DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Surat Lamaran Hazal


__ADS_3

Manik mata berwarna coklat itu terbelalak begitu ia membaca sebuah iklan lowongan pekerjaan. Pucuk di cinta ulampun tiba, begitu kata pepatah bahasa Indonesia. Seperti mendapat durian runtuh yang jatuh di bawah pohon.


Sebuah iklan lowongan pekerjaan dari perusahaan Fallay, yang sedang mencari seorang asisten Manager Keuangan. Hazal membaca syarat-syarat yang diajukan.


Kali ini takdir berpihak padaku, ini satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke perusahaan Fallay....


Tanpa berpikir panjang, Hazal segera mengajukan permohonan dirinya sebagai jaksa lepas kepada Jaksa Kepala.


"Apa kau yakin dengan pilihanmu, Jaksa Hazal?" tanya Jaksa Kepala mengingat karir Hazal sebagai jaksa sangat cemerlang.


"Aku yakin Jaksa Kepala. Setelah rencana ku berhasil, aku akan kembali ke tempat asal ku ini," jawab Hazal dengan mantap.


Jaksa Kepala akhirnya menandatangani surat permohonan Hazal. "Semoga rencana mu berhasil, jika kau memerlukan bantuanku, aku siap untuk membantumu."


"Berikan posisi jaksa penuntut itu padaku, jika aku berhasil menyeret penjahat itu ke ruang sidang, aku ingin menghukumnya dengan caraku sendiri," ujar Hazal sambil tersenyum kemudian berpamitan dan keluar meninggalkan ruang atasannya.


Hazal segera membuat surat lamaran dan mengirimkannya ke perusahaan Fallay. "Tunggu tiga sampai lima hari lagi, aku akan melangkahkan kakiku ke gedung ini!"


Setelah keluar dari perusahaan Fallay, Hazal segera pergi menuju hotel AKSAL menemui Yafet. Ia ingin memberi kabar pada laki-laki itu. Hubungan mereka saat ini memang bukan lagi sepasang kekasih, tetapi hanya laki-laki itu yang bisa menjadi tempat curahan hatinya saat ini.


Hazal membuka pintu ruang kerja Yafet. Seperti biasa Yafet selalu sibuk dengan pekerjaannya dan laptopnya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran Hazal yang telah masuk beberapa langkah ke dalam ruangannya.


Hazal mendaratkan tubuhnya di atas sebuah sofa hitam berbahan kain beludru yang ada di tengah ruangan. Wanita itu menunggu Yafet sambil memainkan ponselnya tanpa bersuara.


Sepuluh menit kemudian, Yafet mendongakkan kepalanya. Laki-laki itu baru menyadari kehadiran Hazal di dalam ruangannya. "Sejak kapan kau ada di sini?"


"Sejak tahun lalu," ketus Hazal sambil tertawa di dalam hatinya.


Yafet segera menghentikan pekerjaannya dan duduk di samping Hazal. "Ini masih jam kantor, kau tidak ada sidang atau pekerjaan lain?" Yafet memperhatikan jam dinding yang ada di atas pintu ruangannya.


Hazal segera bangkit berdiri. "Baiklah, jika kehadiranku mengganggumu, aku akan pergi dari sini."


Yafet menahan tangan Hazal dan segera bangkit berdiri menghadap wanita itu. "Bukan maksudku mengusirmu, hanya saja... ini bukan kebiasaan mu keluar kantor di saat jam kantor. Apa ada sesuatu?" Sepasang mata elang itu berputar-putar berusaha mencari jawaban di balik wajah cantik wanita yang ada di depannya.


Hazal menarik tangan Yafet agar duduk kembali di sampingnya. Hazal menyandarkan tangan kirinya di atas sofa untuk menyangga samping kepalanya. Dimiringkan nya tubuhnya menghadap Yafet, membuatnya lebih leluasa untuk berbicara dengan laki-laki itu.


"Hari ini aku mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke perusahaan Fallay."


"Kau serius dengan rencana mu?"

__ADS_1


"Ya... aku sangat serius."


Yafet diam tak bergeming mendengar cerita Hazal. Ia hanya memikirkan kelak apa yang akan terjadi dengan Hazal.


"Kau jangan khawatir, aku akan menjaga diriku dengan baik," ujar Hazal sambil memegang tangan kanan Yafet.


"Bicaralah dulu dengan ayah dan ibu, jika mereka mendukungmu. Maka aku juga akan mendukung rencanamu ini," sahut Yafet.


Hazal menarik tangannya dari tangan Yafet, kemudian bangkit berdiri membelakangi laki-laki itu, "Baiklah, aku akan membicarakan ini setelah perusahaan Fallay menerimaku." Hazal segera pergi meninggalkan ruangan Yafet.


*****


Sebuah gedung pencakar langit tampak menjulang tinggi di bawah permadani biru yang membentang luas. Di sanalah perusahaan Fallay menjalankan roda bisnisnya, tak semua orang tahu asal usul gedung ini. Semula gedung yang megah ini adalah milik perusahaan Danner, milik Erkan Danner. Ayah kandung Hazal.


Tiga hari setelah kematian Erkan Danner, Harun Fallay yang baru beberapa bulan menjadi rekan bisnis ayah Hazal mengambil alih perusahaan itu.


