DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Flashback... Pesan Terakhir Alfred


__ADS_3

Beberapa jam sebelum kematian Pengacara Alfred....


Berita tentang penangkapan Emir Aksal sudah tersiar di berbagai media di seluruh Turki. Baik media cetak ataupun elektronik. Seluruh masyarakat membicarakan tentang pengusaha hotel berbintang itu, seperti sebuah virus yang langsung menyebar kemana-mana. Hujatan dan cemoohan keluar dari setiap mulut mereka.


Seperti juga Harun Fallay yang sedang meneguk secangkir wiski nya. Manik matanya terus tertuju pada berita yang menghebohkan itu. Di ruang keluarganya, dia berteriak memanggil orang kepercayaannya.


"Apa kau menyuruh pembunuh itu untuk menulis nama Emir Aksal di telapak tangan Ted?" tanya Harun kepada orang kepercayaannya begitu orang itu telah berada di belakang ayah Kenan.


"Tidak Tuan, aku hanya memberikan foto Ted padanya, dan dia memastikan bahwa sebelum hari Senin, Ted akan menjadi mayat," jawab laki-laki tersebut.


"Berarti ada orang lain yang menyabotase pekerjaan mu...," ucap Harun sambil meneguk wiski nya kembali.


"A...apa maksudmu, Tuan?" Laki-laki itu tampak gugup, kalau-kalau ia berbuat kesalahan pada Tuannya.


"Kau lihat berita itu di TV!" seru Harun sambil memperbesar volume suara TV nya.


Orang kepercayaan Harun itu tampak serius menyimak berita tersebut. "Aku rasa pelakunya bukanlah orang suruhanku, bagaimana dia bisa tahu nama Emir Aksal?"


"Siapapun orang yang telah membunuh Ted Baxter, itu merupakan keuntungan buat kita. Aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri," ucap Harun dengan tawanya yang mengerikan. Ia menatap tajam orang suruhannya itu, membuat orang kepercayaannya itu menundukkan kepalanya dengan merinding.


Di tengah tawanya, terdengar suara ketukan pintu. Orang kepercayaan Harun segera melangkah dan membuka pintu tersebut.


"Kau rupanya...., apa tugasmu sudah berhasil?" tanya Harun kepada orang yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarganya. Orang ini adalah salah satu anak buah Harun yang di beri tugas untuk mencari keberadaan pengacara Alfred.


"Aku sudah berhasil menemukan tempat persembunyian pengacara itu, Tuan."


"Kerja yang bagus... katakan di mana dia saat ini?" tanya Harun yang meletakkan gelas wiski nya di sebuah meja kecil.


"Dia tinggal di sebuah rumah kecil yang ada di pinggiran kota Istanbul." Anak buah Harun itu memberikan sebuah foto Alfred yang berada di depan rumah barunya.

__ADS_1


Harun mengambil foto tersebut, ayah Kenan itu tersenyum penuh misteri menatap foto Alfred. "Aku akan membuat kejutan untukmu, Alfred ku sayang!"


Harun segera keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh anak buahnya. Mereka segera bergegas pergi menuju ke tempat persembunyian pengacara Alfred.


"Apa kau yakin ini rumahnya?" tanya Harun kepada anak buahnya ketika mereka masih di dalam mobil. Mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah pengacara Alfred.


Harun Fallay, anak buahnya dan orang kepercayaannya turun dari mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam halaman rumah. Harun menyuruh anak buahnya untuk mengetuk pintu kayu yang ada di depan mereka. Semetara Harun dan orang kepercayaannya bersembunyi di balik dinding rumah itu.


Tampak sebuah tirai jendela di buka dari dalam, seorang laki-laki paruh baya memunculkan wajahnya di belakang kaca jendela. Ia hendak melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya sepagi ini.


Pintu rumah pun terbuka, pengacara Alfred muncul dari belakang pintu.


"Kau mencari siapa?" tanya pengacara Alfred yang tidak mengenali anak buah Harun. Pengacara itu memicingkan kedua matanya, melihat penampilan anak buah Harun dari atas hingga ke bawah.


