
Sinar mentari di musim semi terasa sedikit menyengat kulit. Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh Hazal dan Harun untuk memulai pertarungannya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi, sinar kuning itu menyinari setiap sudut Gedung Pengadilan Negeri yang terletak di pusat kota.
Sebuah mobil tahanan milik kepolisian berhenti di depan gedung pemerintah tersebut. Pintu mobil berwarna hijau tentara itu terbuka. Dua orang petugas polisi berlaras panjang tampak menurunkan seorang tahanan pria paruh baya dengan kedua tangannya terborgol ke depan. Sementara ada empat orang petugas polisi yang mengawal Harun di belakang.
Dengan memakai seragam tahanan berwarna oranye, Harun berjalan menapaki tangga Gedung Pengadilan. Ratusan pasang mata menyaksikan mantan pengusaha sukses itu menjadi seorang pesakitan. Massa banyak berkerumun di depan gedung sambil membentangkan poster besar yang bertuliskan "Tegakkan Keadilan. Hukum Pembunuh Berdarah Dingin itu!"
Beberapa petugas polisi sedang memasang pagar besi untuk menghalau massa masuk ke Gedung Pengadilan. Suara teriakan dan caci maki terus terdengar. Puluhan orang wartawan sudah siap siaga untuk mengabadikan foto Harun agar menjadi pemberitaan utama di medianya. Tapi mereka harus kecewa, karena petugas tidak mengijinkan semua awak media itu untuk masuk ke ruang sidang.
Hazal dengan jubah jaksanya memasuki ruang sidang. Sepasang kruk masih ia gunakan untuk menahan kaki kirinya agar tidak menyentuh lantai. Ia di dampingi oleh dua orang panitera pengadilan dan pengacara Harun. Setelah mereka menempati posisi masing-masing, petugas mempersilahkan pengunjung pengadilan dan wartawan untuk memasuki ruang sidang.
"Majelis memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri." Terdengar suara seorang pejabat protokol yang sedang bertugas menggema di ruang sidang.
Seluruh hadirin bangkit berdiri, dua orang pria dan satu orang wanita memakai jubah kebesarannya dan toga hitamnya memasuki ruang sidang. Mereka adalah Hakim Ketua dan Anggota Hakim. Ketiga orang petinggi pengadilan itu berjalan menempati posisi di masing-masing. Petugas protokol mempersilahkan seluruh hadirin untuk duduk kembali.
"Sidang Pengadilan Negeri Kota Istanbul, yang memeriksa perkara pidana nomor 123456 atas nama Harun Fallay pada hari Kamis tanggal 30 April 2020 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," kata Hakim Ketua yang membuka jalannya sidang kemudian mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
"Terdakwa Harun Fallay di persilahkan masuk!" seru petugas protokol.
Dua orang petugas polisi mengapit kedua lengan Harun dan membawanya masuk ke ruang sidang. Sorot mata Harun tampak terkejut melihat Hazal yang ada di dalam ruang sidang.
Ini tidak mungkin! Wanita sialan itu ternyata masih hidup! Padahal orang ku sudah menghancurkan mobilnya!
Hazal membalas menatap manik mata Harun dengan tajam. Manik matanya terus mengekor langkah Harun hingga petugas polisi memasukkan pria itu ke dalam kursi pesakitan. Lebih mirip seperti sebuah pagar kayu setinggi paha orang dewasa yang mengelilingi Harun. Petugas polisi mengunci pagar kayu tersebut, dan membuka borgol Harun. Puluhan suara sumbang riuh terdengar di dalam ruangan itu.
"Terdakwa Harun Fallay, apakah saat ini terdakwa dalam keadaan sehat dan siap mengikuti persidangan?" tanya Hakim Ketua di depan mikrofonnya.
"Ya saya siap, Yang Mulia," jawab Harun dengan suara paraunya.
"Silahkan Jaksa Penuntut mengajukan tuntutannya," kata Hakim Ketua kemudian memindahkan posisi mikrofonnya ke samping.
Hazal berdiri di tempatnya, ia membacakan dakwaannya. Mulai dari kasus pembunuhan Erkan dsn Ayla Danner yang terjadi dua puluh tahun yang lalu, kasus pembunuhan Pengacara Alfred, kasus pembunuhan anak buah Harun, kasus penembakan Kenan Fallay yang menyebabkan kematian, dan kasus kecelakaan yang dialaminya sendiri dua hari yang lalu.
Hazal berjalan dengan kruknya menghampiri meja Hakim Ketua dan memberikan seluruh alat bukti yang ia miliki kepada majelis hakim.
"Keberatan, Yang Mulia!" seru sang pengacara yang mengangkat tangannya dan berdiri di tempat.
