DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Pelayan Palsu


__ADS_3

Kembali ke acara pesta ulang tahun perusahaan Aksal....


Dengan wajah yang merenggut kesal, Hazal duduk di meja khusus VIP yang ada di depan panggung. Pria yang bernama Kenan Fallay itu benar-benar membuat dirinya marah malam ini. Diambilnya segelas minuman dingin yang berwarna merah, diteguk nya minuman itu sampai habis. "Aku harap, aku tidak akan bertemu dengannya selamanya. Dasar pria sombong, menyebalkan !!" gerutu Hazal sambil menatap lurus gelasnya yang telah kosong.


"Kau tidak ingin bertemu siapa? Siapa pria sombong dan menyebalkan itu? Siapa yang telah membuat marah Tuan Putri Aksal yang cantik ini?" Suara Yafet mengejutkan Hazal. Yafet mendekati Hazal dan duduk di samping kekasihnya itu. Hazal hanya menoleh dan tersenyum melihat Yafet yang sudah ada di sampingnya.


Yafet melihat lengan Hazal yang memerah, seperti bekas cengkeraman tangan seseorang. "Apa pria itu yang melakukannya?" tanya Yafet dengan wajah seriusnya.


"Melakukan apa?" Hazal tidak menyadari bahwa di lengannya ada bekas cengkeraman tangan Kenan Fallay.


Yafet memegang lengan Hazal dan menunjukkan bekas cengkeraman itu pada kekasihnya. "Katakan, siapa yang melalukan ini padamu?" Yafet mengatupkan rahangnya dan mengepalkan telapak tangannya. Hazal hanya terdiam tidak menjawab. "Apa pria menyebalkan itu yang melakukan ini padamu? Dimana dia sekarang?" amarah Yafet mulai meluap, dan ia hendak berdiri mencari pria yang telah membuat masalah dengannya.


Hazal menggenggam tangan Yafet kemudian berkata, "Duduklah, pria itu sudah pergi. Sudahlah ini hanyalah masalah kecil."


"Ini bukan masalah kecil, sayang. Dia telah berbuat kasar padamu. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yafet yang emosinya sudah mulai reda.


Hazal menceritakan kepada Yafet tentang tabrakannya yang tidak sengaja dengan seorang pria yang bernama Kenan Fallay. Entah Yafet harus bersikap apa, ia menahan tawanya membayangkan pria itu benar-benar dipermalukan oleh Hazal di muka umum. Hazal mendengus kesal, "Bukannya kau tadi membelaku, kenapa sekarang kau malah menertawakan ku?"


"Aku tidak menertawakan mu, tapi aku menertawakan pria itu," ucap Yafet yang masih tetap tertawa dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Tangannya di ulurkan nya memegang sandaran kursi Hazal. "Aku bisa membayangkan, bagaimana kau benar-benar telah membuatnya malu waktu itu," ucap Yafet sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari bahwa kekasihnya itu seperti ksatria wanita. Hazal pun menepuk dada bidang Yafet, ketika dilihatnya lelaki itu tidak bisa menghentikan tawanya.


Yafet memegang tangan Hazal yang sedang memukul dadanya, "Tunggu... kau bilang, pria itu bernama Kenan Fallay?"


"Ya, temannya memanggilnya begitu," jawab Hazal dengan wajah polosnya. Yafet menekuk salah satu kakinya di atas lutut, dan menyangga samping kepalanya dengan tangan kanannya yang ia letakkan di sandaran kursi Hazal. Ia tampak sedang berpikir.


"Kurasa ini ada kesalahan," gumam Yafet yang segera memanggil salah satu managernya dengan ponselnya. "Berikan aku daftar para tamu sekarang !!"


Beberapa menit kemudian, manager itu membawa beberapa kertas yang berisi daftar semua tamu undangan. "Apa kita mengundang seseorang yang bernama Kenan Fallay?" tanya Yafet kepada managernya. Manager itu mencari nama Fallay di setiap halaman, tetapi ia tidak menemukannya.


Yafet mengangkat kedua alisnya sambil berkata, "Kurasa ada penyusup di pesta ini. Segera cari tahu siapa Kenan Fallay itu?" perintah Yafet kepada managernya. Segera managernya itu kembali ke tempatnya semula.


