
Hazal mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya, dilihatnya di seberang pusara orang tuanya, sekitar sepuluh meter jaraknya. Ia melihat seorang pria yang berjaket kulit dan bertopi bisbol hitam.
Pria itu... seperti penumpang mobil Van yang aku lihat tadi di jalan. Ternyata dia ke tempat ini juga, mungkin keluarganya ada yang meninggal. Wajah pria itu nampak sedih.
"Ada apa? Apakah kau mengenal mereka?" tanya Yafet yang melihat Hazal sedang memperhatikan rombongan pelayat yang sedang menguburkan seseorang yang baru saja meninggal.
Hazal menggelengkan kepalanya kemudian menjawab pertanyaan Yafet, "Tidak, tadi di jalan aku melihat pria bertopi itu duduk di mobil di belakang kita, ternyata ia juga ada di sini. Mungkin yang meninggal adalah anggota keluarganya, lihatlah pria bertopi itu tampak sangat sedih."
"Semua orang yang datang ke sini, pastilah bersedih. Ayo kita pulang !" ajak Yafet yang segera menggandeng tangan Hazal untuk berjalan ke pintu keluar. Tetapi Hazal menghentikan langkahnya, rupanya kehadiran pria bertopi itu menarik perhatiannya. Seperti sebuah magnet, yang menarik dirinya untuk mendekati pria bertopi bisbol itu.
"Yafet, sebaiknya kita melewati kerumunan pelayat itu," ajak Hazal. Awalnya Yafet menolak, karena jika harus melewati kerumunan pelayat itu, maka mereka harus berputar arah menjauhi pintu keluar. Akhirnya dengan terpaksa Yafet mengikuti ajakan Hazal.
Sepasang kekasih itu berjalan mendekati kerumunan pelayat yang hanya berjumlah sekitar lima orang.
Proses pemakaman itu telah selesai, lelaki bertopi itu membagikan beberapa lembar uang ke rombongan pelayat itu, karena mereka bukanlah dari pihak keluarga atau kerabat lelaki itu. Para pelayat itu hanyalah orang-orang bayaran yang dimintai tolong untuk membawa peti mati ibunya. Setelah menerima uang dari laki-laki tersebut, seluruh pelayat itu pun berpamitan dan pergi meninggalkannya seorang diri.
Hazal menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada di dekat pusara yang masih basah, manik matanya memandang batu nisan kecil yang baru saja terpasang. Tidak terlihat jelas nama yang tertulis di batu nisan itu.
"Kenapa kita berhenti?" tanya Yafet yang tidak mengerti dengan sikap Hazal.
Hazal tidak menjawab perkataan Yafet. Dorongan di tubuh Hazal semakin kuat, tanpa sadar ia berjalan hendak mendekati laki-laki bertopi bisbol itu. Seakan laki-laki itu telah menyihirnya untuk mendekat kepadanya. Tetapi Yafet menghentikan langkah kaki Hazal dengan menahan tangan kekasihnya itu. Seketika kesadaran Hazal kembali.
"Siapa dia? Apa kau mengenalnya?" tanya Yafet tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu di dalam diri laki-laki itu yang menarik ku untuk mendekatinya," ucap Hazal yang juga bingung dengan dirinya sendiri.
Yafet yang tidak ingin sesuatu terjadi pada Hazal, segera mengajak kekasihnya itu untuk pergi meninggalkan tempat pemakaman. Tetapi Hazal menolaknya. Tanpa mereka sadari, laki-laki itu berhenti tepat di depan Hazal dan Yafet, ia sedang berbicara dengan penjaga makam, meminta penjaga itu untuk selalu membersihkan pusara ayah dan ibunya.
Ketika mendengar suara laki-laki bertopi bisbol itu, wajah Hazal menjadi pucat seperti melihat hantu. Dengan cepat pikiran dan memorinya bekerja kembali ke masa lalu, dua puluh tahun yang lalu. Ia memegangi kepalanya yang mulai berdenyut dengan sangat keras, perkataan yang selalu terekam di memorinya kembali muncul.
