DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Kuncup Bunga Mawar


__ADS_3

Hazal menyesap kopi buatannya sambil berdiri memandang langit yang sudah tampak merah kekuningan. Perlahan-lahan cahaya merah itu meredup kian menit berganti kegelapan. Ia sudah menghabiskan dua cangkir kopi untuk hari ini.


Jaksa muda itu kembali ke meja kerjanya dan mulai menyusun dakwaannya, bukti-bukti kejahatan Harun dan menyiapkan para saksi. Ia berharap bisa memenangkan kasus ini di sidang pertama nya.


Hari sudah mulai gelap, seberkas cahaya bulan purnama tampak menyorot ke gedung tinggi tersebut. Suara ponsel Hazal berdering, ia melihat nama Yafet tertera di sana.


"Halo," sapa Hazal sambil mengapit ponselnya diantara telinga dan bahunya.


"Bagaimana kerja mu hari ini?" tanya Yafet yang seharusnya ia bisa menanyakan hal itu di rumah.


"Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah," jawab Hazal yang masih menyusun materi sidangnya.


"Apa kau sudah selesai?" Yafet mulai mengambil jas hitamnya dan mengenakannya.


"Mungkin tiga puluh menit lagi. Ada apa?" Hazal mencorat-coret lembaran kertasnya.


"Aku akan menjemputmu," ucap Yafet yang sudah keluar dari ruangannya.


"Aku bawa mobil sendiri," tolak Hazal yang meletakkan penanya di atas meja.


"Aku tidak ingin kau pulang sendiri." Yafet berjalan memasuki lift yang ada di lantai lima belas.


"Tidak akan ada yang terjadi, percayalah! Tidak ada yang perlu kau khawatirkan!" seru Hazal sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.


"Oke. Aku akan menunggumu." Yafet mematikan ponselnya ketika lift itu terbuka di lantai lobi.


Putra Emir itu segera menuju ke halaman lobi untuk mengendarai mobil sportnya. Ia tidak pulang ke rumah, kendaraan roda empat itu berbelok ke sebuah kafe yang terletak di depan kantor Hazal. Ia menunggu wanita itu hingga keluar dari gedung dan akan mengikuti nya dari belakang.


Waktu tiga puluh menit sejak Yafet menghubungi Hazal sudah berlalu, pria itu mengarahkan pandangannya ke gedung tua yang tinggi.


Hazal meregangkan otot-otot tubuhnya di kursi. Ia menyimpan materi sidangnya ke lemari kabinet dan menguncinya. Dilihatnya jam tangannya yang sudah hampir mendekati pukul tujuh malam. Ia mematikan lampu ruangannya sebelum ia keluar.

__ADS_1


Lorong-lorong gedung itu tampak suram dengan cahaya lampu kuning yang remang-remang dan ukiran khas Kerajaan Ottoman. Pintu-pintu ruangan sudah tertutup. Para Jaksa itu sudah pulang sejak tadi. Hanya terdengar ketukan suara sepatu high heels milik Hazal malam ini.


Hazal menenteng blazer hitamnya dan menjinjing tas kerjanya. Kini ia sudah berada di halaman luar. Kendaraan yang tersisa hanya mobilnya sendiri. Ia mulai menjalankan mobilnya keluar dari gedung.


Untuk mengatasi kesunyiannya, Hazal menyalakan CD player nya. Sebuah lagu romantis terdengar mengalun indah. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang malam ini.


Yafet sedang menikmati kopi Turkinya, ketika ia melihat tidak ada mobil yang terparkir di gedung itu. Otot wajahnya seakan menegang, hampir saja cairan hitam itu membuatnya tersedak. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan bergegas lari masuk ke dalam mobil.


Mobil sport itu memasuki halaman depan Gedung Kejaksaan, seperti penglihatannya tadi, tidak ada satu mobil pun di sana. Ia segera keluar dari gedung dan menyusul Hazal pulang ke rumah.


Di dalam mobil Yafet mengusap wajahnya berulang kali, entah kenapa sejak tadi siang perasaannya tidak enak. Seperti ada sebuah ganjalan atau sesuatu akan terjadi. Ia menepuk setir kemudinya berulangkali.


Apa tentang Hazal? Sepertinya mungkin.


Yafet menepis pikiran negatifnya.


Tidak mungkin, Harun sudah di penjara. Seharusnya Hazal aman sekarang.