Anak buah Harun tidak menjawab pertanyaan pria paruh baya itu. Laki-laki muda itu berjalan perlahan-lahan mendekati pengacara Alfred, membuat pria paruh baya itu seketika memundurkan langkahnya.


"Apa mau mu?" tanya pengacara itu.


"Bagaimana kabarmu, Alfred? Apa kau tak merindukan tawaku?" tanya Harun dengan tawa khasnya, membuat bulu kuduk pengacara itu berdiri. Tawa rubah tua itu benar-benar telah mengintimidasi dirinya.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku bahwa kau pindah ke rumah barumu ini? Atau lebih tepatnya tempat persembunyian mu?" tanya Harun kembali.


Pengacara itu memundurkan langkahnya kembali dan hendak lari menuju pintu belakang rumahnya, tetapi dengan cepat anak buah Harun menangkap kedua tangannya dan membekapnya ke belakang.


"Kau hendak lari kemana, Alfred? Aku tahu gelagat orang yang telah bersalah kepadaku, kau takut aku akan melenyapkan mu seperti melenyapkan Ted Baxter?" Harun menggoreskan ujung senjata apinya di pipi pengacara itu.


"Orang ku yang telah membunuh Ted Baxter!" pekik pengacara Alfred.


"Hahahaha..., kau lihat! Orang yang telah menyabotase pekerjaan mu, mengakui perbuatannya!" seru Harun pada orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Padahal aku hanya memancing mu, Alfred!" Harun menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar bodoh dan tidak berguna, pengacara tua!"


"Seharusnya kau berterimakasih padaku, karena aku telah membantumu melenyapkan Ted Baxter." Pengacara itu mencoba bernegosiasi dengan Harun Fallay.


Harun menurunkan senjata apinya, langkah kakinya berderap di atas lantai sambil berkacak pinggang, "Jadi menurut mu aku harus membalas budi baikmu, hah?"


"Ya... aku telah meringankan pekerjaanmu. Jika kau membunuhku, kau akan rugi!" seru pengacara Alfred.


"Hahahaha... apa yang dia katakan?" tanya Harun pada orang kepercayaannya. "Aku akan rugi? Aku tidak akan pernah rugi jika hanya melenyapkan satu orang tak berguna seperti mu!"


"Kau salah, Tuan Harun. Aku selalu memberimu keuntungan. Jika aku mati, kau tidak akan pernah tahu satu rahasia yang akan menghancurkanmu!" ancam pengacara itu.


"Anak Erkan Danner? Tanpa bantuan mu, aku sudah mengetahui siapa anak itu!" seru Harun yang membuat Pengacara Alfred terkejut.


Kini tidak ada lagi yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya. Kartu AS nya tidak berguna sekarang. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, ia tidak bisa melarikan diri dari kemarahan rubah tua ini.


"Aku sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyambut mu dan mendengarkan ocehan mu! Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi kau mengecewakanku, Alfred. Jangan salahkan aku... jika kau harus berakhir seperti ini!"


Dor....!


Harun Fallay menembakkan satu pelurunya dari jarak dekat ke kepala pengacara Alfred. Pengacara itu ambruk seketika dengan peluru yang masih bersarang di keningnya menembus isi kepalanya.


"Salah satu... anak Aksal, pasti akan... menghancurkan mu...!" ucap pengacara Alfred pada detik-detik terakhir maut menjemputnya.


Kedua mata dan mulut pria paruh baya itu terbuka menganga, seakan ia tidak rela hidupnya berakhir tragis seperti ini.


Harun meniup asap yang keluar dari senjata api miliknya. Darah segar mengalir membasahi lantai putih tersebut. Kedua pria yang bersama Harun hanya bisa mengusap wajahnya melihat mayat yang ada di dekat kaki mereka.


"Pertunjukan telah selesai!" seru Harun yang membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan rumah pengacara Alfred.

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian... terimakasih 😊🙏


__ADS_2