DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Rencana Hazal


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika Yafet dan Hazal pulang ke rumah keluarga Aksal. Lampu mobil mendadak di padamkan ketika benda besi itu sudah memasuki garasi rumah mereka.


"Biar aku saja," ucap Hazal pelan ketika tangan Yafet sudah menggenggam kepala kantong plastik besar yang ada di bagasi mobil. Tangan Hazal segera memeluk tubuh kantong plastik itu dan mendekapnya.


"Baiklah, Nona Hazal yang keras kepala...," celoteh Yafet sambil tersenyum dan tertawa melihat sikap Hazal yang sedikit memaksakan dirinya. Pria itu segera menutup pintu bagasi dan mengikuti langkah kaki Hazal yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua segera menapaki anak tangga yang mengular di sudut rumah. Sosok wanita berambut hitam dengan tubuh semampai, menghentikan langkah kaki mereka. "Kemana saja kalian? Kenapa kalian tidak mengajakku?"


"Kami hanya pergi bekerja," jawab Yafet singkat. Sementara Hazal hanya terdiam sambil meneruskan langkah kakinya berjalan menuju kamarnya.


"Yafet, kenapa kau lebih memperhatikan adikmu daripada aku, istrimu?" protes Selina yang menarik lengan laki-laki itu ketika mereka saling berpapasan di anak tangga yang sama.


Yafet segera menyibakkan tangan Selina dari lengannya, "Apa ada yang salah, hah? Jangan pernah ikut campur kehidupan ku!" pekik Yafet dengan kasar yang segera meninggalkan Selina.


Selina segera mengejar Yafet hingga masuk ke dalam kamarnya, Meral yang melihat hal tersebut hanya khawatir jika pertengkaran anak dan menantunya itu akan berdampak buruk pada janin Selina.


"Tunggu Yafet, kita belum selesai bicara!" teriak Selina yang segera menutup pintu kamarnya. Ia menarik tangan Yafet agar melihat wajahnya.


Pria itu hanya mendengus kesal ketika berhadapan dengan Selina. "Apa kau tak bisa menghargai ku? Aku bukan patung atau pajangan di rumah ini! Aku adalah istrimu yang akan melahirkan anakmu!"


"Apa kau lupa apa yang sudah aku katakan di kafe sebelum kita menikah? Aku hanya menikah dengan mu di atas kertas!"


"Ya... aku ingat. Tapi tidak bisakah kau bersikap baik padaku?"


"Jangan memintaku lebih, Selina! Kau sendiri yang ingin menikah denganku, dan aku sudah mengabulkan permintaan mu!" teriak Yafet segera meninggalkan Selina dan berjalan memasuki kamar mandi.


Wajah Selina tampak geram mendengar perkataan Yafet. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sangat seksi di malam yang dingin ini. Pakaian tidur tanpa lengan dengan warna senada dengan kulit, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.


"Aku tak percaya jika pria itu tidak tertarik padaku sama sekali. Aku akan membuatmu mengingat kebersamaan kita beberapa tahun yang lalu, sayang."


Ia memperhatikan perutnya yang masih terlihat rata di depan cermin.


"Tunggu beberapa bulan lagi, perut ini akan terlihat membesar. Aku akan membuatmu benar-benar melakukan hal itu dengan kesadaran mu."


Selina mengambil sebotol parfum yang berwarna merah yang ia letakkan di meja riasnya. Di semprotnya parfum tersebut di titik-titik nadinya. Belakang leher dan belakang cuping telinganya. Wangi bunga memenuhi ruang kamar tersebut. Ia segera naik ke atas tempat tidur sambil menunggu Yafet selesai membersihkan dirinya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Aroma bunga menggelitik di indera penciuman Yafet. Laki-laki itu mengalungkan handuknya di belakang lehernya dan mengeringkan rambutnya yang basah.


Telapak kaki yang basah itu sudah berada tepat di depan ranjang. Sepasang mata elangnya melihat Selina yang berpakaian seksi dengan pose yang sangat menantang naluri lelakinya. Yafet menelan salivanya tetapi ia berusaha mengendalikan dirinya.


Yafet membuka lemari pakaiannya dan mengambil beberapa lembar pakaian milik Selina. Dilemparkannya baju-baju itu ke wajah istrinya, kain warna warni itu menutupi kepala dan wajah Selina. Tanpa bicara Yafet segera pergi meninggalkan wanita Inggris itu.


"Yafet...!" teriak Selina dengan geram sambil menurunkan pakaiannya yang menutupi wajahnya. Ia begitu marah ketika usahanya menggoda Yafet tidak berhasil.


"Sejuta pria di dunia ini tidak akan menolak pesonaku, tetapi hanya kau satu-satunya pria yang berani menolak diriku!"


Setelah meninggalkan kamarnya, Yafet berdiri di atas balkon di dalam rumahnya. Memandang lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit rumahnya. "Dasar wanita gila! Sampai detik ini pun aku tidak percaya bahwa aku yang telah menghamilinya!" gumamnya.


