DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Selamat Datang Jaksa Muda Hazal


__ADS_3

Keesokan harinya di Gedung Kejaksaan kota Istanbul, di sebuah ruangan besar milik Jaksa Kepala Onur. Pria setengah botak itu sedang berdiri menghadap jendela tinggi yang ada di depannya. Ada beberapa orang yang tengah berkumpul di ruangannya.


"Jaksa Kepala, apa keputusan Anda? Siapa yang akan menangani kasus tersangka Harun Fallay?" tanya Jaksa Mustafa, salah satu rekan kerja Hazal. Ia sangat tertarik menangani kasus yang melibatkan pengusaha terkenal itu.


Jaksa Kepala tetap berdiri tak bergeming menatap jendela.


"Kita tidak bisa menunggu lama. Apa yang menjadi pertimbangan Anda, Jaksa Kepala?" tanya Jaksa wanita yang umurnya lebih tua dari Hazal. Ia juga menginginkan kasus Harun agar ia bisa mendapatkan promosi jabatannya.


"Keputusan di tangan Anda, Jaksa Kepala. Jika hari ini Anda tidak membuat keputusan, aku tidak dapat menahan lebih lama lagi. Persidangan tidak akan terjadi," ucap Kapten Ismail.


"Apa maksud dengan perkataanmu, Kapten Ismail? Apa kau akan membebaskan tersangka Harun, hanya karena aku belum menunjuk jaksa ku?" Sorot mata Jaksa Kepala menatap tajam manik mata Kapten Polisi itu.


Kapten Ismail menundukkan kepalanya, "Maksudku bukan seperti itu."


Semuanya terdiam. Jaksa Kepala kembali membalikan badannya menghadap ke arah jendela. Ia masih menunggu keputusan Hazal.


Jangan kecewakan aku, Jaksa Hazal. Aku yakin kau akan datang.


Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar, seorang pria utusan dari pengadilan datang hendak menemui Jaksa Kepala.


"Jaksa Kepala, ada berkas yang harus Anda tandatangani." Utusan itu memberikan sebuah kertas dengan kepala surat Pengadilan Negeri Kota Istanbul.


Jaksa Kepala membaca surat itu, kini pihak pengadilan juga mulai mendesaknya. Ia mengusap kepala polosnya kemudian menatap beberapa bawahannya yang ada di ruangan itu satu persatu. Mereka semua memang jaksa yang punya jam terbang tinggi, bahkan lebih berpengalaman daripada Hazal. Tapi mereka punya keinginan pribadi dalam menangani kasus ini, dan itu bisa menjadi kelemahan mereka.


"Silahkan tanda tangan di sebelah sini, Jaksa Kepala," ucap utusan pengadilan itu.


Tangan Jaksa Onur gemetar ketika hendak menorehkan tintanya, tetapi sebuah ketukan pintu membuat tangannya berhenti. Dengan perlahan pintu besar itu di buka dari luar.


"Jaksa Hazal!" semua orang terkejut melihat kehadiran Jaksa Muda itu, karena sudah hampir satu tahun Hazal meninggalkan tempat itu.


"Apa aku mengganggu?" tanya Hazal setelah ia menutup pintu dan berbalik menghadap semua orang.


"Tidak. Kami turut berdukacita atas meninggalnya suamimu, Jaksa Hazal," ucap beberapa rekan kerjanya dan Kapten Ismail sambil mengulurkan tangannya kepada Hazal.


"Terimakasih. Maaf aku tidak memperhatikan kalian sewaktu di pemakaman," kata Hazal yang berdiri di antara Jaksa Mustafa dan Kapten Ismail.


"Bagaimana keputusan mu, Jaksa Hazal?" tanya Jaksa Kepala yang berjalan mendekati wanita itu, membuyarkan kumpulan beberapa orang yang ada di depan Hazal. Beberapa jaksa itu saling pandang tidak mengerti maksud dari perkataan atasan mereka.


Hazal langsung memberikan tanda pengenal jaksanya kepada atasannya itu.


