DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Hadiah Kelulusan


__ADS_3

Tak terasa dua minggu sudah berlalu, Yafet dan ketiga temannya saat ini sedang berada di salah satu club' malam yang terkenal di New York.


Bunyi hentakan musik dari seorang DJ dan suasana lampu yang ber kelap kelip mengiringi pesta mereka. Ke empat pria itu sedang berpesta menikmati hasil kelulusan studi mereka di Columbia University.


Seorang waiters membawakan empat botol Vodka ukuran medium kepada mereka.


"Mari kita minum sepuasnya, mau berapa ronde?" tanya David kepada teman-teman nya.


"Berikan botol Vodka itu, aku akan menghabiskannya." seru Yafet kepada David.


Diambilnya botol minuman itu dari tangan David, dengan cepat Yafet menghabiskannya.


"Gila bro....kau benar-benar jantan." ujar David kepada teman Turkinya itu.


"Gak seru ah....kalau kita berpesta tanpa wanita. Bagaimana kalau aku panggil beberapa wanita ke sini? Aku ingin merasakan belaian dan sentuhan kehangatan mereka." seru Lee yang segera melangkah untuk memanggil beberapa wanita di club' malam tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Lee datang membawa empat wanita sekaligus, wanita yang merupakan kategori seksi menurut Lee. Pakaian wanita itu sangat terbuka di bagian dada dan bagian paha, terlihat lekukan tubuh mereka dibalik pakaian yang super ketat. Keempat wanita itu menempati tempat duduk mereka di antara para pria tersebut sambil menemani mereka minum.


Malam semakin larut, minuman yang semula hanya ada empat botol, semakin bertambah. David dan Lee sudah mulai sedikit mabuk. Kedua pria itu sudah tidak tahan lagi, melihat wanita yang ada di dekatnya, seakan mereka ingin menikmati keindahan surgawi yang ada di samping mereka. Akhirnya David dan Lee pergi meninggalkan club' malam itu beserta dengan wanita mereka menuju ke sebuah hotel.


Tinggal Yafet dan Jason yang sedang duduk di sofa saat ini. Berdua mereka sedang membicarakan masa depan masing-masing.


"Apa rencana mu setelah ini, bro?" tanya Jason kepada Yafet.


"Aku akan tinggal beberapa waktu di New York, setelah urusan ku selesai, aku akan pindah ke Istanbul, bekerja di perusahaan Ayahku. Kalau kau?"


"Aku akan tetap tinggal di New York dan membangun kehidupan ku di sini."


"Semoga kau bisa membangun hidup mu di sini dengan baik, bro." ucap Yafet memberi semangat kepada teman baiknya itu.


"Semenjak kau kembali dari Turki, kau sedikit berubah, apa sesuatu telah terjadi pada keluarga mu?"


Yafet menghela nafasnya dalam-dalam, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapan matanya memandang keatas. Mungkin benar apa yang sudah di katakan oleh Jason. Sejak ia bertemu dengan Hazal, dirinya mulai sedikit berubah.


"Hei....aku bicara padamu, bro!" protes Jason.


"Ya...kau benar. Mungkin setelah mengenal gadis itu, aku baru menyadari kalau diriku sudah mulai berubah." ucap Yafet.


"Kau sebelumnya sangat suka bermain dengan para gadis-gadis, kau mulai mengejar mereka, kemudian setelah mereka bertekuk lutut di hadapan mu, maka kau akan meninggalkan mereka. Dan kau sangat menikmati permainan itu." jelas Jason dengan memainkan gelas di tangan nya.


"Hei.....kau jangan buka dosa-dosa ku." teriak Yafet.


"I'm sorry bro...... katakan padaku apa yang membuatmu berubah?"


"Seorang gadis di Turki telah membuatku berubah, aku ingin mendapatkan nya, tapi dia hanya menganggap ku sebagai kakaknya saja."


"Oh ya ?" Jason semakin penasaran, "Siapa gadis itu?"


"Awalnya aku hanya ingin menebus kesalahan ku padanya di masa lalu, tetapi makin lama aku semakin mengaguminya. Entah....mungkin aku sudah jatuh cinta kepadanya. Dia gadis yang berbeda dari gadis yang ada di New York."


"Kapan kau akan mengenalkan nya padaku?"


"Mungkin bulan depan, dia akan ke New York dan melanjutkan studinya di sini."

__ADS_1


"Jika kau tidak ada, aku bisa mengajak nya berkencan." goda Jason.