"Kau tak perlu mencarinya karena aku tidak ingin bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu," ucap Hazal yang segera berdiri dan hendak melangkah menjauhi tempat duduknya.


Tetapi Yafet menghentikan langkahnya, dan malah mengajak Hazal untuk berdansa di atas panggung. Hazal terlihat ragu mengikuti ajakan Yafet. "Tidak ada yang mengira jika kita ini adalah sepasang kekasih, tenangkan dirimu," ucap Yafet yang menggandeng tangan Hazal dan mengajak wanita muda itu naik ke atas panggung.


Yafet melepaskan pegangan tangannya dari tangan Hazal dan mengambil sebuah microphone yang ada di pinggir panggung. Hazal menggenggam kedua telapak tangannya dengan erat, dia sangat gugup malam ini.


"Selamat malam kepada semua hadirin sekalian. Malam ini, aku dan adikku akan memberikan sebuah pertunjukkan dansa untuk kalian semua. Pertunjukan ini sebagai hadiah untuk ayah kami, Emir Aksal yang telah mendirikan perusahaan ini, mari kita berikan tepuk tangan untuk ayahku," seru Yafet yang berbicara di atas panggung. Tepuk tangan yang sangat meriah membahana di dalam ruang pesta.


Yafet memesan sebuah lagu romantis untuk mengiringi dansanya dengan Hazal. Sepasang kekasih ini akhirnya memulai gerakan dansa mereka yang tiba-tiba tanpa persiapan. Ratusan pasang mata memandang aksi mereka di atas panggung, termasuk orang tua mereka. Tepat seperti dugaan Yafet, semua orang di sana hanya menganggap pertunjukannya ini adalah pertunjukkan kakak beradik Aksal. Para tamu pun berhamburan naik ke atas panggung untuk ikut berdansa dengan anak-anak Aksal.


Emir Aksal terlihat tersenyum bahagia karena kejutan yang di berikan oleh kedua anaknya, ia merasa bahwa dirinya sudah berhasil menjadi seorang ayah yang hebat karena melihat kekompakan dan kebersamaan Yafet dan Hazal. Ia tidak menyadari bahwa ini hanyalah sandiwara yang dimainkan oleh anak-anaknya.


Tetapi tidak dengan Meral Aksal, wanita paruh baya itu mengerti dan memahami perasaan mereka. Kedua anak nya bisa membohongi semua orang termasuk suaminya, tetapi tidak untuk dirinya. Sebuah senyuman mengembang di paras cantik wanita itu, manik matanya bersinar melihat kedua anaknya yang sedang berdansa di atas panggung. Ia berharap kebahagiaan ini tidak pernah hilang di tengah-tengah keluarganya.


Baik Meral maupun Emir sama-sama terlihat senang dengan pikirannya masing-masing, tetapi tidak dengan pelayan palsu yang terus menerus memperhatikan Yafet dan Hazal dari kejauhan.

__ADS_1


"Yafet, lihatlah ayah dan ibu sedang melihat ke arah kita," bisik Hazal dengan penuh getaran. Telapak tangannya terasa dingin dan tubuhnya sedikit gemetar. Ia benar-benar gugup sekarang.


"Aku takkan mencium mu di sini, kita hanya berdansa saja. Jadi tenangkan dirimu, atau nanti seisi ruangan ini akan mengetahui hubungan kita," bisik Yafet di tengah alunan musik yang mengalun dengan indah.


"Kau sudah merencanakan semua ini?" tanya Hazal yang mengalungkan kedua lengannya di leher Yafet. Tangan Yafet menyentuh pinggang ramping Hazal.


"Aku hanya ingin mengulang momen pesta dansa ini saat pesta ulang tahunmu dulu, ketika pertama kalinya kita bertemu lagi, apa kau masih ingat?" tanya Yafet yang menatap wajah Hazal dengan tatapan sendunya. Setiap wanita yang melihat tatapan matanya saat ini, pasti akan meleleh hatinya.


Hazal menundukkan wajahnya, kemudian ia berkata, " Aku takkan pernah melupakan malam itu, malam di mana seorang pria mencium bibirku untuk pertama kalinya." Ia mengangkat wajahnya dan menatap sepasang mata elang itu dengan sangat dalam. Mereka pun saling menatap dan tersenyum dalam diam, menahan diri mereka untuk tidak saling mencium.


