
Halo para pembaca setia 🔥 Dangerous Love ❤️
Hari ini aku mau buat voting untuk masa up di novel ku ini, karena banyak yang ingin crazy up. Tapi karena kendalanya di waktu, yang ngetik bukan robot 😂 Jadi aku kasih dua opsi ini, silahkan kalian pilih...
Untuk novel Dangerous Love ini, kalian ingin aku up...
A. Setiap hari, dengan up 1-2 bab (seperti biasa)
B. Seminggu dua kali, dengan up 3-5 bab
Di mohon partisipasinya untuk memberikan voting untuk semua pembaca, baik yang sering aktif komentar ataupun yang gak pernah komentar 🤭 isi voting nya di kolom komentar ya. Mau opsi A atau opsi B. Tidak ada opsi lain ya 😂
Aku akan ambil suara terbanyak dari voting kalian. Kalau gak ada yang isi voting, aku akan up seperti biasa 😁
Aku sangat mencintai novel ini, karena itu aku sangat menghargai dan mengharapkan dukungan dari kalian 😘 Terimakasih buat partisipasi dan dukungan nya 🙏 Yuk lanjut baca ....
🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥
Hazal yang panik karena tiba-tiba Mert memutuskan sambungan ponselnya segera mengajak Yafet untuk pergi ke rumah Harun. Mereka berdua lari menuju ke tempat parkir mobil. Yafet segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Ayo, Yafet! Cepat! Mert pasti dalam bahaya!" seru Hazal. Jangan-jangan Harun telah...," ucap Hazal dengan nada suara dan raut wajah yang cemas. Ia tidak bisa membayangkan Mert dibunuh oleh Harun.
Kumohon.....
Ia duduk di dalam mobil dengan gelisah. Melihat ke depan dan ke samping jendela, terkadang ia melihat speedometer mobil Yafet.
"Cepatlah...! Bisakah kau menyetir lebih cepat?" Hazal sudah tidak sabar melihat jarum merah itu sudah mencapai angka 100 untuk perjalanan di dalam kota.
"Duduk dan tenanglah! Atau kita berdua akan mendapat masalah dari polisi lalu lintas!" seru Yafet yang memundurkan persneling mobilnya dan menginjak kembali pedal gas nya.
Mobil sportnya melaju dengan kencang menuju ke rumah Harun. Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan rumah rubah tua itu. Ada beberapa orang penjaga yang berjaga-jaga di halaman depan.
Penjaga itu bukan seperti petugas keamanan biasa tapi lebih mirip bodyguard. Dalam cahaya malam, kedua anak Aksal itu hanya bisa melihat postur tubuh kelima orang itu yang sama-sama tegap dan kekar.
Yafet segeramematikan lampu sorot mobilnya agar kelima penjaga itu tidak curiga.
"Aku akan mencoba meneleponnya sekali lagi." Hazal segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Mert.
Hazal menggelengkan kepalanya, "Dia tidak menjawab ponselnya."
Putri angkat Emir itu semakin cemas, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghembuskan napasnya. Ia mencoba menghubungi Mert kembali. Sementara Yafet duduk santai di belakang setir kemudinya sambil mengamati para penjaga itu.
"Ayo Mert...! Angkat ponselmu! Angkat...!" teriak Hazal di dalam mobil. Ia semakin tidak sabar.
Aku tidak bisa berdiam di sini, aku harus melakukan sesuatu.
Hazal hendak membuka pintu mobilnya, tetapi tangannya di tahan oleh Yafet.
"Kau mau apa?" tanya Yafet yang masih memegang tangan Hazal. Ia memicingkan matanya menatap wajah Hazal, berharap agar wanita itu tidak melakukan hal yang nekat.
"Tentu saja aku mau menyelamatkannya, aku yang mengirimnya ke tempat ini! Jika dia dalam bahaya, itu sudah menjadi tanggung jawabku!" seru Hazal dengan nada tegasnya. Ia hendak menggeser tubuhnya ke pintu mobil.
"Itu sudah menjadi resiko nya." Yafet menatap tajam manik mata Hazal. Ia semakin menahan tangan adik angkatnya itu.
"Apa kau bilang? Bisa-bisanya kau bersikap egois dan kejam seperti itu!" balas Hazal dengan tatapan yang tak kalah tajam dari pria yang ada di sampingnya. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yafet.
"Jika kau masuk untuk menyelamatkan atau menemuinya, maka semua rencana mu akan hancur! Jangan gunakan perasaanmu! Gunakan logika dan akal sehatmu!" seru Yafet yang masih tidak melepaskan tangan Hazal dari genggaman tangannya.
