DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Sampai Jumpa Mert


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Hazal di ponselnya, Mert tampak kebingungan.


Apa Hazal bermaksud menyuruhku untuk melarikan diri sekarang?


Di tengah kebingungannya, Mert mengikuti perkataan Hazal. Akhirnya ia mencari cara untuk keluar dari rumah Harun saat itu juga.


Hazal tampak terkejut mendengar suara Kenan, ia kemudian membalikkan badannya menghadap pria itu.


"Oh barusan aku bicara dengan Mert, ia sedang antri di mesin ATM. Ia ingin mengirim uang bulanan kepada keluarganya, tetapi tiba-tiba seekor ****** menggonggong kepadanya. Jadi aku menyuruhnya untuk lari."


"Benarkah? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Kenan sambil menaikkan salah satu alisnya. Salah satu tangannya mengambil ponsel Hazal dari genggaman tangan wanita itu.


Kenan melihat panggilan terakhir pada layar ponsel Hazal.


Hazal tidak bohong, Mert baru saja meneleponnya.


"Berikan ponselku!" seru Hazal sambil menengadahkan telapak tangan kanannya di depan Kenan. Wanita itu mendengus kesal melihat sikap Kenan yang tidak seperti biasanya. Putra Harun itu segera mengembalikan ponsel Hazal.


Tanpa banyak bicara Hazal segera berlari pergi meninggalkan Kenan.


"Hazal...! Tunggu!" seru Kenan. Tetapi terlambat kekasihnya itu sudah masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai dasar.


Di dalam lift Hazal masih mempunyai kesempatan untuk mengirim pesan singkat kepada Yafet dan Mert.


~ Yafet ~


Ambil paket ku sekarang juga. Kirim ke bandara.


~ Mert ~


Jemputan akan datang. Mobil sport hitam.


Setelah mengirimkan kedua pesan singkat itu, Hazal segera menghapusnya. Yafet yang hendak pergi menuju kantornya segera mengubah arah tujuannya setelah ia membaca pesan singkat dari Hazal. Ia segera melajukan kendaraannya menuju rumah Harun.


Sementara Mert yang masih ada di dalam rumah Harun, segera berjalan menuju ke halaman belakang. Ia memeriksa keadaan sekelilingnya, dilihatnya seorang pelayan wanita sedang membuka pintu hijau itu. Pelayan itu membawa tempat sampah besar. Segera ia berjalan keluar melewati satu-satunya jalan keluar dari rumah Harun.


"Aku mau membeli obat sakit kepala di ujung jalan!" pamit Mert kepada teman sekerjanya. Pelayan wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah laku pemuda itu.


Kini Mert sudah bebas keluar dari rumah Harun, dia sedang menunggu mobil sport hitam di ujung jalan.


Pintu lift perusahaan Fallay terbuka di lantai dasar. Kenan segera keluar dari ruang berbentuk tabung itu. Pandangannya mencari sosok Hazal di lobi. Ia segera menghampiri kekasihnya itu ketika ia melihat Hazal sudah menunggunya di pintu keluar.


"Hazal!" seru Kenan sambil berlari ke arah Hazal.


Melihat kedatangan Kenan, Hazal segera berjalan dan masuk ke dalam mobil. Putra Harun itu hanya menghembuskan napasnya, melihat raut wajah Hazal yang tampak kesal. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobil.


Kenan melajukan mobilnya menuju ke bandara. Ia melihat Hazal hanya terdiam memandangi jendela yang ada di sampingnya.


"Hazal," ucap Kenan yang memulai membuka suaranya.


"Kenapa hari ini kau bersikap tidak seperti biasanya?" tanya Hazal tanpa memandang wajah pria yang ada di sampingnya.


"Maaf. Aku tidak bermaksud mencurigaimu," jawab Kenan di balik setir kemudinya.


"Mencurigaiku? Apa yang kau curigai dari aku, Kenan?" tanya Hazal dengan nada tingginya. "Apa kau masih beranggapan bahwa aku mempunyai hubungan dengan Mert?"


Kenan hanya terdiam mendengar pertanyaan Hazal. Manik matanya fokus memandang jalan raya yang ada di depannya. Begitu juga dengan Hazal yang tidak melanjutkan pertanyaannya. Keduanya tampak diam membisu menatap jalan raya yang ada di depan.


Mobil Eropa itu melaju dengan kencang untuk mengejar jam penerbangan mereka. Tepat pukul delapan pagi, mereka telah tiba di Bandara Internasional Ataturk.


Setelah selesai mengurus boarding pass mereka naik ke lantai dua. Sepasang kekasih itu segera masuk ke sebuah Lounge bandara sambil menunggu pesawat mereka datang.


Sementara itu di rumah Harun Fallay, rubah tua itu di kejutkan oleh suara lukisan burung phoenix nya yang jatuh ke lantai.

__ADS_1


Kenapa lukisan sebesar ini bisa tiba-tiba jatuh? Untung saja lukisan ini tidak rusak.


