DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Arti Diam mu


__ADS_3

Bunyi gemericik percikan air dari kamar mandi tiba-tiba berhenti. Hazal mengambil handuk kimononya dan mengenakannya untuk menutupi tubuhnya. Dibukanya pintu kamar mandi dan ia berjalan menuju lemari pakaiannya. Jari tangannya sedang memilih-milih pakaian tidur yang akan ia kenakan.


Pilihannya jatuh pada sebuah pakaian tidur berwarna merah marun sepanjang lututnya. Dikenakannya pakaian tidur tersebut, kemudian ia berjalan menghampiri meja riasnya. Menyisir rambut panjangnya dan menggelung nya ke atas. Menyisakan beberapa anak rambut yang ada di belakang leher jenjangnya yang putih bersih.


Hazal mengambil buku hariannya yang ia simpan di laci nakasnya. Setiap kejadian demi kejadian selalu ia tulis di buku itu. Mulai dari mimpi buruknya yang sejak kecil ia alami, usahanya mencari pembunuh orang tuanya, hingga percintaannya dengan Yafet. Di lembaran yang baru ini, Hazal mulai menulis pertemuannya dengan Kenan Fallay.


Di pertengahan Hazal mencoretkan tintanya di buku hariannya, sebuah dering ponsel menghentikan aktivitasnya. Hazal segera meletakkan penanya di atas meja dan menutup buku hariannya.


"Ya...." Hazal menjawab panggilan ponselnya.


"Aku menunggumu di samping rumah," jawab Yafet di balik ponselnya.


Hazal segera menutup ponselnya, di masukkan nya buku hariannya ke dalam laci. Ia segera mengambil mantel panjangnya yang tergantung di belakang pintu dan segera keluar dari kamarnya.


Ia melihat sekelilingnya, hari sudah sangat gelap. Seluruh penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Hazal memilih untuk tidak menggunakan tangga yang ada di sudut rumahnya. Ia memilih menyusuri koridor lantai dua dan menuruni tangga yang ada di belakang rumahnya, yang biasa digunakan oleh para pelayan.


"Nona Hazal...," suara dan tepukan Nuran pada pundaknya membuat dirinya terkejut. "Apa yang Nona lakukan di sini?" Pelayan wanita itu tampak mengernyitkan dahinya.


Hazal membalikkan badannya dan melihat Nuran sudah berdiri di depannya, "Aku... aku hanya ingin berkeliling rumah saja sambil mencari udara segar."


"Apa ingin saya temani, Nona?"


"Oh tidak-tidak... tidak perlu Nuran. Kau tidur lah, aku hanya ingin jalan-jalan sendiri," ucap Hazal sambil tersenyum, kemudian Nuran kembali masuk ke dalam kamarnya. Setelah memastikan bahwa Nuran sudah masuk ke dalam kamarnya, di hembuskan nya napasnya dalam-dalam.


Hazal meneruskan langkahnya melewati kamar-kamar pelayan, ia berjalan menyusuri kolam renang dan halaman belakang rumahnya. Berjalan lurus kemudian berbelok menuju sisi samping rumahnya.


Dengan bantuan cahaya rembulan, manik matanya mengenali sosok laki-laki yang sejak tadi menunggunya. Laki-laki itu berdiri membelakangi Hazal. Ia berjalan perlahan-lahan mendekati Yafet, ia hendak mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk laki-laki itu dari belakang. Tapi ia mengurungkan niatnya, begitu ia menyadari bahwa ia bukan lagi kekasih Yafet. Laki-laki di depannya itu saat ini sudah beristri. Hazal hanya bisa menarik kembali tangannya, menutup kembali telapak tangannya dan menundukkan kepalanya.


Yafet yang menyadari ada seseorang sedang berdiri di belakangnya segera membalikkan badannya. Ia melihat Hazal yang berdiri dengan mantel dan rambutnya yang terangkat ke atas. Ia tersenyum memandang Hazal dan menyentuh wajah adik angkatnya itu.

__ADS_1


Hazal merasakan sentuhan telapak tangan yang selalu tersedia untuknya. Sesaat ia hanyut dalam suasana romantis malam hari ini. Yafet segera memeluk tubuhnya dengan erat. Tetapi ia hanya diam tak membalas pelukan Yafet.


"Lepaskan Yafet. Bagaimana jika Selina melihat kita?" Hazal segera mendorong sedikit tubuh Yafet. Pelukan itu akhirnya terlepas.


"Aku hanya merindukanmu. Sudah satu minggu ini kau tidak pernah berbagi cerita dengan ku." Yafet menatap lembut wajah Hazal. Sinar rembulan membuat wajah mereka tampak lebih bercahaya.


