DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Sidang Kedua


__ADS_3

Memasuki bulan ketiga di musim semi, udara dingin sudah mulai berkurang. Bunga tulip sudah mulai memenuhi setiap sudut ruang terbuka di kota Istanbul. Bunga yang berasal dari Belanda itu sudah menjadi sebuah permadani yang indah di seluruh taman.


Selain festival bunga tulip yang selalu diadakan di musim semi, ada sebuah gedung yang saat ini selalu menjadi pusat perhatian masyarakat. Gedung Pengadilan Negeri.


Gedung pemerintahan itu akhir-akhir ini selalu di penuhi oleh massa. Hari ini adalah hari putusan pengadilan untuk kasus Harun Fallay. Massa yang sebagian besar berasal dari keluarga anak buah Harun yang telah dibunuh oleh rubah tua itu. Selama ini mereka hanya diam saja menutup mulut mereka, karena mereka hanyalah masyarakat kecil yang tidak berdaya.


Setelah berita penangkapan Harun di beritakan di seluruh media masa, orang-orang itu mulai bertindak. Banyak dari mereka yang memberikan dukungannya kepada Hazal.


"Maju terus Jaksa Hazal!"


"Hukum pembunuh itu! Kami menuntut keadilan!"


"Kami mendukungmu, Putri Danner!"


Sebuah teriakan terakhir sempat mencuri perhatian Hazal yang kala itu baru saja keluar dari mobil Emir. Ia tersenyum lebar kepada salah satu ibu yang membawa spanduk mendukung Putri Danner.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Hazal, ia dikenal dan dipanggil dengan sebutan Putri Danner, bukan Putri Aksal. Wanita itu meneteskan air matanya ketika salah satu dari pengunjuk rasa itu memberikan karangan bunga mawar merah kepadanya.


"Terimakasih," ucap Hazal sambil mengusap air matanya. Kemudian ia berjalan menggunakan kruk nya untuk masuk ke dalam gedung.


Beberapa pasukan tentara berlaras panjang mulai berjaga-jaga di sekitar gedung tinggi tersebut. Mereka meningkatkan keamanan di sekeliling gedung.


Suasana di luar kian riuh, ketika sebuah mobil tahanan berhenti di depan gedung. Pintu mobil pun terbuka, dua orang petugas polisi menurunkan Harun dalam keadaan yang masih terborgol.


Pengunjuk rasa mulai melemparkan telur busuk ke arah Harun. Berbagai hujatan dilontarkan kepada rubah tua itu. Petugas polis segera membawa Harun memasuki gedung.


Tepat pukul 10.00 pagi waktu setempat, seluruh panitera pengadilan dan pengunjung sidang memasuki ruangan itu. Tiga orang Majelis Hakim, Jaksa Hazal dan pengacara Harun menempati posisi mereka masing-masing. Pengacara Harun tampak menundukkan kepalanya saat Hazal menatap manik matanya.


"Sidang Pengadilan Negeri Kota Istanbul, yang memeriksa perkara pidana nomor 123456 atas nama Harun Fallay pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2020 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," kata Hakim Ketua yang membuka jalannya sidang kemudian mengetukkan palu sebanyak tiga kali.


"Terdakwa Harun Fallay di persilahkan masuk!" seru petugas protokol.


Kedua petugas polisi menggelandang masuk seorang pria paruh baya yang memakai seragam tahanan. Petugas itu menempatkan Harun di tempat pesakitan, kemudian membuka borgolnya. Harun berdiri di tempatnya sambil tersenyum kepada Hakim Ketua.


"Terdakwa Harun Fallay, apa Anda telah siap menjalani sidang hari ini?" tanya Hakim Ketua.


"Saya siap, Yang Mulia!" seru Harun di tempat pesakitannya. Ia yakin bahwa hari ini adalah hari kemenangannya.


"Pihak Pembela, apa Anda ingin menyampaikan pembelaan untuk terdakwa Harun Fallay atau menyanggah setiap dakwaan yang di sampaikan oleh Jaksa Penuntut kepada terdakwa?" tanya Hakim Ketua kepada pengacara Harun yang duduk di depan sebelah kiri sang hakim.


"Tidak ada, Yang Mulia," jawab sang pembela sambil menundukkan kepalanya. Hari ini pria itu seperti seekor kerbau yang di cocok hidungnya.


