
Mentari pagi mulai meninggi dan memunculkan pesona kekuningan dari ufuk timur, menyinari deretan batu nisan yang berbaris rapi di tempat itu.
Hazal yang sedang berdiri di bawah pohon dengan pakaian serba hitam menyaksikan jenazah Harun di kebumikan di samping pusara Kenan. Meskipun almarhum tidak berpesan sesuatu kepadanya, Hazal tetap melakukan tugasnya untuk mengumpulkan seluruh keluarga Fallay di tempat peristirahatan terakhirnya.
"Beristirahatlah dalam damai, Harun," ucap Hazal yang hanya mengucapkan kalimat pendek itu.
Setelah semua upacara pemakaman selesai dan petugas dari lembaga kemasyarakatan telah meninggalkan tempat itu, Hazal di dampingi oleh Yafet dan orang tua angkatnya meletakkan karangan bunga di atas pusara Kenan.
"Tugas kita sudah selesai, Kenan. Aku sudah mengakhiri semuanya. Beristirahatlah dalam damai suamiku. Aku tidak akan pernah melupakanmu, aku akan selalu menyimpan setiap hal tentang kita di dalam hatiku," ucap Hazal dengan suaranya yang bergetar.
Meral melingkarkan salah satu tangannya ke pundak Hazal dan menggosok lengan Hazal naik turun.
"Aku sudah merelakannya, ibu. Aku akan melanjutkan hidup ku seperti yang Kenan inginkan," isak Hazal. Meral mencium pelipis putrinya itu dengan lembut.
Dengan langkah kaki yang berat, Hazal meninggalkan pusara Kenan dan pergi mengunjungi pusara orang tua kandungnya. Di depan pusara kembar itu, Emir meletakkan karangan bunga nya. Pria paruh baya itu menatap tempat peristirahatan terakhir sahabat baiknya.
"Setelah dua puluh tahun lamanya, akhirnya pembunuh kalian telah mendapatkan hukumannya. Kalian bisa beristirahat dalam damai sekarang."
Hazal mendekati ayah angkatnya dengan bantuan kruknya. Ia berdiri di hadapan dua pusara orang tuanya yang telah membuatnya hadir di dalam dunia ini.
"Ayah... ibu... aku sudah berbakti pada kalian. Kini aku sudah tidak lagi hidup dalam ketakutanku dan mimpi burukku lagi. Beristirahatlah dengan tenang, ayah... ibu...."
Hazal menghapus setiap air matanya yang membasahi wajahnya. Terlintas dalam pikirannya wajah ayah dan ibunya tersenyum kepadanya. Memori masa kecilnya ketika ia berbaring sendirian di rumah sakit menunggu kedatangan orang tuanya kala itu. Tapi orang tuanya tidak pernah datang untuk menjemputnya. Sampai akhirnya Hazal kecil pun mengerti arti kehilangan yang begitu menyedihkan.
Yafet menggenggam erat tangan Hazal ketika dilihatnya wanita itu sudah mulai terbawa perasaan sedihnya.
"Hari sudah siang, ayo kita pulang!" ajak Emir kepada istri dan anak-anaknya. Mereka berempat meninggalkan tempat pemakaman dan kembali ke rumah. Hari demi hari berjalan seperti biasanya.
Satu minggu kemudian....
Hazal telah melepas kruknya dan mulai berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Ia pun mulai menata kehidupannya dan mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk masa depannya.
Notaris memberikan sertifikat dan kunci rumah almarhum Harun kepada Hazal. Ia memutuskan untuk menjual rumah yang di penuhi oleh kejahatan Harun itu kepada orang lain.
Sesuai dengan kesepakatannya dengan Mehmet, pria berkulit gelap itu menyerahkan kembali perusahaan Fallay kepada Hazal. Wanita itu mengubah nama perusahaannya. Tidak ada lagi nama Danner atau Fallay.
