DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Sabotase Lift


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sebuah kumpulan awan putih nampak saling mengumpul menghiasi birunya langit kota Istanbul. Cahaya matahari tampak seperti sebuah garis lurus ke bawah, berusaha menembus kumpulan-kumpulan awan tersebut. Sinar putih kekuningan itu jatuh ke atas permukaan salju yang menghiasi setiap atap rumah.


Hazal yang sedang berdiri melihat pemandangan indah itu dari balik dinding kaca di kantornya. Hari begitu cepat berlalu, setelah kesembuhan Yafet, dirinya dan kakak angkatnya itu sudah mulai menjalin komunikasi kembali. Ia sudah menceritakan kejadian ketika ia terjebak di dalam lift dan Kenan menolongnya. Tetapi Hazal merahasiakan dari Yafet, bahwa ia telah mengetahui cincin miliknya itu yang telah kembali. Biarlah rahasia itu terkubur bersama dengan perasaannya pada Yafet.


"Apa yang kau lakukan di sana?" Suara Kenan mengejutkannya. Intonasi suara pria itu tidak seperti dulu. Putra Harun itu mulai bersikap sedikit baik pada Hazal. Meskipun ia kadang suka meneriaki Hazal, jika sekretarisnya itu tiba-tiba menghilang dari meja kerjanya.


Hazal hanya tersenyum melihat Kenan yang berjalan ke arahnya.


"Aku hanya melihat awan-awan putih itu yang saling berkumpul, layaknya mereka adalah sebuah keluarga. Awan besar itu adalah ayah dan ibu, sedangkan awan-awan kecil itu adalah anak-anak mereka," jelas Hazal sambil menunjukkan kumpulan awan yang ada di depannya kepada Kenan. Putra Harun itu tertawa melihat bagaimana Hazal menamai awan-awan itu.


"Kau juga menyukai pemandangan langit?" tanya Kenan yang menatap wajah samping Hazal. Sepertinya mereka punya kesamaan.


"Ya... bagiku langit itu seperti sebuah kebebasan. Sebuah hal yang tak terbatas yang banyak orang mengira itu adalah sesuatu yang tidak bisa kau jangkau dengan tanganmu. Tapi kau hanya bisa menikmatinya. Bukan hanya langit, tapi aku sangat menyukai semua hal yang ada di atas sana," Hazal menatap wajah Kenan. Pria itu hanya tersenyum simpul melihat tatapan manik mata Hazal.


Kenan menarik tangan Hazal dengan pelan, mengajaknya masuk ke dalam ruangannya. Mereka berdua pun berdiri berdampingan menghadap kaca jendela besar yang ada di ruangan Kenan.


"Maju lah dua langkah," ucap Kenan.


Hazal menuruti perkataan Kenan, ia memajukan dua langkah kakinya hingga mendekati tepi jendela. Sementara Kenan masih tetap berdiri di tempatnya semula.


Hazal merasakan dirinya seakan melayang di udara. Di depannya ia melihat sekumpulan awan-awan putih, sedang di bawah kakinya ia seperti menginjak mobil dan bangunan-bangunan yang ada di bawahnya.


"Wow... ini luar biasa!" teriak Hazal bersorak kegirangan. Melihat ekspresi sekretaris nya itu, membuat Kenan ikut tertawa.


"Bagaimana rasanya?" tanya Kenan yang memajukan langkahnya, kini ia berdiri di samping Hazal.


"Aku seperti seekor burung ketika aku melihat ke depan. Tetapi ketika aku melihat ke bawah, mendadak aku berubah menjadi seekor dinosaurus."


Kenan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Hazal. Begitu juga dengan Hazal, senyum dan tawanya memperlihatkan belahan dagunya yang manis.


Untuk pertama kalinya, Kenan melihat tawa dan senyum Hazal yang mengembang. Membuat tangannya tiba-tiba mengambil beberapa helai rambut Hazal yang ada di depan dan menaruhnya di belakang telinga wanita itu. Manik mata Hazal hanya bergerak-gerak mengamati apa yang Kenan lakukan, jantung Kenan berdetak sangat kencang ketika menatap wajah dan bibir merah Hazal.


Sebuah ketukan pintu membuat Kenan memundurkan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan melihat Mehmet sudah membuka pintu ruangannya.


Dia datang di saat yang tidak tepat...

__ADS_1


Kenan mendengus melihat Mehmet yang sudah masuk ke dalam ruangannya.


Mehmet berjalan melewati Kenan, ia segera menghampiri Hazal, "Apa kau masih ingat padaku?"


Hazal memicingkan kedua matanya dan menggigit ujung jarinya, mencoba mengingat wajah Mehmet.


"Ah iya aku ingat, kita pernah bertemu di pesta ulang tahun perusahaan Aksal, bukan? Waktu itu kau dan Kenan...." Hazal tidak melanjutkan kata-katanya. Kenan segera menyadari kejadian untuk pertama kalinya ia bertemu dan bertengkar dengan Hazal.


Laki-laki berkulit gelap itu tertawa mendengar jawaban Hazal. "Ingatanmu sungguh tajam, Nona Hazal."


"Jangan panggil aku Nona Hazal. Aku di sini bekerja. Panggil aku Hazal."


Hazal mengulurkan tangannya, kemudian Mehmet membalas uluran tangan Hazal sambil memperkenalkan dirinya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Kenan yang memutus uluran tangan kedua orang tersebut.