Harun sempat bertanya-tanya dalam dirinya, ada apa dengan pembelanya saat ini.


Hakim Ketua segera membacakan amar putusannya, suasana di dalam ruangan menjadi tegang. Petugas protokol meminta seluruh para hadirin bersikap tenang agar semua bisa mendengar setiap perkataan Hakim Ketua.

__ADS_1


"Pengadilan Negeri kota Istanbul yang mengadili perkara pidana dengan acara biasa pada peradilan tingkat pertama, menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara terdakwa. Nama Harun Fallay. Jenis kelamin Laki-laki. Kebangsaan Turki." Suara Hakim Ketua terdengar sedikit bergetar.


"Berdasarkan barang bukti yang ada dan kesaksian dari para saksi yang dihadirkan di persidangan. Maka dengan ini Terdakwa Harun Fallay dinyatakan Bersalah atas kasus pembunuhan berencana terhadap Erkan Danner, Ayla Danner dan Alfred. Bersalah atas kasus pembunuhan yang tidak di sengaja terhadap Kenan Fallay," ucap sang Hakim sambil melepaskan kacamatanya dan mengusap wajahnya.


"Pengadilan Negeri kota Istanbul pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2020, memutuskan terdakwa Harun Fallay dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup!" seru Hakim Ketua dengan kedua tangannya yang bergetar.


Sebelum Hakim Ketua mengetukkan palunya untuk mengesahkan hukuman Harun dan sebelum suasana ruangan semakin riuh, Jaksa Hazal langsung membuka suaranya.


"Keberatan, Yang Mulia!"


Semua orang terdiam begitu mendengar teriakan Hazal, begitu juga dengan Harun yang langsung mengarahkan pandangannya kepada wanita yang selalu di cela olehnya. Ia juga ingin mengajukan keberatan karena ia tidak ingin berakhir di penjara. Ia ingin bebas.


Hakim Ketua menatap Jaksa Hazal yang sedang berdiri di belakang mejanya. Manik mata Hakim tertuju pada pena hitam yang sedang di genggam oleh jaksa wanita itu. Ada apa sebenarnya?


Waktu kembali ke kejadian dimana pengacara Harun telah berhasil menjual sepuluh persen saham Harun di pasar saham. Dengan kejelian Yafet di dunia bisnis, pria itu berhasil membeli sepuluh persen saham Harun dengan harga yang sangat murah. Karena pria itu menjadi pembeli pertama sebelum harga saham perusahaan itu melonjak.


Setelah transaksi penjualan saham selesai via online, pengacara Harun membawa uang hasil penjualan itu ke kantor Hakim Ketua seperti yang di perintahkan oleh kliennya. Baik Harun maupun pengacaranya tidak mengetahui siapa yang membeli saham tersebut.


"Oh kau... pembela Harun Fallay! Ada apa kau kemari?" tanya Hakim Ketua ketika pengacara Harun memasuki ruangannya.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, Yang Mulia," jawab sang pengacara yang sudah duduk di depan Hakim.


"Ya. Katakan."


"Aku tahu, saat ini Anda membutuhkan biaya untuk pendidikan kuliah anak Anda di luar negeri. Mungkin aku bisa menawarkan sebuah solusi untuk Anda," ucap sang pengacara sambil memangku sebuah tas tenteng berbahan kulit berwarna hitam.


"Maaf, aku kurang paham maksudmu," kata Hakim Ketua sambil memicingkan kedua matanya menatap sang pengacara.


Sebenarnya pria berkacamata itu mengetahui maksud dari pembela Harun. Tapi ia ingin pengacara itu berbicara terus terang kepadanya.


Pengacara Harun meletakkan tas tenteng itu di atas meja yang ada di depannya. Pria itu membuka isinya dan memperlihatkan isi yang ada di dalam tas tersebut.


Hakim itu menelan salivanya begitu ia melihat lembaran uang kertas yang berjumlah sangat banyak. Aroma uang itu benar-benar merasuki pikirannya.


Pembela Harun itu melihat reaksi yang diberikan oleh sang Hakim. Ia tahu pria di hadapannya itu sedang tergiur dengan penawarannya.


"Apa itu imbalannya?" tanya Hakim Ketua yang melepaskan kacamatanya.


