
Hazal terlihat bahagia begitu ia masuk ke ruangan Yafet, ia melihat kekasihnya itu sedang sibuk memperhatikan laptopnya dan tidak menyadari kedatangannya. "Uhuk...uhuk...," suara batuk buatan Hazal. Yafet mendongakkan kepalanya mencari sumber suara itu, dilihatnya wanita yang dicintainya sudah berdiri di depannya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Hazal dengan suaranya yang lembut, yang masih tetap berdiri di depan Yafet.
"Kemarilah," ajak Yafet dengan lambaian tangannya, kemudian ia segera mematikan dan menutup laptopnya.
Hazal segera berjalan mendekati Yafet yang sedang terduduk di kursi kerjanya. "Aku punya kabar gembira untukmu," kata Hazal yang menyandarkan dagunya di pundak Yafet.
"Apa itu?" tanya Yafet sambil setengah berpikir dan memiringkan wajahnya untuk melihat sedikit wajah Hazal.
"Coba tebak...," ucap Hazal yang menempelkan pipinya di pipi Yafet dan masih memeluk kekasihnya itu dari belakang. Tangan Yafet segera melepas tangan Hazal yang dari tadi memeluknya, dan menarik tangan itu mendekat padanya, sehingga membuat Hazal jatuh terduduk di pangkuannya. Hazal mengalungkan kedua lengannya di leher Yafet.
"Apa kau diterima sebagai jaksa?" tanya Yafet yang memajukan wajahnya di depan wajah Hazal dan mengalungkan tangannya di pinggang ramping Hazal.
"100 untukmu, sayang," ucap Hazal sambil tersenyum bahagia dan mencium pipi Yafet.
"Apa secepat itu?" tanya Yafet setengah tak percaya.
"Aku juga terkejut, ketika Raja Sulaiman itu langsung menerimaku. Tetapi semua karena rekomendasi Smith dan Jaksa Senior yang ada di New York. Dia langsung menyuruhku bekerja mulai besok."
"Raja Sulaiman?" tanya Yafet sambil tertawa dan mengusap puncak rambut Hazal.
"Ya, wajah Jaksa Kepala itu seperti pemain Raja Sulaiman di Kerajaan Ottoman," jawab Hazal yang tertawa kecil membayangkan wajah tanpa ekspresi itu.
Yafet juga ikut tertawa mendengar perkataan Hazal, "Kau sungguh nakal, besok dia akan menjadi atasanmu."
"Biarkan aku bersenang-senang hari ini, sebelum besok aku menemuinya di singgasana," ucap Hazal yang menatap mata elang Yafet sambil tersenyum. Yafet segera mencium bibir merah Hazal, memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Hazal, begitu juga dengan Hazal yang membalas permainan lidah Yafet. Ciuman itu memberikan tenaga super ekstra buat Yafet yang penat menghadapi pekerjaannya hari ini.
"Kau membuatku bersemangat hari ini, sayang," kata Yafet setelah ia menghentikan ciuman bibirnya. "Sudah waktunya makan siang, ayo kita keluar !!" ajak Yafet yang menurunkan tubuh Hazal dari pangkuannya.
"Kali ini aku akan mentraktir mu," kata Hazal yang segera mengambil tasnya yang ada di atas sofa dan berjalan lebih dulu di depan Yafet.
Mereka berdua keluar dari ruangan, Yafet memberitahu sekretarisnya dan Nyonya Rachel bahwa ia akan makan siang di luar bersama Hazal. Mereka berjalan keluar dari lobi hotel dan segera naik ke mobil Hazal.
Siang hari ini lalu lintas kota Istanbul terlihat padat merayap, karena ada beberapa galian proyek di sekitar jalan utama yang membuat Yafet melajukan kendaraannya dengan super lambat. Setelah berkutat cukup lama di jalan raya, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran Turki yang cukup terkenal di sana.