"Brengsek kau !!!" pekik Yafet kepada Jason. Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak dan menghabiskan semua minuman yang masih tersisa di meja.


*********


Sementara itu di Istanbul, Hazal sedang menunggu pengumuman kelulusan nya di rumah. Seharusnya sudah sejak pukul 10 pagi dia sudah mendapatkan surat kelulusan dari sekolahnya. Tetapi sekarang sudah pukul 12 siang, dia belum juga menerima sepucuk surat apapun.


Gadis itu terus berjalan ke sana ke mari di dalam rumahnya. Ibu angkatnya juga ikut khawatir tentang hal itu.


"Tenanglah, sayang. Kau pasti lulus." hibur Meral yang melihat tingkah putri angkatnya.


Terdengar suara bunyi klakson dari luar. Hazal mengintip dari balik jendela ruang tamunya, rupanya ada seorang kurir yang hendak mengantarkan suatu dokumen. Gadis itu membuka pintu rumahnya, kemudian dengan cepat dia berlari keluar mengambil dokumen dari tangan kurir tersebut.


Di lihatnya amplop dokumen yang berwarna coklat itu, terdapat stempel nama sekolahnya. Di bukanya amplop tersebut, di bacanya tulisan di lembaran kertas itu.


"Ibu......aku lulus." teriak Hazal yang berlari masuk ke rumahnya dengan penuh kegirangan.


"Aku lulus, Bu.......aku lulus......lihat ini, ibu." kata Hazal memeluk ibu angkatnya dengan antusias dan menunjukkan kertas kelulusannya.


Meral yang sedari tadi sedang membaca tabolid wanita, membetulkan letak kacamata bacanya dan membaca tulisan kata LULUS tertera di selembar kertas dengan kop surat nama sekolah Hazal.


Ibu dan anak ini saling melompat dan berpelukan.


"Kita harus beritahu Ayahmu dan juga Yafet." ucap Meral kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi suami dan anaknya.


Emir yang saat ini sedang ada di kantornya, sangat gembira mendengar Hazal telah lulus. Ayah angkat Hazal ini pun mulai mencarikan Universitas terbaik untuk Hazal melalui google.


"Ibu bangga dengan kau dan Yafet, kalian bisa lulus di tahun yang sama, tetapi ibu juga pasti sedih, karena kau akan segera pergi meninggalkan ibu." seru Meral kepada Hazal.


"Ibu....aku hanya menyelesaikan studi ku di luar negeri untuk empat tahun ke depan. Aku janji setelah aku mendapat gelar sarjana, aku akan pulang kembali ke Turki." ucap Hazal dengan mata berkaca-kaca.


"Betapa senangnya aku mempunyai keluarga lengkap seperti ini, kalian sangat menyayangi ku dan menyekolahkanku sampai saat ini. Andaikan waktu itu aku tidak bertemu dengan Ayah Emir, mungkin hidup ku tidak akan seperti ini. Bagaimana aku bisa membalas kebaikan hati kalian? Ayah Emir dan Ibu Meral.....aku menyayangi kalian."


"Apakah kau jadi melanjutkan studi mu di New York? tanya Meral.


"Iya Ibu....tolong bantu aku untuk membujuk Ayah. Agar Ayah mengijinkan aku untuk kuliah di luar negeri." mohon Hazal kepada ibu angkatnya.


"Baiklah....nanti Ibu akan membantu bicara pada Ayahmu." janji Meral.


********


Malam hari nya, Hazal sedang makan malam bersama orang tua angkatnya di rumah. Emir memberikan sebuah kotak hadiah. Kotak hadiah berwarna merah marun itu seukuran genggaman tangan Hazal.


"Apa ini Ayah?"


"Bukalah....kau akan segera mengetahuinya."


Hazal membuka kotak tersebut, dilihatnya sebuah anak kunci dengan sebuah hiasan gantungan kunci sebuah replika rumah kecil dengan tulisan nama DANNER di dinding atas rumah itu.


"Maksud Ayah?" Hazal tidak mengerti arti kunci tersebut.


"Ambillah kunci itu, Hazal. Itu adalah kunci rumah WATERSIDE MANSION DANNER. Ayah sengaja tidak menjual mansion itu, agar suatu hari kelak, Ayah bisa memberikan nya kepadamu. Karena mansion itu adalah peninggalan orang tua kandungmu."

