
Berita terpilihnya Hazal sebagai Presiden Direktur Perusahaan Fallay sampai di telinga Harun. Telinga rubah tua itu tampak memerah menahan rasa geramnya. Dirinya tidak habis pikir kenapa para pemegang saham itu menusuknya dari belakang.
Pria paruh baya itu kembali mengingat masa kejayaannya beberapa tahun yang lalu. Satu persatu pemegang saham itu memohon bantuan kepadanya. Mulai bantuan finansial maupun non finansial. Sekarang apa balasan yang ia dapatkan. Benar kata peribahasa air susu dibalas air tuba.
Pikirannya berputar mencari cara untuk bisa keluar dari jeruji besi ini. Ia tidak bisa bertindak bebas selama dirinya masih di dalam hotel prodeo. Ada banyak rencana yang telah ia susun untuk membalas Hazal apabila ia telah bebas.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, sang pengacara datang mengunjunginya. Harun segera melangkah masuk ke dalam ruang besuk. Manik matanya menyapu ruangan berbentuk persegi panjang itu, mencari sosok pembelanya.
"Apa ada kabar baik hari ini?" tanya Harun sambil menarik sebuah kursi kosong yang ada di sampingnya. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi plastik itu.
Pria di hadapan Harun itu tampak berdiam diri dengan ekspresi wajahnya yang gelisah. Pengacara itu tidak tahu dia harus mulai darimana. Ia hanya mengeluarkan dua surat dari balik jas abu-abu nya dan meletakkan kertas-kertas itu di atas meja.
Manik mata Harun menatap wajah pengacaranya kemudian beralih ke dua surat yang ada di depannya. Ia mengambil semua surat itu dan mulai membacanya.
Raut wajah Harun merah padam, rahangnya mengeras dan matanya melotot begitu ia membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di dalam surat itu.
"Terkutuk kau wanita j*lang!" umpat Harun dengan kasar. Ia memukul meja kayu itu dengan keras, sehingga membuat seluruh penghuni ruang besuk itu menoleh kepadanya.
"Apa masih kurang saham yang telah Kenan berikan padamu?" teriak Harun sambil meremas kedua surat itu dan melemparkannya ke sembarang arah di lantai.
__ADS_1
"Tenangkan diri Anda, Tuan Harun," hibur sang pengacara setelah ia mengambil kedua surat yang telah dibuang oleh Harun.
Pengacara itu membuka dan merapikan kembali kertas itu. Sebuah surat dari Kejaksaan dan dari pihak bank. Hazal telah memberikan perintah kepada pihak bank agar membekukan seluruh tabungan yang dimiliki oleh Harun. Jaksa Muda itu juga mencabut semua surat kuasa Harun untuk bertransaksi keuangan menggunakan nama perusahaan Fallay.
Berita buruk itu datang bersamaan membuat Harun mengusap wajahnya dan menutupinya dengan kedua telapak tangannya.
"Bagaimana aku bisa bebas dari sini, jika aku tidak mempunyai uang tunai sepeserpun?" gumam Harun di balik tangannya. Napasnya terasa berat.
"Tuan Harun?" Pengacara itu tampak khawatir dengan kondisi kliennya, tapi ia lebih mengkhawatirkan nasibnya sendiri saat ini.
Terlintas dalam pikiran Harun untuk menjual seluruh sahamnya di perusahaan Fallay agar ia bisa mendapatkan kebebasannya.
Harun segera membisikkan sesuatu ke telinga pengacaranya. Pengacara itu menganggukkan kepalanya dan segera melakukan perintah kliennya.
*****
Sementara itu di tempat lain, di Gedung Kejaksaan. Hazal sedang mengamati pergerakan saham perusahaan Fallay di ruang kerjanya.
Ia memainkan scroll laptopnya sambil memikirkan apa yang akan dilakukan Harun ketika rubah tua itu mengetahui bahwa seluruh rekening banknya telah dibekukan.
__ADS_1
Satu jam kemudian, ponselnya berdering di atas meja kerjanya.
"Apel merah sudah ada di pasar. Apa kau akan membelinya?" Terdengar suara Yafet dari seberang.
"Tentu, aku sangat menyukai apel merah," kata Hazal dengan nada suaranya yang dingin. Manik matanya menyorot tajam layar laptopnya.
"Deal! Aku akan menghidangkannya untukmu." Yafet tersenyum di balik ponselnya.
"Kau benar-benar partner terbaikku," puji Hazal dengan sedikit tawanya.
"Malam ini di restoran Italia, aku sudah memesan tempat untukmu," balas Yafet setelah ia mendengar tawa Hazal.
Panggilan ponsel itu pun berakhir. Bukan pertama kalinya Hazal dan Yafet bermain kata sandi. Mereka melakukan hal itu untuk menghindari ada seseorang atau pihak lain yang menyadap ponsel mereka.
Hazal tinggal menunggu detik-detik terakhir kekalahan Harun. "Aku sudah menggembosi seluruh kekuatan finansial mu, Harun! Tinggal satu langkah lagi, maka kau akan benar-benar menjadi sebatang kara!" gumam Hazal sambil memainkan pena pemberian Kenan.
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1