
Bandara International Ataturk, Turki
Tiga hari setelah kepergian Lee dan Carina ke Australia. Seorang laki-laki berkemeja putih berjalan seorang diri di tengah keramaian bandara. Tekstur wajahnya yang tegas tersembunyi di balik kacamata hitamnya. Ketika kebanyakan orang sedang menanti kedatangan anggota keluarganya, hal ini tidak berlaku untuk laki-laki tersebut. Ia tidak menghubungi anggota keluarganya untuk menjemputnya di bandara.
"Rumah keluarga Aksal." Laki-laki itu memberi perintah kepada sopir taksi yang ada di depannya. Selama satu jam, ia melihat keramaian lalu lintas di Turki, di negara asalnya. Sesekali ia menyandarkan kepalanya di kursi penumpang, karena ia harus menempuh delapan jam perjalanan jauhnya untuk sampai ke tempat ini. Sungguh hari yang sangat melelahkan.
Ia memejamkan kelopak matanya, tapi ia tidak tertidur. Pikirannya masih mengingat kejadian delapan jam yang lalu di Bandara New York, ketika dirinya harus berpisah dengan Hazal dan teman-temannya. Bukan hanya dirinya yang pergi meninggalkan New York, tetapi David dan Jason juga pergi. David tetap pada tujuannya kembali ke Italia mengurus perusahaan ayahnya, sedangkan Jason lebih memilih pulang ke Inggris karena neneknya hendak mengenalkannya pada seorang gadis kenalan keluarganya.
Masih teringat jelas dalam pikirannya, Hazal yang menangis karena kepergiannya. Tubuhnya memang telah berpindah tempat di Turki, tetapi hatinya masih tetap berada di New York menunggu kepulangan Hazal untuk beberapa tahun ke depan. Ia memberikan sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk hati dengan ukiran nama nya dan nama Hazal. Sebuah ciuman perpisahan sedikit banyak menenangkan hati keduanya, sebuah hubungan jarak jauh yang akan mereka jalani. Butuh sebuah komitmen yang kuat untuk menjalani ini semua.
Sopir taksi menghentikan taksinya tepat di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal.
"Kita sudah sampai, Tuan." Perkataan sopir taksi itu membuyarkan lamunannya tentang Hazal.
Yafet membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang dollar Amerika kepada sopir taksi tersebut. "Ambil saja kembaliannya," seru Yafet kepada sopir itu. Dua orang penjaga rumahnya menyambut kedatangannya dan membuka pintu gerbang untuk Tuan mudanya.
Ketika tangannya hendak menekan bel rumahnya, tiba-tiba seorang pelayan membuka pintu besar yang ada di hadapannya. "Tuan muda Yafet?" tanya dan sapa pelayan itu sekaligus, yang tampak heran dengan kedatangan dirinya. Pelayan itu hendak lari dan berteriak untuk memanggil nyonya majikannya tapi di cegah oleh Yafet yang ingin memberi kejutan untuk ibunya.
"Dimana ibuku?"
"Nyonya ada di kamarnya."
"Bawa koperku ke kamar, aku akan menemui ibuku."
"Baik tuan muda."
Yafet melangkah ke kamar ibunya, mengetuk dengan perlahan sebuah pintu kayu yang ada di hadapannya. Terdengar suara parau ibunya yang menyuruhnya untuk masuk. Ia membuka pintu dan terlihat ibunya sedang duduk di tempat tidur sambil membaca sebuah buku.
"Ibu," ucap Yafet menyapa ibunya.
Pandangan Meral beralih ke arah Yafet, di betulkannya letak kacamatanya yang sudah melorot. Hatinya sangat terkejut dan senang melihat putra kesayangannya berdiri di hadapannya.
"Yafet..."
Putranya itu benar-benar menepati janjinya untuk pulang kembali ke rumahnya. Wanita paruh baya itu segera membuka kedua tangannya lebar-lebar, untuk memeluk putranya itu.
