DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Kena Kau


__ADS_3

Yafet kembali ke rumah Nuran setelah wanita itu memberikan sebuah anak kunci dan informasi tentang tempat rahasia yang ada di rumahnya, Saat ini, ia sudah berada di depan rumah istri Ted, ia memandangi anak kunci yang ada di tangannya.


"Apa aku bisa mempercayai wanita itu? Ataukah ini hanya jebakan saja?"


Pikirannya terus bertanya-tanya, sekitar sepuluh menit Yafet hanya berdiam di dalam mobilnya. Tekadnya sudah bulat untuk mencari benda yang di sembunyikan oleh Nuran. Pandanganya mengarah melihat ke depan dan ke belakang, menengok ke samping kiri dan kanannya tidak ada hal yang mencurigakan. Ia membuka pintu mobilnya, "Kita lihat saja, apa benar yang di katakan wanita itu."


Pagar rumah Nurul tidak terkunci, dan pintu rumahnya masih dibiarkan tetap terbuka. Yafet segera masuk ke dalam, tidak ada satu orang pun di dalam rumah itu. Ia masuk ke ruang tengah, dilihatnya sebuah karpet merah dengan motif abstrak yang ada di atas lantai kayu yang terbentang di bawah meja kecil di tengah ruangan. Karpet merah itu tidak sepenuhnya menutupi lantai kayu tersebut. Sepintas tidak ada yang mencurigakan dari karpet tersebut.


"Kenapa Ted tidak menyadari, ada sesuatu yang tersembunyi di dalam rumahnya?"


Yafet memindahkan meja kecil tersebut dan meletakkannya di sudut ruangan, menggeser karpet merah itu dari tempatnya semula. Yafet hanya melihat lantai yang terbuat dari kayu berwarna coklat muda dengan motif serat-serat kayu yang berwarna coklat tua, tidak ada lubang atau sesuatu yang bisa ia buka di lantai tersebut. Tangan Yafet meraba permukaan lantai kayu itu. "Sepertinya ada goresan di lantai ini," gumamnya.


Tangan Yafet mulai mengikuti bentuk goresan halus yang ada di lantai kayu itu, goresan halus itu membentuk sebuah bidang persegi kecil. "Wanita itu mengatakan, bahwa bukti itu ada di dalam kotak di lantai kayu ini, tapi bagaimana aku bisa membuka lantai ini."


Yafet menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengusap wajahnya dengan kasar, di tekan-tekan nya lantai kayu itu, tidak ada sesuatu yang terjadi. Kemudian ia berdiri, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka lantai kayu tersebut. Gunting, obeng, tang, jepit rambut, dan penggaris besi sudah ia coba semuanya, tetapi usahanya sia-sia.


Ia berjalan ke dapur, menebarkan pandangannya di ruang masak itu. Akhirnya kedua mata elangnya melihat suatu benda yang tajam dan berkilau, yaitu pisau dapur. Diambillah pisau itu dan dicobanya membuat garis di goresan halus di lantai kayu itu. Tetapi tetap tidak bisa terbuka.


Tanpa sengaja Yafet menancapkan pisau tersebut di atas bidang persegi itu, pisau itu bisa berdiri tegak. Ia terkejut, bagaimana pisau itu bisa tertancap di lantai kayu, yang merupakan benda keras. "Pasti di bawah lantai ini, ada sesuatu yang berrongga." Ditariknya pisau itu, bukan hanya pisau itu yang ikut keluar, tetapi bidang persegi itu juga ikut keluar menempel bersama pisau yang ia tancapkan tadi.


"Wow, wanita itu benar-benar cerdas," gumam Yafet. Dilihatnya ada sebuah lubang kecil di lantai tersebut, ia menyalakan lampu senter di ponselnya. Kedalaman lubang itu tidak terlalu dalam, ia mengambil pisau dan memasukkannya ke dalam lubang tersebut. Ada sesuatu yang menghalangi pisau itu untuk masuk lebih dalam. "Pasti ini kotak kayu yang dimaksud."


Kemudian ia menancapkan pisau itu dengan kuat di dalam lubang, pisau itu tertancap dengan sempurna. Perlahan ia menarik pisau itu ke atas. Tampak sebuah kotak kecil yang berbentuk balok yang terbuat dari kayu keluar dari lubang itu. Dilepaskannya pisau itu dari kotak tersebut. Kini kotak kayu itu ada di hadapannya.


Sebuah gembok kecil seperti gembok mainan anak mengunci kotak tersebut. Yafet mengambil anak kunci dari saku celananya. Dimasukkannya anak kunci itu ke dalam lubang gembok, ia memutar anak kunci itu tanpa suara, dan gembok itu akhirnya terlepas dari pengaitnya. Dibukanya kota kayu tersebut, mata elang nya bersinar melihat benda putih yang di ceritakan oleh Nuran. Benda putih itu bernama flashdisk. Yafet mengambil flashdisk itu dan memasukkannya di saku celananya. Kemudian ia mengembalikan semuanya seperti keadaan semula.