Seorang pelayan wanita membuka pintu masuk untuk mereka, dan menyambut kedatangan mereka dengan senyumannya yang ramah. Yafet dan Hazal segera memilih tempat duduk yang ada di samping ruangan. Yafet menarik kursi untuk Hazal, dan mempersilahkan kekasihnya itu untuk duduk terlebih dahulu. Mereka duduk berhadapan, di tempat duduk Yafet, ia bisa melihat pemandangan luar dari restoran itu dan orang yang akan masuk ke restoran tersebut. Berbeda dengan tempat duduk Hazal, ia hanya bisa melihat pemandangan interior restoran itu yang hanya berupa kursi dan meja saja.
Seorang pelayan wanita yang lain memberikan buku menu kepada mereka, Yafet dan Hazal pun memesan makanan dan minuman mereka. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang.
"Aku suka cara kerja sekretaris mu itu, sayang," kata Hazal yang meniup minuman hangatnya. Kemudian menyesapnya secara perlahan Teh Cina pesanannya.
"Maksudmu?" tanya Yafet yang sedang memotong daging angsa dengan pisau yang ada di tangannya.
"Tadi sewaktu aku akan masuk ke ruangan mu, dia menghalangiku. Memintaku untuk membuat janji terlebih dahulu, waktu itu aku memang sedikit kesal padanya. Tapi tiba-tiba Nyonya Rachel datang dan dia menolongku. Ia juga memperkenalkanku pada sekertaris barumu," jelas Hazal kemudian memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Oh ya? Kenapa kau malah memujinya bukankah ia sudah membuatmu kesal?" tanya Yafet yang memandang wajah Hazal yang penuh ekspresi. Ia pun tertawa membayangkan apa yang terjadi di luar ruangannya.
"Apa kau ingin aku memecatnya?" tanya Yafet yang mengambil secangkir Kopi Turki yang ada di depannya. Menghirup aromanya dan kemudian menikmati rasanya.
Hazal meletakkan garpu dan pisau yang sejak tadi ada di genggaman tangannya, kemudian ia mengusap bibirnya yang terkena bumbu masakan dengan selembar tisu yang sudah tersedia di meja. "Kau tak perlu memecatnya, ia sekretaris yang hebat, yang tidak membiarkan orang lain masuk ke ruangan mu," kata Hazal.
"Tapi kau bukan orang lain !" sanggah Yafet.
__ADS_1
"Dia tidak mengenaliku, karena itu dia menghalangi jalanku," ujar Hazal yang tersenyum dan kembali menghabiskan Teh Cina nya hingga tetesan terakhir.
"Baiklah...aku akan memberikan bonus untuknya," ujar Yafet sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai menikmati makanan mereka, Hazal pergi ke meja kasir dan membayar tagihan pesanannya. Yafet yang sedang duduk di meja makannya menunggu kedatangan Hazal, tiba-tiba pandanganya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam restoran.
Seorang wanita dengan baju musim dinginnya yang berwarna hitam. Wanita muda yang sangat di kenalnya beberapa tahun yang lalu di New York. "Selina Howard?" pekik Yafet dalam hatinya.
Seakan tak percaya dengan pandangan matanya sendiri, ia mengucek kedua mata elangnya untuk memperjelas penglihatannya. Wanita itu berjalan mencari meja yang kosong, ia tidak melihat keberadaan Yafet, karena pria itu menutupi wajahnya dengan buku menu yang besar.
Seorang wanita lain berjalan dari belakang Yafet, menghampirinya dan menyapanya, "Selina Howard." Kedua wanita itupun berpelukan kemudian berjalan menjauhi tempat duduk Yafet dan memilih tempat duduk di sisi lain.
Jantung Yafet seakan berhenti berdetak, begitu mendengar nama Selina Howard. Tak salah lagi, wanita yang baru masuk itu adalah mantan kekasihnya dulu sewaktu kuliah. "Apa yang dilakukan wanita itu di Turki? Bukankah seharusnya ia pulang ke negaranya setelah lulus kuliah?"
Tiba-tiba sentuhan tangan Hazal mengejutkan Yafet, "Apa yang kau pikirkan, kenapa kau terkejut ketika aku datang?"
