DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Takdir Mempertemukan Mereka


__ADS_3

Dua hari setelah perayaan ulang tahun perusahaan Aksal, Yafet meminta rekaman CCTV dimana ia datang ke hotel kecil itu. Seperti perkataan petugas hotel, dirinya di bawa oleh dua orang pria dan seorang pelayan wanita yang berasal dari hotelnya. Sebenarnya dalam hatinya ada sebuah perasaan curiga dan berjuta pertanyaan, kenapa mereka tidak mengantarkan dirinya ke rumah keluarga Aksal atau seharusnya mereka membaringkan dirinya di kamar hotel AKSAL? Bukan di hotel kecil itu.


Tetapi karena tidak ada barang miliknya yang hilang, tidak ada bekas penganiyaan atau jejak wanita lain maka Yafet dan Hazal melupakan kejadian itu. Mereka melewati setiap hari-hari mereka seperti biasanya.


Setelah melewati beberapa pekan, kini Hazal sudah menjadi seorang jaksa muda. Sebelumnya dia selalu mengikuti Jaksa Kepala keluar masuk ruang sidang yang satu ke ruang sidang yang lain, dan sudah dua minggu ini Hazal di percaya untuk memasuki ruang sidang sebagai seorang jaksa tunggal.


Kian lama, nama Hazal sudah mulai di kenal di kalangan penegak hukum. Singa betina yang cantik, begitulah julukan Hazal di kalangan para penegak hukum. Seorang wanita muda yang lembut dan cantik, akan berubah menjadi seekor singa betina yang buas jika ia bertarung dengan lawannya di dalam ruang sidang. Setiap ucapannya yang menyudutkan para terdakwa di kursi pesakitan, bagaikan sebuah auman induk singa yang kehilangan anaknya.


Hari ini Hazal keluar dari ruang sidangnya dengan senyum bahagia, ia berhasil memenangkan sebuah kasus pidananya untuk yang kesekian kalinya. Sebuah tepukan tangan menyambutnya di lorong gedung Pengadilan. Jaksa Kepala memberikan ucapan selamat atas kemenangannya kali ini. Hazal tertawa dalam hatinya, melihat Jaksa Kepala yang mengucapkan selamat kepadanya tanpa ekspresi di wajahnya. Wajah tanpa ekspresi, begitulah julukan Hazal untuk atasannya itu.


"Smith dan Jaksa Senior mu di New York tidak salah merekomendasikan dirimu, Jaksa Hazal," ucap Jaksa Kepala yang berdiri tepat di hadapannya.


"Anda terlalu memuji, Jaksa Kepala," kata Hazal yang merendah. "Semua ini juga berkat bimbingan anda."


Mereka berdua pun duduk di salah satu kursi kosong yang ada di lorong gedung Pengadilan. Jaksa Kepala memberikan suatu berkas kepada Hazal. Di atas berkas itu tertulis Kasus Kematian Keluarga Danner. Status Open. Hazal menerima berkas itu.


"Jaksa Hazal, waktu dua puluh tahun kasus kematian orang tuamu sudah semakin dekat. Tinggal satu bulan lagi, jika kau masih belum berhasil menemukan pembunuh itu, maka pembunuh orang tuamu akan bebas untuk selama-lamanya. Baik kau, aku, atau siapapun juga tidak akan bisa membuka kembali kasus ini," kata Jaksa Kepala yang mencoba mengingatkan Hazal. Jaksa Kepala sudah mengetahui tragedi yang menimpa orang tua kandung Hazal.


Hazal menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan oleh Jaksa Kepala itu benar. Selama ini dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan kehidupannya sendiri. Ia hampir lupa untuk mencari keberadaan Ted Baxter, entah berada di mana pembunuh itu sekarang.


"Ya, anda benar Jaksa Kepala. Tapi sampai saat ini aku tidak tahu keberadaan pembunuh itu di mana. Aku tidak tahu lagi harus memulai semua ini dari mana," kata Hazal yang mengangkat kedua pundaknya dan ekspresi wajahnya yang hampir putus asa.


"Kulihat beberapa hari terakhir ini kau sangat sibuk menangani berbagai kasus, dan aku cukup bangga dengan prestasimu. Baiklah, mulai besok aku akan memberimu hari libur selama satu Minggu, kau bisa memfokuskan dirimu untuk mencari pembunuh orang tuamu," ucap Jaksa Kepala yang memberikan selembar surat cuti kepada Hazal. "Anggap saja ini hadiah atas keberhasilanmu, dan jika kau bantuan ku, jangan sungkan untuk memberitahuku," kata Jaksa Kepala yang kemudian pergi meninggalkan Hazal seorang diri.


