
Satu minggu setelah kematian Kenan, keadaan Hazal mulai sedikit membaik. Ia sudah mulai keluar kamar, meskipun ia masih membatasi interaksinya dengan orang lain termasuk keluarganya. Hampir setiap hari, ia hanya sibuk menatap langit dan memainkan pena pemberian Kenan.
Menjelang siang hari, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman keluarga Aksal. Mehmet dan seorang pria berambut coklat berumur sekitar empat puluh tahunan turun dari mobil. Setelah melewati penjaga pintu gerbang, kedua orang itu berhasil memasuki rumah besar tersebut.
"Halo...," sapa Meral kepada Mehmet dan temannya setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"Anda?" Meral memicingkan kedua matanya menatap kedua tamunya.
Mehmet memperkenalkan dirinya dan orang yang bersamanya ternyata seorang notaris.
"Ya... ya... aku pernah melihatmu di rumah sakit dan di pemakaman Kenan," ucap Meral setelah Mehmet menjelaskan siapa dirinya.
Meral mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu. Emir yang tadi di ruang keluarga, segera keluar dan bergabung dengan mereka.
"Tuan dan Nyonya Aksal, maksud kedatangan kami ke sini karena kami ingin bertemu dengan Hazal. Apa dia sudah bisa menerima tamu? Karena aku mendengar kondisinya sedang tidak baik," kata Mehmet yang duduk di sofa panjang bersama dengan temannya. Sementara Emir duduk di sofa tunggal di samping teman Mehmet.
"Keadaan Hazal sudah lebih baik, mungkin kematian Kenan sedikit membebani pikirannya. Sebentar... aku akan memanggilnya," ucap Meral yang meninggalkan kedua tamunya bersama Emir dan naik ke lantai atas.
Meral mengetuk pintu kamar Hazal dengan perlahan, tidak ada suara. Wanita paruh baya itu mencoba untuk masuk ke dalam. Ia melihat Hazal sedang berdiri di atas balkon kamar membelakanginya.
"Hazal...," sapa Meral dengan lembut. Ia menyentuh punggung putrinya agar Hazal menyadari kehadirannya.
Hazal menoleh ke arah Meral. "Ibu."
"Di bawah ada dua orang yang ingin bertemu denganmu," kata Meral dengan sikap bicara yang penuh kehati-hatian.
"Siapa?" Hazal memicingkan kedua matanya."Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun." Hazal memalingkan wajahnya dari Meral dan kembali menatap langit.
"Dia Mehmet... teman Kenan dan seorang notaris," jawab Meral. "Temui mereka, mungkin ada suatu hal yang penting."
"Mehmet dan... notaris?" Hazal tampak terkejut mendengar perkataan ibu angkatnya.
Meral menganggukkan kepalanya. "Jangan buat mereka menunggu."
"Baiklah," ucap Hazal yang berjalan membuntuti Meral.
Hazal dan Meral berjalan memasuki ruang tamu. Mehmet masih melihat guratan kesedihan di balik wajah sembab Hazal, ia juga melihat istri almarhum sahabatnya itu masih mengenakan pakaian serba hitam.
"Mehmet," sapa Hazal sambil duduk di sofa panjang bersama Meral menghadap Mehmet dan notaris yang dibawa oleh pria itu.
"Hazal, ini notaris Murat. Dia adalah notaris kenalan Kenan," kata Mehmet sambil memperkenalkan seorang pria yang duduk di sampingnya.
Hazal hanya menganggukkan kepalanya kepada Mehmet dan notaris tersebut.
"Ada keperluan apa kalian datang mencariku?" tanya Hazal yang duduk kembali.
"Nyonya Hazal, kedatangan saya kemari karena saya mewakili almarhum Tuan Kenan Fallay. Klien sekaligus almarhum suami Nyonya hendak membacakan surat wasiat yang telah dibuat oleh almarhum semasa dia hidup," jelas notaris Murat.
"Su... surat wasiat Kenan?" Hazal mengernyitkan dahinya.
Sejak kapan Kenan membuat surat wasiat? Dia bahkan tidak pernah membicarakan hal itu kepadaku?
"Itu benar Nyonya Hazal. Satu minggu sebelum kalian menikah, almarhum Tuan Kenan menulis surat wasiat dengan tulisan tangannya sendiri," ucap pengacara Murat sambil mengambil berkas yang ada di dalam tasnya.
Satu minggu sebelum pernikahan? Itu adalah hari kepulangan kami ke Turki.
__ADS_1
Hazal menatap tajam wajah Mehmet seakan ia ingin meminta penjelasan dari sahabat suaminya, sementara pria berkulit gelap itu hanya menundukkan kepalanya. Pria itu menyadari arti tatapan Hazal.
Kenan, sekarang aku yang harus menanggung amarah istrimu. Oh Tuhan, bebaskan aku dari situasi yang sulit ini.