"....Tenang saja, aku akan mengurangi penderitaanmu... sebentar lagi aku akan mengirim kalian berdua ke neraka." Suara pembunuh ayah dan ibunya. Dor... dor...suara tembakan senjata api.
Suara bariton itu, suara yang sangat ia kenal seumur hidupnya. Suara laki-laki bertopi bisbol itu sama persis dengan suara pembunuh orang tuanya. "Dia... dia...," suara Hazal tercekat di tenggorokannya.
Uhuk.....uhuk...uhuk... Terdengar suara batuk-batuk Hazal.
"Dia... dia siapa?" tanya Yafet yang menangkap tubuh Hazal yang hampir jatuh ke tanah. Pria bertopi bisbol itu sudah berjalan beberapa langkah menjauhi Hazal dan Yafet.
"Dia... Ted Baxter !!" teriak Hazal dengan sekuat tenaganya untuk mengucapkan nama pembunuh orang tuanya. Kepalanya semakin sakit, ia terduduk lemas di tanah yang masih basah.
"Apa? Dimana Ted Baxter?" tanya Yafet yang terkejut dan khawatir dengan keadaan Hazal yang terus mengerang kesakitan memegang kepalanya.
"Laki-laki bertopi bisbol itu. Auuwww... kepalaku...!! Cepat Yafet....cepat kejar dia...jangan pedulikan aku !!" teriak Hazal dengan lirih. Ia mendorong tubuh Yafet agar menjauh darinya.
Yafet yang bingung dengan situasi saat ini, dimana ia harus memilih menjaga Hazal atau memilih mengejar Ted Baxter.
"Cepat Yafet !!! Pergilah !!! Jangan pedulikan aku !! Auwww.... kepalaku...!!" teriak Hazal yang terus memegangi kepalanya. Air matanya mengalir menahan rasa sakit di kepalanya.
Yafet akhirnya memilih untuk mengejar Ted Baxter. Ia melihat laki-laki bertopi bisbol itu sudah berjalan ke arah pintu keluar, segera ia berlari mengejarnya. Jika benar laki-laki itu adalah Ted Baxter, maka ia tidak boleh kehilangan kesempatan berharga nya kali ini, karena kesempatan ini hanya datang sekali.
"Ted Baxter, berhenti kau !!" teriak Yafet memanggil laki-laki bertopi bisbol itu. Laki-laki itu merespon teriakan Yafet, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, dilihatnya Yafet yang sedang mengejarnya.
__ADS_1
"Ternyata benar, laki-laki itu adalah Ted Baxter," gumam Yafet sambil berlari.
Menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, Ted Baxter segera berlari melewati pintu keluar. Melihat buruannya yang melarikan diri, Yafet segera melompati pagar pembatas yang ada di depan area pemakaman, ia menghadang Ted Baxter. Laki-laki itu terkejut karena tiba-tiba Yafet sudah ada di depannya. "Siapa kau?" tanya Ted Baxter.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, tapi aku tahu siapa dirimu Ted Baxter !! Pembunuh keluarga Danner !!" teriak Yafet sambil menendang wajah Ted. Tendangan Yafet membuat Ted Baxter terjatuh dan membuat topi bisbol nya itu terlepas dam jatuh ke tanah. Percikan darah segar keluar dari mulut Ted yang sobek, wajahnya tampak pucat, ketika Yafet menyebutnya sebagai pembunuh keluarga Danner. Dosa yang selama ini dia tutup rapat selama dua puluh tahun akhirnya terkuak.
Tampak di depan Yafet, berdiri seorang pria gundul, dengan wajah yang sudah bersih tanpa cambang, tahi lalat besar sudah tidak ada lagi di samping keningnya. Penampilan Ted yang baru.
Yafet mendekati Ted Baxter, hendak memukul laki-laki itu tapi pukulan Yafet berhasil di tangkis oleh Ted Baxter. Laki-laki gundul itu dengan cepat menendang perut bawah Yafet dan membuat tubuh Yafet menjauh darinya. Melihat ada ruang kosong, Ted Baxter segera lari menjauhi Yafet.
