DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Hadiah Pernikahan Yafet - Penangkapan Emir Aksal


__ADS_3

Tahanan muda itu berlari ke arah pemimpin para tahanan dan teman-temannya. Sebelumnya ia tidak pernah berurusan dengan pria kurus itu. Tapi kali ini, entah ia mendapat keberanian darimana. Ia menghampiri pria kurus itu dan menghajarnya di hadapan teman-temannya.


"Pasti kau yang telah membunuh Ted Baxter! Pasti kau pembunuhnya...! Aku tahu kau tidak menyukainya sejak awal, kau selalu cari gara-gara dengan temanku itu!" tuduh tahanan muda itu dengan matanya yang telah memerah.


Tanpa perintah dari pemimpin mereka, kedua tahanan itu langsung mendekap tubuh pemuda itu, menarik kedua tangannya ke belakang. Kali ini pria kurus itu membalas serangan teman Ted Baxter.


"Sampaikan salamku kepada teman tuamu itu! Seharusnya ini kesempatanku untuk membunuhnya!"


Priit......!


Kedua sipir penjara membunyikan peluit mereka dan menghampiri mereka yang tengah berkelahi. Petugas sipir itu membawa dan memasukkan mereka semua ke ruang isolasi.


"Ini hukuman untuk kalian karena telah berbuat onar!" teriak salah satu petugas yang memasukkan mereka ke ruang terpisah.


Tahanan muda itu meringkuk di balik jeruji ruang isolasi, dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan mukanya yang memerah. Ia mengusap peluh dan air matanya. Ia benar-benar merasa kehilangan Ted Baxter. Teman sekaligus kakak baginya.


Di depan ruang isolasinya adalah ruang isolasi pria kurus itu. Ruangan mereka saling berhadap-hadapan. Satu ruang isolasi berisi satu orang tahanan.


"Kau seperti teman tuamu itu, cih! Pecundang dan sampah!" pekik pria kurus itu dari dalam ruang isolasinya.


"Diam kau! Kau dan teman-teman mu harus membayar perbuatan kalian. Kalian telah membunuhnya!" teriak pemuda itu sambil memukul jeruji besi yang ada di hadapannya.


Pria kurus itu tertawa terkekeh-kekeh. "Apa kita yang telah membunuh pria botak itu?" tanyanya kepada kedua temannya yang ada di ruang isolasi yang berbeda tetapi saling berdekatan.


"Pria tua itu sudah mati, ketika kami akan membunuhnya!" seru temannya yang berperawakan sedang.


"Bos, siapa yang berani merebut pekerjaan kita? Uang kita melayang bersama arwah pria gundul itu!" seru temannya yang lain.


"Bos, apa orang yang membayarmu itu mengirim orang lain untuk membunuh pria botak itu?"


"Aku tidak tahu! Ruang isolasi ini membuatku tidak bisa kemana-mana!" teriak pria kurus yang menatap tajam tahanan muda itu.


Tahanan muda itu masih terus mendengarkan pembicaraan mereka.


Jika bukan mereka yang membunuh Ted Baxter. Lalu siapa pembunuh itu? Apa ada orang lain lagi yang menginginkan kematiannya? Yang tidak ingin dia hadir dalam persidangan? Setelah keluar dari ruang isolasi ini, aku harus menghubungi orang yang di maksud oleh pak tua. Orang itu pasti bisa menolongku...


Kapten polisi dan anak buahnya memeriksa tempat terjadinya pembunuhan Ted Baxter. Mereka mencari barang bukti, jejak kaki dan alat yang di gunakan untuk membunuh Ted Baxter.


"Kapten, lihat ini...!" seru seorang petugas polisi menunjukkan sebuah tulisan di telapak tangan Ted Baxter. Goresan tulisan itu berasal dari sebuah ujung pisau yang di pakai untuk membunuh Ted. Telapak tangan itu berdarah. Seorang polisi membersihkan darah yang mengalir dari telapak tangan Ted Baxter.


