
Lima tahun kemudian.....
Semua hal di dunia ini bisa berubah seiring dengan perjalanan waktu, tidak ada satupun yang kekal dan abadi di dunia ini.
Sejak munculnya berita tentang Ted Baxter di berbagai media beberapa tahun yang lalu, hingga kini pihak kepolisian Turki dan FBI masih belum berhasil menangkap laki-laki tersebut. Smith sudah hampir putus asa mencari pembunuh itu. "Belum pernah aku berhadapan dengan penjahat seperti dia, semakin kita mencari, maka dia semakin sulit ditemukan !!" ucapnya pada Yafet beberapa waktu yang lalu.
Beberapa tahun belakangan ini, selain mencari keberadaan Ted Baxter, Yafet telah menduduki posisi tertinggi di perusahaan jaringan hotel milik keluarganya menggantikan ayahnya. Putra Emir Aksal ini telah mengembangkan jaringan bisnis hotelnya hingga ke luar negeri. Jika dirinya sedang ada pekerjaan di luar negeri, maka dia akan mencuri waktu untuk mengunjungi Hazal di New York tanpa sepengetahuan orang tuanya. Usianya yang hampir mendekati kepala tiga, belum menikah, dengan wajah yang semakin tampan membuat dia banyak di dekati oleh gadis-gadis cantik dari kalangan atas maupun kalangan biasa yang mengira dirinya belum mempunyai kekasih.
Ayah dan ibunya juga selalu menanyakan kekasih anaknya itu, kedua orangtuanya sedikit khawatir apakah putranya itu adalah pria yang normal, karena sejak anaknya itu kembali dari New York mereka belum pernah melihat Yafet menggandeng seorang gadis manapun.
"Apa kau ingin Ayah dan Ibumu mengenalkan mu pada seorang gadis?" Pertanyaan yang sering di ajukan oleh ayah dan ibunya di meja makan.
"Jika saatnya sudah tepat, aku akan mengenalkan kekasihku pada kalian," jawaban yang selalu diberikan Yafet kepada orang tuanya.
Ayah dan Ibunya hanya mendengus kesal, setiap kali Yafet memberikan jawaban seperti itu. Bukan hanya satu dua kali, tetapi sudah lima tahun, Yafet belum juga memperkenalkan kekasihnya kepada mereka. "Apakah kekasihnya itu seorang pria, sehingga ia belum memperkenalkannya pada kita?" Pertanyaan gila yang terlintas dalam pikiran Emir dan Meral.
Lima tahun yang lalu, setelah satu Minggu di rawat di rumah sakit, dokter memperbolehkan Ali Baxter untuk pulang ke rumahnya. Demi keselamatan Nuran dan Ali, Yafet mempekerjakan mereka di rumahnya dan tinggal di kediaman keluarga Aksal. Sejak lima tahun ini, Nuran tidak pernah berkomunikasi lagi dengan suami dan ibu mertuanya.
Awal musim dingin di tahun ini, hujan salju belum turun di Turki. Sebuah pesawat Turkey Airlines yang membawa penumpang dari New York mendarat sempurna di Bandara Internasional Ataturk, Turki. Sang mentari itu tampak malu-malu untuk mengeluarkan sinarnya.
Seorang wanita muda dengan menggunakan mantel tebal berwarna hitam dan sepatu boot nya setinggi lutut tampak menuruni anak tangga pesawat. Ia mengenakan kacamata hitamnya, rambut panjangnya yang berwarna coklat di biarkannya tergerai kemudian ia berjalan mengambil koper miliknya di ruang bagasi. Setelah melewati berbagai pemerikasaan di bandara, wanita muda itupun melangkah menuju ke ruang kedatangan. Tujuh tahun yang lalu, ia berada di tempat ini sebagai seorang gadis yang baru saja lulus sekolah dan ingin mengejar mimpinya menjadi seorang penegak hukum di New York.
Hari ini impiannya telah tercapai, bukan hanya menjadi seorang jaksa tapi dia juga berhasil mengantongi ijazah seorang akuntan publik. Wanita muda itu berjalan dengan penuh percaya diri, usianya sudah memasuki dua puluh empat tahun. Usia yang sudah siap untuk membina kehidupan rumah tangga. Satu hal yang diinginkannya hari ini, yaitu bertemu dengan kekasihnya yang sudah tujuh tahun dicintainya.
