi ayah tirinya itu malah bersiul, dan pergi meninggalkan mereka semua.
"Jangan berlagak seperti gadis suci !!" teriak salah satu dari mereka. Mereka mengeluarkan sehelai sapu tangan berwarna biru tua, dan menyobeknya menjadi tiga bagian untuk membuang undi. Menentukan giliran siapa yang lebih dulu menikmati tubuh indah Carina.
Tiba giliran seorang preman yang terlihat lebih muda dari kedua temannya yang lain. Pria itu mengusap hidungnya. Ia berjalan mendekati Carina, gadis itu memundurkan langkahnya hingga terpojok membelakangi sebuah lemari piring. Pria itu terus mendekat kepadanya. Carina melihat sebuah pisau buah yang tergeletak di samping lemari tersebut. Ia mengambil pisau itu dan mengarahkannya ke arah pria yang ada di depannya.
"Jika kau berani mendekatiku, aku akan membunuhmu !!"
"Oh... aku takut," ejek pria itu. "Aku suka wanita pemberontak sepertimu, kau benar-benar membuatku gila, sayang."
Pria itu dengan gesit, memegang tangan Carina dan berhasil melepaskan pisau itu dari tangan Carina.
Melihat hal itu, Lee tak sanggup menahan amarahnya, ia mengatupkan rahangnya melihat salah satu preman itu akan menyentuh Carina.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu !!" seru Lee kepada Jason. Jason pun melepaskan tangan nya, pria Inggris itu juga tidak tega melihat kejadian yang akan dialami Carina. Dirinya juga bukanlah pria baik-baik, tapi dia tidak pernah melihat seorang gadis yang diperlakukan secara tidak manusiawi oleh ayah tirinya.
"Apa kalian tidak punya hati nurani sedikit pun, hah?" seru Lee kepada ketiga temannya yang lain.
"Aku ikut bersamamu," kata Jason. Ia melirik ke arah David, berharap temannya itu juga setuju dengan pendapatnya.
"Ayo kita selamatkan Carina," ucap David bersemangat.
Sementara Yafet hanya bersikap biasa saja. Seolah-olah tidak peduli dengan nasib Carina. Ia tidak ingin ikut campur urusan Carina dengan ayah tirinya. Lee sudah tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan Carina, ia juga tidak punya waktu untuk berdebat dengan Yafet. Pria Jepang itu mendekati Yafet dan memberikan sebuah kantong plastik.
"Oke... aku menyerah !! Ini yang kau cari, jika kau ingin pergi... pergilah !! Aku tidak butuh bantuan dari seorang pengecut seperti dirimu !!" ucap Lee penuh penekanan. Dirinya sudah putus asa menghadapi sikap Yafet.
Lee segera membuka pintu yang menghubungkan antara halaman belakang dengan ruang makan. Ia masuk ke dalam rumah, disusul oleh Jason dan David. Yafet hanya melihat kepergian mereka dengan tersenyum penuh kemenangan. Ia bersembunyi di balik dinding sambil menyeringai melihat kantong plastik yang ada dalam genggaman tangannya.
Nampak Carina berteriak meronta-ronta begitu salah satu dari teman Max itu memegang wajahnya dan hendak menyentuh tubuhnya. Sementara kedua temannya yang lain memegang kedua kaki Carina. Hati Lee sangat miris melihat hal itu. Sebelum salah satu dari pria itu melakukan perbuatan kejinya pada Carina, Lee segera menendang wajah pria yang hendak menyentuh Carina.
"Beraninya kau menyentuh gadisku !! Aku takkan mengampuni mu !!" teriak Lee. Sementara Jason dan David mencengkeram baju kedua pria yang memegang kaki Carina dan melemparkan mereka ke lantai. Dengan tubuh tambunnya, David menyeruduk tubuh preman itu hingga terpojok di dinding. Segera Carina berlari dan bersembunyi di bawah meja makan. Gadis itu mengambil pisau buah yang terjatuh di lantai untuk melindungi dirinya. Telapak tangannya dingin karena rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Terjadi perkelahian tiga lawan tiga. Mereka menghajar ketiga teman Max dengan hebat, pukulan dan tendangan terjadi di dalam rumah itu. Pikiran dan mata Lee benar-benar gelap, ia sangat murka melebihi amarahnya kepada Yafet sewaktu ia berkelahi dengan temannya itu. Tak ada ampun untuk orang yang telah menyakiti Carina. Mereka memperlakukan Carina bagai binatang, maka Lee menghajar mereka tanpa belas kasihan sedikitpun. Ia mematahkan salah satu lengan pria yang mencoba menyentuh Carina dan melemparkan tubuh pria itu ke lemari piring yang ada di sudut ruang makan. Lemari piring yang terbuat dari kaca itupun hancur seketika, pecahan kaca berserakan di lantai. Darah berceceran di lantai, entah darah milik siapa. Pria Jepang itu berteriak memanggil nama Max.