"Ini seperti sebuah nama seseorang," ujar petugas yang lain.


Kapten Polisi menghampiri mereka, dan dia sangat terkejut dengan nama yang ada di telapak tangan Ted Baxter. Kapten itu memundurkan langkahnya. Hatinya penuh keraguan, tetapi sebagai seorang Kapten Polisi, ia harus bersikap profesional.


"Kapten, apa anda mengenal nama ini?" tanya seorang petugas yang berdiri di dekat mayat Ted Baxter, yang melihat keraguan di wajah sang kapten.


"Lakukan otopsi pada mayat ini dan buat surat perintah penangkapannya!" perintah sang Kapten kepada anak buahnya.

__ADS_1


Di sebuah Club' malam di Istanbul...


Yafet dan ketiga temannya sedang berpesta di sebuah Club' malam yang paling terkenal di Istanbul. Hanya pesta para lelaki, yang telah melepas masa lajangnya.


"Mari bersulang untuk pengantin baru kita...!" teriak David yang segera mengangkat gelas minuman nya tinggi-tinggi. Tetapi Jason menyikut salah satu siku David.


"Ups, aku salah... maafkan aku kawan-kawan. Baiklah, kali ini bersulang untuk pertemuan kita...!" teriak David sambil tertawa dan kembali mengangkat gelas minumannya.


Masing-masing mengangkat secangkir gelas brandy di atas kepala mereka. Meneguk minuman beralkohol itu sampai habis.


"Kau benar-benar pengantin yang langka, Yafet! Di saat malam pengantin mu, kau malah meninggalkan pengantin wanita mu sendirian di ranjang," ejek David.


"Kau lebih brengsek dari ku, Yafet! Waktu aku dulu menikahi Carina, aku malah tidak ingin keluar dari kamar pengantin ku beberapa hari," ujar Lee dengan tawanya.


"Kalian juga akan bersikap sama sepertiku, jika kalian menikah dengan wanita yang tidak kalian cintai!" seru Yafet kepada Lee dan David. Pria Turki itu mengisi kembali gelas kosongnya dengan sebotol brandy dan meminumnya sampai habis.


"Yafet, aku benar-benar minta maaf padamu. Semua karena salahku," ujar Jason yang menempelkan gelas minumannya ke gelas Yafet.


"Tak perlu mendramatisir, semua bukan salahmu. Jika Selina tidak mendapatkan info darimu, mungkin dia akan berusaha mencarinya dari orang lain," jawab Yafet sambil menepuk pundak Jason dan mereka saling bersulang.


"Sudahlah...kalian jangan membuat suasana ini jadi sedih. Mari kita berpesta...!" ajak David yang memesan sebuah lagu yang memecah adrenalin nya. Ia pun bergoyang bersama para wanita club' malam.


"Lihatlah... dari kita berempat, hanya dia yang tidak berubah," ucap Lee yang sedang membicarakan David. Ketika dilihatnya pria Amerika itu masih suka bermain dengan para wanita.


"Dia juga...." Yafet menunjuk ke arah Jason. "Dia lebih alim dari kita semua, hahahhaha....," Yafet merangkul pundak Jason yang duduk di sebelahnya.


"Ya... aku sudah bertunangan dengannya," jawab Jason.


Yafet dan Lee meneriaki Jason, "Sebentar lagi pria Inggris ini akan laku, bro...!" seru Yafet.


Di dalam club' malam itu mereka terus menghabiskan minuman beralkohol mereka. Habis satu botol, datang botol berikutnya. Begitu seterusnya.


Sementara itu di rumah keluarga Aksal, Selina mencoba menghubungi ponsel Yafet. Tapi suaminya itu telah mematikan ponselnya sejak ia tiba di club' malam.


"Brengsek kau Yafet! Kau menghancurkan malam pengantin kita!" teriak Selina yang melempar ponselnya ke ranjang. Malam ini wanita Inggris ini sudah tinggal di kamar Yafet.