"Hazal...!!" Sebuah teriakan memanggil namanya. Wanita muda itu mencari seseorang yang memanggil namanya. Mata cokelatnya beradu dengan mata elang yang berdiri di depannya, jarak mereka sekitar lima meter jauhnya. Seorang pria tampan dengan perawakannya yang tinggi dan atletis berdiri di hadapannya. Sebuah senyuman yang paling manis mengembang di kedua bibir mereka, hati mereka saling bergelora, memendam kerinduan yang begitu lama.
Sepasang anak muda yang sedang di mabuk cinta ini saling berlari berlawanan kemudian mereka saling berpelukan. Tidak ada hari yang indah selain hari ini, "Akhirnya kita bisa bertemu, aku sangat merindukanmu," ucap Hazal yang masih dalam pelukan Yafet. Di usapnya bulu-bulu halus yang tumbuh di wajah kekasihnya itu. Mata elang itu selalu menatap lembut wajahnya, manik mata yang selalu di rindukannya siang dan malam.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang," ucap Yafet yang mencium bibir dan kening Hazal. Memandang wajah Hazal begitu lama, dia benar-benar sangat merindukan wajah cantik kekasihnya. Setiap pahatan terpahat sempurna di wajah Hazal. Tak terasa gadisnya itu sekarang telah menjadi seorang wanita dewasa. Kedua tangannya memasuki leher belakang Hazal, ia kembali mencium bibir merah itu.
Hazal segera melepaskan ciuman mereka. "Ayo kita pulang, aku tidak sabar bertemu dengan ayah dan ibu, aku juga merindukan tempat tidurku," ujar Hazal yang segera mengapit lengan Yafet. Mereka pun keluar dari bandara dan menuju ke tempat parkir mobil.
Yafet menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil mereka saling membicarakan keadaan di rumah. Tanpa terasa, mereka sudah memasuki halaman rumah keluarga Aksal yang luas. Hazal segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Kebiasaannya sejak kecil selalu memanggil ayah dan ibunya begitu dirinya telah sampai di rumah.
"Ayah...Ibu...aku pulang," teriak Hazal dengan nada cerianya.
Emir dan Meral yang sejak tadi berada di dalam kamar, terkejut mendengar suara seseorang yang sudah lama menghilang dari rumahnya. "Apa telingaku tidak sedang bermasalah? Bukankah itu suara Hazal?" tanya Emir yang berada di samping Meral. Kedua orang tua itu turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar mereka.
Suami istri Aksal ini sangat terkejut begitu melihat putri angkat mereka sudah berdiri di depan. "Hazal...!!" ucap Meral seakan tak percaya. Hazal segera memeluk orang tua angkatnya. "Ayah... Ibu, aku sangat merindukan kalian."
"Kenapa kau tidak memberitahu kami, bahwa kau akan pulang hari ini? Kami akan menjemputmu. Apa kau pulang sendiri?" tanya Emir yang memegang wajah Hazal, memperhatikan apakah putrinya itu baik-baik saja.
"Ada seseorang yang menjemput ku, Ayah," jawab Hazal yang memandang wajah Yafet.
"Yafet?" tanya kedua orang tua angkatnya tak percaya. Sejak kapan putranya itu menjadi seorang yang spesial buat Hazal. Kedua anak muda itu hanya bisa tersenyum melihat ekspresi wajah orang tua mereka.
"Kau benar-benar melupakan Ayah. Kau hanya memberitahu kakakmu saja tentang kedatangan mu," ucap Emir dengan wajah cemberutnya. Melihat ekspresi wajah Emir, membuat anak dan istrinya tidak bisa menahan tawa mereka. Seakan-akan pria paruh baya itu cemburu karena kekasih nya lebih memilih pria lain.
