
Jempol tangan Hazal hanya sibuk menekan dan melepaskan sebuah pangkal pena berwarna hitam pemberian Kenan. Tatapan matanya kosong memandangi benda ramping yang bisa mengeluarkan tinta. Terkadang ibu jarinya menekan tombol kecil yang ada di badan benda hitam tersebut. Terdengarlah suara Harun di sana.
Selama beberapa hari sejak kematian Kenan, hal itulah yang sering di lakukan Hazal. Mengunci dirinya di dalam kamar dan menarik dirinya dari dunia manusia. Hanya ruang kamarnya saat ini yang ia anggap dunianya.
Yafet dan orang tua angkatnya mencoba mengetuk dan berbicara dengannya, tapi Hazal sepertinya sedang berusaha menghukum dirinya sendiri atas kematian Kenan. Wanita itu tidak pernah membuka pintu kamarnya sejak ia pulang dari pemakaman.
Tiga kali sehari Meral meletakkan nampan berisi makanan dan minuman untuk Hazal, tetapi semuanya berakhir dengan menyedihkan. Terkadang Hazal melewatkan waktu makannya, terkadang pula ia hanya memakannya beberapa suap dan tidak benar-benar habis.
"Hazal, kumohon buka pintunya. Ayah dan Ibu mencemaskan mu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Yafet yang ada di depan pintu kamar Hazal. Jika pria itu tidak ke kantor, ia bisa mengetuk pintu itu hampir setiap jam.
"Setidaknya katakan sesuatu, Hazal. Oke. Aku mengerti kau masih bersedih, tetapi katakan bahwa di dalam kau baik-baik saja," pinta Yafet dengan lirih. Ia mengepalkan tangannya di depan pintu kayu tersebut.
Di dalam kamar, dengan pandangan matanya yang kosong, Hazal terduduk di lantai sambil menempelkan kepalanya di atas bantal. Pena pemberian Kenan yang selalu menemaninya saat ini. Ia menekan dan melepas pangkal pena itu berulang-ulang, hingga menimbulkan suatu bunyi.
Bukan berarti Yafet menyerah untuk mengetahui keadaan Hazal. Ia tahu bahwa wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia tidak ingin Hazal menanggung kesedihannya itu seorang diri.
Yafet mencoba melompati balkon rumahnya, kemudian berjalan melewati jalan dinding yang menjorok ke depan, yang hanya selebar sepatunya. Ia berjalan perlahan menempelkan dirinya di dinding luar rumah. Hanya memerlukan beberapa langkah untuk mencapai balkon kamar Hazal. Kini tangannya telah menyentuh pagar balkon, dan sebuah lompatan bagus ia lakukan untuk masuk ke area luar kamar wanita itu.
Yafet mulai membuka pintu kaca yang menghubungkannya dengan kamar Hazal. Tapi sial, Hazal juga mengunci pintu itu. Pintu kaca itu tertutup dengan sebuah tirai yang ada di dalam.
"Hazal...!" seru Yafet sambil mengetuk pintu itu berulang kali.
Ia mencoba mencari celah pintu dan celah jendela, mungkin ada sebuah sudut yang terbuka yang bisa membuatnya bisa melihat keadaan di dalam. Benar saja, ia melihat secercah harapan.
"Hazal...!" pekik Yafet setelah ia melihat wanita itu tergeletak di lantai dengan gerakan rambut yang menutupi wajahnya. Kepanikan mulai menyelimuti hati dan pikirannya.
Yafet mencoba memutar handle pintu kaca itu, tapi tidak berhasil. Akhirnya ia menggunakan cara kasarnya, dengan mendobrak pintu tersebut.
Ia segera berlari mendekati Hazal yang tergeletak, menggendong tubuh wanita itu, dan meletakkannya di atas ranjang. Berulangkali ia menepuk-nepuk pipi Hazal dengan pelan, tapi tidak ada reaksi. Manik mata coklat itu sembunyi di balik kelopak matanya. Ia memegang denyut nada Hazal, masih terasa.
Tanpa berpikir panjang, ia segera menghubungi dokter keluarganya agar datang ke rumahnya. Kening Hazal terasa demam, ia segera mengambil handuk basah dan mengompres kening wanita itu.
Kenapa kau menjadi seperti ini, Hazal? Apa Kenan benar-benar telah masuk ke dalam hatimu? Jangan siksa dirimu seperti ini....
"Dokter?" tanya Meral yang terkejut melihat dokter keluarganya masuk ke dalam rumah. Ia merasa tidak memanggilnya.
__ADS_1
"Yafet yang menghubungiku, Meral," jawab Dokter tersebut yang mengerti arti pertanyaan nyonya rumah ini.
Meral tambah mengernyitkan dahinya begitu mengetahui kalau Yafet yang menghubungi dokter tersebut. Meskipun masih terkejut, Meral membawa dokter itu naik ke lantai atas. Selama menaiki tangga, hatinya sedikit gelisah.
Jangan-jangan sesuatu terjadi pada Hazal?