"Ibu..."
"Kau telah kembali, sayang? Kenapa kau tidak memberitahu Ayah dan Ibu jika kau akan pulang hari ini? Kami bisa menjemputmu dan menyiapkan semuanya." Kedua tangan Meral menyentuh wajah tampan Yafet. Memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja.
"Ibu sangat merindukanmu, nak." Air mata Meral terjatuh membasahi kedua pipinya.
"Aku juga sangat merindukanmu, Ibu. Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" Yafet mengusap cairan bening itu di wajah ibunya.
__ADS_1
"Kami di sini seperti pasangan yang baru saja menikah," ucap Meral sambil tersenyum. Membuat Yafet tertawa membayangkan bagaimana ayah dan ibunya berbulan madu terus setiap malam.
"Apa Ayah dan Ibu akan memberikanku seorang adik?" goda Yafet kepada ibunya.
"Kau kan sudah punya seorang adik yang sangat cantik, yaitu Hazal." Candaan ibunya di balas Yafet dengan mendengus kesal.
"Bagaimana kabar Hazal?"
"Dia baik-baik saja, dia sedang menempuh dua pendidikannya sekaligus. Aku tidak ingin membebani dirinya dengan urusan ku di Turki.
"Sebentar lagi ayahmu pulang, istirahatlah ke kamarmu. Ibu akan memberitahu ayahmu bahwa kau sudah pulang."
"Jangan beritahu ayah. Aku ingin memberikannya kejutan."
"Baiklah."
Yafet pergi meninggalkan ibunya seorang diri di kamar. Kemudian ia menapaki semua anak tangga yang akan membawanya ke lantai atas. Bukannya langsung menuju ke kamarnya, ia malah berjalan lurus menuju ke kamar Hazal. Dibukanya pintu depan yang menghubungkannya dengan balkon yang ada di depan kamar Hazal. Ia bisa melihat pemandangan yang ada di luar rumahnya melalui balkon yang ada di kamar Hazal. Terlintas dalam memorinya bagaimana mereka berdua berciuman di atas balkon ini, dan bagaimana dulu Hazal menolak dirinya. Ia pun tersenyum dan tertawa mengingat setiap kejadian itu. Setelah puas menikmati angin yang membelai wajahnya, iapun kembali ke dalam dan membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar itu.
Dilihatnya foto Hazal yang ada di atas meja belajarnya, foto kekasihnya waktu berumur tujuh belas tahun. Meskipun di ponselnya begitu banyak foto Hazal, tetapi ia masih mengambil foto gadis itu yang ada di kamarnya. Yafet menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang di dominasi warna merah, tubuhnya benar-benar terasa letih. Hembusan angin dari luar membuat kedua kelopak matanya terasa berat, sampai akhirnya ia terlelap di atas ranjang Hazal.
Tanpa terasa Yafet tertidur di kamar Hazal cukup lama, langit sudah menjadi gelap begitu ia terbangun. Dilihatnya jam dinding yang ada di kamar Hazal, tepat pukul tujuh malam. Yafet segera menuju ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Emir Aksal yang sedang duduk di meja makan, tampak terkejut melihat Yafet yang sudah berdiri di hadapannya.
"Surprise..." teriak Yafet yang segera menghampiri ayahnya yang sudah terlihat makin tua, dan memeluk ayahnya. Emir menepuk punggung putranya itu, dan tersenyum bahagia.
"Aku ingin memberi kejutan untuk kalian."
"Kau akan menetap selamanya di sini kan?"
"Tentu saja Ayah, memangnya aku akan kemana lagi?" Emir dan Meral tertawa mendengar perkataan Yafet.
"Ayah...Ibu..., aku ingin bicara dengan kalian setelah selesai makan malam." Suami istri Aksal itu melihat wajah Yafet yang serius, mungkin memang ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan oleh putra mereka.