Mehmet kembali ke kehidupan lapangannya bersama dengan anak buahnya. Meskipun Hazal ingin mengajaknya bergabung di perusahaannya, tetapi pria itu menolak.
Hazal mulai dihadapkan pada dua pilihan untuk tetap menggeluti dunia hukumnya atau dunia bisnis yang sudah di wariskan kepadanya.
Selama dua bulan Hazal mencoba menjalani profesi barunya, ia harus belajar lagi dari nol. Yafet dengan kesabarannya membimbing Hazal untuk bisa memimpin perusahaan peninggalan Kenan.
Sampai di suatu titik, Hazal menyerah!
"Ini bukan passion ku!" serunya kepada Yafet yang kala itu datang ke kantornya.
Pria itu hanya menggaruk salah satu alisnya dan menatap wajah Hazal. Menunggu keluhan apa yang akan keluar dari mulut wanita itu.
"Aku rindu ruang sidang ku! Aku rindu kasus-kasus ku! Aku rindu suasana pengadilan!" omelnya kepada Yafet saat itu. Ia menutup semua berkas-berkas yang ada di atas meja dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Yafet berjalan menghampirinya dan berdiri di samping Hazal. "Jika itu mau mu, lupakan semua ini! Ikut aku pulang!"
Hazal membuka telapak tangannya dan menatap wajah Yafet dengan keheranan. "Lalu siapa yang akan mengerjakan semua ini?" Hazal hampir berteriak.
"Akan ada orang lain yang akan mengerjakannya. Ayo kita pulang! Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau sukai!" seru Yafet yang langsung menggandeng tangan Hazal keluar dari ruangan.
Keesokan harinya, dengan bantuan Yafet. Hazal mengadakan rapat pemegang saham dan menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presiden Direktur. Seluruh pemegang saham kembali berembuk dan memilih Presiden Direktur baru mereka.
Hazal mengucapkan selamat kepada salah satu pemegang saham yang terpilih menjadi Presiden Direktur baru menggantikan dirinya. Sekarang statusnya hanyalah pemegang saham terbesar di perusahaan itu. Ia tidak ingin terlibat dengan operasional perusahaan yang memusingkan kepalanya.
Satu bulan kemudian...
Masa berkabung Hazal telah selesai, ia kembali meniti karir nya sebagai seorang jaksa. Jaksa Kepala menandatangani surat kenaikan jabatannya hari ini.
"Selamat untukmu, Jaksa Hazal," ucap Tuan Onur sambil mengulurkan tangannya kepada Hazal. Mereka berdua saling berjabat tangan.
Menjelang senja Hazal pulang ke rumah. Hatinya sangat gembira. Bukan karena kenaikan pangkatnya tapi malam ini Yafet mengajaknya makan malam.
Hampir tiga puluh menit Yafet berdiri di samping mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah. Dengan memakai kemeja bodyfit lengan tiga perempat berwarna abu-abu tua, ia berjalan mondar-mandir di sana.
Lekukan otot lengannya terlihat ketika ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Sesekali ia melihat jam tangannya dan menghembuskan napasnya.
Kenapa ia lama sekali?
Ini memang bukan pertama kalinya Yafet mengajak Hazal pergi keluar. Sudah ratusan malam mereka lewati untuk makan malam bersama. Tapi malam ini adalah malam yang spesial karena Yafet telah menyiapkan sebuah kejutan untuk wanita itu. Ia sudah tidak sabar menunggu Hazal keluar.
Pintu rumah pun terbuka, seorang wanita dengan gaunnya selutut berwarna merah muda keluar dari sana. Dengan rambutnya yang diangkat secara acak dan beberapa anak rambut yang di biarkan jatuh ke bawah membuat penampilan wanita itu sangat cantik. Sepasang sepatu high heels nya membuat dirinya tampak menjulang tinggi.