"Tidak ada yang aku pikirkan, aku hanya melihat orang-orang di luar yang berlalu lalang," jawab Yafet yang tidak ingin membuat kekasihnya itu khawatir karena kedatangan Selina ke Turki.
"Ayo kita segera kembali ke kantor !" ajak Yafet yang segera berdiri dan menggandeng tangan Hazal.
Mobil mereka pun berhenti di depan lobi hotel. Yafet melepaskan sabuk pengamannya yang ada di kursi samping kemudi. "Aku akan menunggumu di rumah," kata Hazal sambil melepas kacamata hitamnya.
"Baiklah. Aku akan pulang tepat waktu. Tapi berikan aku sebuah energi lagi hari ini !" pinta Yafet yang memajukan bibirnya.
Hazal segera melepas sabuk pengamannya dan mencium pipi Yafet, pria itu terlihat kecewa karena kekasihnya hanya memberikan ciuman pipi saja. "Sayang, jam makan siang mu sudah selesai, cepatlah kembali ke kantormu," kata Hazal sambil tertawa melihat muka Yafet yang memelas.
"Satu menit, berikan aku waktu satu menit untuk mendapatkan energi ku kembali," mohon Yafet.
"Tunggu, aku akan membetulkan letak dasi mu," kata Hazal yang segera membetulkan aksesori kemeja itu. Pria itu hanya memandangi wajah cantik Hazal.
"Selesai, kau sudah terlihat rapi sekarang," ucap Hazal dengan ekspresi senangnya. Yafet segera mencium kening Hazal untuk mengucapkan terimakasih atas perhatian kekasihnya itu.
Yafet terlihat keluar dari mobil Hazal, dan masuk ke lobi hotel. Dengan cepat Yafet berjalan menuju ke ruangannya, di depan pintu ruangannya ia berkata kepada sekretaris nya dan kepada Nyonya Rachel, "Jangan ada yang berani menggangguku, baik itu telepon atau masuk ke dalam ruanganku !!" Kedua wanita itu saling berpandangan, seolah-olah heran melihat sikap dan temperamen Yafet yang selalu berubah-ubah.
Yafet segera duduk di kursi kerjanya , ia memijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut sejak tadi melihat Selina di restoran. Dipandanginya langit-langit yang ada di ruangannya, diusapnya wajahnya dengan kasar. Kemudian Yafet mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ia mencari nomor kontak David, Jason dan Lee. Ia melakukan panggilan video group untuk menghubungi teman-temannya yang ada di berbagai negara.
Layar ponsel Yafet terbagi menjadi empat kotak persegi. Masing-masing kotak menampilkan wajah keempat pria itu.
"Halo, ada apa kau menghubungiku? Aku sedang banyak pekerjaan," kata Jason yang sedang sibuk mengetik laptopnya.
"Halo bro, aku sedang makan siang bersama dengan gadisku. Ada apa?" tanya David yang ada di sebuah restoran dekat pantai.
"Halo, ada apa? Kau tahu, sekarang di Melbourne sudah pukul 11 malam, kau mengejutkanku sobat," sahut Lee yang sudah ada di tempat tidurnya bersama dengan Carina.
"Apa kalian mendengar kabar tentang Selina Howard?" tanya Yafet yang langsung ke intinya.
Terlihat Lee sedang menguap, memijat keningnya dan kemudian ia berkata, "Hmm... cinta lama kembali lagi. Apa Hazal masih kurang untukmu, sehingga kau masih menanyakan Selina?"
"Kau jangan salah sangka, Hazal adalah segalanya untukku. Baru saja, aku melihat Selina ada di restoran Turki bersama dengan temannya," terang Yafet sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Kurasa itu hanya kebetulan, mungkin dia hanya mirip dengan Selina. Apa kau masih terbayang-bayang dengan wajah mantan kekasihmu itu? Benar kata Lee, cinta lama datang kembali...," goda David yang terlihat mengambil minumannya.