Manik mata Hazal hanya bisa menatap lembut sepasang mata elang itu. Sejujurnya ia juga sangat merindukan kakak angkatnya itu. Tapi ia hanya membalas perkataan Yafet dengan senyumannya.


"Bagaimana harimu di Perusahaan Fallay? Apa kau sudah bertemu dengan Harun Fallay?" tanya Yafet yang berdiri di depan Hazal.


Hazal melangkahkan kakinya sedikit menjauhi Yafet, memandang tanaman merambat yang tumbuh di halaman rumahnya yang sebagian sudah tertutup oleh salju. "Hari ini aku bertemu dengan Kenan Fallay. Pria itu ternyata putra Harun."


Yafet terkesima mendengar perkataan Hazal, ia menyembunyikan kedua tangannya di saku mantel panjangnya. "Jadi pria yang mengganggumu di pesta ulang tahun perusahaan itu adalah anak Harun?"


Hazal hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang wajah Yafet kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Dia memintaku menjadi sekretarisnya, awalnya aku menolaknya. Tetapi kemudian aku berpikir, jika aku berada di dekatnya, maka itu semakin memudahkan ku untuk bertemu dengan Harun. Jadi aku menerima permintaannya."


"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Yafet sambil menatap wajah samping Hazal, mencoba membaca pikiran wanita yang dicintainya itu.


"Aku akan mendekati Kenan Fallay, dan menjadi satu-satunya orang yang ia percaya," ujar Hazal dengan penuh penekanan.


Yafet menggenggam telapak tangan Hazal, "Jangan gunakan perasaanmu," ucap Yafet setengah berbisik di telinga Hazal. Putri angkat Emir ini mengerti apa yang di maksud dengan perkataan Yafet.


Hazal membalikkan badannya menghadap Yafet dengan senyum manisnya ia berkata, "Perkataan itu simpanlah untuk dirimu. Kelak jika kau melihat aku sedang bersama Kenan, jangan gunakan emosi dan perasaanmu."


"Apa maksudmu?" Yafet mengernyitkan dahinya.


Hazal melilitkan kembali syal Yafet yang hampir terlepas dari leher laki-laki itu. Tangannya meraba sebuah ukiran nama Yafet yang ada di pinggiran syal tersebut. Ia ingat ini adalah syal pemberian nya beberapa tahun yang lalu.


"Aku akan membuat Kenan jatuh cinta padaku," bisik Hazal di telinga Yafet.

__ADS_1


Yafet segera melepaskan tangan Hazal dari syalnya. Ia menggelengkan kepalanya. Ada sebuah rasa tidak rela terpancar di manik matanya. Perlahan-lahan ia memundurkan langkahnya ke belakang, "Apa kau serius dengan kata-kata mu?"


Hazal hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia mengerti bahwa Yafet sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Jangan berpikir apa yang belum terjadi, semuanya akan baik-baik saja," ucap Hazal.


Yafet memalingkan wajahnya menghindari pandangan Hazal. Ia mengatupkan rahangnya. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya.


Melihat reaksi Yafet yang mendiamkan dirinya, segera Hazal berjalan dan menghampiri Yafet. Ia memegang kedua tangan laki-laki itu, menggenggamnya dengan erat. "Aku janji... aku tidak akan menggunakan perasaanku."


Kedua tangan Yafet menyentuh kedua pipi Hazal, menatap manik mata coklat itu. "Sebelum kau memulai rencana mu, aku hanya ingin bertanya padamu." Suara Yafet terdengar bergetar.


"Katakan...," ucap Hazal yang hanya berdiri menatap sepasang mata elang di depannya.


"Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Yafet sambil mendekatkan wajahnya di wajah Hazal. Hidung mancung mereka saling bersentuhan.


Tetapi bibir merah itu tertutup rapat. Tidak memberikan jawaban. Saat ini Hazal benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Yafet. Manik matanya bergerak-gerak menatap wajah Yafet, kemudian ia menundukkan kepalanya.


Yafet mengalihkan wajahnya dari wajah Hazal. Ia menghembuskan napasnya, kepulan asap dingin itu keluar dari lubang hidungnya.


"Aku mengerti...arti diam mu itu sudah memberiku jawaban."


"Yafet, aku...," suara Hazal terhenti. Ia tidak bisa meneruskan perkataannya, karena Yafet telah berjalan pergi meninggalkannya.


Air mata Hazal mengalir membasahi wajahnya, ia terduduk di hamparan salju yang menutupi halaman rumahnya. "Kau tak mengerti Yafet, kau takkan pernah bisa mengerti perasaanku..."


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih 🙏😊🤗

__ADS_1


__ADS_2