Tak lama setelah kepergian Jaksa Kepala, Hazal melepas baju sidangnya dan pergi meninggalkan gedung Pengadilan. Selama dalam perjalanan, perkataan Jaksa Kepala terus terngiang-ngiang di telinganya. Hampir saja mobil yang dikendarainya menabrak seorang penjual makanan yang sedang menyeberang. Ia segera menginjak pedal rem mobilnya kuat-kuat. Terlihat penjual makanan itu marah dan mengumpat ke arah mobil Hazal. Ia segera menghentikan mobilnya di dekat trotoar dan melihat dari kaca spionnya bahwa penjual makanan itu baik-baik saja. Hazal segera menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kemudinya dan menghembuskan nafasnya.


Hampir saja...aku menabrak orang itu...


Setelah pikirannya mulai tenang, ia kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.


Di malam hari, Hazal sedang berdiri di atas balkon kamarnya dengan memakai piyama tidurnya dan sebuah mantel yang ia kalungkan di lehernya. Ia tidak bisa tidur malam ini. Pikirannya terus melayang-layang memikirkan bagaimana caranya ia menemukan Ted Baxter.


Kata orang...dunia itu seluas daun kelor, dunia itu sempit. Mungkin peribahasa itu salah dan tidak sesuai untukku. Buktinya sampai hari ini aku tidak bisa menemukan Ted Baxter, ternyata dunia ini cukup luas...


Ia menatap bintang-bintang di langit, manik matanya tertuju pada kedua bintang yang paling bersinar di malam hari ini. Sinar kedua bintang itu seakan memberikan kekuatan di dalam diri Hazal.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, terdengar suara langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Hazal


"Apa yang kau lakukan di sini, sayang?" tanya Yafet yang memeluk tubuh Hazal dari belakang dan mencium rambut panjang kekasihnya. Aroma wangi buah tercium di hidung Yafet.


"Aku sedang menatap kedua bintang yang besar itu," jawab Hazal yang memegang lengan Yafet yang melingkar di pinggangnya dan menyandarkan dirinya di dada pria itu.


"Kau sedang merindukan orang tuamu?" tanya Yafet yang kemudian melepaskan pelukannya dari Hazal dan membalikkan tubuh kekasihnya itu untuk menghadap ke dirinya.


Hazal hanya menganggukkan kepalanya, nampak di wajahnya sebuah guratan kesedihan. " Aku hanya punya waktu satu bulan untuk mencari keberadaan Ted Baxter. Jika aku tidak berhasil, maka hukum dan Pengadilan Turki akan menutup kasus ini untuk selama-lamanya."

__ADS_1


"Lalu Ted Baxter?" tanya Yafet mengernyitkan dahinya, karena ia kurang mengerti soal hukum.


"Ia akan bebas untuk selama-lamanya," jawab Hazal dengan manik matanya yang berkaca-kaca.


Yafet segera memeluk Hazal, ia sangat terkejut mendengar perkataan Hazal. Ia baru mengerti tentang hal itu. "Aku akan menolong mu mencari keberadaan Ted Baxter, aku tidak ingin usaha kita selama ini sia-sia. Kau ingin kita memulai dari mana?"


Hazal menegakkan tubuhnya di dalam pelukan Yafet, "Aku tidak tahu, aku bingung saat ini..."


"Bagaimana kalau besok, kita ke makam orang tuamu. Sejak kau pulang ke Turki, kulihat kau belum mengunjungi mereka," usul Yafet.


"Ya, kau benar. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri," kata Hazal yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Sudah larut malam, tidurlah," ucap Yafet yang mengajak Hazal untuk naik ke atas tempat tidurnya dan menutupi tubuh kekasihnya itu dengan selimut yang berwarna merah.


Hazal menarik selimutnya sampai ke batas lehernya, kemudian ia menatap lembut wajah Yafet dan memegang pipi kekasihnya itu yang telah duduk di sampingnya, "Kau juga kembalilah ke kamarmu dan tidurlah."


Diciumnya punggung tangan Hazal yang menyentuh wajahnya, sementara tangannya yang lain mengusap kening dan puncak kepala Hazal, "Tidurlah, aku akan tetap di sini menunggumu sampai kau tertidur. Setelah itu aku akan keluar."