"Max... keluar kau !!" Tetapi ayah tiri Carina itu tidak menampakkan batang hidungnya.
Lee semakin kalap, ia menyeret salah satu teman Max yang terkapar tidak berdaya, ia melemparkan tubuh preman itu ke pintu depan sambil berteriak mencari Max. Ternyata pria jahat itu sedang menikmati cerutunya. Lee melemparkan tubuh lawannya itu ke arah Max. Ayah tiri Carina sangat terkejut karena kedatangan tamu tak diundang yang menggangu pestanya.
Dengan cepat Lee mendaratkan pukulannya mengenai perut Max. Kebencian, dendam dan amarah Lee kepada ayah tiri Carina itu sudah memuncak. Tidak ada ampun untuk pria setengah tua itu. Tidak ada rasa kemanusiaan untuk binatang tersebut.
"Dasar wanita keparat !! Beraninya kau melukai ku!!" geram Max. Pria itu mencengkeram tangan Carina yang sedang memegang pisau, sehingga pisau itu terlepas dari tangan Carina. Max mengambil pisau itu, kemudian ia membekap tubuh Carina dengan lengannya dan meletakkan pisau buah itu tepat di depan leher Carina. Pria itu menyandera Carina.
"Berhenti !! Jika tidak, aku akan menggorok lehernya !!" ancam Max.
"Lee... tolong aku.. !!" teriak Carina dari dalam rumah.
"Carina... !!" teriak Lee yang segera masuk ke dalam. Nafas pria Jepang itu terengah-engah setelah Max menendang perutnya.
"Oh... jadi pria Jepang ini adalah pahlawan kesiangan mu... Beraninya kau mengkhianati ku!!" teriak Max yang menempelkan pisau buah itu ke leher Carina. Sebuah sayatan kecil tergambar di leher gadis itu, sepercik darah merah mewarnai kulit lehernya yang putih bersih.
"Lepaskan Carina !!" teriak Lee.
"Kalian sudah mengacau di rumahku, beraninya memerintah ku!! Berhenti dan berlututlah di depan ku !! Jika kalian melawan, aku tidak segan-segan menguliti gadis mu ini !!" ancam Max yang kembali menekankan pisau itu ke leher Carina.
Lee dan teman-temannya tidak punya pilihan lain. Demi keselamatan Carina, mereka pun berlutut di depan Max. Pria itu tertawa dengan kerasnya, betapa mudahnya melumpuhkan ketiga pengacau ini.
"Hajar ketiga pengacau ini !! Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup !!" perintah Max kepada ketiga temannya. Mereka dengan senang hati menghajar Lee, Jason dan David. Tanpa perlawanan ketiga teman Yafet itu menerima setiap pukulan dan tendangan dari mereka.
Sementara di halaman belakang, Yafet berjalan menjauhi pintu belakang, ia mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya ke segala arah. Seolah-olah ia tidak peduli dengan keributan yang terjadi di dalam rumah. Ia membuka kantong plastik yang di berikan Lee, semua isi kotak kayu itu ada di tangan Yafet saat ini. Selembar cek, buku passport, buku tabungan dan selembar foto milik Max. Perhatian Yafet tertuju pada foto itu, "Ini adalah bahasa Turki, laki-laki yang bersama Max... Dia... Oh my God !!! Hazal pernah bertemu dengan nya !!" pekik Yafet.
__ADS_1
Segera ia memasukkan barang-barang milik Max ke dalam saku celananya. Kemudian dia berlari dan masuk ke dalam rumah. Dilihatnya dirinya sedang membelakangi tubuh Max. Tanpa banyak bicara, Yafet memukul punggung Max. Pria itu terkejut mendapat serangan dari belakang, dan tak sengaja menjatuhkan pisau buah itu ke lantai. Dengan cepat Carina menggigit tangan Max hingga berdarah. Kemudian gadis itu berlari ke arah Lee. Ketiga teman Max itu menoleh ke arah Yafet. Melihat kedatangan Yafet, ketiga temannya tampak tersenyum, sebuah harapan telah ada di depan mata mereka.