Tanpa Hazal sadari, sebuah truk besar baru saja muncul dari arah belakang. Manik mata Hazal seketika menyipit ketika melihat cahaya lampu sorot dan bunyi sebuah klakson yang terdengar berat.


Kenapa sopir itu tidak menurunkan kecepatannya?


Truk itu bergerak cepat, semakin mendekati mobil Hazal. Wanita itu melihat sorot lampu itu membesar dari kaca spionnya. Seketika kepanikan dan kengerian melanda seluruh tubuh Hazal. Dalam hitungan detik sesuatu bisa saja terjadi.


"Oh my God... Tidak...!" teriak Hazal dengan histeris.


Truk itu telah menghantam mobil Hazal dan menghimpitnya dengan mobil yang ada di depannya. Kedua mobil itu terseret hingga beberapa meter. Mobil Hazal hancur menjadi sebuah lempengan besi tak berbentuk. Sopir truk itu tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu dari kaca spionnya.


Tabrakan itu membuat tangki bensin mobil Hazal bocor, tanpa menunggu lama sebuah ledakan terjadi dengan keras. Api itu segera menjalar dengan cepat ke mobil lain yang ada di depan. Bunyi ledakan kedua terjadi menghanguskan semua yang ada di dalam. Kobaran api itu menerangi suasana gelap di sepanjang jalan.


Para pengemudi yang melintasi jalan itu segera berhenti dan melihat apa yang terjadi. Yafet yang baru saja memasuki jalan raya itu tampak gelisah. Hatinya semakin tidak tenang ketika ia melihat kerumunan orang-orang dan beberapa kendaraan yang berhenti. Ia melewati kerumunan massa itu, dan melihat dua mobil yang terbakar. Api masih menyala.

__ADS_1


Sepasang mata elang itu tampak berkaca-kaca melihat kedua mobil yang sudah hangus terbakar. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hazal. Tetapi tidak ada nada panggilan apapun. Hatinya semakin tidak tenang setelah ia tidak berhasil menghubungi Hazal.


Yafet memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia keluar dari mobilnya, dan berjalan menghampiri salah satu mobil yang terbakar itu.


Jangan sampai terjadi. Ku harap ini bukan mobil Hazal.


Langkah kaki Yafet berhenti ketika alas sepatunya menginjak sesuatu. Manik matanya menatap sebuah benda yang sangat ia kenal. Ia mengambil sebuah gantungan mobil yang berbentuk kuncup bunga mawar yang terbuat dari besi berlapis emas. Lelehan air matanya menetes seketika.


"Hazal...!" teriak Yafet sambil mendekati rangka besi tersebut.


"Tidak... ini tidak mungkin!" raung Yafet sambil memegang kepalanya. Ia melihat betapa hancurnya mobil itu, pikiran orang normal pun pasti mengatakan bahwa tidak ada yang selamat di dalam mobil tersebut.


Yafet melihat sekelilingnya, pandangannya tampak berputar melihat kengerian yang sudah terjadi. Tampak beberapa mobil dengan bunyi sirinenya mendekati lokasi. Manik matanya terhenti pada sekumpulan massa yang sedang berkumpul di tepi jalan. Ia berlari mendekati kumpulan itu dan berharap sebuah keajaiban akan terjadi.


Putra Emir itu menerobos masuk ke tengah-tengah massa. Ia melihat sosok wanita berambut panjang memakai pakaian gelap tengah tergeletak di sana. Ia ingin menghampiri wanita itu, tapi di cegah oleh beberapa orang.


"Minggir! Jangan halangi aku!" seru Yafet dengan suaranya yang berat.


Orang-orang yang mencegah Yafet itu akhirnya minggir dan memberi jalan kepada laki-laki itu. Yafet segera mendekati wanita itu, ia berjongkok dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah tersebut.


"Haz...." suara Yafet tercekat di tenggorokan ketika ia melihat wajah wanita yang dicintainya tergeletak.


"Apa Anda kenal dengan wanita ini?" tanya seseorang di sana.


"Ya, aku akan segera membawanya ke rumah sakit!" seru Yafet yang langsung mengangkat tubuh Hazal dan memasukkannya ke dalam mobil.


Mobil sport hitam itu melaju dengan kencang. Pria itu tidak peduli peraturan rambu-rambu lalulintas, yang ia tahu dirinya harus segera menolong Hazal.


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2