Yafet mengayunkan langkah kakinya menuju ke kamar Hazal. Di ketuk nya pintu kamar tersebut. "Masuk." Terdengar suara Hazal dari dalam kamarnya. Yafet segera membuka pintu kamar dan memasuki kamar yang kental dengan nuansa merah di dalamnya. Tampak Hazal sedang duduk di sebuah kursi dan membelakangi nya.


"Apa aku mengganggu?" Suara Yafet membuat Hazal menghentikan kegiatannya. Wanita muda itu sedang membuka lembaran-lembaran berkas yang di ambilnya dari Mansion Danner.


"Duduklah, ada apa kau kemari?" tanya Hazal tanpa memperhatikan Yafet yang sedang berdiri di sampingnya. "Kenapa kau tidak menemani Selina? Dia lagi hamil, pasti dia sangat membutuhkanmu."


"Bisakah kau tidak membicarakan wanita gila itu!" Yafet merebahkan dirinya di atas ranjang Hazal. Kedua tangannya ia rentangkan menjadi bantal untuk kepalanya.


"Apa kau sudah menemukan bukti kejahatan Harun Fallay?" tanya Yafet yang berusaha mengalihkan pembicaraannya. Padahal sebenarnya ia ingin menenangkan dirinya di kamar Hazal.


Hazal menggelengkan kepalanya. "Aku hanya menemukan berkas-berkas perjanjian bisnis ayah. Ayahku dan Harun telah menjalin kerjasama, itu saja yang aku dapatkan."


"Apa karena bisnis, Harun menyuruh Ted Baxter untuk membunuh ayahmu?"


"Entahlah. Apa ada hal seperti itu di dunia bisnis?"


"Tentu saja ada. Jika kau ingin mendapatkan semua keuntungan, maka kau bisa berbuat curang pada rekan bisnismu."


"Sebuah motif yang sangat sederhana, jika hanya karena alasan bisnis. Harun bisa mencurangi ayahku, dengan mengambil semua perusahaannya." tukas Hazal. "Tapi jika sampai membunuh semua keluargaku, aku merasa ada motif lain di balik semua ini, tidak sesederhana yang aku pikirkan."


"Dendam?"


Hazal hanya menatap mata elang itu sambil mengetukkan jari jemarinya di tepi ranjangnya. "Aku akan mencari cara untuk mendekati Harun Fallay! Mungkin bukti itu ada di dalam dirinya!"

__ADS_1


"Apa?" Yafet segera bangun dari posisi telentang nya. "Tidak... aku tidak akan mengijinkan mu!"


"Satu-satunya cara untuk melawan musuh mu adalah dengan menjadi orang terdekatnya!" seru Hazal dengan manik matanya yang menatap tajam wajah Yafet.


"Jangan lakukan itu!" pinta Yafet sambil memegang kedua pipi Hazal. "Bagaimana jika Harun mengenalimu bahwa kau adalah putri Danner? Aku dan ayah berusaha menyembunyikan identitas mu agar penjahat itu tidak menemukanmu!"


Hazal melepaskan tangan Yafet dari pipinya. "Apa aku harus bersembunyi seumur hidupku? Tidak Yafet... mulai sekarang aku akan melawannya!" Manik mata coklat itu penuh dengan kilat kemarahan.


Yafet memikirkan perkataan Hazal. Apa yang dikatakan Hazal memang ada benarnya. Ini saatnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Seandainya saja ia bisa menggantikan posisi Hazal.


*****


Di rumah kediaman keluarga Fallay....


Sudah beberapa hari ini, Harun Fallay tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun mulut Ted Baxter dan pengacara Alfred sudah terbungkam untuk selama-lamanya, tetapi laki-laki paruh baya itu tidak merasakan ketenangan dalam hidupnya.


Perkataan terakhir pengacara Alfred masih terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.


Salah satu anak Aksal, pasti akan menghancurkanmu...


Dihisapnya cerutu yang ada di mulutnya dan di hembuskan kepulan asap itu dari lubang hidungnya.


"Anak Aksal...," gumamnya.


Menurut informasi anak buahnya, Emir Aksal mempunyai dua orang anak. Yang pertama seorang laki-laki bernama Yafet Aksal sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Hazal Aksal.


"Jadi putra Danner itu sekarang bernama Yafet Aksal. Sebelum dia menghancurkan ku, aku akan menghancurkan mu lebih dulu, anak muda!"


Harun mengambil ponselnya setelah ponselnya itu berdering beberapa kali. Salah satu anak buahnya melaporkan kejadian tadi sore di depan Mansion Danner. "Seorang wanita menyelamatkan pria itu, Tuan."


Ayah Kenan itu segera mematikan ponselnya. "Kali ini kau berhasil lolos dari maut, Yafet Aksal! Tapi tidak untuk kedua kalinya! Aku akan membuatmu berkumpul kembali bersama dengan orang tuamu dan saudara perempuan mu!"


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Makasih 🤗😊

__ADS_1


__ADS_2