"Aku hanya ingin mencari teman bicara saja," elak Mehmet sambil tersenyum dan menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Hazal yang mengerti bahwa ini adalah pembicaraan antar lelaki, segera ia keluar dari ruangan Kenan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Setelah kepergian sekretarisnya, Kenan segera mengajak Mehmet untuk duduk di meja kerjanya. Mehmet mengeluarkan sebuah flashdisk dan beberapa lembar foto dari saku kemejanya.


Kenan mengambil beberapa foto tersebut, ia melihat sosok laki-laki masuk ke ruang listrik, foto berikutnya laki-laki yang sama menekan saklar listrik dan foto ketiga laki-laki itu menarik tuas lift.


"Orang itu tidak hanya menarik tuas lift sekali, tetapi berulang kali. Membuat lift itu berjalan sangat cepat, berhenti mendadak dan terhempas. Sampai akhirnya lift itu rusak," jelas Mehmet yang menjelaskan kronologis ketiga foto yang di pegang oleh Kenan.


Setelah menjelaskan teorinya, Mehmet menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, "Beruntung sekali lift yang dinaiki Hazal tidak terhempas ke hingga ke lantai dasar, jika itu terjadi mungkin Hazal tidak akan selamat."


Kenan sangat terkejut mendengar penjelasan Mehmet. Ia menggaruk janggut tipisnya.


Bagaimana ini bisa terjadi di perusahaan ku? Semua sistem keamanan di sini sangat canggih.


"Apa kau tahu siapa laki-laki ini?" tanya Kenan sambil memicingkan kedua matanya. Mehmet mengambil foto itu dari video rekaman CCTV yang hanya memperlihatkan punggung orang tersebut.


"Bukalah flashdisk itu!" seru Mehmet. Kenan segera menancapkan benda kecil penyimpan data itu ke laptopnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah video rekaman tentang kejadian perusakan lift dan pemadaman listrik yang di sengaja. Video kejadian itu diambil Mehmet dari ruang CCTV.


"Sepertinya laki-laki itu pekerja di sini. Kau lihat, dia sangat mengenal kondisi ruang listrik itu," ucap Mehmet ketika melihat Kenan serius melihat video itu.


Manik mata Kenan tak bergeser sedikitpun dari layar laptopnya. Ia bahkan memutar video berdurasi tiga menit itu berulang kali.


"Apa Hazal punya musuh di kantor mu? Atau ada teman kantornya yang tidak menyukai nya?" selidik Mehmet.


Kenan menyimpan rekaman video itu di laptopnya, kemudian di lepasnya alat penyimpan data tersebut dari pirantinya. "Jika ini hanya perselisihan sesama karyawan, apa sampai seserius ini hingga ingin mencelakai Hazal?"


"Ini bukan masalah kecil, kawan. Ini tindakan kriminal! Percobaan pembunuhan!" seru Mehmet kepada sahabat nya itu.


Kenan memikirkan perkataan sahabatnya itu. Ia mengetuk-ngetuk pegangan kursi kerjanya dengan telunjuknya kanannya sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Memutar kembali memori ingatannya, setahu dirinya Hazal sudah beberapa bulan bekerja di perusahaan nya. Ia tidak melihat ada karyawan lain yang tidak suka padanya. Semua karyawan menyukai sikap sekretarisnya itu.


"Aku tidak tahu apakah ada karyawan lain yang tidak menyukai Hazal. Setahuku selama ini keadaanya baik-baik saja," ucap Kenan sambil mengusap wajahnya.


"Aku menunggu perintah mu selanjutnya, kau mau mencari tahu pelaku itu atau melupakan apa yang sudah terjadi?" Mehmet memberi Kenan pilihan.


Kenan berdiri dari kursinya dan keluar dari meja kerjanya. Ia berjalan dan berdiri di belakang kursi Mehmet, memunggungi sahabatnya itu. Seketika ruangan itu masuk dalam keheningan, hanya terdengar jarum jam dinding yang bergerak.


"Selesaikan masalah ini sampai tuntas! Temukan orang itu! Aku akan memberinya pelajaran!" perintah Kenan kepada sahabat sekaligus asisten rahasianya.


Mehmet pun berdiri dari kursinya dan menghampiri Kenan. "Aku akan segera membawa orang itu kepadamu!"


Mehmet melangkah hendak keluar ruangan, tapi kemudian ia membalikkan badannya menghadap Kenan sambil tersenyum jahil. "Apa semua ini kau lakukan hanya demi Hazal?"


Kenan hanya mengibaskan salah satu telapak tangannya ke arah Mehmet. Memberi tanda agar sahabatnya itu segera keluar dari ruangannya.


"Ya... ya... aku mengerti, aku akan keluar. Ingat kau telah menikung ku. Aku akan meminta ganti rugi padamu," ujar Mehmet yang keluar dari ruangan sahabatnya itu sambil tertawa.


Pintu ruangan pun kembali tertutup, Mehmet melihat Hazal yang sedang memasang earphone ponselnya sambil mengetik beberapa laporan. Ia mengira Hazal suka mendengarkan musik ketika bekerja. Ia pun menyapa Hazal sambil tersenyum dan meninggalkan sekretaris sahabatnya itu.


Selepas kepergian Mehmet, Hazal mematikan ponselnya dan melepas earphone dari kedua lubang telinganya. Ia telah mendengar seluruh percakapan Kenan dan Mehmet di dalam, melalui alat penyadap yang ia pasang beberapa hari yang lalu. Sorot matanya menatap tajam sofa merah yang ada di depannya.


Ternyata kau bergerak lebih cepat dari dugaan ku. Aku tahu... semua ini pasti perbuatan mu!

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa setelah baca kasih tip buat Author ya... gak mahal kok tip nya 😆 hanya kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2