Pembela Harun itu segera bangkit berdiri, "Tas dan isinya ini akan jadi milik Anda." Sebuah senyuman penuh tipu muslihat yang tergaris di bibir pria itu.


"Apa yang kau mau?" Hakim Ketua menegakkan tubuhnya di atas sofa.


"Bebaskan klienku, terdakwa Harun Fallay dari segala tuduhannya!" seru sang pengacara dengan tegas.


Wajah Hakim Ketua terkejut mendengar perkataan pembela Harun. Itu sangat jauh dari hati nuraninya.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin! Semua barang bukti dan saksi memberatkan posisi Harun!" seru sang Hakim sambil berdiri dan berkacak pinggang.


"Kau bisa melakukan hal itu, Yang Mulia. Apa kau tak tertarik dengan isi tas ini? Gaji mu sepuluh tahun tidak akan cukup untuk mengumpulkan uang sebanyak ini!" Kembali sang pengacara mengambil satu gepok uang kertas dan mengipas pinggiran uang kertas itu.


Aku tahu kau pasti menginginkan nya. Kapan lagi, kau akan menjadi orang kaya.


Hakim Ketua menatap wajah pengacara tersebut. Ia mengusap dagunya berulang-ulang.


Aku memang sedang membutuhkannya, semua ini demi pendidikan putri ku. Maafkan Ayah, nak.


"Baiklah," ucap Hakim Ketua yang di sambut uluran tangan pengacara Harun.


"Ini untukmu, jangan lupa tugasmu!" seru pria itu yang kemudian keluar meninggalkan ruangan Hakim Ketua.


Pengacara itu tersenyum lebar ketika ia berjalan menyusuri koridor Gedung Kehakiman. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan dua gepok uang kertas dari sana.


Keesokan harinya, seorang kurir mengirimkan sebuah CD kepada Hakim Ketua dan pengacara Harun.


Kedua orang itu menyalakan CD itu di tempat yang berbeda. Manik mata mereka terbelalak dan daun telinga mereka memerah. Seakan jantung mereka berhenti berdetak sepersekian detik.


Sebuah video peristiwa penyuapan itu terpampang jelas di layar televisi mereka. Setelah memastikan mereka telah mendapatkan CD itu, Hazal mendatangi kedua penegak hukum tersebut dengan waktu yang berbeda. Kini kartu As mereka berdua ada di tangan Hazal, nasib dan karir mereka tergantung keputusan yang akan mereka ambil dalam menghadapi kasus Harun.


Kini di ruang sidang, semua mata tertuju kepada Majelis Hakim. Dua anggota Hakim menyetujui keberatan Hazal, mereka sedang menunggu suara dari Hakim Ketua. Pria berkacamata itu menatap Harun yang sedang berdiri di hadapannya.


Dimana hati nurani Anda, Yang Mulia? Bagaimana jika putri Anda di posisi ku saat ini?


Perkataan Hazal terngiang-ngiang di telinga Hakim Ketua saat jaksa wanita itu menemuinya setelah ia selesai menonton video skandal penyuapan atas dirinya.


"Keberatan diterima," ucap Hakim Ketua dengan lirih sambil melepaskan kacamatanya. Perlu menunggu beberapa menit untuk menjawab permintaan Hazal.


"Saya minta banding atas kasus ini, Yang Mulia!" teriak Hazal dengan lantang.


Harun terkejut mendengar perkataan Hazal, "Apa masih kurang hukuman penjara seumur hidup?" teriak Harun.


Terdengar suara gaduh di dalam dan di luar ruang sidang, semua orang memprotes keputusan Majelis Hakim.


"Permintaan banding, diterima! Silahkan kalian bertemu di Pengadilan Tinggi!" seru Hakim Ketua sambil mengetukkan palunya sebanyak tiga kali.


Majelis Hakim mempersilakan Hazal untuk membawa kasus Harun ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi.


"K*parat kau! Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" teriak Harun saat dirinya turun dari tempat pesakitan nya dan berjalan melewati Hazal.


"Bukankah sejak dari dulu, kau tidak pernah melepaskanku?" tatap Hazal setajam silet. Aura dingin yang terpancar dari wajah dan suaranya berbalik mengintimidasi Harun.


Dua orang petugas polisi segera menggiring Harun kembali ke mobil tahanan.

__ADS_1


❤️ Bersambung 🔥


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2