__ADS_1
"Oh Ayah... aku tidak pernah melupakan mu. Aku hanya ingin membuat kejutan untuk kalian." Hazal mengeluarkan dua buah kotak dari dalam kopernya dan memberikannya kepada ayah dan ibunya. Hazal meminta mereka membuka kotak tersebut.
Emir membuka kotak di tangannya. Sebuah penjepit dasi yang terbuat dari emas murni, dengan ukiran bertuliskan My Daddy di penjepit itu.
"Ini untuk Ayah?" tanya Emir dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Hazal mengangguk sambil tersenyum.
"Ini untuk Ayahku yang selalu melindungi ku, yang selalu mengajariku banyak hal, pria pertama dalam hidupku yang mengajariku apa itu cinta dan kasih sayang sebuah keluarga," ucap Hazal sambil menghampiri Emir dan mengusap air mata Emir yang keluar dari pelupuk matanya. Emir memeluk erat putrinya itu.
"Kau benar-benar menganggap ku sebagai ayahmu, nak?" tanya Emir yang hampir tidak bisa menahan tangis harunya.
"Selamanya kau adalah ayahku, meskipun Ayah bukanlah ayah kandungku."
Meral dan Yafet terharu melihat pemandangan yang ada di depan mereka. "Ibu, kau belum membuka kotak mu," ucap Yafet yang melirik sebuah kotak yang masih tertutup di tangan ibunya.
Ketiga orang itu melihat isi kotak yang ada di tangan Meral. Sebuah kalung mutiara yang indah, dengan liontin berbentuk seorang ibu yang menggendong bayinya. Dengan ukiran yang bertuliskan My Mommy. Meral tak kuasa menahan tangisnya, begitu ia melihat liontin itu.
"Seharusnya kalung ini kau berikan untuk Ayla," ucap Meral dengan isak tangisnya. Hazal kembali memeluk ibu angkatnya itu.
"Tak peduli, aku lahir dari rahim siapa. Tapi ibulah yang telah membesarkan ku, yang telah memberikan kasih sayang untukku," ucap Hazal dengan matanya yang memerah.
"Terimakasih Ayah...Ibu...kalian telah memberikanku sebuah keluarga yang lengkap seperti ini."
"Hei, kau tidak mengucapkan terimakasih untukku?" goda Yafet. Secara spontan Hazal langsung mengapit lengan Yafet dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Aku sangat-sangat berterimakasih padamu, karena kau sudah melakukan gencatan senjata pada ku beberapa tahun yang lalu." Hazal tersenyum penuh arti ke arah Yafet.
Setelah selesai memberikan hadiah untuk kedua orang tuanya, Hazal berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Sementara Yafet mengikutinya dari belakang dan memegang tangan Hazal ketika gadis itu hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Hush.... pelan kan suaramu. Semua orang akan mendengar perkataan mu," ucap Hazal berbisik. Gadis itu melihat sekelilingnya, tidak ada seorang pun di dekat kamarnya termasuk para pelayan. Dengan cepat ia menarik tangan Yafet untuk masuk ke dalam kamarnya, membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau cemburu... karena aku memberikan hadiah untuk ayah dan ibu?" tanya Hazal yang berdiri di depan Yafet. Pria di hadapannya itu tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum sambil memeluk Hazal.
"Hadiahku sudah ada di sini, yaitu dirimu." Yafet segera ******* habis bibir merah Hazal, begitu juga dengan Hazal yang membalas ciuman Yafet. Gadis itu sangat merindukan dan menikmati permainan bibir kekasihnya. Ciuman itu semakin lama semakin panas, membuat mereka tidak ingin saling melepaskan. Sentuhan demi sentuhan membangkitkan hormon mereka. Bibir Yafet telah turun menjelajahi setiap leher jenjang Hazal. Sebuah hasrat untuk melakukan lebih, tetapi tiba-tiba bayangan Emir dan Meral terlintas dalam pikiran mereka. Yafet dan Hazal segera membuka matanya dan menyudahi ciuman mereka. Hazal mendorong sedikit tubuh Yafet.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan hal lebih jauh kepadamu," ucap Yafet.
"Aku juga tidak bisa, bayangan ayah dan ibu selalu muncul di pikiranku," ucap Hazal yang menggelengkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kau juga mengalami hal yang sama?" Yafet menurunkan tangan Hazal, hingga ia bisa melihat wajah kekasihnya.