"Keberatan di terima," kata sang hakim.
Pengacara Harun mengajukan pembelaannya, "Tidak ada saksi mata atau barang bukti yang melibatkan klien saya atas kasus pembunuhan sepasang suami istri Erkan Danner dan Ayla Danner."
"Tidak ada saksi mata yang melihat klien saya membunuh pengacara Alfred, semuanya hanya berdasarkan jenis peluru yang sama," ujar sang pengacara yang berjalan ke tengah-tengah ruangan.
"Ketiga, pembunuhan atas Kenan Fallay itu di luar kesengajaan, Yang Mulia. Klien saya tidak bermaksud membunuh putranya sendiri, ia hanya menggertak putranya saat itu," bela sang pengacara yang di sambut oleh senyuman sinis dari Hazal.
"Dan yang keempat, atas dasar apa Jaksa Penuntut menuduh terdakwa yang merencanakan kecelakaan yang menimpa Anda? Bisa jadi Anda sendiri kurang hati-hati dalam mengemudi." Pengacara Harun mencoba memutarbalikkan fakta yang terjadi di lapangan.
Terdengar suara gaduh dari kursi pengunjung sidang. Mereka meneriaki sang pengacara yang dinilai membela kejahatan Harun. Hakim ketua terpaksa mengetukkan kembali palunya ke meja sebanyak tiga kali.
"Semuanya tenang!" seru Hakim Ketua. "Silahkan Jaksa Penuntut menanggapi perkataan dari pembela."
Hazal kembali berjalan dengan sepasang kruknya. Ia mulai mencecar Harun dengan berbagai pertanyaan.
"Pada tanggal 2 Januari tahun 2000, Anda sedang berlibur kemana, terdakwa Harun?" tanya Hazal sambil mendongakkan wajahnya menatap pembunuh orangtuanya.
"Aku tidak ingat. Setiap musim dingin dan musim panas aku selalu menghabiskan waktu ku keluar negeri," jawab Harun dengan santai. Hazal hanya menyeringai mendengar perkataan Harun.
"Tanggal 2 Januari 2000, terdakwa Harun melakukan perjalanan nya ke Swiss. Dia bukan untuk berlibur atau melakukan perjalanan bisnis. Tapi karena dia hendak menemui mantan kekasihnya yang sudah berkeluarga, yaitu Ayla Rosewood." Hati Hazal terasa sesak ketika ia mengatakan bahwa ibunya adalah mantan kekasih Harun.
"Tanggal 3 Januari 2000, sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Terdakwa Harun menemui Ayla dan suaminya yang bernama Erkan serta anak mereka bernama Hazal Danner di sebuah restoran di daerah Swiss. Anda bisa melihat bukti-bukti yang saya berikan, Yang Mulia," jelas Hazal yang berdiri di depan kanan sang Hakim.
__ADS_1
Majelis Hakim memperhatikan foto-foto dan riwayat perjalanan Harun dan keluarga Danner.
"Terdakwa Harun, mungkin kau bisa menceritakan pembicaraan apa yang terjadi di restoran tersebut?" pancing Hazal dengan senyumannya yang mematikan. Ia melihat Harun sedang menghela napasnya.
"Aku tidak ingat," ucap Harun yang terus menjawab dengan jawaban yang sama.
"Baiklah jika terdakwa tidak ingat, aku akan mencoba mengembalikan memori Anda! Di tanggal 3 Januari 2000, hampir mendekati larut malam, kecelakaan dan pembunuhan itu terjadi." Cerita Hazal dimulai.
"Pembunuh bayaran yang bernama Ted Baxter menembak mati Ayla Rosewood atau Ayla Danner dan putrinya. Pembunuh bayaran itu adalah orang bayaran terdakwa! Apa karena cinta Anda ditolak oleh almarhumah Ayla, hinnga Anda berniat menghabisi seluruh keluarganya?" cecar Hazal dengan beruntun.
"Keberatan, Yang Mulia," sang Pengacara menyela argumen Hazal.
"Keberatan di terima."
"Jaksa Penuntut hanya memberikan teorinya macam anak sekolah! Di malam kejadian itu tidak ada saksi mata, barang bukti atau bahkan pengakuan dari terdakwa yang menyatakan bahwa terdakwa telah membunuh keluarga Danner!" teriak sang pengacara.
"Ada saksi mata dan dia adalah satu-satunya saksi mata yang melihat bagaimana pembunuh bayaran yang ia kirim membunuh Ayla Danner dan putrinya!" teriak Hazal sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Harun ketika ia menyebut kata ia.
Wajah Harun tampak panik dan gelisah.
"Bawa kemari saksi mata itu, Jaksa Penuntut!" tantang sang pengacara.