"Aku telah kembali! Berikan dia kepadaku!" seru Hazal tanpa keraguan. Kedua manik matanya tampak bersinar, berbeda ketika mereka bertemu di taman kemarin.


"Kau telah membuat keputusan terbaik," ucap Jaksa Kepala kepada Hazal. Seperti biasa tanpa sebuah senyuman ataupun ekspresi wajah lainnya.

__ADS_1


"Aku sudah membuat keputusanku. Aku memberikan kasus Harun Fallay kepada Jaksa Hazal!" seru Jaksa Kepala sambil menorehkan tanda tangannya ke atas kertas dari pengadilan. Demikian juga Hazal yang menuliskan namanya dan menandatangani surat tersebut.


"Selamat datang kembali di hutan rimbamu," ucap Jaksa Kepala kepada Hazal yang disambut sebuah senyuman dari bibir merah itu.


Beberapa jaksa itu akhirnya keluar dari ruangan Jaksa Kepala dengan penuh tanda tanya. "Kenapa harus Jaksa Hazal, yang baru saja masuk dari cutinya?" gumam Jaksa Mustafa.


"Kudengar ia mengambil cuti panjang, karena ia sedang menyelidiki tersangka." Suara jaksa lain terdengar di lorong gedung itu.


"Berarti aku tidak jadi di promosikan!" gerutu jaksa wanita yang tadi berada di ruangan jaksa kepala.


Hanya tinggal Jaksa Onur, Hazal dan Kapten Ismail di ruangan itu.


"Kapten Ismail, bisa kau berikan berkas Harun Fallay kepada ku?" Kapten Polisi itu segera memberikan sebuah map kepada Hazal dan beberapa barang bukti.


"Oh iya, aku baru menerima hasil autopsi Kenan Fallay. Peluru yang di gunakan Harun untuk menembak Kenan itu sama dengan peluru yang ada di kepala Pengacara Alfred."


Kapten Ismail memberikan dua buah foto hasil forensik kedua korban tersebut. Hazal mengamati kedua foto dan keterangannya. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat.


Ini bukan hanya untuk orang tuaku dan Kenan, tapi ini untuk semua keluarga korban kejahatan Harun.


"Kapan persidangannya?" tanya Hazal yang menatap Jaksa Kepala dan Kapten Ismail bergantian.


"Besok lusa," jawab kedua pejabat hukum itu bersamaan.


"Tentu saja tidak. Aku tahu kau akan kembali. Semoga kau berhasil memenangkan kasus terbesarmu ini," harap Jaksa Kepala yang menepuk pundak Hazal.


"Bukan semoga, tapi aku akan pertaruhkan hidupku untuk memenangkan kasus ini!" tegas Hazal sambil menatap manik mata atasannya. Aura wajahnya terlihat dingin.


Hazal keluar meninggalkan ruangan atasannya dan berjalan masuk ke ruang kerjanya yang sudah lama tidak tersentuh olehnya. Ruangan dan dalamnya masih terlihat sama seperti ketika ia pergi.


Jaksa muda itu mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya. Ia menyandarkan kepalanya di sandarkan kursi. Sesaat ia masih merindukan ruang kerjanya di perusahaan Fallay. Ia memijat pangkal hidungnya dan memejamkan kelopak matanya.


Ia mulai membuka setiap berkas milik Harun dan mencocokkan nya dengan barang bukti yang dia miliki. Ia memulai segala persiapannya untuk bertarung melawan Harun di meja hijau.


🔥❤️🔥❤️


Di Penjara Kantor Polisi Pusat


Harun dan pengacara nya sedang duduk berhadapan di ruang besuk. Sang pengacara sedang menerima panggilan telepon dari seseorang. Sementara Harun mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke atas meja.


"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan perusahaan Fallay?" tanya Harun setelah pengacaranya kembali ke tempat duduknya.


"Almarhum Tuan Kenan sudah mewariskan semua sahamnya kepada istrinya, Hazal Aksal. Bukan hanya saham tapi seluruh aset milik keluarga Fallay dan kekayaannya," jawab sang pengacara yang membuat wajah Harun merah padam.