"Baiklah, bisa kita mulai pembacaan surat wasiatnya?" tanya pengacara Murat kepada semua orang yang hadir di ruangan itu.
"Silahkan," jawab Emir.
Pengacara Murat bangkit berdiri dan mulai membacakan surat wasiat yang telah di buat oleh kliennya.
"Pada hari Senin tanggal 6 April 2020. Saya Kenan Fallay bersama ini menerangkan hal-hal sebagai berikut," ucap pengacara Murat.
"Satu. Bahwa saya adalah pemilik yang sah atas perusahaan Fallay dan lima puluh persen saham perusahaan Fallay. Pemilik sebuah apartemen Hak Milik dengan Surat Hak Milik nomor 1234/5678 atas nama Kenan Fallay yang beralamat di Jalan XXX kota Istanbul, Turki. Pemilik sebuah kendaraan roda empat merek BMW X1 nomor 55678 atas nama Kenan Fallay. Pemilik sebuah rekening tabungan pribadi dan lima buah deposito atas nama Kenan Fallay.
"Dua. Bahwa harta kekayaan saya tersebut sebagaimana yang dimaksud dengan angka satu di atas, pada saat ini sedang tidak terlibat dalam sengketa hukum apapun, tidak sedang dijadikan jaminan jenis hutang apapun, dan tidak sedang dalam penyitaan pihak Bank dan investasi apapun."
"Tiga. Bahwa saya bermaksud menghibah wasiatkan seluruh kekayaan saya tersebut sebagaimana yang dimaksud dengan angka satu di atas kepada Hazal Aksal atau dengan nama kecil Hazal Danner istri saya yang sah."
"Berdasarkan surat wasiat ini, kepada Hazal Aksal saya berikan semua hak dan kekuasaan yang menurut undang-undang kepada pelaksana wasiat, terutama hal untuk memegang dan mengurus harta peninggalan saya, sampai kepadanya di berikan pengesahan dan pembebasan sama sekali."
"Untuk melaksanakan surat ini, saya menitipkan surat wasiat ini kepada Notaris Murat Yahzaran SH, Notaris di kota Istanbul yang saya kenal, dan kepadanya saya meminta dibuatkan akta penitipan surat wasiat ini." Begitu bunyi surat wasiat yang telah Kenan buat.
Notaris Murat menyerahkan surat wasiat dan tulisan tangan Kenan dan surat-surat kepemilikan harta kekayaan tersebut kepada Hazal.
Hazal menerima berkas-berkas tersebut, dan melihat tanda tangannya sudah ada di sana. Ada suatu tanda tanya besar di wajahnya saat ini. Ia menjatuhkan berkas itu ke atas meja dan menghampiri Mehmet.
"Katakan kepadaku, kapan aku menandatangani semua ini?" suara Hazal membuat Mehmet tampak kikuk. Istri sahabatnya itu sudah berdiri di depannya dengan kedua tangannya yang mengepal.
Ya Tuhan, jauhkan aku dari kesulitan yang telah Kenan buat.
Hazal teringat dengan kedatangan Elif. Ia baru menyadari bahwa waktu itu ia tidak membaca surat-surat yang di bawa oleh Elif. Teman kantornya itu menutupi tulisannya dengan telapak tangannya dan hanya menunjukkan dimana dirinya harus tanda tangan.
Hazal terdiam dengan raut wajah penuh kemarahan, ia merasa semua orang telah membohonginya. Kenan, Mehmet dan Elif.
"Sungguh Hazal, ini sebenarnya ide Kenan setelah kalian pulang ke Turki. Awalnya aku tidak setuju, karena waktu itu dia masih hidup dan kalian belum menikah. Tapi kenyataannya ternyata berbeda," ucap Mehmet yang berusaha menjelaskan sebisa mungkin.
"Katakan apa saja yang kalian rencanakan? Kenapa aku selalu menjadi orang terakhir yang mengetahui hal ini?" Hazal mencengkeram jaket kulit Mehmet.
"Hazal, bisa... bisa aku jelaskan," ucap Mehmet dengan gugup.
"Kenapa Kenan tidak pernah memberitahuku? Kenapa dia selalu merencanakan semuanya sendiri?" tanya Hazal sambil mengguncang tubuh Mehmet. Air matanya kembali mengalir.
"Katakan...! Apa dia memang berencana meninggalkanku dengan cara seperti ini? Katakan Mehmet...!" isak Hazal yang masih mengguncang tubuh pria berkulit gelap itu.
"Setidaknya jika ia membicarakan ini dulu denganku, dia tidak akan pergi sekarang...," raung Hazal dengan tangisannya. Ia melepaskan perlahan-lahan tangannya dari jaket Mehmet.
Mehmet hanya terdiam mendengar perkataan Hazal. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kenan hanya meninggalkan ini. Dia ingin aku menyerahkan benda ini kepadamu setelah dia meninggal. Kata Kenan kau suka menyimpan kenanganmu dalam sebuah CD," ucap Mehmet sambil menyerahkan sebuah kepingan CD dengan pembungkus kotak plastiknya. Cover CD itu bertuliskan For my lovely wife Hazal.