Hazal menghela napas panjangnya, ia mengambil beberapa dokumen yang telah ia siapkan dan memberikannya kepada Hakim.
"Akulah saksi mata itu! Aku adalah putri Erkan dan Ayla Danner yang orang tuanya terbunuh di malam kejadian itu! Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri bahwa pembunuh itu menembakkan dua peluru nya untuk ibuku dan untukku. Tapi takdir berkata lain, aku masih selamat dari percobaan pembunuhan itu!" seru Hazal dengan manik matanya yang memerah.
Hazal membuka identitasnya di hadapan Hakim dan seluruh masyarakat Turki. Majelis Hakim memeriksa hasil tes DNA milik Hazal dan Erkan, foto keluarga Danner saat Hazal masih kecil, dan surat-surat adopsi Hazal. Pengunjung sidang dan para wartawan mulai bergunjing dan menulis berita pengakuan Hazal.
Hazal juga memberikan sketsa gambar Ted Baxter dan bukti yang mematikan yang tidak bisa dibantah oleh Harun.
Majelis Hakim menerima sebuah kepingan CD dari Hazal. Jaksa muda itu telah memindahkan rekaman suara pengakuan Harun yang ada di pena Kenan ke CD kosong. Petugas pengadilan mulai memutar CD player tersebut.
Wajah Pengacara Harun terlihat pucat pasi.
"Kenapa Anda tidak mengatakan kalau Anda telah mengakui perbuatan itu, Tuan Harun?" Manik mata pengacara itu membesar. Ia seperti sedang melihat kekalahannya sendiri.
"Aku tidak tahu, jika putraku yang bodoh itu merekam semuanya!" geram Harun sambil mengepalkan telapak tangannya.
Hazal menatap tajam wajah Harun. Pria paruh baya itu menundukkan kepalanya ketika satu persatu kejahatannya ditelanjangi oleh Hazal.
Tamat riwayat mu Harun! Aku tidak akan membiarkan mu lolos!
Suasana ruang sidang tambah gaduh setelah rekaman pengakuan Harun di buka. Hakim Ketua mengetukkan kembali palunya.
Tak berhenti sampai di situ, Hazal ingin segera menuntaskan kasus ini hanya dalam satu kali persidangan. Kembali Jaksa Muda itu berjalan ke tengah ruangan dengan bantuan kruknya.
Hazal mulai melanjutkan peperangannya. Ia menggiring semua orang untuk membahas pembunuhan terhadap pengacara Alfred, Kenan dan anak buah Harun.
Dengan bantuan Kapten Ismail, Hazal memperoleh rekaman CCTV dimana Harun dan orang kepercayaannya datang ke rumah pengacara Alfred tepat beberapa menit sebelum pengacara itu terbunuh. Jaksa Muda itu juga menampilkan salah satu tetangga Pengacara Alfred yang mendengar letupan senjata sebelum pria itu meninggal.
Hazal juga menghadirkan orang kepercayaan Harun yang berhasil di tangkap oleh Kapten Ismail. Orang itu memberikan kesaksian semua kejahatan Harun.
"Dasar pengkhianat!" teriak Harun ketika orang itu mulai bersaksi di pengadilan.
Hazal juga memberikan video rekaman Mehmet tentang penembakan Harun kepada salah satu anak buahnya yang di beri tugas untuk membunuh dirinya dengan dalih lift yang rusak.
Kemudian Hazal membuka kasus kematian Kenan, banyak saksi melihat kejadian hal itu. Tetapi Harun berharap ia bisa lolos dari tuduhan pembunuhan terhadap putranya itu. Pria itu mulai menyerang setelah beberapa saat lamanya ia terlihat menahan setiap serangan Hazal.
"Aku tidak bermaksud membunuh putraku sendiri. Semua salah wanita sialan ini!" umpat Harun sambil menuding Hazal.
__ADS_1
"Gara-gara dia, putraku mati! Kau seharusnya menghukum wanita kurang ajar ini, Yang Mulia!" teriak Harun dengan lantang.
"Jika bukan karena rayuannya, putraku tidak akan jatuh cinta dan menikahinya. Jika ia tidak mendekati putraku, Kenan tidak akan membelanya dan memusuhi ku! Dasar kau wanita hina! Terkutuk kau!" teriak Harun dengan wajahnya yang merah padam.
"Bahkan wanita sialan ini, telah menipu putraku dengan cinta palsunya! Membuat Kenan menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepada wanita k*parat ini!" pekik Harun dengan keras.
"Apa kau telah menjajakan tubuhmu kepada putraku sehingga Kenan memberikan seluruh perusahaan Fallay kepadamu, hei kau wanita j*lang!" teriak Harun dengan amarahnya.