"Maksudmu... bayangan ayah dan ibu juga muncul di pikiran mu?" tanya Hazal dengan mengernyitkan dahinya.
"Ya."
"Aku akan merasa sangat bersalah, jika mereka tahu bahwa kita saling mencintai."
"Bersabarlah... tak lama lagi, semua ini akan segera berakhir kemudian aku akan berbicara dengan ayah dan ibu." Yafet kembali memeluk tubuh Hazal dan mengusap punggung kekasihnya kemudian Hazal teringat oleh sesuatu.
"Tunggulah di sini, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Segera Hazal membuka kopernya. Ia mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan memberikannya kepada Yafet.
__ADS_1
"Bukalah...," pinta Hazal.
Sebuah arloji pria, dengan merk terkenal keluaran edisi terbaru ada di dalam kotak itu. Yafet hanya bisa memandangi arloji yang ada tangannya dan memandang Hazal tanpa bersuara.
"Kau tidak menyukainya?" tanya Hazal yang sedikit kecewa.
"Aku sangat menyukai hadiah mu ini. Ini adalah arloji yang sudah lama aku incar, tetapi barang ini belum masuk ke Turki, dan kau sekarang membawanya untukku. Terimakasih sayang."
Hazal tersenyum manis mendengar perkataan Yafet dan segera memasangkan arloji itu di pergelangan tangan kekasihnya.
"Sempurna...," ucap Hazal yang mengalungkan kedua tangannya di leher Yafet. Hidung mancung mereka saling bersentuhan.
"Aku mencintaimu, sayang."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Sebelum berangkat ke kantor, Yafet mengajak Hazal untuk turun ke lantai bawah. Ia ingin mengenalkan Hazal pada seseorang. Tak sengaja, Meral yang ada di meja makan melihat Yafet menuruni anak tangga sambil menggandeng tangan Hazal.
"Apa aku telah kehilangan berita tentang mereka? Mereka menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Tidak... tidak... ini tidak seperti yang aku bayangkan. Mereka hanya sebatas kakak beradik saja." Meral bergelut dengan pikirannya sendiri.
Yafet dan Hazal sudah ada di lantai bawah, mereka menyapa Meral yang ada di ruang makan. Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke dapur. Meral mengikuti mereka dari belakang, kali ini gandengan tangan mereka telah terlepas.
"Mau kemana mereka?" Meral mengikuti mereka sambil mengendap-endap. Kemudian ia bersembunyi di samping lemari es yang tingginya lebih tinggi darinya. Yafet dan Hazal sudah berada di dapur.
Yafet memanggil Nuran yang sedang membersihkan sayuran. Wanita itupun menoleh ke arah Yafet dan Hazal.
"Kemarilah, aku akan mengenalkan mu pada seseorang." Nuran meninggalkan pekerjaannya dan berjalan mendekati Yafet dan Hazal.
Yafet memperkenalkan Nuran kepada Hazal. "Dia adalah istri Ted Baxter." Hazal mengulurkan tangannya kepada Nuran.
"Hai, nama ku Hazal. Aku adiknya Yafet." Terdengar cukup aneh bagi Hazal, dia memperkenalkan dirinya sebagai adik Yafet.
"Aku dengar dari Yafet, kau telah membantu kami. Terimakasih Nuran," kata Hazal sambil memegang tangan Nuran.
"Nama ku Nuran, senang berkenalan denganmu nona Hazal," ucap Nuran sambil tersenyum memandang wajah Hazal. Ia memperhatikan wajah gadis itu, tidak ada kemiripan dengan wajah Tuan Emir dan Nyonya Meral. Tapi segera ia melupakan hal ini. Kemudian Yafet menyuruhnya kembali bekerja dan para pelayan yang sudah bekerja lama menyambut kedatangan Hazal.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ku ini 🙏 Jangan lupa kasih...
🤗Like
🤗Rate
🤗Komentar dan
__ADS_1
🤗Vote kalian
Buat novel ku ini ya 🙏 Terimakasih readers 😘