"Cukup!" teriak Hazal yang menepis CD pemberian Mehmet. Kotak CD itu pun jatuh ke lantai.
Dengan berurai air mata, Hazal berlari ke arah garasi dan mengeluarkan mobilnya.
"Hazal...!" seru Mehmet yang berusaha mengejar istri Kenan. Terlambat, mobil Hazal sudah meninggalkan rumah keluarga Aksal.
__ADS_1
"Jangan kau kejar," ucap Emir yang berjalan di belakang Mehmet. "Biarkan dia tenang."
"Maafkan aku, Tuan Emir. Aku tidak bermaksud menambah kesedihan Hazal." Mehmet merasa bersalah karena kedatangannya mungkin terlalu awal.
"Tak apa. Hazal hanya perlu waktu untuk mengatasi semua ini," ucap Emir sambil mengajak masuk Mehmet dan menepuk pundak pria itu.
Mehmet dan notaris Murat menyerahkan semua surat-surat penting itu kepada Emir dan Meral.
"Kami permisi dulu, Tuan Emir," pamit Mehmet dan notaris tersebut.
🔥❤️🔥
Hazal melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, air matanya terus mengalir deras. Ia menghentikan mobilnya di taman pohon pinus.
Wanita itu ingin menenangkan dirinya, hari ini untuk pertama kalinya ia keluar rumah setelah peristiwa menyedihkan itu.
Hazal melangkahkan kedua kakinya dengan langkah yang berat, ia mencari tempat duduk yang ada di sekitar taman yang terkenal dengan danau buatannya. Akhirnya ia menemukan tempat duduk di depan danau.
Ia menyandarkan dirinya di sebuah kursi panjang. Dilihatnya sekelilingnya danau itu membentang luas, ia merasa seperti terlempar ke masa lalunya ketika ia bertemu dengan Kenan untuk kedua kalinya dan berakhir dengan sama-sama basah kuyup dan pertengkaran.
Bukan harta kekayaanmu yang aku mau saat ini, Kenan. Bukan juga kehidupan pernikahan seperti ini yang aku inginkan. Bukankah kau berjanji akan mengakhiri semua ini bersama? Kau telah berhasil, Kenan. Kau berhasil menyerahkan ayahmu, tapi kenapa kau pergi? Kenapa kau tak kembali? Kau selalu mengatakan kita dan kita. Kau dan aku. Tapi kenapa kau ingkar? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak membawaku ikut bersamamu? Kau sama seperti ayah dan ibuku yang meninggalkanku sendirian.
Hazal menghembuskan napasnya dalam-dalam. Manik matanya dan wajah nya kembali memerah. Ia mengusap cairan bening itu dengan kedua tangannya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang yang berdiri di samping kursi Hazal.
Hazal menoleh ke arah pria itu. "Silahkan."
Pria itu duduk di kursi sisi kanan dan Hazal duduk di kursi sis kiri. Ada sebuah jarak yang memisahkan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jaksa Kepala Onur. "Aku tidak sengaja melihat mobilmu ada di depan, jadi kupikir kau pasti sudah mulai membuka dirimu."
"Aku baik-baik saja, Jaksa Kepala," ucap Hazal yang mencoba untuk tersenyum. Sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya suamimu," tutur Jaksa Kepala yang menoleh kepada Hazal.
"Terimakasih," balas Hazal.
"Sebenarnya aku mencoba untuk menghubungi mu atau berkunjung ke rumahmu. Tapi waktu itu aku pikir kau mungkin masih bersedih," kata Jaksa Kepala sambil menundukkan kepalanya menatap batu-batu kecil yang ada di bawah sepatunya.
"Katakan saja apa yang ingin Tuan bicarakan. Aku tahu Anda tidak suka berbasa-basi," sela Hazal yang menatap lurus ke arah danau. Nada suaranya dingin.
"Kau benar-benar mengenalku. Baiklah. Harun Fallay sudah ditahan hampir seminggu. Pihak kepolisian sudah melimpahkan berkasnya ke kejaksaan. Tapi aku masih menunggu kesiapan mu." Jaksa Kepala menoleh dan bertemu dengan manik mata Hazal.
"Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika kau masih belum siap untuk menangani kasus ini, aku akan menunjuk jaksa lain," sambung Jaksa Kepala Onur.
Hazal memalingkan wajahnya dari petinggi Jaksa itu. "Beri aku waktu. Kapan batas terakhir penahanan Harun Fallay?"
"Besok," jawab Jaksa Kepala. "Aku tahu ini adalah impianmu, karena itu aku tidak ingin merampasnya darimu. Kabari aku secepatnya. Aku pergi dulu."
Hazal bangkit berdiri dan menganggukkan kepalanya.
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1