Harun melihat paku yang di gunakan untuk menggantung bingkai lukisan itu sudah terlepas dari lubangnya. Ia segera membetulkan kembali letak paku tersebut.


Ayah Kenan itu sengaja membuka lembaran kayu yang ada di belakang lukisan itu, betapa terkejutnya pria paruh baya itu ketika mendapati dua benda rahasianya lenyap seketika.


Raut wajahnya merah padam bagaikan orang terbakar. Ia segera berteriak memanggil semua orang di dalam rumahnya.


Sepuluh orang yang terdiri dari lima orang penjaga rumah dan lima orang pelayan berdiri di hadapan Harun.


"Siapa yang telah berani mengambil dua benda milikku?" teriak Harun dengan suaranya yang mengintimidasi.


Sepuluh orang itu tampak saling memandang satu sama lain. Mereka tidak mengerti maksud pertanyaan majikannya itu.


"Maaf, Tuan. Hari ini aku belum memasuki ruang kerja, Tuan," jawab pelayan senior itu.


"Lantas siapa yang membersihkan ruangan ku pagi ini?" teriak Harun dengan tatapannya yang menakutkan menatap wanita gembul yang ada di depannya.


"Mert, Tuan. Tadi dia menawarkan dirinya untuk membersihkan ruangan Tuan," jawab pelayan senior itu sekali lagi.


Ingatan Harun lantas kembali di kejadian beberapa jam yang lalu, ketika ia bertemu dengan pelayan baru itu di dalam ruangannya.


"Dimana dia sekarang?" tanya Harun. Ia tidak melihat Mert di antara ke sepuluh orang itu.


"Terakhir kali saya bertemu dengannya ketika dia keluar dari pintu belakang. Mert mengatakan bahwa dia akan membeli obat di ujung jalan," jawab pelayan wanita yang tadi membuang sampah di belakang rumah.


Wajah Harun tampak murka. Ubun-ubun kepala nya terasa panas membara. Rona merah membakar wajahnya.


"Pasti dia yang mengambil barang milikku! Tangkap pelayan sialan itu!" teriak Harun kepada lima orang penjaganya.


Mert yang masih menunggu mobil sport hitam di ujung jalan, mulai tampak was-was. Sejak tadi tidak ada mobil sport hitam yang melintas di depannya. Ia melihat kelima penjaga rumah Harun telah keluar dari rumah.


Kenapa mereka berlima keluar dari rumah secara bersamaan? Apa Tuan Harun telah mengetahui bahwa aku telah mencuri barang miliknya?


"Hei...! Berhenti kau, Mert!" seru salah satu penjaga rumah Harun. Keempat penjaga itu segera menyusul temannya yang sedang mengejar Mert.


Mert segera lari ke arah jalan raya. Di belakangnya kelima orang penjaga itu sedang berusaha menangkapnya. Setelah berlari sekitar 200 meter, sebuah mobil sport hitam tiba-tiba berhenti di depannya.


"Masuklah!" seru Yafet yang membuka kaca mobilnya. Dari kaca spion, ia melihat lima orang penjaga yang sempat ia hajar beberapa hari yang lalu, tengah mengejar Mert.


Dengan cepat Mert masuk ke dalam mobil Yafet. Putra Emir itu segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kelima penjaga itu tampak marah melihat buruannya berhasil melarikan diri.


"Kita akan kemana?" tanya Mert sambil memeluk erat kotak besi itu.


"Bandara. Hazal sudah menunggu kita di sana," ucap Yafet yang menambah kecepatan mobilnya.


Mert memasang sabuk pengamannya. Ia mulai mengatur napasnya kembali menjadi mode normal. Hari ini benar-benar membuat adrenalin nya terjun bebas dan bergerak sangat cepat.


"Apa itu?" tanya Yafet yang melihat Mert sedang memeluk sebuah kotak kecil yang terbuat dari besi.


"Aku tidak tahu apa isinya. Kotak dan beberapa anak kunci ini ada di tempat rahasia Harun. Kupikir Hazal memerlukan benda ini," jawab Mert yang merogoh kumpulan anak kunci itu dari saku celananya.


Mobil Yafet berhenti di lampu merah.


"Berikan kedua benda itu kepadaku!" perintah Yafet. Mert menyerahkan kedua benda itu kepada kakak angkat Hazal.


Yafet mengeluarkan sebuah amplop coklat dari laci dashboard mobilnya.


"Ini untukmu," kata Yafet yang memberikan amplop coklat itu kepada Mert.


"Apa ini?" tanya Mert sambil membuka amplop coklat yang ada di tangannya.


"Impianmu. Paspor, visa dan tiket penerbangan ke Melbourne!" seru Yafet sambil menjalankan kembali mobilnya.

__ADS_1


Mata Mert terbelalak melihat ketiga benda itu ada di tangannya. Ia tak menyangka impiannya untuk ke Australia akan menjadi kenyataan.


