DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Bidak Papan Catur Hazal Dimulai


__ADS_3

Hazal masih terduduk di atas kursi kerjanya, ia mengetuk-ngetuk penanya di atas meja. Sesekali ia menyandarkan dirinya di punggung kursi, manik matanya berputar-putar memandangi bohlam lampu yang menempel di langit-langit.


Selama beberapa bulan bekerja di perusahaan Fallay, ia jarang melihat Harun datang ke kantor ini. Semua operasional perusahaan hanya dikendalikan oleh Kenan seorang, karena itu Harun tidak terlalu aktif di perusahaan tersebut.


Bagaimana caranya, agar aku bisa mendekati Harun? Atau paling tidak aku bisa mengetahui rencananya...


Hazal sudah memasang alat penyadap di ruang kerja Harun di kantor ini. Tetapi sepertinya cara itu tidak berhasil. Ia pun bangkit berdiri, tak sengaja tas yang ada di belakang tubuhnya jatuh di lantai. Beberapa isinya nampak berserakan keluar. Ia memungut beberapa benda miliknya yang tercecer dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya.


Pupil berwarna coklat itu melihat sebuah dompet yang terbuka. Sebuah kertas putih yang sudah tertekuk hampir keluar dari dalam sekat dompet itu. Hazal mengambil kertas tersebut dan membukanya. Kertas yang berisi sketsa burung phoenix yang di gambar oleh Ted Baxter di penjara. Sorot matanya tampak bersinar ketika mengingat bagaimana dirinya bisa mendapatkan kertas gambar itu.


Penjara....


Kenan membuka pintu ruangannya, ia melihat Hazal yang berdiri di depannya. Sekretaris nya itu sedang memasukkan sebuah dompet merah ke dalam tas. Ia berjalan mendekati Hazal.


"Aku ingin mengajakmu makan siang hari ini." Hazal nampak terkejut mendengar suara Kenan, yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Ia kemudian meletakkan tas nya kembali di kursi kerjanya.


"Kenan, maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu," balas Hazal dengan pelan dan ekspresi wajah yang tampak menyesal.


"Apakah kau sudah ada janji dengan seseorang?" Kenan mengernyitkan dahinya, ia nampak kecewa karena Hazal telah menolak ajakannya.


"Ehm... iya. Aku sudah ada janji dengan temanku. Mungkin lain kali kita bisa makan bersama," ucap Hazal yang nampak bingung mencari alasan yang tepat untuk menghindari ajakan Kenan.


"Teman kantor?" Kenan teringat perkataan Mehmet, yang mungkin saja ada karyawan perusahaan nya yang tidak menyukai Hazal.


"Bukan... Teman lama ku waktu aku masih sekolah, kami sudah lama tidak bertemu," ucap Hazal. Perkataan nya lancar meskipun ia sedang berbohong.


"Baiklah, pergilah...! Tapi, sebagai gantinya aku ingin mengajak mu makan malam. Aku akan menjemputmu malam ini di rumah mu," ucap Kenan sambil tersenyum tipis.


Hazal hanya terdiam mendengar ucapan Kenan.


"Kali ini jangan tolak ajakan ku lagi." Kenan segera berjalan meninggalkan Hazal dan berjalan masuk ke dalam lift.


"Aku belum menjawab ajakannya, tapi dia main seenaknya mengatur jadwalku!" gerutu Hazal sambil merapikan meja kerjanya. Tak lama kemudian ia mengambil tasnya dan berjalan masuk ke dalam lift.


Kini Hazal sudah berada di area parkir khusus karyawan di perusahaan Fallay. Ia mencari mobilnya di antara puluhan mobil yang terparkir di sana. Langkah sepatu bot berhak tinggi itu menghampiri sebuah mobil berwarna merah. Ia masuk ke dalam mobil kesayangannya dan melajukan kendaraan roda empatnya itu menuju ke Kantor Polis Pusat.


Hazal merapikan rambutnya dan membetulkan letak mantel panjangnya setelah ia sampai di Kantor Polisi tersebut. Ia mengayunkan langkahnya menuju ke ruang kerja Kapten Ismail.