"Tutup mulutmu, Harun! Putri ku tidak seperti itu!" bela Emir yang duduk di kursi pengunjung. Pria itu hendak mendekati Harun, tetapi petugas menghalangi langkahnya.
"Itu benar kan? Kenan memberikan imbalan seluruh aset perusahaan karena wanita terkutuk ini telah menjual tubuhnya sendiri!" tuduh Harun. Perkataannya benar-benar memalukan.
Rubah tua itu mulai mengintimidasi Hazal dengan perkataannya. Umpatan dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut Harun terasa sangat menyakitkan buat Hazal.
Jaksa Muda itu hanya mengepalkan kedua telapak tangannya dan menahan air matanya agar tidak mengalir keluar. Ia tidak ingin Harun melihat dirinya yang lemah. Hazal hanya ingin menunjukkan bahwa perkataan pria itu tidak akan mempengaruhinya.
"Kenan meninggal itu karena kau!" teriak Harun dengan lantang.
Serangan Harun yang bertubi-tubi itu seperti sebuah pisau yang menghujam hati Hazal. Rubah tua itu menyerang titik lemah Hazal, yaitu rasa bersalah Hazal.
Air mata itu akhirnya keluar. Hazal segera membalikkan badannya dan mengusap sudut matanya yang telah basah.
"Jangan pernah hina putriku, brengsek!" umpat Emir Aksal yang tidak terima dengan hinaan dan cercaan Harun kepada Hazal.
"Kau yang telah membunuhnya! Kau telah menembak putramu sendiri!" teriak Hazal dengan keras. Ia mencoba untuk melepaskan rasa bersalahnya.
Hakim Ketua mengetukkan palunya kembali. "Tenang! Semua hadirin di mohon tenang. Tuan Emir, jika Anda tidak bisa mengendalikan diri Anda, lebih baik Anda luar!"
Emir kembali ke tempat duduknya. Ia masih terlihat emosi. Meral yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan suaminya. Suasana ruang sidang kembali tenang.
Hakim Ketua meminta Hazal agar kembali ke tempatnya. Kemurkaan Hazal sudah mencapai ubun-ubun kepalanya. Wajahnya merah padam. Napasnya mulai naik turun. Sorot matanya seperti sebuah belati yang siap membelah jantung Harun.
"Sidang untuk hari ini cukup sampai di sini. Selanjutnya sidang akan dilanjutkan minggu depan dengan pembacaan putusan!" kata Hakim Kepala dengan suara lantangnya dan mengetuk palunya kembali sebanyak tiga kali, pertanda bahwa sidang telah di tutup.
Hazal, Harun dan pengacaranya bertemu kembali di depan pintu ruang sidang.
"Sebaiknya kau mulai memikirkan pengunduran dirimu untuk menangani kasus ini, Tuan Pengacara!" sindir Hazal kepada pengacara Harun.
"Apa maksudmu, Jaksa Muda Hazal?" Pengacara Harun melonggarkan dasinya.
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan membelanya. Sebagai pembela, kau jelas tahu bahwa klienmu itu akan kalah di persidangan. Aku tahu dirimu, Tuan Pengacara. Kau hanya membela terdakwa, karena bayaran tinggi yang ia tawarkan kepada mu!" seru Hazal sambil memicingkan kedua matanya.
"Tutup mulutmu!" umpat Harun yang mengangkat kedua tangannya yang terborgol ke arah Hazal.
Tetapi Hazal tidak memperdulikan umpatan Harun. Ia masih berusaha menggoyahkan kepercayaan sang pengacara.
"Kau sudah tahu bukan, bahwa presentase klien mu menang di pengadilan itu sangat kecil! Bahkan aku akan berusaha menutup semua pintu kemenangan itu!" seru Hazal sambil memasukkan kedua tangannya di lekukan siku dalamnya.
"Beraninya kau menakuti pengacaraku!" pekik Harun ketika kedua anggota polisi ingin segera membawanya keluar.
"Aku tidak menakutinya. Itu kenyataan! Tapi aku masih punya kartu As yang membuatmu tidak akan pernah bangkit kembali, Harun!" ancam Hazal. Ia menatap tajam kepergian Harun dan beberapa anggota polisi.
"Ternyata berita yang tersiar tentang dirimu di dunia pengadilan itu benar. Kau benar-benar seperti seekor singa betina yang siap menerkam dan mengoyakkan mangsa mu," ucap sang Pengacara dengan senyum tipisnya.
"Aku bukan seekor singa betina saat ini. Tapi aku adalah Dewa Kematian bagi Harun!" ucap Hazal dengan tatapan matanya yang tajam menatap manik mata sang pengacara.
🔥Bersambung❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1