
Setelah pertemuan rahasia mereka di malam itu, Yafet dan Hazal saling tidak bertegur sapa. Mereka hanya saling melewati bagaikan angin lalu. Tidak ada yang menyadari perubahan sikap mereka di dalam rumah itu. Entah itu orang tua mereka maupun Selina.
Pagi hari ini, Yafet keluar dari rumahnya dengan wajahnya yang masam. Ia sangat kesal dengan sikap Hazal. Di tutupnya pintu mobil sportnya dengan keras. Ia hanya ingin jawaban dari Hazal, selama Hazal masih mencintainya, ia tidak perlu mengkhawatirkan kelak kedekatan Hazal dan Kenan yang hanya pura-pura. Ia melihat dari dalam jendela mobilnya, Hazal keluar dari rumah. Segera ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju hotel AKSAL.
Hazal hanya menatap kepergian Yafet dan mobilnya dengan mata berkaca-kaca. "Semoga kau mengerti Yafet, semoga kau mengerti tentang perasaanku tanpa aku harus mengatakannya kepadamu," gumamnya dalam hati. Ia segera mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi dan melajukan kendaraannya menuju kantor barunya.
Hazal segera memasukkan mobilnya di tempat parkir khusus karyawan yang ada di belakang gedung tempatnya bekerja. Ia melihat wajahnya di depan kaca spionnya, merapikan rambut dan riasan wajahnya. Mulai hari ini ia harus fokus untuk mendekati Kenan dengan caranya sendiri.
Hazal mengayunkan langkahnya dengan cepat memasuki lobi Perusahaan Fallay, ia menempelkan jari telunjuknya di sebuah tombol naik yang ada di depan lift. Bersamaan dengan dirinya, jari telunjuk lain yang lebih besar dari jarinya juga menekan tombol yang sama. Kedua jari mereka saling menempel.
Hazal segera mengarahkan wajahnya ke pemilik jari tersebut, ternyata pemilik jari itu adalah Kenan Fallay, bos barunya.
Kenan melihat jam tangannya, "Kau terlambat satu menit!"
"Apa?" Hazal membelalakkan kedua matanya, bulu matanya yang lentik terangkat ke atas. "Ini belum jam kantor, jam masuk kantor masih kurang lima menit lagi!"
Kenan hanya tersenyum tipis pada sekretaris barunya itu, "Apa sekretaris ku yang lama belum memberitahumu? Kau harus datang lebih dulu, sebelum aku datang!"
Hazal mendengus kesal melihat tingkah laku putra Harun itu, "Mana aku tahu, kau datang jam berapa!"
"Kenapa kau tak bertanya? Lain kali, aku tidak akan menolerir kesalahanmu!"
Pintu lift pun terbuka, hanya mereka berdua yang masuk ke dalam lift itu. Kenan dan Hazal sama-sama mengulurkan tangannya hendak menekan angka delapan. Tetapi tiba-tiba Hazal menarik kembali tangannya.
"Kenapa kau menarik kembali tanganmu?" tanya Kenan yang berdiri di samping Hazal.
"Kau atau aku yang menekan sama saja, kita berdua akan sampai di tempat yang sama," jawab Hazal tanpa memandang Kenan. Wajahnya menatap lurus melihat pintu lift yang tertutup dan memantulkan bayangan dirinya dan Kenan.
Kenan segera menekan angka delapan. Tabung lift itu segera meluncur ke lantai delapan. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Ia segera melangkahkan kakinya, Hazal segera mengikutinya dari belakang. Bunyi dua pasang sepatu yang saling beriringan itu menggema di lantai tersebut.
Sambil berjalan mengikuti langkah sepatu Kenan, Hazal memandang punggung tegap yang ada di depannya. Punggung tegap itu sudah masuk ke dalam ruangannya.
Apa aku harus bersikap lembut padanya? Agar ia jatuh cinta padaku?
Hazal segera menepis pikirannya itu. "Jika aku bersikap lembut padanya, dia akan semakin menginjak-injak harga diriku!" gumamnya sambil mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerjanya berwarna merah.
