
Hazal membawa Kenan kembali ke apartemen laki-laki itu. Ia memapah Kenan untuk masuk ke dalam kamarnya dan mendudukkan laki-laki itu di atas ranjangnya.
Kenan sedikit mengerang ketika kain pembungkus es batu itu menempel di wajahnya. Wajah tampannya kini berubah warna menjadi merah keunguan.
"Dimana kotak obatmu?" tanya Hazal yang sedang mencari sesuatu di sekitar kamar apartemen Kenan.
"Ada di lemari gantung di dalam kamar mandi," jawab Kenan yang berada di belakang Hazal.
Hazal berjalan menuju ke kamar mandi dan membuka lemari gantung yang ada di sudut ruangan. Ia mengambil obat antiseptik, kapas, salep lebam dan plester.
"Kenapa kau mengikuti ku seperti hantu? Kembalilah duduk!" seru Hazal yang terkejut melihat Kenan sudah berdiri di depannya.
Kenan tampak kebingungan mencari jawaban. Dengan sigap, Hazal segera menarik tangan Kenan untuk keluar dari kamar mandi dan mendudukkan pria itu kembali di atas ranjang.
"Bukalah bajumu," kata Hazal sambil tangannya membuka botol antiseptik dan membasahi lembaran kapas yang ia miliki.
Kenan membuka kaos putihnya, tampak luka lebam di sekujur tubuhnya. Hazal segera membersihkan luka pada wajah dan tubuh Kenan dengan cairan antiseptik. Kemudian ia mengoleskan salep pada kulit yang berwarna merah keunguan. Perlahan-lahan ia mengobati Kenan.
"Untung luka tembak mu tidak mengeluarkan darah," ujar Hazal yang mengganti plesternya dengan plester yang baru.
Putra Harun itu terus memandangi wajah Hazal, meskipun wanita itu sedang fokus mengobati lukanya.
Kau bukan hanya cantik, Hazal. Tapi kau benar-benar wanita yang baik dan sempurna. Apakah salah jika aku menginginkanmu?
Hazal membuka lemari pakaian Kenan, mengambil salah satu pakaian pria itu dan mengenakannya di tubuh kekasihnya.
Setelah Hazal mengembalikan kotak obat ke tempatnya, ia mengambil pakaian kotor Kenan. Tetapi tiba-tiba putra Harun itu memegang tangannya.
"Terimakasih kau tadi sudah menolongku," ucap Kenan yang berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Hazal.
Manik mata Hazal menatap bibir Kenan kemudian jatuh ke dada Kenan, terakhir ia menjatuhkan tatapan wajahnya pada manik mata pria itu. "Aku bukan menolong mu. Tapi aku menolong Yafet.
Sontak Kenan segera melepaskan tangannya dari pinggang Hazal dan sedikit menjauhi wanita itu. Ia terkejut mendengar perkataan kekasihnya. Tampak raut wajah kekecewaan terpancar dari wajahnya.
Ternyata kau masih mencintainya. Semua pengorbanan mu ini bukan untukku...
Hazal menatap Kenan, ia kembali melanjutkan perkataannya, "Aku menolong Yafet, karena aku tidak ingin ia menjadi seorang pembunuh seperti ayahmu."
"Aku menyelamatkan hidup Yafet, tapi aku memilih mati bersamamu," ucap Hazal dengan manik matanya yang berkaca-kaca. Ia sudah memantapkan hatinya untuk mengakhiri semuanya bersama dengan Kenan.
Meskipun di dalam hatinya masih ada perasaan untuk Yafet. Ia memilih mengorbankan dirinya, agar Yafet tetap hidup. Agar keturunan Aksal tetap ada dan agar orang tua angkatnya tidak menderita. Kehilangan anak kandung lebih menyedihkan daripada kehilangan anak adopsi.
Manik mata Kenan berbinar mendengar perkataan Hazal, ia berjalan mendekati kekasihnya dan merengkuh tubuh ramping kekasihnya itu dengan erat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, yang ia tahu Hazal telah mengorbankan semuanya hanya untuk menepati perjanjian yang ia tawarkan kepadanya.