Dengan menyebarkan isu bahwa perusahaan Danner akan bangkrut, karena kematian seluruh anggota keluarga Danner. Isu tersebut membuat harga saham perusahaan Danner melonjak turun drastis di pasar saham. Dengan mudahnya Harun Fallay membeli seluruh saham perusahaan Danner dengan harga murah, bak kacang goreng. Mengakuisi seluruh kekayaan keluarga Danner dan mengubahnya menjadi milik Fallay. Kejadian itu sudah lama berlalu, apa yang di tabur orang, maka ia akan menuai hasilnya.


Seorang Manager Personalia mengetuk pintu ruang Presiden Direktur perusahaan Fallay. Setelah di persilahkan untuk masuk, Manager Personalia itu melangkahkan kedua kakinya sambil membawa tumpukan kertas surat lamaran.


Kertas lamaran setinggi sepuluh sentimeter itu sudah berada di atas meja Kenan Fallay, Presiden Direktur sekaligus pemilik perusahaan Fallay.


"Baiklah, aku akan melihat nya." Manager Personalia itu segera meninggalkan ruangan Kenan Fallay.


Setelah kepergian manager tersebut, ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena sudah satu hari ini ia duduk di kursi kerjanya. Putra Harun itu melangkahkan kakinya ke arah jendela kemudian ia membuka tirai yang berwarna coklat itu untuk melihat pemandangan yang ada di luar.


Hampir seperempat jam, Kenan memandangi langit yang mendung dan lalu lintas yang ada di bawah kakinya. Ia menutup kembali tirai tersebut dan kembali duduk di atas kursi kerjanya. Berkutat kembali pada tumpukan surat lamaran dari pencari kerja yang sudah tiga hari ini memenuhi meja kerjanya.


Manik matanya mengamati satu per satu foto pencari kerja itu, membaca setiap riwayat hidup mereka. Hampir setengah tumpukan itu sudah ia singkirkan, tidak sesuai dengan kriteria yang ia butuhkan.


Ia pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya yang tinggi menutupi belakang kepalanya. Di kendurkannya dasi abu-abunya dan dipejamkannya kedua kelopak matanya. Ia sangat lelah.


Mencari seorang pegawai saja membuatku sangat pusing, apalagi mencari seorang istri....


Suara hatinya membuat Kenan tersenyum dan tertawa kecil di dalam ruang kerjanya. Ia segera menegakkan tubuhnya. Manik mata abu-abu gelap itu tiba-tiba tertuju pada sebuah foto wanita. Ia mengambil kertas itu dan menatap foto seorang wanita yang tersenyum kepadanya. Ia tersenyum tipis melihat foto wanita itu. Tanpa membaca data pribadi dan riwayat hidup wanita tersebut, segera ia menghubungi manager personalianya.


Beberapa menit kemudian, dengan tergesa-gesa Manager Personalia itu masuk ke ruang kerja Kenan Fallay.


Sebelum Manager itu berbicara, Kenan sudah melemparkan sebuah surat lamaran ke arah wajahnya. Surat lamaran itu jatuh tergeletak di lantai, sebuah foto Hazal dengan jelas terpampang di atas surat tersebut.

__ADS_1


"Aku mau wanita itu! Cepat kau hubungi dia!" perintah Kenan kepada Manager Personalia nya.


"Baik Tuan, aku akan siapkan seleksi berikutnya."


"Tidak perlu ada seleksi, aku sudah memilihnya!"


"Lalu, bagaimana dengan kandidat yang lain, Tuan?"


"Buang saja!"


Tangan Manager Personalia itu tampak gemetar ketika ia memungut surat lamaran milik Hazal. Sekilas Manager itu membaca nama Hazal Aksal dan riwayat pendidikan nya.


"Tuan, wanita ini adalah putri Emir Aksal. Pemilik perusahaan Aksal. Dia lulusan terbaik dari luar negeri. Dia pasti meminta gaji yang sangat tinggi kepada kita."


Kenan berdiri dan menghampiri Manager Personalia nya itu, "Apa aku minta pendapat mu, hah? Segera selesaikan tugasmu!"


"Ba-baik, Tuan Kenan." Manager Personalia itu segera keluar dari ruangan Kenan Fallay sambil membawa semua surat lamaran itu.


"Aku ingin lihat bagaimana raut wajahmu, wanita bar-bar. Begitu kau bertemu denganku di perusahaan ini...," gumam Kenan sambil meneguk segelas wiski tanpa es.


Hazal yang baru saja tiba di rumahnya, segera membuka ponselnya begitu ia mendengar benda tipis itu berbunyi.


"Selamat sore, apa ini dengan Nona Hazal Aksal?" terdengar suara seorang laki-laki dari balik ponsel Hazal.


"Ya, saya sendiri. Saya Hazal Aksal."


"Perkenalkan nama saya Omer. Saya adalah Manager Personalia perusahaan Fallay. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa anda di terima menjadi asisten Manager Keuangan di perusahaan Fallay. Silahkan besok pagi, anda datang ke kantor menemui saya."


Manik mata Hazal membulat, seakan tak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar. "Secepat itu?"


"Benar Nona. Terimakasih atas waktunya. Selamat sore."


Pembicaraan mereka pun terputus. Hazal segera masuk ke dalam rumahnya dengan gembira. Segera ia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


"Selangkah demi selangkah, aku akan membuat mu membayar atas setiap dosa-dosa mu, Harun Fallay!" gumam Hazal sambil memandang titik-titik lampu yang ada di atas kamarnya.


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 😀 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2