__ADS_1


Hazal beranjak dari kursi makannya dan menghampiri Emir. Dia memeluk erat ayah angkatnya itu, "Terimakasih, Ayah. Tapi masih bolehkan aku tinggal di sini?"


"Tentu saja, sayang. Rumah ini juga rumah mu. Kau tumbuh besar di sini." tutur Emir yang membelai rambut Hazal.


"Tapi Hazal.....Ayah minta maaf padamu. Hanya mansion ini yang bisa Ayah berikan kepadamu. Ayah tidak bisa menyelamatkan perusahaan Ayahmu. Perusahaan Erkan Companies sudah berpindah tangan saat ini, Fallay Companies telah mengakuisisi seluruh saham milik keluarga mu. Maafkan Ayah, nak."


"Tak apa, Ayah. Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Ayah telah memberikan hadiah yang sangat indah untukku." kembali Hazal memeluk Ayah angkatnya dan mencium pipi pria paruh baya itu.


Kemudian Hazal kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan menyantap makan malamnya.


"Ayah....aku boleh minta ijin padamu ?"


"Ya?" Emir mengangkat kepalanya menatap wajah Hazal.


"Ayah....bolehkah aku kuliah di New York?"


"New York ?" tatapan mata Emir memandang sepasang iris mata berwarna coklat di depannya.


"Iya, Ayah. Apakah Ayah akan mengijinkan ku?"


Emir tak segera memberikan jawaban atas pertanyaan Hazal. Meral yang duduk di sampingnya, melihat sikap Emir langsung memahami keadaan saat itu. Istri Emir itu memegang tangan pria yang sudah puluhan tahun mendampingi hidupnya.


"Sayang...kau tak perlu khawatir. Hazal sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Sedangkan Yafet juga sudah lulus kuliah, pasti dia akan kembali ke Turki. Kau tak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu, selama ini mereka hanya saling peduli layaknya hubungan saudara." bujuk Meral kepada suaminya.


"Apa maksud Ibu berbicara seperti itu? Apa Ayah khawatir aku punya perasaan kepada Yafet lebih dari seorang saudara? Apakah yang aku takutkan akan terjadi?" bisik Hazal di dalam lubuk hatinya.


"Apa kau yakin?" Emir memicingkan matanya kepada istrinya.


Meral keluar dari kursi tempat duduknya, kemudian dia berjalan dan memeluk suami nya dari belakang, mengusap puncak rambut suaminya. Kemudian perlahan mencium tengkuk leher dan daun telinga Emir. Tangannya mengusap dada pria nya itu dengan lembut dan menyandarkan kepalanya ke pria nya itu. Wangi aroma parfum Meral menggoda indera penciumannya. Istrinya itu telah membangunkan hasrat nya. Setengah berbisik Meral berbicara kepada suaminya.


"Ya...sayang. Aku sangat yakin. Biarkan Hazal menikmati kehidupannya di luar sana. Selama ini dia selalu berada di dekat kita. Kehidupan di luar sana, akan mampu membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dan sudah saat nya, Yafet kembali ke rumah ini, untuk meneruskan bisnis mu."


Setelah mengatakan hal itu, Meral mengedipkan satu mata nya kepada Hazal. Gadis itu tak menyangka, ibu angkatnya akan membujuk ayahnya dengan cara seperti itu. Selama hidupnya, dia belum pernah melihat ibu nya seagresif ini. Hazal membalas kedipan ibunya dengan tersenyum dan memberikan kode rahasia kepada ibunya.


"Kalian Ibu dan anak ber sengkongkol membujuk Ayah sampai seperti ini. Baiklah.....baiklah. Ayah akan mengijinkan mu untuk kuliah di New York." seru Emir kepada putrinya.


Mendengar perkataan Ayahnya, Hazal segera membaurkan dirinya ke pelukan orang tua angkatnya. "Terimakasih Ayah..... terimakasih Ibu."


"Sayang....selesai makan malam ini, kau harus bertanggung jawab karena sudah menggodaku sampai seperti ini, mari kita selesaikan di kamar." seru Emir kepada istri cantiknya itu. Mendengar perkataan Emir, kedua wanita cantik itu tertawa terbahak-bahak.


❤️ Bersambung ❤️


Halo para readers Dangerous Love 😊 setelah baca tulisan novelku ini jangan lupa kasih


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komen dan


🤗 Vote kalian ya


Terimakasih sudah setia membaca novel pertama ku ini, semoga kalian menyukainya. Saksikan kelanjutan kisah Hazal di episode selanjutnya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2