"Justru karena akal sehatku masih berjalan, aku mau menolong nya!" teriak Hazal dengan manik matanya yang berkaca-kaca.
Dengan mata yang memerah, Hazal menatap tajam manik mata pria itu. Tatapan mata mereka saling beradu dalam ketajaman. Raut wajah mereka saling beradu dalam kemarahan. Hanya saling mempertahankan ego mereka masing-masing. Siapa yang pantas di selamatkan di sini?
Hazal tampak kecewa melihat sikap Yafet, yang seolah-olah ingin mengorbankan Mert saat ini. Tapi di sisi lain, Yafet bersikap demikian hanya untuk melindungi Hazal.
Tanpa di duga oleh Yafet, Hazal mendorong tubuhnya ke belakang hingga terpojok di pintu mobil. Dengan cepat Hazal menghentakkan tangannya ke bawah, membuat genggaman tangannya terlepas. Segera wanita itu membuka pintu mobil, dan diam-diam berlari bersembunyi di balik pohon.
__ADS_1
"Hazal...!" pekik Yafet yang melihat Hazal sudah keluar dari mobil dengan cepat.
Jangan sayang, kumohon jangan berbuat nekat...
Putra Emir itu segera menyusul keluar dari mobil dengan cara mengendap-endap. Ia mencoba mencari Hazal di dalam cahaya yang temaram. Beruntung pakaian Hazal berwarna putih, jadi dia bisa menemukan wanita itu yang masih berdiri di bawah pohon.
Yafet yang masih berdiri di samping mobilnya, melihat bahwa penjaga rumah itu sedang duduk santai di pos mereka. Ia segera berjalan mendekati Hazal.
"Ikut aku...!" seru Yafet sambil berbisik. Ia menutup mulut Hazal dengan tangannya agar wanita itu tidak menjerit. Manik mata Hazal hampir melotot melihat tingkah laku Yafet.
Yafet segera menggandeng tangan Hazal untuk mengitari rumah Harun yang berbentuk hook. Rumah yang berada persis di tikungan jalan, membentuk huruf L.
Kini mereka sudah berada di bagian belakang rumah Harun. Di hadapan mereka tampak sebuah dinding berwarna putih yang tingginya sekitar dua meter lebih dan sebuah pintu besi berwarna hijau. Satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam.
"Tunggu aku di sini! Aku akan masuk ke dalam, melihat keadaan Mert!" seru Yafet pelan. Ia terpaksa mengikuti kemauan Hazal untuk masuk ke dalam rumah Harun, daripada ia melihat wanita itu dalam bahaya.
Hazal hanya menganggukkan kepalanya sambil terkejut melihat sikap Yafet yang berubah.
"Jika dalam sepuluh menit, aku tidak keluar. Segera kau hubungi polisi!" perintah Yafet sambil memeluk Hazal kemudian meninggalkan wanita itu sendirian di jalan raya.
Yafet segera berjalan mendekati pintu besi berwarna hijau itu, ia mencoba mendorongnya. Tetapi sayang, pintu itu terkunci dari dalam. Satu-satunya cara untuk masuk ke rumah Harun adalah dengan memanjat dinding tinggi berwarna putih itu. Dilihatnya ada sebuah gerobak sampah yang tergeletak di samping rumah Harun.
Hazal berinisiatif membantu Yafet dengan cara mendorong gerobak sampah itu hingga berada di depan dinding. Kini kakak angkatnya itu sedang bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk berlari dari jarak jauh, melompat ke dalam gerobak, kemudian Hazal menekan pegangan gerobak itu ke arah bawah. Membuat tubuh Yafet terlempar ke atas.
Kedua tangan kekar itu segera menggapai permukaan atas dinding. Setengah kepalanya terlihat di atas dinding itu. Ia mengamati keadaan di bawah sana. Tidak ada penjaga di halaman belakang.
Dimana Mert?
Yafet menaikkan salah satu kakinya ke atas, kemudian kaki berikutnya. Sekarang ia tinggal melompat untuk masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba ponsel Hazal berbunyi, segera ia menjawab ponsel itu. Terdengar suara Mert dari balik ponselnya.
"Apa kau tertangkap?" tanya Hazal dengan raut wajah yang khawatir. Ia berjalan mondar-mandir di jalanan yang sepi.
"Maaf, tadi ada pelayan senior memanggilku. Jadi aku langsung mematikan ponsel ku," jawab Mert yang masih berbisik.
"Ada apa, Hazal?" Mert juga tampak kebingungan. Ia berdiri dari posisi duduknya.