*****
Sementara itu di rumah keluarga Aksal. Yafet pulang ke rumah dalam keadaan menyedihkan. Tatapan matanya kosong. Ia berjalan dengan langkah yang gontai karena separuh jiwanya telah terbang melayang.
"Yafet...!" seru Meral yang melihat putranya masuk ke dalam rumah sambil membawa pistol di tangannya. Dilihatnya wajah putranya itu yang penuh dengan luka dan pakaiannya yang tampak kotor.
"Apa yang terjadi? Katakan pada Ayah?" Emir berjalan menghampiri Yafet. "Kenapa kau mengambil pistol Ayah?"
"Dimana Hazal? Apa kau bertemu dengannya?" tanya Meral yang mencari-cari keberadaan putri angkatnya. "Tadi dia mencari mu."
Semua pertanyaan orang tuanya tidak satupun di jawab oleh Yafet. Ia meletakkan pistol ayahnya di atas meja. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hazal... ia memilih bersama anak pembunuh itu! Minggu depan mereka akan menikah!" seru Yafet memberi kabar kepada orang tuanya. Kedua orang tuanya tampak terkejut.
Emir menarik tubuh Yafet untuk menghadap ke dirinya, "Apa yang kau katakan barusan? Itu tidak mungkin! Ayah tidak akan menyetujuinya."
Yafet menatap wajah ayahnya dengan raut kesedihan dan kekecewaan, "Apa yang bisa Ayah lakukan? Aku bahkan tidak bisa mencegahnya. Aku hendak membunuh anak pembunuh itu, tapi Hazal memilih rela mati untuknya."
"Ayah sudah menasehatinya agar tidak mendekati anak pembunuh itu. Ini akan menjadi bumerang untuknya!" seru Emir di hadapan Yafet dan Meral.
"Putra Harun itu pasti telah mencuci otak Hazal!" seru Yafet dengan manik matanya yang memerah.
__ADS_1
Meral menyentuh pundak anaknya itu. Seolah ia ingin memberi kekuatan kepada Yafet.
"Tunggulah sampai Hazal pulang. Dia pasti punya alasan mengapa ia berbuat seperti itu."
Emir setuju dengan perkataan istrinya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di Swiss, yang membuat Hazal membuat keputusan seperti itu. Mereka bertiga pun menunggu kedatangan Hazal dalam diam. Larut dalam pertanyaan masing-masing yang timbul di dalam benak mereka.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Kenan berhenti di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal. Kenan dan Hazal keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Hazal mengajak Kenan untuk menemui orang tua angkatnya, untuk membicarakan tentang pernikahan mereka.
"Ayah... Ibu... Yafet," sapa Hazal yang masuk ke ruang keluarga bersama Kenan.
Ketiga anggota keluarga Aksal itu berdiri serentak ketika dilihatnya Hazal datang membawa anak musuh mereka. Mereka melihat wajah Kenan yang babak belur seperti Yafet.
"Kenapa kau bawa anak pembunuh ini ke rumah?" bentak Yafet yang menghampiri sepasang kekasih itu.
Kenan hendak mendekati Yafet, tetapi Hazal mencegahnya. Ia menarik tangan Kenan agar menjauh. "Biarkan aku yang bicara."
"Hazal...!" seru Emir. "Kenapa kau bawa dia ke rumah ini?" tanyanya kepada putri angkatnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," jawab Hazal.
"Duduklah," kata Emir yang saling diikuti oleh semua orang.
"Apa yang ingin kau bicarakan, nak?" tanya Emir yang berusaha meredam emosi antara putranya dan putra Harun.
"Ayah, aku dan Kenan akan menikah minggu depan." Hazal menunggu reaksi ayah angkatnya.
Yafet mendengus kesal mendengar perkataan Hazal.
"Katakan kepada Ayah, kenapa kau mengambil keputusan seperti ini? Kenapa kau tidak membicarakan lebih dulu dengan keluargamu? Apa kau tidak menganggap kami orang tuamu lagi?" cecar Emir dengan berbagai pertanyaan kepada Hazal. Pria paruh baya itu terlihat kecewa dengan keputusan putrinya.