Yafet mengeluarkan sebuah kartu namanya dari saku kemejanya dan memberikannya kepada Mert.


"Setelah kau tiba di Melbourne, segera temui seorang pria Jepang yang bernama Lee Hideaki. Dia akan memberikan pekerjaan dan tempat tinggal untukmu."


Mert menerima kartu nama Yafet, dilihatnya di belakang kartu nama itu ada sebuah alamat dan sebuah nomor ponsel milik seseorang yang bernama Lee Hideaki.


"Hari ini aku akan terbang ke Melbourne?" tanyanya sekali lagi. Ia tak percaya melihat jadwal tiket penerbangan Istanbul - Melbourne adalah hari ini.


"Ya!" seru Yafet sambil terus menatap jalan raya.


Mobil Yafet segera berhenti di bandara sekitar pukul 08.45 waktu Istanbul. Tinggal lima belas menit lagi waktu yang tersisa untuk mereka. Kedua orang laki-laki itu segera mencari Hazal di dalam bandara.


Hazal dan Kenan sedang berdiri di depan gate 10 untuk penerbangan menuju Swiss. Mereka sedang antri untuk pemeriksaan terakhir sebelum masuk ke dalam pesawat.


"Aku akan ke toilet," ucap Hazal kepada Kenan. Segera ia keluar dari barisan dan berjalan menuju ke luar ruangan kaca itu. Sementara Kenan tetap menunggu di dalam barisan untuk antrian selanjutnya.


Setelah sampai di toilet wanita, Hazal segera menelepon Yafet.


"Kau di mana? Apa Mert bersamamu?" tanya Hazal yang sedang berada di dalam salah satu bilik toilet wanita.


"Kami sudah di bandara. Kau dimana?" Suara Yafet terdengar ngos-ngosan, karena ia sedang berlari sambil menjawab telepon Hazal.


"Aku ada di toilet wanita di dekat Gate 10," jawab Hazal.


"Tunggu kami di sana. Aku dan Mert akan segera sampai," ucap Yafet yang sudah berada di pintu Gate. Ia dan Mert segera mencari Gate nomor 10.


Hazal segera mematikan ponselnya, detik berikutnya ia mendengar ada panggilan untuk penumpang jurusan Istanbul - Kloten (Swiss) dari pengeras suara yang ada di toilet.


Wanita itu melihat jam tangannya, waktu tersisa lima menit lagi sebelum pukul 09.00 pagi. Jantungnya berdegup kencang menunggu Yafet dan Mert. Ia keluar dari toilet, kemudian berjalan menuju Gate 10.


Di ruangan kaca itu, Yafet berdiri di tengah-tengah ruangan. Dari kejauhan ia melihat Kenan ada di sayap kiri ruangan itu sedang mengantri. Sedangkan di sayap kanan, ia melihat Hazal yang baru saja keluar dari toilet.


Waktu terus berjalan, Yafet segera mengambil sebuah topi berwarna hitam yang ada di manekin sebuah butik baju pria. Ia memakai topi curiannya itu.


"Tunggulah aku di butik itu!" seru Yafet kepada Mert.


Putra Emir itu segera berjalan cepat mendekati Hazal. Ia melewati Kenan yang masih berdiri di Gate 10. Tetapi putra Harun itu tidak mengenalinya.


Hazal yang melihat seorang pria bertopi hitam itu mendekat ke arahnya, segera mengenali bahwa pria itu adalah Yafet. Dengan cepat ia membuka tas tangannya dan menentengnya di samping tubuhnya. Ketika mereka saling berpapasan, dalam hitungan satu detik, kedua benda itu telah berpindah ke dalam tas Hazal. Wanita itu segera menutup kembali tas tangannya.


Putri angkat Emir itu segera masuk ke dalam Gate 10 dan berjalan bersama Kenan menuju ke pesawat yang akan membawa mereka ke Swiss.


Yafet dan Mert melihat pesawat yang membawa Hazal telah lepas landas dan meninggalkan tanah Turki.


Kini giliran putra Emir itu mengantar kepergian Mert ke Gate nomor 5. Penerbangan menuju ke Melbourne.


"Sampaikan salam ku dan ucapan terima kasih ku kepada Hazal. Kami tidak sempat bertemu," ucap Mert kepada Yafet.


"Aku dan Hazal yang seharusnya berterima kasih padamu," balas Yafet sambil mengulurkan tangannya kepada Mert. Mereka saling berjabat tangan.


"Tidak...tidak. Kalian yang telah membuat impian ku menjadi kenyataan," ucap Mert sambil tertawa.


"Pergilah. Jaga dirimu baik-baik. Mulailah hidup barumu di Melbourne," ujar Yafet sambil memeluk Mert dan menepuk pundak pemuda itu.


Mert tersenyum mendapatkan tepukan dari Yafet. Mereka pun berpisah setelah ada pemanggilan dari pengeras suara. Yafet melihat pemuda itu telah masuk ke dalam pesawatnya.


Sampai jumpa, Mert!


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2