DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Aku Ingin Menua Bersama mu


__ADS_3

Yafet menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di apartemennya untuk mengobati kaki Hazal yang terkilir. Begitu mobil yang berwarna hitam itu berhenti di persimpangan jalan karena lampu lalu lintas yang menyala, Hazal mengurungkan niatnya untuk pulang.


"Yafet, aku tidak ingin pulang. Bukankah malam ini, kau ingin menghabiskan waktumu bersama dengan ku?"


"Lain kali saja ya, lihat kaki mu yang sedikit bengkak."


Hazal menggelengkan kepalanya, Yafet menatap wajah Hazal dengan sendunya, mata elang itu terlihat jinak jika melihat wajah gadisnya itu. Laki-laki itu mengusap lembut puncak kepala Hazal dengan tangannya dan tangan yang lain memegang kemudi.


"Ayolah... bukankah sebentar lagi kau akan kembali ke Turki?" cicit Hazal yang merajuk dan memeluk lengan kekasihnya itu.


"Baiklah, kau ingin pergi kemana? Bioskop? Taman hiburan? Restoran? Club' malam?"


"Aku ingin pergi ke Taman yang ada di tengah kota."


Yafet segera memutar balik mobilnya menuju ke taman yang ada di tengah kota.


Sepuluh menit kemudian, sampailah mereka di sebuah taman yang indah di tengah kota. Sebuah taman yang banyak di tanami oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi ke atas, lampu kecil berwarna-warni menyambut kedatangan mereka. Beberapa warga New York sering menghabiskan waktu malam mereka bersama dengan keluarga atau kekasih mereka di taman ini.


Yafet turun dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil yang ada di samping Hazal. Gadis itu menurunkan kakinya, tetapi tiba-tiba Yafet berjongkok dan membuka tali sepatu Hazal. "Sebaiknya kau tidak mengenakan sepatu mu dulu, karena ini akan menjadi beban untuk kakimu," kata Yafet yang meletakkan sepatu Hazal di dalam mobil.


Pria itupun kembali berdiri dan memapah tubuh Hazal untuk keluar dari mobil. Yafet membalikkan badannya dan berjongkok di depan Hazal, " Naik lah ke punggung ku, aku akan membawamu berkeliling menyusuri taman ini."


Dengan ragu Hazal menaiki punggung Yafet, ia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Setelah dirasa sudah siap, laki-laki itu pun berdiri dan menggendong Hazal di belakang punggungnya.


Yafet berjalan dengan perlahan sambil menikmati keindahan taman di malam hari, wangi pohon pinus menelisik lubang hidung mereka. Hazal menyandarkan wajahnya di leher belakang Yafet. Merasakan punggung tegap laki-laki itu, laki-laki yang sangat di cintai nya.


"Apa kau capek? Kita sudah berjalan cukup jauh," tanya Hazal di telinga Yafet.


"Aku masih kuat, bahkan jika berat badanmu sekarang bertambah 10 kilo, aku masih kuat menggendong mu."


Hazal menepuk pundak Yafet, "Dasar kau ini, jika kau capek, turunkan aku !!"


"Lihatlah di sana, ada sebuah bukit kecil yang di penuhi dengan hamparan rumput, aku akan membawamu ke tempat itu," ucap Yafet.


Sampailah mereka di hamparan rumput yang luas bagaikan berada di padang rumput yang hijau. Yafet menurunkan Hazal di sebuah bukit kecil yang ada di tengah-tengah hamparan padang rumput. "Kita sudah sampai."


"Apa kau suka tempat ini?" tanya Yafet yang memandang wajah cantik Hazal. Cahaya lampu yang berasal dari lampu warna-warni yang dililitkan di pohon pinus menemani nuansa romantis mereka malam ini.


"Aku sangat menyukainya sayang. Di manapun aku berada, asal kau ada di samping ku seperti ini, itu sudah cukup membuatku merasa bahagia," jawab Hazal yang balas menatap mata elang Yafet. Dengan jarak yang begitu dekat, Hazal baru menyadari betapa tampannya wajah kekasihnya itu.

__ADS_1


Sebuah ciuman dari bibir Yafet mendarat sempurna di bibir merah Hazal. "Kau sangat cantik malam ini, sayang."


Yafet membawa Hazal ke dalam pelukannya. "Aku sangat mencintai mu, Hazal. Aku ingin menua bersamamu. Apakah kau ingin menua bersama denganku, sayang?"


Hazal melepaskan pelukan Yafet dari dirinya. "Aku tidak ingin menua bersamamu. Umurku saja belum genap 19 tahun."


Yafet terkejut mendengar jawaban Hazal. Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Yafet. "Tapi aku ingin bersama mu sampai maut memisahkan kita."


Pria itu tersenyum salah tingkah, karena Hazal benar-benar telah menggodanya. Kemudian Yafet mengalihkan pandangannya ke atas, di baringkan nya tubuhnya di atas rumput nan hijau. Direntangkan nya salah satu lengannya untuk menjadi bantal buat Hazal. Gadis itu pun membaringkan dirinya di samping Yafet.


"Lihatlah bintang di langit itu... Apa kau bisa menghitung nya? tanya Yafet.


"Ya... aku akan menghitungnya untukmu. Satu... dua... tiga... empat...Semua nya ada delapan."


"Jawaban mu salah."


Hazal mencoba menghitungnya ulang, dan hasilnya tetap sama yaitu ada delapan bintang.