Kedua laki-laki ini terus saling mengejar menjauhi area pemakaman. Sampailah mereka di sebuah pasar, Ted Baxter masih terus berlari menghindari kejaran Yafet. Ia melihat drum-drum minyak yang kosong yang tersusun rapi di depan sebuah toko. Ia kemudian menggulingkan drum-drum itu untuk menghalangi Yafet. Tindakannya berhasil, Yafet terlihat kewalahan menghindari drum-drum itu dan membuat langkah kaki Yafet sedikit terhambat.
Setelah berhasil melewati rintangan drum, Yafet melihat Ted Baxter membelokkan dirinya ke sebelah kanan. Yafet pun mengikutinya, ia masih berlari di belakang Ted. Langkah kakinya hampir mendekati pembunuh itu, tetapi tiba-tiba Ted Baxter mengambil buah dan sayuran milik penjual sayur di pasar dan melemparkannya ke arah Yafet. Para penjual itupun marah dan meneriaki Ted Baxter. Buah dan sayuran yang jatuh itu membuat tanah di bawah menjadi licin, hampir saja Yafet terpeleset di pasar itu.
Ted Baxter masih berlari di depan Yafet. Kekasih Hazal itu melihat sebuah buah yang besar mirip buah semangka yang ada di keranjang buah. Segera ia mengambil buah itu dan melemparkannya ke arah Ted Baxter. Tepat sasaran, buah itu mengenai kepala gundul Ted Baxter, membuat laki-laki itu menghentikan larinya. Ia menoleh ke belakang sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Saat Ted Baxter lengah, Yafet tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia berlari dengan cepat kemudian melompat sambil melakukan tendangan beruntun. Tendangan itu mengenai dada Ted Baxter bertubi-tubi, membuat tubuh penjahat itu terhuyung dan jatuh ke tanah.
Yafet yang mengira Ted Baxter sudah menyerah, segera menghampiri penjahat itu dan mencengkeram jaket hitamnya. Suami Nuran itu ternyata cukup tangguh, meskipun sudah berumur. Ia menghantamkan kening plontosnya ke kening Yafet yang ada di depannya. "Auww...," erang Yafet yang terkejut dan segera melepas cengkeraman tangannya dan mundur seketika. Pandangan Yafet sedikit buram, ia menggelengkan kepalanya.
Melihat hal itu, Ted Baxter mengangkat tubuh Yafet sambil berteriak, "Kau takkan bisa mengalahkanku, anak bau kencur !!" Kemudian dilemparkannya tubuh Yafet ke atas meja penjual daging. Bruaaaaakkkk.......!!!! suara tubuh Yafet mendarat di atas meja dan meja kayu itupun hancur lebur. Orang-orang yang ada di pasar tidak berani melerai mereka, dengan cepat mereka berbaris di pinggir dan menyoraki kedua jagoan itu.
Yafet merasakan ngilu di sekujur tubuhnya, keringat dan darahnya bercucuran dari atas kepalanya. Ia berdiri dan melepaskan jaket yang membebani tubuhnya untuk bergerak.
Ted Baxter yang melihat Yafet berdiri kembali segera mengambil sebuah pisau daging yang cukup besar yang ada di dekat meja yang rusak itu. Ia mengayunkan pisau daging itu ke tubuh Yafet sambil berkata, "Jangan pernah ikut campur urusan ku, bocah tengil !! Atau kau akan berakhir sama seperti keluarga Danner !!"
Putra Emir itu mencoba menghindari tebasan pisau Ted Baxter. Beruntung jaket yang ia lepas bisa menjadi penahan tebasan pisau daging itu. Tak mampu menahan ketajaman pisau, jaket itu akhirnya sobek, hampir saja pisau itu membelah kepala Yafet. Jika saja Yafet tidak cepat menghindarinya.
Yafet menendang tangan Ted Baxter yang sedang memegang pisau daging itu, membuat pisau itu terlepas dari genggamannya.
Segera Ted Baxter berlari cukup kencang dan masuk ke pemukiman padat penduduk. Banyak bangunan rumah susun berbaris rapi di sepanjang jalan itu. Yafet yang masih mengejar Ted, segera melompat dan berlari di atas atap mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan. Aksinya itu mengundang perhatian banyak orang. Begitu ia melihat Ted ada di depannya, Yafet segera melompat dan menerkam penjahat itu, tubuh mereka berdua saling bergulingan di jalan raya.