Dengan cepat Hazal menggelengkan kepalanya, manik matanya tampak memerah.
"Ayah... maafkan aku," ucap Hazal dengan lirih.
"Ceritakan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi," ucap Meral dengan lembut. Ia menempelkan kepalanya di kepala putrinya.
Hazal menceritakan kepada semua orang tentang dirinya dan Kenan alami di Swiss. Mulai dari siasat Harun yang ingin membunuh Hazal dengan menggunakan tangan Kenan hingga penyerangan di rumah keluarga Fallay dan tertembaknya Kenan demi melindungi dirinya. Sampai akhirnya Kenan menawarkan sebuah perjanjian pernikahan kepadanya.
"Jangan salahkan, Hazal. Semuanya ini salahku. Aku yang terlalu mencintainya," kata Kenan yang mengambil alih pembicaraan.
"Tentu saja itu bukan salah Hazal! Kau yang telah memaksanya!" teriak Yafet yang dengan cepat melayangkan pukulannya di wajah Kenan.
"Yafet...!" teriak Emir yang terkejut dengan ulah putranya.
Semua orang yang ada di ruangan itu berusaha memisahkan keduanya yang bergulat di atas karpet.
"Meral bawa Yafet keluar! Aku akan bicara dengan mereka berdua!" seru Emir kepada istri dan anaknya.
Manik mata Yafet menyorot tajam menatap Kenan. Ia sama sekali tidak bisa menerima penjelasan Hazal dan Kenan. Napasnya masih terlihat naik turun, ketika ibunya menyeretnya keluar ruangan.
Emir berdiri di belakang sofa menghadap Hazal dan Kenan, ia sedikit membungkuk dengan menahan kedua tangannya di atas pinggiran sofa.
"Hazal, Ayah mengerti kenapa kau mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakan dulu dengan kami. Ayah ingin kau bahagia, nak," ucap Emir sambil menatap langit-langit yang berwarna putih di atasnya.
"Ayah menyadari selama Harun masih hidup, kau takkan pernah bahagia. Meskipun kau hidup bersama dengan pria yang kau cintai. Pembunuh itu akan terus mengejar mu." Emir menghembuskan napasnya dalam-dalam. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin menyatukan kembali Yafet dan Hazal.
Hazal dan Kenan memperhatikan perkataan orang tua itu dengan seksama.
"Apa kau mencintainya?" tanya Emir kepada Hazal.
Hazal terdiam untuk beberapa saat. Kenan menundukkan kepalanya seolah ia tahu bahwa Hazal pasti akan mengatakan tidak.
"Aku akan belajar mencintainya, Ayah," ucap Hazal sambil memegang tangan kanan Kenan yang ada di sampingnya. Perkataan Hazal sontak membuat Kenan mengangkat wajahnya menatap Hazal.
__ADS_1
"Kau sangat keras kepala seperti ayahmu, Hazal! Ayah tidak bisa mengubah pendirian mu! Jika kau memilih untuk hidup bersama dengan Kenan, maka dengan berat hati Ayah akan merestui pernikahan kalian," ucap Emir dengan matanya yang berkaca-kaca menahan kesedihannya.
"Ayah...," ucap Hazal yang ingin berdiri, tapi Emir mengangkat telapak tangannya ke atas, memberi tanda bahwa dirinya belum selesai berbicara.
"Kenan..., kami memberimu waktu sampai malam pernikahan! Jika kau tidak bisa menepati janjimu, maka aku... pria tua ini akan membawa Hazal pergi dari kehidupanmu! Kau ingat itu!" ancam Emir dengan suaranya yang penuh penekanan.
"Jika kau gagal, aku tidak akan memberikan putriku meskipun kau sudah menikahinya!" Emir mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Kenan.
"Aku mengerti Tuan Emir. Aku akan menepati janjiku kepada kalian," ucap Kenan yang menatap wajah calon mertuanya itu.