"Baiklah, bye...bye...," kata Hazal sambil mencubit dan menggoyang-goyangkan hidung mancung Yafet.


"Anak nakal, lekas lah tidur." Yafet tertawa melihat senyum dan keisengan Hazal di malam ini.


Kelopak mata Hazal sudah tertutup, tetapi Yafet tidak beranjak dari ranjang Hazal. Ia terus memandangi wajah cantik kekasihnya yang sedang tertidur lelap hingga kemudian ia tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Perlahan ia berdiri dan meninggalkan kamar Hazal.


Keesokan harinya....


Kedua mata laki-laki itu terlihat sembab dan wajahnya penuh dengan kesedihan, saat ini ia telah benar-benar kehilangan kedua orangtuanya. Beberapa tahun yang lalu, ayahnya meninggal karena sakit kritis, dan kemarin ia baru saja kehilangan ibunya dengan cara yang sama. Meskipun ia punya banyak uang, tetapi ia tidak bisa membeli dan mengembalikan nyawa kedua orangtuanya.


Sebelum ibunya menghembuskan nafasnya yang terakhir, ibunya berpesan untuk menguburkan jenazahnya di samping pusara suaminya. Meskipun sangat sulit untuk mengabulkan permintaan terakhir ibunya, akhirnya laki-laki ini pun memutuskan untuk pulang kembali ke Turki setelah beberapa tahun lamanya menghilang bagai di telan bumi. Laki-laki ini berhasil masuk ke Turki tanpa rintangan apapun dari petugas bandara, karena dia menggunakan passport palsu dan mengubah sedikit penampilannya.


Saat ini, laki-laki ini dan rombongannya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pemakaman.


Di rumah keluarga Aksal....


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Yafet dan Hazal tengah bersiap-siap untuk pergi ke tempat pemakaman orang tua Hazal. Yafet segera menyiapkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Mereka berdua pun berpamitan kepada Emir dan Meral.


Yafet menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, siap membelah lalu lintas kota Istanbul. Di tengah jalan, Yafet menurunkan kecepatan mobilnya, terlihat beberapa mobil berbaris di depannya. Sebuah kemacetan yang panjang terjadi di pagi ini.


"Ada apa di depan?" tanya Yafet kepada Hazal sambil menyalakan CD player di mobilnya.


"Entahlah, sepertinya ada kecelakaan," sahut Hazal sambil membuka kaca jendelanya dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi di depan.


Perjalanan mereka terpaksa terhambat, mobil Yafet terjebak di tengah-tengah, ia tidak bisa putar balik dan tidak bisa mencari jalan alternatif menuju ke pemakaman. Di sepanjang jalan itu, juga ada sebuah mobil Van berwarna hitam yang sedang membawa peti mati dan rombongan dari bandara. Mereka sama-sama terjebak macet.


Dari kaca spion mobil yang ada di dekat tempat duduknya, Hazal melihat sebuah mobil Van hitam tepat berada di belakang mobilnya. Sekilas ia melihat seorang pria yang duduk di sebelah kursi kemudi. Pria itu memakai topi bisbol hitam, tidak terlalu jelas wajahnya, karena pandangan Hazal terhalang oleh sinar matahari. Perasaan Hazal tiba-tiba tidak tenang, seperti sesuatu akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


Hazal memijat keningnya dan menyandarkan kepalanya di dekat kaca jendela. Yafet yang melihat hal itu, segera menggenggam telapak tangan Hazal, " Ada apa, apa kau sakit? Jika kau sakit, kita bisa pulang kembali ke rumah."


Hazal mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Yafet dan berkata sambil tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya terlalu merindukan ayah dan ibuku saja."


Yafet mengalungkan salah satu tangannya ke pundak Hazal dan membawa tubuh kekasihnya itu mendekat kepadanya. Beberapa puluh detik kemudian, mobil mereka kembali berjalan. Hazal membetulkan letak tangan Yafet agar kembali memegang setir kemudi. Perjalanan mereka pun kembali lancar.


Satu jam kemudian, mereka sampai di pemakaman umum kota Istanbul, Turki. Cuaca pagi ini cukup dingin, hembusan angin terasa menusuk hingga ke tulang. Sinar matahari tidak cukup menghangatkan dinginnya udara pagi ini. Yafet mengambil dua buah jaket yang ada di belakang mobilnya, dan memasangkannya di tubuh Hazal dan di tubuhnya sendiri.