Waktu makan malam telah selesai, Yafet dan kedua orangtuanya sudah berada di ruang kerja Emir.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Emir yang duduk di kursi kerjanya. Sedangkan istri dan anaknya duduk di kursi tamu yang ada di depannya.
Yafet memberikan sebuah amplop coklat kepada ayahnya, "Apa ini?" tanya Emir.
"Bukalah Ayah, nanti Ayah akan segera mengetahuinya."
Emir membuka amplop coklat tersebut, beberapa lembar kertas ada di dalamnya. Di keluarkan nya semua, dan di letakkannya di atas meja kerjanya yang berwarna hitam. Sebuah foto seorang laki-laki yang bernama Ted Baxter dan seluruh informasi mengenai laki-laki tersebut. Meral juga melihat berkas-berkas itu.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Emir sambil memicingkan kedua matanya.
"Dia adalah pembunuh Paman Erkan dan Bibi Ayla."
"Apa?" seru Emir dan Meral bersamaan.
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa orang ini yang telah membunuh orang tua kandung Hazal?" tanya Emir menekankan suaranya.
Yafet menceritakan semua perjalanannya dengan teman-temannya sampai akhirnya ia menemukan satu jawaban atas pertanyaan yang selama ini di cari oleh keluarganya.
"Apa Hazal sudah mengetahuinya?" tanya Meral.
"Dia sudah tahu, itulah sebabnya aku tidak mengajaknya pulang, karena sangat berbahaya bagi dirinya jika pembunuh itu sampai mengenalinya atau menemukannya. Orang yang kita cari itu kemungkinan ada di Istanbul."
Emir dan Meral benar-benar sangat terkejut. Pembunuh itu berada dekat dengan keluarganya. Pembunuh yang ia cari selama belasan tahun lamanya. Tetapi ada yang mengganjal di pria paruh baya itu, ada sesuatu yang berbeda. Entah kenapa memorinya yang sudah mulai melemah atau memang kedua foto itu berbeda.
Ayah Yafet itu berdiri dan membuka lemari besi yang ada di samping lemari buku yang ada di belakangnya, semua dokumen rahasia tersimpan di lemari besi itu. Ia mengambil sebuah map kertas yang berwarna biru muda, dan meletakkannya di atas meja kerjanya.
Yafet membuka map kertas yang ada di depannya, tampak sebuah foto seorang laki-laki beserta dengan informasinya.
"Foto siapa ini, Ayah? Orang ini juga gundul."
"Itu adalah foto tersangka pembunuh orang tua Hazal. Pengacara Alfred yang memberikannya kepada Ayah beberapa tahun yang lalu, sebelum Hazal pergi ke New York."
"Ya... aku ingat Ayah. Kita pernah ke kantor polisi bersama Pengacara Alfred dan Hazal. Hazal tidak bisa mengenali wajah pembunuh itu, karena sakit kepalanya kambuh waktu itu."
Emir mengingat kejadian waktu itu, karena sibuk mengurus kesehatan Hazal, akhirnya sampai saat ini, ia tidak menanyakan kelanjutan kasus ini kepada Pengacara Alfred. Apakah tersangka itu di penjara atau di bebaskan. Emir mengusap rambutnya yang berwarna putih kecoklatan.
"Sepertinya ada yang sedang mengecoh kita, Ayah !!"
"Maksudmu Pengacara Alfred? Ayah rasa tidak, dia sudah bekerja sangat lama di perusahaan Ayah."
Yafet bermaksud mengingatkan ayahnya untuk berhati-hati dengan pengacara kepercayaannya itu, tetapi ayahnya itu malah menantang dirinya untuk memberikan bukti bahwa memang benar Ted Baxter yang telah membunuh orang tua Hazal. Jika ia tidak bisa memberikan bukti itu, ayahnya lebih percaya kepada hasil penyelidikan pengacara tersebut.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novelku ini 😊 Jangan lupa setelah baca kasih....
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
__ADS_1
🤗 Vote kalian ya...
Terimakasih 🙏🙏🤗