__ADS_1


"Kenan...!" teriak Harun sambil memukul meja yang ada di depannya. Rubah tua itu lupa bahwa dia berada di mana, bukan di ruang kerjanya. Seorang petugas polisi mendatanginya karena dianggap mengganggu.


"Tenangkan diri Anda, Tuan Harun." Pengacara itu mencoba memegang tangan Harun.


"Kau benar-benar bodoh, Kenan! Kau menghancurkan seluruh usahaku!" pekik Harun sambil memegangi kepalanya.


"Usahamu? Ya... aku tahu sekarang, usahamu yang licik untuk merebut perusahaan Erkan. Kini perusahaan itu sudah kembali ke penerus keluarga Danner. Apa kau lupa Harun, bahwa perusahaan yang kau miliki saat ini sebelumnya adalah milik Erkan Danner?" tiba-tiba Emir sudah berdiri di belakang Harun. Ia memang ingin melihat kondisi pembunuh sahabatnya.


"Emir Aksal...! Kau jangan ikut campur!" geram Harun begitu Emir membuka kebusukannya selama bertahun-tahun.


"Tentu aku harus ikut campur, Harun! Sudah dua puluh tahun ini aku mencari pembunuh Erkan dan Ayla, ternyata kau dalang di balik semua ini! Beruntung aku membesarkan Hazal, dengan begitu ia akan menghancurkan mu! Sama seperti kau menghancurkan ayah dan ibunya!" seru Emir dengan penekanan tepat di depan Harun, kedua pria paruh baya itu saling menatap tajam.


"Ayahnya sudah merebut Ayla ku! Aku tidak salah jika merebut seluruh perusahaan nya! Sekarang anakku yang bodoh itu malah mengembalikannya!" pekik Harun yang hendak menghajar Emir, tapi tangannya di tahan oleh pengacaranya.


"Ckckck...." Emir menggelengkan kepalanya di hadapan Harun.


"Seharusnya kau menyesal Harun. Terimalah kekalahan mu," ucap Emir kemudian berjalan meninggalkan Harun dan pengacara nya di ruang besuk.


"Tenangkan dirimu, Tuan Harun. Jika Anda membuat keributan, bisa dipastikan petugas akan memasukkan Anda ke ruang isolasi," saran sang pengacara yang menarik tubuh Harun agar duduk kembali ke kursinya.


Sebuah pesan masuk muncul di ponsel sang pengacara. Kedua matanya terbelalak begitu membaca pesan dan foto yang dikirim oleh sekretaris nya.


"Ada apa?" tanya Harun yang melihat reaksi pengacaranya itu. Sepertinya berita buruk akan terjadi.


"Tanggal persidangan sudah keluar. Besok lusa sidang pertama Anda," jawab sang pengacara sambil menatap wajah Harun dengan keraguan, seakan masih ada sesuatu yang ingin dia katakan.


"Katakan siapa jaksa penuntutnya?" tanya Harun.


"Jaksa Muda Hazal Aksal, menantu Anda," jawab sang pengacara.


"Jangan pernah sebut wanita sialan itu menantuku!" hardik Harun sambil mencengkram kerah kemeja pengacaranya. "Gara-gara wanita itu, Kenan meninggal!"


Sementara itu di sel nya, Harun mengepalkan kedua telapak tangannya memegang terali besi yang ada di depannya, ia mengatupkan kedua rahangnya. Dalam pikirannya terlintas pesan pengacara Alfred sebelum meninggal.


Salah satu anak Aksal pasti akan menghancurkan mu!


"Perkataan mu tidak akan pernah terjadi, Alfred!" geram Harun dengan matanya yang memerah menahan amarahnya.


Aku masih memiliki saham sepuluh persen di perusahaan itu. Aku pastikan kau tidak akan pernah menikmati hasil pemberian Kenan! Kau harus memuntahkan semua milikku, putri Danner!


Amarah Harun terlihat mendidih hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ia menuju ke tempat telepon umum yang tidak jauh dari tempat selnya, dan berencana menghubungi orang kepercayaannya. Sesuatu akan terjadi....


🔥 Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2