Pesta ulang tahun perusahaan Aksal sudah berakhir, banyak tamu yang sudah mulai keluar dari ruang pesta. Beberapa saat kemudian, seluruh keluarga Aksal hendak pulang ke rumah mereka. Tetapi Yafet yang masih sibuk menjamu rekan bisnisnya, terpaksa tinggal sebentar di ruang pesta tersebut.


"Kau pulanglah dulu bersama ayah dan ibu," kata Yafet kepada Hazal di ujung pintu keluar.


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah," ucap Hazal yang segera berpisah dengan Yafet.


Pelayan palsu yang sejak tadi berdiri dekat pintu toilet terus memperhatikan gerak-gerik Yafet. Dari kejauhan ia melihat Yafet yang sedang berbicara sambil berdiri dengan rekan bisnisnya. Ia mengambil ponsel miliknya, dan mengirimkan pesan singkat kepada seseorang.


Tak terasa tiga puluh menit Yafet membahas masalah bisnis dengan rekan bisnisnya, mereka pun saling berpamitan. Yafet yang mulai merasa kehausan, segera berjalan mencari segelas minuman. Dari kejauhan ia melihat pelayan palsu itu sedang membawa segelas minuman dingin, Yafet segera memanggil pelayan palsu tersebut.


Tanpa curiga sedikitpun, Yafet mengambil minuman itu dan meneguk minuman dingin tersebut sampai habis. Kemudian ia memberikan gelas kosongnya kepada pelayan palsu dan berjalan menuju pintu keluar. Pelayan palsu itu melepas masker penutup wajahnya, dan tersenyum sinis penuh kemenangan di belakang punggung Yafet.


"Ternyata tidak sesulit yang aku kira, betapa mudahnya membawa Yafet masuk ke dalam permainanku malam ini," ucap pelayan palsu itu dalam hati. Kemudian ia menutup kembali masker wajahnya dan mengikuti Yafet dari belakang.


Langkah kaki Yafet terasa berat ketika ia hendak melangkah ke tempat parkir mobil. Kepalanya terasa berat dan pusing. Ia mencoba menggelengkan kepalanya untuk menahan rasa kantuknya. Makin lama pandangannya semakin buram dan menjadi gelap. Ia pun terjatuh di tempat parkir mobil dan tergeletak di lantai dekat mobilnya.


Mobil itu berhenti di sebuah hotel kecil di pinggiran kota Istanbul. Mereka menurunkan Yafet, memapahnya masuk ke dalam sebuah kamar dan membaringkan tubuh Yafet di atas kasur.


Ternyata di kamar itu ada seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan mereka, wanita itu berdiri dan menghampiri pelayan palsu dan berkata, "Saatnya kau beraksi, Selina. Kami sudah menyiapkan semuanya."


"Ini bayaran untuk kalian semua, tinggalkan kami berdua. Aku akan menikmati malam yang dingin ini bersama dengannya," ujar Selina yang melepas masker di wajahnya.


"Kau benar-benar sangat cerdik, Selina. Aku senang bekerja sama denganmu," ucap wanita itu kemudian ia mencium sebuah amplop pemberian Selina. Kedua wanita itupun berpamitan dan saling mencium pipi mereka. Wanita itu mengajak kedua orang laki-laki yang bersamanya untuk segera meninggalkan kamar Selina.


Di rumah keluarga Aksal....


Hazal yang sejak tadi sudah sampai di rumah, terlihat mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia keluar dari kamarnya dan melihat ke lantai bawah. Yafet belum juga pulang ke rumah. Ia mencoba menghubungi ponsel Yafet tapi tetap saja Yafet tidak menjawab panggilannya.


Angkat ponselmu sayang... Sekarang hampir pukul sebelas malam. Apa mungkin kau membicarakan bisnis hingga tengah malam?


Hazal masih terus mencoba menghubungi ponsel Yafet sambil berkacak pinggang.


Sayang, kenapa kau membuatku sangat khawatir malam ini. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padamu? Tidak...tidak...aku tidak boleh berpikiran buruk seperti ini. Mungkin dia memang benar-benar sibuk.


Di hotel kecil di pinggiran kota Istanbul....

__ADS_1


Selina segera menutup pintu dan mengunci kamar hotelnya. Dilihatnya Yafet tertidur dengan sangat lelap di atas tempat tidurnya. Ia mengambil ponsel Yafet yang ada disaku celana pria itu dan mengubah mode panggilannya menjadi senyap.