"Pasti dia sedang bersama kekasihnya! Rupanya mereka belum putus! Aku harus mencari tahu siapa kekasih Yafet dan dimana dia tinggal!" teriak Selina yang melempar bantal guling nya ke lantai.


Menjelang subuh, keempat pria itu keluar dari club' malam. Dengan sempoyongan, setengah sadar, Yafet mengemudikan mobilnya menuju ke hotel AKSAL. Yafet memilih tidur bersama dengan teman-temannya di hotel.


Senin, 7 Januari 2020 pukul 07.30 pagi...


Esok harinya, seluruh anggota keluarga Aksal berkumpul sedang menikmati sarapan pagi mereka.


"Selina, di mana Yafet?" tanya Meral yang tidak melihat putranya berada di ruang makan.


"Dia tidak pulang semalam," jawab Selina singkat tanpa memandang wajah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Apa?" Emir terkejut mendengar perkataan menantunya. "Kemana dia?"


"Aku tidak tahu," jawab Selina sambil mengambil gelas minumannya.


"Hazal, apa kau tahu di mana kakak mu semalam?" tanya Meral kepada Hazal yang duduk di depannya.


Hazal hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali meneruskan sarapannya.


Di tengan aktivitas pagi mereka, Nuran masuk ke dalam ruang makan dengan tergopoh-gopoh, "Tuan... Nyonya... di luar...."


"Ada apa Nuran?" tanya Emir yang mengusap mulutnya dengan kain putih.


"Di luar ada beberapa orang yang mencari tuan Emir," jelas Nuran.


"Suruh mereka masuk," ucap Emir. Belum sempat Nuran kembali keluar. Beberapa anggota polisi telah masuk ke dalam rumah dan berada di ruang makan.


"Ada apa ini?" tanya Emir yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia sudah tidak memakai kursi roda lagi.


"Tuan Emir Aksal...! Kau di tangkap atas tuduhan pembunuhan! Kami membawa surat perintah penangkapanmu! Mohon segera ikut kami ke kantor polisi!" seru salah seorang anggota polisi yang berperawakan paling tegap.


"Tunggu, apa maksud kalian? Aku telah membunuh? Siapa yang aku bunuh?" tanya Emir Aksal yang tidak mengerti.


"Ted Baxter. Pria itu meninggal semalam!" Seorang anggota polisi langsung memborgol kedua tangan Emir Aksal.


Sebuah teko yang terbuat dari keramik, jatuh terlepas dari tangan Hazal.


Prang....!


Itu tidak mungkin....


Semua orang dalam ruang makan itu terkejut mendengar perkataan petugas polisi tersebut.


"Tidak..., itu tidak mungkin. Suamiku tidak bersalah! Semalam ia bersamaku di rumah," bela Meral dengan uraian air matanya. Hampir saja ia terjatuh, jika tangan Nuran tidak menopang tubuhnya.


Hazal menghampiri salah satu petugas polisi, "Lepaskan ayahku! Kalian tidak bisa membawa ayahku, ayahku baru saja keluar dari rumah sakit!"


Tapi petugas polisi itu tidak menghiraukan perkataan Meral dan Hazal. Mereka tetap memasukkan Emir yang telah terborgol itu ke dalam mobil polisi.


Tampak beberapa wartawan sudah berkumpul di depan pintu gerbang rumah mewah ini. Mereka meliput berita penangkapan Emir Aksal.


Hazal keluar dari rumahnya dan berlari mengejar mobil polisi itu. "Berhenti! Jangan bawa ayahku!" isak tangis Hazal.


Di seberang jalan, seorang laki-laki sedang menyaksikan Emir Aksal yang di gelandang oleh petugas polisi. Laki-laki itu tersenyum dan tertawa dari dalam mobilnya. "Ini adalah hadiah pernikahanmu, Yafet Aksal! Kau dan ayahmu pantas mendapatkan semua ini!"


❤️ Bersambung❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2