"Yafet ada di... dalam rumah Harun. Ia tadi i...ingin melihat ke...keadaanmu," ucap Hazal sambil terbata-bata.
"Apa?" Mert sangat terkejut mendengar perkataan Hazal.
"Baiklah aku akan mencari Yafet dan menolongnya keluar dari sini.". Mert segera menutup ponselnya.
Yafet yang berhasil turun segera melangkahkan kakinya untuk menyusuri kolam renang. Beruntung pakaian yang ia kenakan berwarna hitam, jadi dia sedikit tidak terlihat di malam yang gelap itu.
Ia segera bersembunyi di balik pilar, ketika ada seorang pelayan yang keluar dari sebuah pintu. Pelayan itu berjalan menuju ke pintu belakang yang berwarna hijau. Sepertinya ia sedang memeriksa kunci pintu tersebut.
Pelayan itu kemudian masuk kembali ke dalam pintu yang menghubungkan antara kolam renang dan rumah Harun. Yafet segera berjalan masuk melalui pintu yang di gunakan oleh pelayan tadi.
Sementara itu di luar, Hazal sedang cemas memikirkan nasib Yafet. Ia berjalan mondar-mandir kesana kemari sambil menggigit bawah bibirnya.
Apa yang harus aku lakukan? Jika aku menelepon nya, suara ponselnya akan mengacaukan semuanya. Aku harus bagaimana?
Yafet berjalan melewati dapur. Seseorang menarik tangannya ke belakang untuk menjauhi dapur.
"Kau...!" pekik Yafet pelan setelah ia mengetahui bahwa ternyata Mert yang menarik tangannya. Hampir saja ia melayangkan tinjunya pada pemuda itu.
"Ternyata kau baik-baik saja!" seru Yafet dengan matanya yang sedikit melotot dan suaranya yang berbisik setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan Mert.
"Maafkan aku. Aku telah membuat kalian cemas. Hazal sudah memberitahuku. Aku akan menolong mu keluar dari rumah ini," bisik Mert dengan rasa bersalahnya.
"Baiklah, aku akan memaafkan mu kali ini! Cepat bawa aku keluar dari sini!" bisik Yafet dengan wajah dinginnya.
Mert segera berjalan di depan Yafet. Mereka mengendap-endap bak seorang pencuri di dalam rumah Harun. Kini mereka telah berhasil melewati ruang makan.
__ADS_1
"Tunggu di sini! Aku akan melihat apakah Harun ada di ruang keluarga atau tidak." Tanpa menunggu jawaban dari Yafet, ia segera berjalan menuju ruang keluarga.
Dilihatnya pintu ruangan itu tertutup. Pintu itu terbuat dari kayu dengan bagian tengahnya terbuat dari kaca es. Ia menundukkan kepala dan tubuhnya untuk mengintip dari kaca yang tampak buram. Tidak ada sosok bayangan seseorang di dalam ruangan itu.
Mert segera memberikan kode kepada Yafet untuk berjalan. Putra Emir itu segera menghampiri pemuda itu. Mereka berdua kini berada di ruang tamu.
"Tunggu...! Kau akan membawa ku ke luar halaman?" Yafet mendadak menarik tangan Mert untuk berhenti.
"Ya. Itu jalan satu-satunya kau keluar dari sini," jawab Mert sambil merogoh ponselnya di saku celananya.
"Oh shitt!" umpat Yafet.
"Kenapa kau tidak membawaku ke belakang rumah? Di depan banyak penjaga, kau ingin membuatku tertangkap?" protes Yafet dengan raut wajahnya yang tampak kesal.
Sungguh Yafet sangat menyesal telah masuk ke dalam rumah Harun demi melihat keadaan pemuda ini, yang nyatanya dia baik-baik saja. Kini dirinya yang sedang dalam bahaya.
"Di belakang tidak ada jalan untuk memanjat, kau tidak bisa naik ke dinding yang tinggi itu. Satu-satunya cara, kau harus melewati penjaga itu. Jangan sampai ketahuan," ucap Mert sambil tersenyum tipis melihat kegusaran Yafet.
Dilihatnya beberapa tongkat golf itu ada di dalam lubang sebuah guci. Yafet mengambil salah satu tongkat golf itu, ingin rasanya ia memukul kepala Mert untuk membuatnya diam.
"Kau sama saja menyuruhku melawan para penjaga itu! Lain kali aku tidak akan menolongmu lagi!" geram Yafet yang mengarahkan kepalan tangannya ke depan wajah Mert.