Sepasang mata elang itu menatap Hazal dari bawah tanpa berkedip. Hazal menatap Yafet dengan penampilannya yang maskulin. Kedua pipinya bersemu merah. Mereka seperti sepasang remaja berusia tujuh belas tahun yang hendak melakukan kencan pertamanya.
Hazal menuruni beberapa anak tangga dan berjalan mendekati Yafet.
"Kau sangat cantik malam ini," puji Yafet.
"Hanya malam ini?" tanya Hazal sambil tersipu malu.
"Untuk setiap malam yang akan kita lewati bersama," bisik Yafet yang langsung membukakan pintu mobilnya. Wajah Hazal kembali merona mendengar perkataan Yafet.
Yafet pun menjalankan mobilnya di dalam gelapnya malam hari ini. Mobil sport hitam itu berhenti di depan sebuah restoran yang khusus di sewa Yafet secara privat.
Dengan bantuan pemilik dan pelayan restoran, Yafet mendekorasi restoran itu dengan nuansa yang romantis. Cahaya temaram menyambut kedatangan mereka.
"Hazal, aku ada urusan dengan pemilik restoran. Kau masuklah dulu. Aku akan menunggumu di dalam," pamit Yafet yang masuk ke dalam lebih dulu.
Hazal berjalan seorang diri memasuki restoran kemudian ia membuka pintu kaca yang ada di depannya.
Ruangan yang semula gelap mendadak terang ketika kakinya memasuki ruangan itu. Hazal terkesima melihat ruangan berbentuk segiempat itu di penuhi beberapa tali yang tergantung di langit-langit. Masing-masing ujung tali terdapat sebuah tempelan kertas berbentuk hati berwarna merah dan merah muda. Tersusun secara acak.
Hazal memegang kertas berbentuk hati yang menggantung di depan wajahnya. Di setiap kertas, Yafet menuliskan isi hatinya kepada Hazal.
__ADS_1
(Aku ingin meminta maaf padamu...)
(Aku adalah anak laki-laki yang nakal, maafkan aku....)
(Aku tidak akan menguncimu di gudang lagi)
(Kenapa kau tidak datang di liburan sekolahku?)
(Hari ini aku naik kelas, apa kau tidak memberiku hadiah?)
Begitulah bunyi kalimat itu. Hazal mengamati tulisannya seperti tulisan anak berumur sepuluh atau dua belas tahun.
"Apa ini tulisan Yafet waktu masih kecil? Apa dia membuat semua ini ketika dia masih sekolah di asrama?" Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar, membayangkan Yafet kecil melakukan semua ini untuknya.
Setelah selesai membaca semuanya, Hazal menuruni beberapa anak tangga. Kali ini ia melihat kejutan yang berbeda dari sebelumnya.
Tampak di salah satu dinding ruangan, terpasang puluhan atau mungkin ratusan foto yang di susun mengikuti pola berbentuk hati yang sangat besar setinggi dinding itu.
Hazal mendekati foto yang di susun membentuk kolase tersebut, manik matanya mulai berkaca-kaca. Foto itu adalah foto Yafet dan dirinya, mulai dari usia mereka masih bayi dalam gendongan orang tua mereka masing-masing.
Terdapat satu foto dimana Meral yang baru saja melahirkan Yafet di sebuah kamar rumah sakit. Emir berdiri di samping Meral, sedangkan ayah ibunya berdiri di sisi yang lain. Ia belum lahir waktu itu, mungkin orang tuanya juga belum menikah.
Satu foto lain, ketika Erkan, Emir dan Meral mengapit Ayla yang sedang menggendong seorang bayi perempuan. Bayi itu memakai selimut berwarna merah bertuliskan nama Hazal. Tampak di foto itu Meral menggandeng seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Anak laki-laki itu berusaha menggenggam tangan bayi perempuan yang ada di dalam gendongan Ayla.
Apa kau sudah mengenalku saat aku masih bayi, atau mungkin saat aku masih dalam kandungan ibuku?