"Aku tidak mau janji, anak muda. Tapi aku mau bukti! Buktikan jika kau memang mencintai putriku!" seru Emir. "Sekarang pergilah!"
"Baik, Tuan Emir." Kenan dan Hazal keluar meninggalkan ruangan itu.
*****
Di kediaman keluarga Fallay
Hampir setiap malam, Harun tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah ia mengetahui siapa Hazal sebenarnya. Ia kehilangan petunjuk tentang Kenan dan Hazal setelah malam penyerbuan itu.
Rubah tua itu berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya, ia mencoba menghubungi anak buahnya yang ada di Swiss.
"Apa Kenan dan wanita itu sudah di temukan?" tanya Harun dengan wajah yang serius menatap jendela yang ada di depannya.
"Belum, Tuan. Kami sudah mencarinya ke seluruh Swiss dan sekitar pegunungan Alpen."
"Bodoh! Hanya untuk mencari dua orang saja kalian tidak becus!" teriak Harun dengan berapi-api. Ia melemparkan ponselnya di atas sofa.
Tanpa disadarinya Kenan sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa Ayah mencari ku?" tanya Kenan. Suaranya tiba-tiba mengejutkan Harun. Rubah tua itu membalikkan badannya menghadap Kenan.
"Ayah terkejut melihat aku sudah berdiri di sini? Aku dan Hazal selamat dari usaha penyerangan dan pembunuhan Ayah." Kenan melangkah mendekati Harun.
"Sekarang aku tahu, siapa Harun Fallay sebenarnya. Pria tua yang telah membunuh seluruh keluarga Danner hanya karena sakit hati di tolak oleh wanita yang dicintainya," sindir Kenan sambil berjalan mengelilingi ayahnya. Putra Harun itu tertawa terbahak-bahak, menertawakan cinta buta ayahnya.
"Dasar anak kurang ajar!" pekik Harun sambil mengepalkan telapak tangannya.
"Dan yang tak ku sangka lagi, meskipun ia sudah membunuh sepasang suami istri Danner. Ia masih menginginkan kematian putri mereka. Apa pantas aku menyebut Harun Fallay itu sebagai ayahku?" Kenan menunjukkan video yang diberikan Mehmet kepada ayahnya.
"Kau...! Dasar anak durhaka!" teriak Harun yang akan merebut ponsel Kenan, tetapi putranya itu segera memundurkan langkahnya.
"Bukan aku yang durhaka! Tapi kau yang telah membuat aku menentang mu!" teriak Kenan dengan lantang.
"Katakan apa mau mu?" tanya Harun sambil berkacak pinggang membelakangi Kenan.
"Serahkan diri Ayah dan akui semua kejahatan Ayah!" seru Kenan.
Harun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kenan. Ia membalikkan badannya menghadap putranya.
"Kau ingin Ayah menyerahkan diri dan mengakui perbuatan Ayah? Itu tidak akan terjadi!" Harun kembali tertawa dengan keras.
Kenan menatap punggung ayahnya, ia mulai berpikir keras bagaimana caranya membuat ayahnya menyerah.
"Minggu depan aku dan Hazal akan menikah. Jika sampai hari pernikahanku Ayah tidak menyerahkan diri, maka aku akan mengirim video ini ke kantor polisi!" ancam Kenan.
Harun segera mencengkeram baju Kenan, "Aku tidak akan merestui pernikahanmu dengan putri Erkan itu! Sampai matipun aku tidak akan pernah menyerahkan diriku kepada keturunan Erkan Danner!"
Kenan melepaskan tangan Harun dari pakaiannya dan mengibaskan bekas cengkeraman tangan ayahnya.
"Aku tidak perlu restu dari seorang pembunuh seperti Ayah!" teriak Kenan yang langsung pergi meninggalkan Harun.
Harun segera mengambil kotak cerutunya dan melemparkan benda besi itu ke arah pintu.
"Dasar anak sialan! Anak durhaka, kau Kenan Fallay!" teriak Harun dengan amarahnya.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