Di tempat pemakaman...
Hazal yang masih mengerang kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.
Ayah...Ibu berikan aku kekuatan untuk bertahan, tolong lindungi Yafet...
"Auuwww... sakit...," teriak Hazal sambil memejamkan kedua matanya, air matanya terus mengalir menahan rasa sakitnya.
Aku tidak boleh lemah, aku harus menolong Yafet...
Sambil memegangi kepalanya, ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Erangan kesakitan terus keluar dari mulutnya, semakin lama kepalanya terasa seperti mau pecah. Dengan tubuh yang lemah, ia menghubungi polisi dan memberitahukan bahwa buronan Ted Baxter ada di sekitar tempat pemakaman. Setelah menutup ponselnya, ia mencoba untuk berdiri dan berjalan.
Tetapi karena rasa sakit kepalanya semakin hebat, Hazal pun terjatuh dan kepalanya terbentur mengenai sebuah pusara yang terbuat dari batu. Tubuhnya jatuh tergeletak di tanah dan darah segar mengalir dari kepalanya.
Kembali ke pemukiman penduduk...
Ted berhasil melepaskan diri dari terkaman Yafet dan berlari menaiki tangga rumah susun. Ia berjalan menempel di dinding bangunan itu dan masuk ke dalam sebuah jendela yang terbuka. Kehadirannya membuat penghuni rumah susun itu terkejut, karena mereka sedang melakukan keintiman tiba-tiba Ted Baxter muncul dari jendela yang menonton aksi suami istri itu.
Sang suami pun marah, membuat Ted Baxter segera keluar dari jendela. Tetapi tiba-tiba Yafet muncul dari jendela yang sama dan menendang tubuh Ted untuk masuk kembali ke dalam kamar. Perkelahian itu pun terjadi di dalam kamar tersebut, sepasang suami istri itu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, dan diam seribu bahasa menonton perkelahian Yafet dan Ted. Laki-laki gundul itu memukul wajah Yafet, hingga darah segar mengalir dari hidung dan bibir Yafet.
__ADS_1
Ted Baxter berhasil keluar dari pintu kamar dan terus berlari menuju atap rumah susun, Yafet mengejarnya. Mereka saling berkejaran, melompati bangunan demi bangunan, berkelahi di atas atap gedung. Hingga akhirnya Ted Baxter turun ke bawah menggunakan pipa air, Yafet juga melakukan hal yang sama. Penjahat itu berlari dan masuk ke sebuah lorong yang sempit.
Yafet terus mengikutinya dari belakang, dan mereka akhirnya terjebak di halaman kosong yang merupakan jalan buntu. Di depan Ted Baxter ada sebuah pagar besi yang cukup tinggi dengan kawat berduri melilit di bagian atasnya. Sedangkan di belakang Ted Baxter, Yafet telah menunggunya.
"Kau takkan bisa lari, Ted Baxter !!" teriak Yafet dengan garangnya.
"Apa yang kau mau? Kau mau uang? Aku bisa memberimu banyak uang, asal kau lepaskan aku," kata Ted dengan nafas yang terputus-putus.
"Kau salah jika mendonorkan uang mu padaku. Yang aku mau adalah... membawamu ke neraka untuk menemui keluarga Danner !!" seru Yafet yang melayangkan kedua tinjunya ke perut Ted Baxter. Membuat tubuh Ted terdorong ke belakang dan terjepit di antara tangan Yafet dan pagar besi yang ada di belakangnya.
"Kau bukanlah tandingan ku anak brengsek !!" teriak Ted Baxter sambil memukul tengkuk leher Yafet dengan sikunya, menendang wajah Yafet dan membalas pukulan Yafet. Membuat pemuda itu jatuh tersungkur dan muntah darah.
Dengan cepat Ted menaiki pagar besi yang ada di belakangnya. "Berhenti kau, Ted Baxter !!" teriak Yafet yang mencoba untuk berdiri. Tetapi Ted Baxter sudah berada di atas pagar besi dan hendak melangkahkan kakinya ke sisi pagar yang lain. Melihat hal itu, kaki Yafet terasa lemas, ia merasa dirinya telah kalah.