"Masih salah."


Akhirnya Hazal menyerah.


"Ada sepuluh bintang," kata Yafet yang memandang ke langit yang berwarna gelap yang ada di atasnya.


"Delapan bintang ada di langit, tetapi ada dua bintang yang selalu bersinar, tidak peduli entah hari masih siang ataupun malam. Kedua bintang itu memberikan ku sebuah cahaya dalam hidupku. Kedua bintang itu adalah kedua biji matamu," jawab Yafet yang sesekali melirik ke arah Hazal.


"Dasar gombal !!" teriak Hazal dengan tawanya, dan menggelitik pinggang Yafet sampai mereka berdua tak menyadari sudah berada di tepi bukit kecil, sedetik kemudian Yafet dan Hazal pun jatuh bergulingan saling memeluk. Pria itu melindungi kepala Hazal dengan tangannya.


Brukk !!


Mereka berdua sudah berada di hamparan rumput paling bawah, tubuh kekar Yafet berada di atas tubuh Hazal. Tangan pria itu menahan kepala Hazal agar tidak menyentuh tanah atau pun batu. Hidung mancung mereka saling bersentuhan, membuat nafas mereka saling memburu. Yafet mengusap kening Hazal dengan lembut, " Kau tak apa-apa? Apa ada yang sakit?"


"Tubuhmu menindih ku, aku tidak bisa bernafas," teriak Hazal dengan tawanya.


Segera Yafet memindahkan tubuhnya di samping gadis itu, di lihatnya seberapa jauh mereka telah terjatuh dari atas. Beruntung mereka tidak mengalami cedera.


Hazal pun bangun dan duduk di samping Yafet. Ia meluruskan kedua kakinya ke depan, di sentuhnya pergelangan kakinya, "Yafet, sepertinya kaki ku sudah sembuh. Kaki ku sudah tidak sakit lagi !!"


"Benarkah? Coba gerak-gerakkan pergelangan kaki mu."

__ADS_1


Hazal menuruti perkataan Yafet, ia memutar pergelangan kakinya, "Aku bisa melakukannya."


Yafet membantu Hazal untuk berdiri dan gadis itu bisa berdiri sendiri di atas kedua kakinya dan bisa berjalan. Hazal pun melompat kegirangan dan memeluk Yafet. Pria itu sedikit mengangkat tubuh Hazal, membuat gadis itu seakan berputar terbang melayang di udara.


"Ini keajaiban sayang, baru saja kita terjatuh, tetapi malah membuat kakimu sembuh," ujar Yafet. Hazal menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan senyuman manisnya.


"Apa kau ingin kembali ke atas?" tanya Yafet yang menunjukkan bukit kecil di atas sana.


"Aku ingin melihat bintang itu dari sini, seperti nya di sini juga sangat indah," jawab Hazal. Gadis itu berjalan dan duduk di sebuah kursi taman. Yafet mengikutinya dari belakang, dan duduk di sampingnya.


"Yafet, kau ingat malam ini adalah malam kau mengurungku di gudang. Keesokan harinya ayah dan ibu membawamu ke sekolah asrama. Apa kau tidak marah terhadap perlakuan ayah yang telah membuang mu jauh dari kehidupannya?"


Yafet mengalungkan salah satu lengannya ke pundak Hazal, dan membawa tubuh gadis itu semakin dekat padanya. "Aku rela mereka membuang ku sangat jauh, asalkan imbalannya adalah bisa menikahi putri angkat mereka."


"Kau ini, masih saja terus menggombal."


"Aku ingin menikah denganmu suatu hari nanti. Aku ingin kau menjadi istriku, pendamping hidupku, dan ibu dari anak-anakku," ucap Yafet dengan tatapan wajah seriusnya dan mencium kening Hazal. Wajah Hazal tersipu malu.


"Tapi kita harus menghadapi ayah dan ibu."


"Setelah Ted Baxter di temukan dan di penjara, aku akan segera melamar mu di hadapan ayah dan ibu."


"Kedengarannya sangat lucu ya, kau memintaku kepada ayah untuk menjadikanku istrimu, padahal kau adalah anak kandungnya. Sebutan apa yang pantas untuk mu? Seorang calon menantu atau seorang anak?" tanya Hazal. Mereka berdua tertawa memikirkan kerumitan hubungan mereka.


"Yafet, apakah cinta kita ini terlarang? Aku selalu takut, jika memikirkan bahwa ayah dan ibu tidak akan merestui hubungan kita."


"Tentu saja tidak, kita tidak ada hubungan darah sama sekali. Kau juga bukan anak haram ayah ku. Jika ayah dan ibu tidak merestui, aku akan membawamu pergi sejauh mungkin dari hidup mereka. Tidak ada nama Aksal dan Danner yang selalu mengikuti kita. Apa kau mau meninggalkan apa yang mereka berikan padamu? Dan memulai kehidupan yang baru bersama dengan ku?"


"Aku mau...Yafet. Bawa aku pergi bersama dengan mu."


Yafet menarik Hazal ke dalam pelukannya, dan bibir mereka saling bersentuhan, saling memagut dan saling *******. Cahaya delapan bintang yang ada di langit, menjadi saksi bisu cinta suci mereka.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih kalian sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Komentar dan

__ADS_1


🤗 Vote kalian yah


Makasih 😘 Ikuti kisah mereka selanjutnya di bab selanjutnya 😊


__ADS_2