Yafet mencengkeram tubuh Max dan melemparkannya ke meja makan, kemudian menghajar wajah dan tubuh Max yang terbaring di atas meja. Yafet mengunci leher Max dengan lengannya. "Aku tak peduli perlakuan mu kepada Carina, hanya satu yang ingin aku tahu. Apa yang kau lakukan di Pegunungan Alpen dua belas tahun yang lalu?" teriak Yafet. Sementara itu Lee dan kedua temannya kembali menghajar ketiga teman Max.
"Siapa kau?" tanya Max dengan wajah ketakutan. Rahasia yang disimpannya selama ini seakan segera terbuka.
"Jawab pertanyaan ku !! Apa kau yang membunuh keluarga Danner?" teriak Yafet yang semakin menekan lengannya ke leher Max. Pria setengah tua itu hampir kehilangan nafasnya.
"Aku... tidak tahu apa yang kau... bicarakan," jawab Max dengan lirih. Yafet segera mengambil foto Max dan menunjukkan foto itu di depan Max.
"Bukankah ini kau? Dan siapa laki-laki botak ini?" tanya Yafet penuh dengan kegeraman. Pria Turki itu pun menarik baju Max, melemparkan tubuh pria itu ke lantai, dan menginjak dada ayah tiri Carina dengan salah satu kakinya.
"Kau tidak mau bicara?" Yafet mencengkeram, mengangkat tubuh Max, dan mengunci kedua tangan Max ke belakang dengan tangannya. Ia memanggil teman Jepangnya itu dan berkata, "Lee hajar dia sesukamu, tapi jangan biarkan dia mati."
Lee menyambut dengan senang hati kesempatan yang telah Yafet berikan. Pria Jepang itu segera melayangkan pukulannya ke wajah dan perut Max. "Ini untuk Carina !!" Ia menendang dan memukul milik pribadi Max yang ada di bagian bawah tubuhnya hingga pria itu merintih kesakitan. Lee telah menepati sumpahnya untuk membuat Max menyesal terlahir sebagai laki-laki di dunia ini. Darah mengalir di celana Max.
"Apa kau masih belum mau bicara?" teriak Yafet yang semakin menarik tangan Max ke belakang.
"Ted... Ted Baxter yang telah membunuh keluarga Danner," ucap Max dengan lirih.
"Katakan di mana dia berada?" teriak Yafet yang menendang kaki belakang Max, sehingga pria itu berlutut di depan Lee, tetapi Yafet masih tetap mengunci kedua tangan Max ke belakang.
"Kau takkan bisa menemukan nya, ia seperti bayangan mu," ucap Max dengan tawa yang mengerikan. Lee melayangkan pukulannya ke rahang Max, darah mengalir di bibir ayah tiri Carina. Tubuh Max terjatuh ke lantai, beberapa giginya telah patah.
Yafet berjalan menghampiri ketiga teman Max yang lain, dan menghajar mereka bertiga seorang diri, hingga mereka jatuh terkapar di lantai. "Katakan di mana Ted Baxter berada?" teriak Yafet dengan penuh amarahnya.
"Kami tidak tahu," seru mereka.
"Meskipun kau membunuh ku, aku tetap tidak tidak tahu di mana Ted Baxter berada. Kami tidak pernah berhubungan lagi setelah kejadian dua belas tahun yang lalu. Tiap bulan dia memberiku uang melalui seorang kurir," kata Max dengan pengakuannya.
"Untuk apa dia memberimu uang, hah?" tanya Yafet yang mencekik leher Max.
"Karena itu... adalah bagian ku, milik ku. Aku... aku telah menutup mulutku selama... dua belas tahun ini, meskipun kau... kau mencarinya ke neraka, kau... kau takkan bisa... menemukannya, karena... karena seseorang telah melindunginya," ucap Max terbata-bata. Yafet memukul wajah Max dan membuatnya terkapar tidak berdaya.
Segera Yafet mengambil ponsel Max dan menyuruh teman-temannya untuk cepat meninggalkan rumah Max. Lee menggandeng tangan Carina dan membawa gadis itu pergi keluar. Sebelum Max dan ketiga temannya mengumpulkan kekuatan mereka kembali, mereka harus segera pergi meninggalkan Italia. Dugaan Yafet ternyata benar, Max tidak tinggal diam setelah Yafet menghajarnya. Ayah tiri Carina itu mengejar Yafet dan teman-temannya. "Mereka telah membawa pergi ayam emas ku, aku tidak akan melepaskan mereka !!"
❤️Bersambung❤️
Terimakasih sudah membaca tulisan novel ku ini 🙏 semoga kalian menyukainya ya. Jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian dong
__ADS_1
Biar aku juga makin semangat nulis nya 😘