Pesawat telepon di meja kerja Hazal berbunyi, sebuah panggilan dari Departemen Keuangan.
"Ya... halo," jawab Hazal setelah ia mengangkat gagang pesawat teleponnya.
__ADS_1
"Hazal, ini aku Elif," suara sekretaris Kenan yang lama.
"Ya... ada apa kau menelepon ku? Apa ada barang mu yang tertinggal di sini?" Hazal memainkan kabel teleponnya.
"Bukan. Kemarin aku lupa memberitahumu. Kau harus datang sebelum Tuan Kenan datang dan kau harus pulang setelah Tuan Kenan pulang. Kau harus siapkan kopi panas di pagi hari dan teh panas di sore hari. Jangan lupa berikan beberapa keping biskuit," jelasnya dengan cepat dan panjang lebar.
"Tunggu... aku ambil buku catatan ku dulu." Hazal membuka lembaran baru pada buku catatannya. "Elif, bisa kau ulangi lagi penjelasan mu?"
Elif mengulangi perkataannya. Hazal menggunakan tangan kirinya untuk memegang gagang telepon sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menulis.
"Ada lagi?" tanya Hazal yang sudah selesai mencatat kegiatan harian yang harus dia kerjakan untuk melayani putra Harun tersebut.
Elif terdiam beberapa saat, memikirkan perkataan nya tadi.
"Oh iya... aku hampir lupa. Kau harus membersihkan dan merapikan meja kerjanya dan membersihkan ruangannya, sebelum Tuan Kenan datang dan setelah Tuan Kenan pulang," suara wanita itu mulai sedikit berbisik.
"Oh baiklah... terimakasih Elif kau sudah memberitahu ku," ucap Hazal kemudian meletakkan kembali gagang teleponnya ke tempatnya.
Itulah sebabnya aku tidak mau menjadi seorang sekretaris. Pekerjaan mereka seperti seorang pelayan dengan pakaian seragam yang tampak elite.
Belum sempat Hazal bergerak, Kenan sudah meneriaki nya. "Hazal....!"
"Ini kantor, bukan tempat untuk bergosip! Sejak tadi aku menghubungimu tapi sambungan telepon mu sibuk terus!" sindir Kenan sambil memainkan penanya dengan kedua tangannya.
"Aku tahu ini kantor, ini bukan hutan rimba! Dimana kau bisa berteriak sesuka hatimu untuk memanggilku!" balas Hazal sambil memegang buku catatan dan penanya.
Kenan menatap tajam ke arah Hazal. Pagi ini sekretaris barunya itu sudah membuatnya naik darah. Ia segera keluar dari mejanya dan berjalan mendekati Hazal.
"Kenapa kau memanggilku?" tanya Hazal yang tidak berpindah posisi meskipun Kenan sedang berjalan menghampirinya dengan tatapan tajam.
"Dimana kopi panas kesukaanku?" bisik Kenan di telinga Hazal. Ia bisa menghitung berapa banyak batu berkilau yang ada di telinga Hazal.
Hazal terkesima mendengar pertanyaan Kenan. Baru saja Elif sudah mengingatkannya, dan sekarang Kenan sudah menagihnya.
"Aku akan segera membuatnya." Hazal segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruang kerja Kenan.
Kenan hanya tersenyum tipis melihat kepergian Hazal. Kali ini bukan karena ingin membalas dendam atas sikap angkuh Hazal kepadanya beberapa waktu yang lalu, tetapi ada sesuatu yang lain yang membuat Kenan sangat menikmati keangkuhan dan pemberontakan Hazal pada dirinya. Entah apa itu.
Di dalam pantri, Hazal sedang menyeduh kopi buatannya. Menuangkan kopi panas itu ke dalam sebuah cangkir, tak lupa ia mengambil tiga keping biskuit dan meletakkannya di atas piring kecil. Setelah semua telah selesai, Hazal segera membawa sajian itu ke dalam ruangan Kenan.