Yafet sudah menunggu kedatangan dokter tersebut di depan kamar Hazal. Ia mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa kondisi adik angkatnya.
"Apa yang terjadi dengan Hazal? Kenapa kau sampai memanggil dokter?" Meral masuk ke dalam kamar Hazal dengan berbagai pertanyaan yang ia tujukan kepada putranya.
"Dia demam." Sebuah jawaban singkat yang membuat mata Meral terbelalak.
"Ia demam dan sedikit depresi," ucap dokter setelah ia memeriksa kondisi Hazal dan memberikan obat demam dan obat penenang kepada Meral.
"Depresi?" tanya Meral dan Yafet berbarengan.
"Belum sampai ke tahap serius," ucap dokter itu sambil tersenyum. "Hazal hanya perlu menenangkan dirinya, yakinkan dia bahwa kalian ada bersamanya. Mungkin kematian almarhum suaminya membebani pikirannya."
Meral dan Yafet membenarkan perkataan dokter tersebut.
Upaya Meral itu mampu membuat Hazal membuka kelopak matanya. Manik matanya mulai memandang sekelilingnya dengan perlahan. Ia melihat ibu angkatnya ada di sampingnya dan Yafet baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"A...apa yang terjadi? Ke...kenapa kalian ada di kamarku?" Suara Hazal terdengar sangat lemah.
"Kau mengunci dirimu beberapa hari ini, dan baru saja aku melihat mu jatuh pingsan di lantai. Dokter baru saja selesai memeriksa mu," jelas Yafet yang terduduk di depan kaki Hazal.
Hazal menegakkan tubuhnya, tetapi ia merasakan kepalanya terasa berat.
"Berbaringlah, ibu akan membuatkan bubur untukmu. Kau tidak pernah menghabiskan makananmu, sayang," ucap Meral sambil memegang lengan Hazal dan membaringkan putrinya itu kembali. Ia berjalan menuju ke dapur dan meninggalkan Hazal bersama Yafet.
"Dimana pena itu?" tanya Hazal yang meraba-raba samping ranjangnya.
"Pena?" Yafet mencoba mengedarkan pandangannya mencari benda yang Hazal maksud.
"Ya. Pena hitam dengan sedikit hiasan garis berwarna emas. Dimana pena itu?" tanya Hazal sambil memicingkan kedua matanya menatap Yafet.
__ADS_1
Yafet berdiri kemudian ia berjongkok untuk mencari sesuatu yang ada di lantai. Ia menyalakan senter ponselnya dan di lihatnya benda panjang itu tergeletak di bawah ranjang.
"Apa ini yang kau maksud?" tanya Yafet sambil memberikan pena itu kepada Hazal.
Hazal menganggukkan kepalanya dan mengambil pena pemberian Kenan itu dari tangan Yafet.
"Pergilah!" seru Hazal sambil memainkan benda pemberian Kenan kembali dan memunggungi pria itu. "Aku ingin sendiri."
"Aku tidak akan pergi, sebelum kau menghabiskan makananmu dan meminum obat mu," ucap Yafet yang mendudukkan dirinya di samping kepala Hazal.
Hazal terdiam.
Yafet mengulurkan tangannya, ia ingin membelai rambut dan mengusap punggung Hazal, tetapi entah kenapa sepertinya ada suatu tembok yang tak terlihat yang membatasi mereka. Ia menarik kembali tangannya.
Tak berapa lama kemudian, Meral datang membawa semangkuk bubur dan obat-obatan untuk Hazal.
"Hazal, buburnya sudah siap," ucap Meral yang meletakkan mangkuk bubur buatannya itu di atas meja. Ia mulai menepuk pundak Hazal yang memunggunginya.
Dengan perlahan Hazal mendudukkan dirinya dan bersandar di bantalnya. Yafet mengambil mangkuk bubur itu dari atas meja dan ingin menyuapi Hazal.
"Berikan sendoknya padaku, aku akan memakannya sendiri," ucap Hazal dengan nada dingin.
Yafet akhirnya memberikan sendok itu kepada Hazal. Wanita itu memakan bubur panas itu dengan perlahan. Yafet dan Meral hanya memperhatikan setiap bubur yang masuk ke dalam mulut Hazal.
Setelah meminum obatnya, Hazal kembali membaringkan dirinya. Kembali ia memunggungi Yafet tanpa bicara pada laki-laki itu.
Sesuai janjinya, Yafet keluar dari kamar Hazal. Ia masih menatap punggung wanita yang dicintainya itu hingga pintu kayu itu tertutup.
Ada apa denganmu? Kita berdua seperti orang asing. Apa kau sengaja membangun tembok diantara kita?
Putra Emir itu benar-benar bingung dengan sikap Hazal. Selama ini tidak ada yang disembunyikan Hazal darinya. Tetapi tidak untuk hari ini, setelah Kenan meninggal. Sepertinya Kenan telah membawa pergi sebagian hati Hazal.
🔥Bersambung❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1