Hari ini tempat pemakaman tidak terlalu ramai pengunjung, jumlah pengunjung bisa di hitung dalam hitungan jari. Hazal membeli sekeranjang bunga untuk di tabur di makam orang tuanya. Mereka berdua berjalan menyusuri pusara demi pusara.


Sampailah mereka berdua berada di depan dua pusara kembar. Dua buah batu nisan yang ukurannya cukup besar berdiri tegak di depan mereka, bertuliskan ERKAN DANNER dan AYLA DANNER. Hari ini pertama kalinya Yafet mengunjungi makam kedua orang tua Hazal. Ia menggenggam erat telapak tangan Hazal.


"Aku jadi teringat masa kecil kita. Sewaktu aku meneriaki mu untuk kau pergi menyusul ayah dan ibumu. Hari ini aku baru mengerti, bahwa perkataan ku itu pasti sangat menyakitkan bagimu," ucap Yafet sambil memandang langit yang tampak mulai mendung.


Hazal menyentuh pundak Yafet dengan lembut, kini kedua mata elang itu memandang sepasang manik mata coklat yang terus menatapnya dengan lembut dan guratan senyum simpul tergambar di wajah Hazal. Seakan mengartikan bahwa Hazal telah memaafkan kesalahannya di masa kecil.


Secara bergantian mereka menabur bunga di atas kedua pusara itu. Hazal tidak dapat lagi menahan air matanya yang tumpah membanjiri wajahnya.


"Ayah...ibu...aku sangat merindukan kalian, maafkan putrimu ini yang baru saja mengunjungi kalian. Umurku sekarang sudah dua puluh empat tahun, ayah. Kata ibu Meral, wajahku mirip dengan wajah ibu Ayla. Wanita yang sangat kau cintai. Tidakkah kau ingin melihat putri kecilmu ini, ayah?" Hazal mengusap air matanya, isak tangisnya semakin menjadi. Yafet mengusap punggung kekasihnya itu untuk menenangkan hati Hazal. Pria itu juga tak kuasa menahan air matanya yang ikut mengalir mendengar perkataan Hazal.


"Saat ini aku sudah menjadi seorang jaksa. Aku tidak tahu apakah ini impian kalian atau tidak. Tapi satu alasan yang membuatku ingin menjadi seorang jaksa adalah agar aku bisa menghukum pembunuh kalian. Ibu... bantu aku, ku mohon bantu aku untuk menemukan pembunuh mu. Agar pengorbanan mu tidak sia-sia, ibu." Isak tangis Hazal membuat kata-kata yang ia ucapkan tidak terdengar jelas. Tubuh dan mulutnya bergetar, kedua tangannya memegang batu nisan Ayla Danner.


"Maafkan aku... maafkan putrimu yang tidak berguna ini, yang belum bisa membuat kalian bangga kepadaku. Maafkan aku...," ucap Hazal yang tidak mampu meneruskan perkataanya. Air matanya jatuh mengenai rumput-rumput yang ada di bawahnya. Yafet memapah Hazal untuk berdiri dan memeluk kekasihnya untuk menangis di pundaknya. Isak tangis Hazal pun pecah di pagi hari ini.


Beberapa menit pun berlalu, Hazal yang sudah mulai agak tenang, mengusap kedua matanya yang masih basah. Yafet yang masih memeluk Hazal berkata," Ayah... ibu... ini aku Yafet Aksal, anak dari Emir Aksal. Pria yang sangat mencintai putri kalian. Maafkan aku yang baru mengunjungi kalian. Di depan batu nisan ini, aku meminta restu kalian untuk melindungi dan menjaga Hazal seumur hidupku."


"Kau menyebut apa? Ayah ibu?" tanya Hazal yang berdiri di depan Yafet.


"Ya, mulai hari ini, aku sudah menganggap Paman Erkan dan Bibi Ayla adalah ayah dan ibuku, karena mereka telah melahirkan seorang putri yang cantik dan luar biasa seperti dirimu," jawab Yafet sambil memegang kedua pipi Hazal dan memandang sepasang manik mata coklat itu dengan penuh rasa cinta.


Hazal mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya, dilihatnya di seberang pusara orang tuanya, sekitar sepuluh meter jaraknya. Ia melihat seorang laki-laki yang berjaket kulit dan bertopi bisbol hitam.


Pria itu....


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa kasih tip buat Author ya... Tip nya bisa berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian yah

__ADS_1


Terimakasih 🤗 selamat membaca


__ADS_2