Air matanya mulai menetes membasahi wajahnya. Ia tak menyangka kisah masa kecilnya dengan Yafet itu bermula ketika ia baru saja dilahirkan ke dunia ini.
"Darimana kau mendapatkan foto-foto ini?" gumam Hazal yang memegang kedua pipinya kemudian mengusap air matanya.
Foto-foto ketika mereka masih kecil hingga mereka bertemu kembali saat ulang tahunnya ketujuh belas dan beberapa foto ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Hazal kemudian mencari Yafet ke dalam. Di ruangan dalam ia melihat sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan satu hidangan yang tertutup di atas meja.
"Yafet?" panggil Hazal yang menebarkan pandangannya di sekeliling ruangan itu.
Pria itu pun muncul dari sebuah pintu yang ada di depan Hazal. Putri Danner itu melihat sebuah senyuman menawan terlukis di sana.
"Sebenarnya ada acara apa ini? Bukankah kita akan makan malam untuk merayakan kenaikan jabatanku? Kenapa aku tidak melihat pengunjung lain? Apa kau memesan restoran ini khusus untuk kita berdua? Dan kenapa ada foto-foto kita di luar?" cecar Hazal dengan berbagai pertanyaannya tanpa henti.
"Apa pertanyaanmu sudah selesai?" tanya Yafet sambil menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya.
Hazal hanya mengangguk tanpa mengerti arti dari semua ini.
"Bukalah hidangan yang ada di atas meja itu!" seru Yafet kepada Hazal yang berdiri tidak jauh darinya.
Hazal berjalan dan mendekati meja makan tersebut dan membuka penutup hidangan itu. Tampak sebuah kotak berwarna hitam tersaji di atas piring berbentuk lingkaran.
"Buka saja kotaknya!" seru Yafet kemudian. Hazal mengikuti instruksi yang diberikan oleh pria itu.
"Kalung ini?" Perkataan Hazal terhenti setelah ia mengenali perhiasan itu. Kalung miliknya yang telah rusak tepat di saat Yafet di jebak oleh Selina.
Yafet mendekati Hazal, ia mengambil kalung itu dari tangan wanita itu dan meletakkannya di atas meja makan. Ia memegang kedua tangan Hazal dan menatap manik mata itu dengan lembut.
"Maukah kau menikah denganku?" ucap Yafet dengan sedikit berbisik.
Jantung Hazal seakan berhenti berdetak sepersekian detik, ia memundurkan langkahnya membuat pegangan tangan itu terlepas. Ia belum siap mendengar pertanyaan itu sekarang.
Sepasang mata elang itu nampak memerah setelah melihat reaksi Hazal yang menjauhinya seakan wanita itu kembali menolaknya.
"Apa kau tak marah dengan sikapku yang dulu? Waktu itu aku telah menolakmu," ucap Hazal dengan pelan.
"Malam ini aku akan mencobanya kembali. Sekalipun malam ini kau menolakku untuk yang kedua kalinya, malam-malam berikutnya aku akan melamarmu kembali. Sampai kau mengatakan ya kepadaku," jawab Yafet dengan keyakinannya.
Manik mata coklat itu tampak memerah melihat kesungguhan hati Yafet. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan dan menutup hidungnya dengan kedua telapak tangannya.
Sepasang mata elang itu sudah mulai berkaca-kaca melihat gelengan kepala Hazal. Yafet menundukkan kepalanya dengan lesu seperti seorang prajurit yang kalah di medan peperangan.
Sesaat suasana di dalam ruangan itu menjadi hening. Hanya terlihat lelehan air mata dari wajah masing-masing.
"Aku mau menikah dengan mu," isak Hazal.
Ucapan Hazal yang disertai tangisan itu membuat Yafet segera mengangkat wajahnya.
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Yafet setengah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Hazal menatap wajah Yafet dengan kumpulan cairan bening yang menutupi manik matanya.