"Brengsek kalian !!" pekik Yafet kepada teman-temannya. "Tadi aku mendengar sendiri, temannya itu memanggil nama Selina Howard. Entahlah... perasaanku tidak enak setelah mengetahui dia ada di Turki. Siapa yang memberitahu keberadaanku di sini?" tanya Yafet menatap kamera depan ponselnya mengamati wajah satu persatu teman-temannya.
__ADS_1
Jason yang sejak tadi mendengarkan sambil berkutat pada pekerjaannya, tiba-tiba mengeluarkan suaranya, "Enam bulan yang lalu, aku bertemu dengan Selina di London, dia memberitahuku bahwa ayahnya baru saja meninggal, dan dia menanyakan kabarmu dan keberadaanmu."
"Dan kau memberitahu Selina bahwa Yafet ada di Turki?" cecar David.
"Ya.... Tapi aku tak menyangka jika dia akan mengejarmu sampai ke Turki. Kupikir dia sudah move-on setelah beberapa tahun dia tidak bertemu denganmu.
"Brengsek kau, Jason !! Jika kau ada di sini, sudah ku hajar kau !!" teriak Yafet di dalam ruang kerjanya.
"Maafkan aku, sobat. Dia hanya mengatakan ingin berteman denganmu. Waktu itu, dia bersama dengan seorang pria ketika kami bertemu. Mungkin pria itu adalah kekasihnya," ucap Jason dengan nada sesalnya.
"Sebaiknya kau cepat nikahi Hazal, masalah selesai !! Wanita gila itu tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Lihatlah hidupku yang sudah tenang bersama dengan Carina," seloroh Lee yang mengusap rambut pirang Carina.
"Dasar kau pria Jepang, sialan !! Terus saja nikmati hari-hari bahagia mu, di tengah kegalauan temanmu ini. Tidak semudah itu mereka menikah. Hei, apa kau sudah berhasil menghasilkan Lee junior?" ejek David yang memamerkan wajah gadis di sebelahnya.
"Tinggal menunggu waktu, kau akan lihat betapa tampannya Lee junior ku. Hasil perpaduan karya orang Jepang dengan orang Amerika," ujar Lee sambil tertawa terkekeh-kekeh membanggakan dirinya.
"Ya...ya...ya... aku tidak ingin membahas Lee junior mu," sahut Yafet dengan kesal. Ia memejamkan kedua matanya.
"Ya, kembali ke Selina. Belum tentu wanita gila itu masih mengejar mu, bisa jadi ia ada urusan lain di Turki," hibur David yang melihat Yafet memejamkan matanya.
"Dugaan ku juga seperti itu," sahut Jason menimpali.
"Ya... semoga kalian benar, karena aku tahu wanita seperti apa Selina Howard itu," ujar Yafet yang kembali membuka matanya dan memindahkan ponselnya di tangan yang lain.
"Jika dia mengganggumu, lemparkan saja wanita gila itu kembali ke asalnya," seloroh David.
Keempat pria itu pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan David.
"Aku akan melemparkan dia ke Italia untuk menikahimu," ucap Yafet dengan tawanya.
"Brengsek kau !!" Di Italia, aku tidak kekurangan wanita, tidak sudi aku menerima bekas teman sendiri. Haram bagiku teman makan teman !!" sengit David.
Empat sekawan itu tertawa terbahak-bahak. Hingga membuat Carina yang sejak tadi tidur di samping Lee menjadi terbangun.
"Maaf aku mengganggu waktu kalian, sobat. Lee, sampaikan salam ku untuk Carina dan junior mu yang akan datang ke dunia ini," kata Yafet yang akan mengakhiri panggilan videonya.
"It's oke bro....," jawab mereka bertiga bersamaan.
Akhirnya mereka satu persatu memutuskan panggilan video group tersebut.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah mampir dan membaca novelku ini. Jangan lupa kasih tips buat Author bisa berupa....
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian yah....
Terimakasih 😊🤗
__ADS_1