Pintu ruang tamu pun terbuka. Mereka berdua segera menundukkan tubuh mereka di belakang sofa panjang. Di dalam ruang tamu yang besar itu terdapat tiga buah sofa panjang dan dua buah sofa tunggal yang di pisahkan dengan sebuah meja kecil. Semua sofa itu tidak menempel di dinding, melainkan di letakkan di tengah-tengah ruangan dan saling berhadapan.
"Bagaimana?" Terdengar suara Harun yang berada di dekat pintu masuk. Ia membuka pintu itu dan masuk ke ruang tamu.
Pria paruh baya itu sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Suara langkah kakinya terdengar sangat mengintimidasi dua orang laki-laki yang sedang bersembunyi di belakang salah satu sofa.
"Cepat kabari aku secepatnya. Jangan buat aku menunggu!" seru Harun yang langsung menutup ponselnya.
Rubah tua itu berjalan beberapa langkah kemudian dia berhenti di tengah-tengah ruangan. Ia seperti sedang mengamati sesuatu. Sorot matanya berhenti di sebuah guci yang ada di sudut ruangan. Di dalam guci itu terdapat tongkat golf koleksinya.
"Bukankah seharusnya tongkat itu berjumlah ganjil? Kenapa sekarang menjadi genap?" gumamnya. Suaranya terdengar jelas di telinga Yafet dan Mert.
Ia hendak menghampiri tongkat golf nya, berjalan perlahan-lahan. Jarak antara guci itu dengan sofa hanya satu meter lebih. Harun sudah berada di depan guci nya. Sedikit saja ia membalikkan badannya, ia bisa melihat kedua pemuda itu yang sedang meringkuk di belakang sofa.
Harun mencoba menghitungnya ulang, tetapi sepertinya ia sedikit lupa berapa sebenarnya jumlah tongkat golf miliknya. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa membalikkan badannya.
Yafet dan Mert segera bernapas lega, setelah melihat Harun yang sudah masuk ke dalam. Sebelum mereka keluar, Mert mengirim sebuah pesan untuk Hazal agar wanita itu menunggu Yafet di dalam mobil.
"Aku hanya mengantarmu sampai sini, kau bisa bersembunyi di balik pohon-pohon itu. Berjalanlah lurus, setelah itu kau harus memanjat pagar untuk keluar," jelas Mert.
Yafet segera keluar sambil membawa tongkat golf milik Harun. Ia berjalan mengikuti petunjuk Mert, mengendap-endap di tengah gelapnya malam. Berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Hingga ia berhasil melewati beberapa penjaga. Tetapi tiba-tiba....
"Hei...! Berhenti...!" seru salah satu penjaga yang melihat Yafet yang akan memanjat pagar rumah.
Dengan cepat kelima penjaga itu segera mengepung Yafet di halaman depan. Putra Emir itu mengayun-ayunkan tongkat golfnya seperti sedang bermain marching band.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari kelima penjaga itu kepada Yafet.
"Sudah jangan bertanya, hajar dia!" seru salah satu penjaga yang tubuhnya paling besar.
Terjadilah perkelahian tak seimbang. Satu lawan lima. Mereka mengeroyok Yafet, tetapi putra Emir itu menghajar mereka dengan tongkat golfnya. Ujung tongkat besi itu mengenai tulang wajah mereka. Ia mengayunkan tongkat itu ke arah dagu mereka bagaikan sebuah bola golf yang akan ia gelindingkan untuk masuk ke lubangnya.
Kelima penjaga itu mengalami luka wajah yang sangat parah. Yafet segera mengusap pegangan tongkat itu dengan pakaiannya untuk menghilangkan sidik jarinya, kemudian di lemparkan tongkat itu jauh-jauh hingga jatuh di daerah tanaman merambat. Ia segera menaiki pagar rumah Harun.
Hazal yang sudah ada di dalam mobil, segera menyalakan mesin mobilnya ketika ia melihat Yafet sedang memanjat pagar besi tersebut. Matanya sibuk mengawasi perkelahian keenam orang itu dari dalam jendela mobil.
Salah satu dari kelima penjaga itu bangkit berdiri dan menarik salah satu kaki Yafet, tetapi dengan sekuat tenaga putra Emir itu menendang kembali wajah penjaga itu. Tendangannya tepat mengenai biji mata pria itu.
Yafet segera melangkahkan kakinya ke sisi pagar besi yang ada di luar, kemudian ia melompat ke arah jalan. Semua para penjaga itu kini sudah bangkit berdiri dan hendak membuka pintu pagar itu.
Yafet segera masuk ke dalam mobil. Dengan cepat Hazal segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Harun. Tampak para penjaga itu berteriak memaki-maki Yafet.
🔥 Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya. Terimakasih 🙏