__ADS_1
Putra Harun itu tidak menghiraukan keberadaan Hazal, ia masih sibuk dengan panggilan teleponnya. Hazal meletakkan makanan ringan dan minuman panas itu di atas meja Kenan. Sebelum pria itu meneriakinya kembali, Hazal segera keluar dari ruangannya. Ia memeluk nampan yang tadi ia bawa dan berdiri di depan pintu.
Kita lihat saja Kenan Fallay, siapa diantara kita yang lemah dan jatuh lebih dulu. Kau atau aku...
Setelah selesai menutup pesawat teleponnya, Kenan menghirup aroma kopi buatan Hazal yang ada di depannya. "Tiga keping biskuit dan secangkir kopi. Menarik," gumamnya.
Kenan menyeruput kopi buatan Hazal, ia mengerutkan dahinya. Rasanya sedikit berbeda dengan kopi buatan Elif. Tapi rasanya jauh lebih enak kopi buatan Hazal. Ia tersenyum sambil menikmati kopinya, "Wanita bar-bar itu ternyata pandai juga membuat kopi," gumamnya sambil mencelupkan sekeping biskuit ke dalam cangkir kopinya.
Tiga keping biskuit dan secangkir kopi habis tak bersisa, ia menekan angka satu pada pesawat teleponnya, memanggil Hazal untuk masuk ke dalam ruangannya.
Panggilan itu berbunyi berulang kali, tetapi Hazal tidak mengangkat pesawat teleponnya. Dengan kesal Kenan menutup pesawat teleponnya. Ia kembali meneriaki Hazal. Tetapi sekretaris barunya itu tidak kunjung masuk ke dalam ruangannya.
"Baru saja aku memuji kopi buatannya, sekarang ia mulai berulah!" gumam Kenan yang segera keluar dari ruangannya.
Meja kerja Hazal kosong, tidak ada seorangpun di luar. "Kemana wanita bar-bar itu? Dia kira perusahaan ini milik ayahnya apa? Seenaknya saja ia menghilang tanpa memberitahuku!" gumam Kenan sambil melihat sekeliling nya.
"Hazal...!" teriak Kenan di ujung koridor lantai delapan. Sunyi. Hening.
"Hei, Nona Aksal...!" kembali Kenan berteriak berjalan membelakangi koridor.
"Wanita bar-bar...!" kesabaran Kenan sudah mulai habis.
Tanpa bersuara, Hazal menepuk pundak Kenan. Pria itu segera menoleh ke belakang, dan terkejut melihat Hazal sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa kau meneriaki ku? Aku tidak tuli!" seru Hazal sambil berjalan mendekati mejanya tanpa beralas kaki. Ia menjinjing kedua sepatunya yang terlihat basah, kemudian ia mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap sepatu high heels nya.
"Darimana saja kau? Aku menelepon mu dan memanggil mu, tapi kau tidak menjawab!" Kenan berjalan menghampiri meja kerja Hazal.
"Aku ke toilet," jawab Hazal singkat.
Setelah selesai membersihkan sepatunya, ia meletakkan sepasang sepatunya di lantai di depan kaki Kenan. Di masukkannya kaki kanannya lebih dulu ke dalam lubang sepatu high heels nya. Tetapi karena keseimbangan tubuhnya yang masih kurang, tubuh Hazal mendadak oleng. Dengan sigap Kenan menangkap tubuh Hazal agar tidak terjatuh. Dalam beberapa detik pandangan mereka saling bertemu, dua pasang mata itu saling memandang dalam diam, dan membuat jantung mereka saling berdegup kencang.
Suara pintu lift terbuka mengembalikan kesadaran Kenan dan Hazal. Putri angkat Emir itu segera melepaskan tangannya dari pundak Kenan, begitu juga dengan Kenan yang melepaskan tangannya dari pinggang Hazal.
Hazal kembali mengenakan sepatunya dan kembali masuk ke dalam meja kerjanya. Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan mereka. Suara sepatu itu seakan mengintimidasi mereka yang mendengar nya.
"Ayah...?" Suara Kenan yang terkejut segera membuat Hazal melihat sosok laki-laki yang masuk ke dalam ruangannya.
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... Terimakasih 🙏😀😊