__ADS_1


Yafet memasuki kamar Nuran dan kamar Ali, ia sedang mencari komputer atau laptop atau alat elektronik lainnya yang bisa membantunya mendengarkan rekaman suara Ted. Tetapi alat yang dia cari tidak berhasil ia temukan. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari rumah Nuran, kemudian ia masuk ke dalam mobil.


Yafet menancapkan flashdisk itu di lubang yang ada di tape mobilnya. Terdengar suara bariton milik Ted Baxter, suara pengakuan dirinya tentang pembunuhan di Pegunungan Alpen, dua belas tahun yang lalu. "Kena kau, Ted Baxter !!" pekiknya dengan gembira. Ia mengembangkan senyumnya. Segera Yafet melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya.


Hari sudah mulai gelap, ketika Yafet sudah tiba di depan rumahnya. Ia memasukkan mobilnya ke dalam garasi dan masuk ke dalam rumahnya melalui pintu samping. Ketika ia hendak menuju ke kamarnya, dilihatnya ayah dan ibunya sedang duduk di ruang keluarga. Diurungkan niatnya untuk naik ke lantai atas. Yafet menghampiri ayah dan ibunya dan menyapa mereka.


"Ayah.... Ibu...."


"Kau sudah pulang rupanya, darimana saja kau satu hari ini? Ibu tidak melihatmu di rumah."


"Aku baru saja dari rumah pembunuh itu, dan aku sudah mendapatkan bukti kejahatannya."


Kedua mata Emir terbelalak mendengar ucapan Yafet. "Apa benar yang kau katakan?"


Yafet menancapkan flashdisk tersebut di lubang DVD player yang ada di ruangan itu, ia menyalakan mesin tersebut, beberapa detik kemudian ketiga orang itu mendengar suara pengakuan Ted Baxter.


Emir Aksal hanya diam membisu setelah mendengar suara rekaman Ted Baxter, air mukanya terlihat datar.


"Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah diam saja? Sudah dua belas tahun lebih Pengacara Alfred menyelidiki kasus ini, tetapi tidak ada hasilnya. Aku akan menemui pengacara itu sekarang, jangan-jangan dia telah mempermainkan mu, Ayah." Yafet melangkah hendak meninggalkan ruangan tersebut.


"Berhenti !!" hardik Emir yang membuat Yafet menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ayah dan ibunya.


"Pengacara Alfred memberikan foto orang lain kepada Ayah, bukan berarti dia adalah seorang pengkhianat. Bisa saja ini adalah keteledorannya," ucap Emir yang tidak memandang wajah putranya itu.


"Ayah !!" Raut wajah Yafet menegang, ia menyayangkan sikap ayahnya yang lebih membela pengacara itu daripada anaknya sendiri.

__ADS_1


"Jika kau memaksa, berikan bukti itu kepada Pengacara Alfred, dia yang akan menyelesaikan masalah ini."


"Apa?!? Aku takkan memberikan bukti ini kepada pengacara itu, Ayah. Aku akan menyelesaikan masalah ini tanpa bantuannya. Jika dia mampu, seharusnya dia bisa menyelesaikan masalah ini sudah sejak lama, dan Hazal tidak perlu menyembunyikan identitasnya sampai sekarang !!" Yafet mengepalkan telapak tangannya, ada suatu perasaan kecewa karena ayahnya sendiri tidak bisa mempercayainya.


"Yafet !!" suara Emir meninggi, laki-laki paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya.


"Sudahlah sayang, bukti itu adalah hasil kerja keras Yafet. Beri dia kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini, dan biarkan Pengacara Alfred menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri," ucap Meral yang ikut berdiri di samping suaminya. Ia berusaha menengahi emosi suami dan anaknya.


Kedua laki-laki itu tidak menjawab perkataan Meral. Emir kembali duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan Yafet setelah selesai mengambil flashdisk dari lubang DVD player, ia segera berjalan menuju kamarnya di lantai atas.


"Apa kau masih marah atas sikap Yafet?" tanya Meral kepada suaminya. Wanita itu menggenggam erat telapak tangan Emir.


"Aku hanya tidak ingin anak-anakku terlibat terlalu jauh, jika benar Pengacara Alfred membohongiku, maka aku sendiri yang akan membereskannya," ujar Emir yang merangkul pundak Meral.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih kalian sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel ku ini. Jika kalian menyukainya jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian ya....

__ADS_1


Terimakasih 😘😘


__ADS_2