Tiba-tiba ada suatu suara yang mengejutkan mereka berdua, "Ted Baxter !! Serahkan dirimu, kau sudah di kepung !! Menyerahlah Ted Baxter !!" teriak kapten polisi dari alat pengerasnya. Terlihat pasukan polisi telah berada di sekeliling pagar besi itu siap dengan senjata api mereka.
"Tamat riwayatmu, Ted Baxter !!" gumam Yafet.
Melihat pasukan polisi datang, semangat Yafet kembali muncul. "Kali ini, kau harus membayar perbuatan mu karena telah melenyapkan seluruh keluarga Danner !!" teriak Yafet penuh dengan amarahnya. Ia segera melompat dari geladak dan menendang dada Ted Baxter yang tengah duduk di atas kawat berduri itu. Tendangan Yafet kali ini sangat kuat, membuat tubuh Ted Baxter limbung dan jatuh di barisan polisi. Ted memegangi dadanya yang terasa nyeri dan nafasnya yang terasa berat. Petugas polisi dengan mudah memborgol kedua tangan Ted Baxter dan membawanya ke kantor Polisi.
Kapten polisi membantu Yafet untuk berdiri, dan dia mengucapkan terimakasih kepada Yafet karena telah membantu polisi Turki untuk menangkap buronan yang sudah bertahun-tahun menghilang.
"Berkat telepon dari seorang wanita yang memberitahu informasi tentang keberadaan Ted Baxter," kata Kapten Polisi sambil bersalaman dengan Yafet. Setelah berpamitan dengan Yafet, Kapten Polisi itupun pergi.
"Seorang wanita menghubungi Polisi?" gumam Yafet seorang diri. Ia pun teringat pada Hazal.
"Pasti Hazal yang telah menghubungi Polisi. Ya Tuhan... aku telah meninggalkannya di tempat pemakaman," teriak Yafet pada dirinya sendiri. Segera ia berlari kembali ke tempat pemakaman untuk melihat kondisi Hazal.
Beberapa puluh menit kemudian, sampailah ia di tempat pemakaman. Ia melihat sekelilingnya, tempat itu sepi, tidak ada orang di sana. Ia berteriak memanggil nama Hazal, ia berjalan menyusuri tempat parkir mobil, hanya tersisa mobilnya sendiri yang ada di sana. Ia tidak melihat Hazal di dalam mobil.
Yafet pun kembali ke tempat pemakaman, ia berjalan masuk dan berteriak memanggil nama Hazal. Ia kembali menyusuri jalan ke arah pusara terakhir sewaktu ia berpisah dengan Hazal. Tak jauh dari pusara itu, ia melihat kaki seseorang yang tergeletak di samping pusara. Warna celana panjangnya sama seperti dengan yang di pakai Hazal. Segera ia menghampiri tubuh yang tergeletak itu. Ternyata seorang wanita, ia membalikkan tubuh dan wajah wanita itu. " Hazal?" ucap Yafet dengan rasa terkejutnya
Dipangkunya kepala Hazal, di tepuk-tepuk nya kedua pipi Hazal. Wajah kekasihnya itu pucat seperti mayat. Aura ketakutan mengalir di tubuh Yafet. Ia melihat telapak tangannya sendiri yang memegang kepala Hazal berwarna merah, darah Hazal.
"Ti-dak.... ti-dak...ini ti-dak bo-leh terjadi," ucap Yafet dengan terbata-bata. Tangan dan tubuh Yafet bergetar. Ia mengguncang tubuh Hazal.
"Bangun Hazal, buka matamu....buka matamu sayang...," teriak Yafet. Tetapi tubuh Hazal masih terbujur kaku, tidak bergerak.
"Hazal.......!!!" teriak Yafet dengan sedihnya dan memeluk tubuh wanita yang dicintainya.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah membaca novel ku ini sampai bab 70 🤗 semoga kalian menyukai tulisan ku uang super duper panjang ini 🤭
Jangan lupa kasih tip ya buat Author...berupa...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
__ADS_1
🤗 Vote kalian ya...
Makasih 😘