Terdengar suara sirine mobil polisi mengantar langkah kaki Hazal menuju ke ruang Ismail. Putri angkat Emir Aksal itu mencoba mengetuk pintu kayu yang berwarna hitam yang Anda di depannya dengan sedikit keras. Ketukan pertama berbunyi, terdengar suara seorang laki-laki mempersilahkan Hazal untuk masuk.


"Hazal...!" seru Ismail yang terkejut dengan kedatangan wanita itu. Kapten Polisi itu segera berdiri dan keluar dari meja kerjanya. Menyambut Hazal dengan senyumannya.


"Maaf, aku mengganggumu. Aku perlu sedikit bantuan mu," ucap Hazal yang menjelaskan maksud kedatangannya.

__ADS_1


Ismail menyuruhnya untuk duduk di sofa. Mereka berdua pun duduk berdampingan.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Ismail.


"Aku ingin tahu, kapan tahanan atas nama Mert bebas?" jawab Hazal dengan wajahnya yang serius.


"Mert? Nama lengkapnya?" tanya Ismail yang sedang membuka sebuah lemari kabinet yang ada di dekat meja kerjanya.


"Aku tidak tahu nama lengkap pemuda itu. Setahuku dia tahanan muda, umur nya sekitar dua puluh tahunan." Hazal hanya mengangkat kedua bahunya.


Ismail mengambil beberapa berkas dengan nama Mert dan meletakkannya di atas meja. Ada tiga buah berkas dengan nama yang sama. Hazal segera bangkit berdiri di samping Ismail. Mereka bersama-sama membuka satu persatu berkas tersebut.


"Ini dia...!" seru Hazal sambil menunjuk sebuah foto seorang laki-laki. Ismail mengambil berkas itu dari tangan Hazal, dan melihat catatan tahanan itu.


"Satu bulan yang lalu, hakim sudah memvonis Mert dua tahun penjara, karena kasus pencurian. Ia sudah dipindahkan ke tempat lain. Saat ini ia berada di penjara selatan kota Istanbul," jelas Kapten Polisi tersebut.


Hazal menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya. "Apakah ia bisa di bebaskan dengan uang jaminan?"


Ismail mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan Hazal. "Maksudmu kau ingin membebaskan dia?"


"Ya...!" seru Hazal mantap. "Apa kau bisa membantuku?" manik mata Hazal menatap penuh harap pada Kapten muda itu.


"Kenapa kau berminat untuk membebaskannya? Apa kau mengenal nya?" tanya Ismail. Ia menutup kembali berkas Mert.


"Baiklah, temui kepala sipir di sana. Kau bisa membayar uang jaminan kepadanya. Aku akan membuatkan memo kecil untuknya." Kapten polisi itu segera membuat memo kecil tersebut dan menyerahkan kepada Hazal.


"Ismail, terimakasih atas bantuan mu," ucap Hazal dengan senyum manisnya. Senyum manis wanita ini yang selalu membuat hati Kapten Polisi itu bergetar.


"Apa kau sudah makan siang? Apa kita bisa makan siang bersama?" tanya Ismail yang menatap wajah Hazal, ia berharap wanita di depannya itu memberinya kesempatan untuk lebih mengenalnya.


"Belum. Baiklah, kita bisa makan siang bersama sebelum aku ke penjara bagian selatan." Hazal menerima ajakan Kapten Polisi tersebut.


Bak gayung bersambut, hati Kapten muda itu tampak berbunga-bunga ketika Hazal menerima ajakannya. Mereka berdua pun pergi ke sebuah restoran yang ada di pusat kota.


Hazal dan Ismail masuk ke sebuah restoran yang menyajikan makanan bakar di kota itu. Kepulan asap pembakaran menyambut kedatangan mereka. Tampak beberapa orang sudah memenuhi meja yang ada di restoran itu.


Ismail mengajak Hazal untuk duduk di dalam, dekat meja kasir. Seorang pelayan menanyakan dan mencatat pesanan mereka. Sekitar sepuluh menit, pesanan mereka pun datang. Dua porsi Kebab daging khas Turki dan dua gelas jus delima tanpa es telah berada di atas meja mereka. Kedua anak manusia ini pun menikmati makan siang bersama. Sesekali mereka saling membicarakan kehidupan mereka sehari-hari dan terkadang mereka saling tertawa.