"Aku mencintaimu, Yafet!" teriak Hazal dengan keras. Air matanya mengalir deras ketika ia dengan lantang mengungkapkan perasaannya kepada pria itu.
Yafet segera menangkap tubuh Hazal yang berlari kecil ke arahnya. Tangannya melingkar di bawah pinggul Hazal dan mengangkat wanita itu tinggi ke atas dan mereka berputar 360 derajat.
"Aku mencintaimu, Hazal!" teriak Yafet dengan keras saat mereka berputar beberapa kali. Hazal membuka kedua tangannya ke atas, seakan ia ingin menggapai sesuatu yang ada di langit-langit.
Putra Emir itu menurunkan Hazal kembali. Mereka saling tertawa dengan bahagia dan saling mengusap air mata.
"Kita menikah?" tanya Yafet mengulangi pertanyaannya. Ia masih ingin memastikan bahwa saat ini dia tidak sedang bermimpi.
"Ya." Hazal menganggukkan kepalanya sambil melingkarkan tangannya di belakang leher Yafet. "Kita akan menikah dan saling memiliki."
Yafet memberikan ciuman bibirnya di bibir Hazal. Ciuman yang sudah lama tidak mereka rasakan, karena mereka harus menjalani kehidupan cinta yang penuh dengan liku-liku. Bahkan mereka pun sempat berpisah. Tapi salah satu dari mereka yang masih memiliki keyakinan, mengulurkan tangannya untuk menarik tangan lain yang hampir tenggelam di lautan yang bernama keputusasaan.
Yafet melepaskan ciumannya dan memasang kembali kalung itu ke leher Hazal. Kemudian ia menempelkan keningnya di kening Hazal dan berbisik, "I love you forever and ever, my Queen."
"I love you too, my guardian angel," bisik Hazal membalas ungkapan cinta Yafet.
Sepasang anak manusia itu kembali saling m***mat, menyesap dan menikmati bibir pasangannya. Mereka saling memejamkan kelopak mata menikmati sebuah lagu "You Are The Reason" milik Calum Scoot yang telah disiapkan oleh Yafet. Lagu tersebut adalah lagu kenangan mereka berdua di saat untuk pertama kalinya Yafet mencium bibir Hazal di pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas.
Lagu yang mewakili perasaan Yafet untuk kembali lagi ke Turki dan menemui Hazal kecilnya.
__ADS_1
****
There goes my heart beating
(Jantungku berdetak)
'Cause you are the reason
(Karena kaulah alasannya)
I'm losing my sleep
(Aku tak bisa tidur)
Please come back now
(Kumohon kembalilah sekarang)
There goes my mind
(Ada yang terlintas dalam pikiranku)
And you are the reason
(Karena kaulah alasannya)
That I'm still breathing
(Bahwa aku masih bernafas)
I'm hopeless now
(Aku tak memiliki harapan sekarang)
Reff:
I'd climb every mountain
(Aku mendaki setiap gunung)
And swim every ocean
(Dan menyelami samudra)
Just to be with you
(Hanya untuk bersamamu)
And fix what I've broken
(Dan memperbaiki apa yang telah ku hancurkan)
Oh, 'Cause I need you to see
(Oh karena aku ingin kau tahu)
That you are the reason
(Bahwa kaulah alasannya)
There goes my hands shaking
(Tangan ku gemetar)
And you are the reason
(Dan kaulah alasannya)
My heart keeps bleeding
(Hatiku terus terluka)
I need you know
(Aku membutuhkanmu sekarang)
If I could turn back the clock
(Jika aku bisa memutar waktu)
I'd make make sure the light defeated the dark
(Aku akan membuat cahaya itu mengalahkan kegelapan)
I'd spend every hour, of every day
(Aku akan menghabiskan setiap jam, setiap harinya)
Keeping you safe
(Menjagamu tetap aman)
I need you to hold me tonight
(Aku membutuhkan mu untuk memelukku malam ini)
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1