Wanita itu tersenyum puas melihat sepasang kamera tersembunyi di kamarnya. Ia berjalan ke kamar mandi, melepas seragam pelayannya dan mandi. Setelah membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai pakaian tidur yang sangat seksi berwarna kulit, terlihat jelas setiap lekukan tubuhnya yang indah.


Ia menghampiri Yafet di tempat tidur, mengusap rambut dan wajah tampan mantan kekasihnya itu.


Seandainya waktu itu kau tidak mempermalukan ku di kampus, aku tidak akan berbuat seperti ini. Aku benar-benar mencintaimu dan sangat menginginkanmu, sayang. Setelah malam ini berakhir, tidak ada seorang wanita pun yang bisa memilikimu, karena kau hanya milikku. Milik Selina Howard.


Selina mencium bibir Yafet kemudian melepas pakaian Yafet. Diusapnya dada bidang dan perut seksi Yafet. Ia merebahkan kepalanya di dada bidang mantan kekasihnya itu.


Tubuh kekar mu masih sama seperti dulu sewaktu kita bercinta beberapa tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah melupakan setiap malam sewaktu kita bersama, setiap sentuhan dan ciumanmu, sayang. Jangan salahkan aku jika aku berbuat seperti ini. Kau yang sejak awal membuatku merasa bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang kau cintai... dan kau tidak bisa membuang ku begitu saja !! Apa yang sudah menjadi milikku, akan selamanya menjadi milikku. Kau dengar itu, Yafet Aksal?


Kemudian Selina bangkit dari tempat tidurnya, mengarahkan sepasang kamera itu ke tempat tidurnya dan mulai menyalakan kedua kamera tersebut. Segera ia kembali berada di samping tubuh Yafet, menciumi wajah dan leher Yafet kemudian melakukan sesuatu pada pria itu.


Di rumah keluarga Aksal....


Plukk !!! Suara kalung Hazal terlepas dari lehernya dan jatuh ke lantai. Kalung itu adalah kalung pemberian Yafet beberapa tahun yang lalu sewaktu mereka berpisah di bandara New York. Liontin nya yang berbentuk hati itu tiba-tiba terlepas dari rantainya.


Hazal yang sejak tadi berdiri sambil memegang ponselnya sangat terkejut melihat kalungnya terlepas. Ia memungut kalung itu di lantai. Ia mengamati rantai kalungnya, "Kenapa tiba-tiba pengaitnya bisa putus?" gumam Hazal yang menggenggam kalung tersebut. Kemudian ia mengambil liontin yang berbentuk hati itu yang berada tidak jauh dari kakinya dan melihat liontin tersebut patah menjadi dua.


Hazal sangat terkejut, melihat liontin miliknya sudah tidak utuh lagi.


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kalung dan liontin ini rusak, di saat aku sedang mencemaskan Yafet?


Tanpa disadarinya, air matanya keluar membasahi kedua pipinya. Dadanya terasa sangat sesak malam ini.


Ia kembali mencoba menghubungi ponsel Yafet, tetapi tidak ada jawaban. Kumohon Yafet, angkat ponselmu... Jangan membuatku cemas seperti ini.


Kemudian ia keluar dari kamarnya, berjalan menuju ke kamar Yafet. Dibukanya pintu kamar tersebut, tidak ada seorangpun di sana. Ia menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Suasana di lantai bawah sedikit gelap dan sepi, karena semua orang sudah tertidur. Hazal memasuki setiap ruangan di lantai bawah, kecuali kamar orang tua angkatnya. Hasilnya nihil, Yafet tidak ada di rumah. Kemudian ia membuka pintu garasi yang ada di samping rumahnya, tidak terlihat mobil Yafet di sana.


"Aku bisa gila memikirkan mu yang tidak pulang walau hanya satu malam saja !! Yafet di mana kau? Tidak biasanya kau tidak memberi kabar padaku. Awas saja jika kau pulang, aku akan mendiamkan mu selama tiga hari !!" teriak Hazal di depan layar ponselnya.


Ia memegang keningnya, kepalanya terasa berputar-putar. Segera ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novel ku ini... Jangan lupa kasih tip Yaa buat Author berupa...


🤗Like


🤗Rate bintang lima


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian ya...

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🤗


__ADS_2