Tanpa mereka sadari, Kenan juga berada di restoran itu. Putra Harun itu berjalan ke meja kasir hendak membayar makanan pesanannya. Ketika ia menunggu uang kembalian nya, biji matanya melihat Hazal dan Ismail.


Oh... jadi ini alasannya dia menolak makan siang denganku.


Setelah menerima uang kembalian dari petugas kasir, Kenan segera pergi meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan tak menentu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ismail dan Hazal yang segera ke kantor polisi, setelah mereka selesai makan siang bersama. Hazal melihat jam tangannya, jam istirahat masih panjang. Ia segera melajukan mobil merahnya ke penjara yang ada di selatan kota Istanbul.


Sekitar lima belas menit, Hazal sudah tiba di rumah tahanan itu. Ia segera menemui Kepala Sipir dan memberitahukan maksud kedatangannya. Tak lupa ia memberikan memo kecil yang di tulis oleh Kapten Ismail kepada Kepala Sipir tersebut.


"Kau sudah menyiapkan uang jaminannya?" tanya wanita yang berperawakan gemuk itu. Ia adalah kepala sipir penjara bagian selatan.


"Berapa yang di perlukan untuk membebaskannya?" tanya Hazal.


Kepala sipir penjara itu menyebutkan sebuah nominal dengan mata uang Lira. Hazal langsung menyetujui permintaan wanita tersebut. Ia memutuskan membayar uang jaminan itu dengan uang tunai, jika ia melakukan pembayaran dengan cara transfer maka seseorang bisa melacak transaksi nya di kemudian hari.


Beberapa menit kemudian, Hazal telah kembali ke rumah tahanan itu dengan membawa segepok uang tunai seperti yang diminta oleh Kepala Sipir penjara.


Wanita gemuk itu memenuhi ucapannya, ia segera memerintahkan bawahannya untuk membebaskan tahanan yang bernama Mert. Tak perlu menunggu lama, setelah proses pembebasan selesai, Mert segera di bawa masuk ke ruangan sang kepala.


"Kau telah bebas, Mert!" seru Kepala Sipir yang memberikan ucapan selamat kepada seorang pemuda yang ada di depannya.


"Selamat datang di dunia nyata kembali, Mert!" seru Hazal yang mengulurkan tangan kanannya ke teman Ted Baxter itu.


Mert tampak bingung dengan apa yang telah terjadi, ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa bebas dan kenapa Hazal membebaskannya.


"Aku akan menjelaskannya nanti, ikutlah denganku!" ajak Hazal setelah dirinya dan Mert keluar dari ruang sang Kepala.


Hazal mengajak Mert masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat Hazal melajukan kendaraan merahnya itu ke hotel AKSAL.


"Kau akan tinggal di sini sementara, sampai aku menyuruh mu pindah," kata Hazal kepada Mert.


Pintu kamar hotel itu terbuka, mantan narapidana itu tidak pernah membayangkan bahwa ia bisa tidur dan tinggal di hotel mewah seperti ini.


"Kenapa kau membebaskan ku?" tanya Mert membuka suaranya. Pemuda itu merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk dan berguling-guling di kasur tersebut.


"Anggap saja aku berhutang budi padamu karena kau telah membantuku waktu itu," jawab Hazal yang masih tetap berdiri di belakang pintu.


"Kau bisa menikmati segala fasilitas di hotel ini, mintalah makanan yang kau sukai, kau tinggal menelepon. Satu hal yang kau ingat, jangan pernah keluar dari hotel ini, kau mengerti?" Hazal menatap tajam manik mata Mert.


"Baiklah...," jawab Mert.


"Nanti malam aku akan menemuimu. Oh iya, ini ponsel barumu. Aku sudah mendaftarkan nomor nya. Hanya ada nomor ku di sana. Kau bisa menghubungi ku jika kau memerlukan sesuatu. Aku akan kembali bekerja," jelas Hazal sambil memberikan sebuah ponsel berwarna hitam kepada Mert.


Hazal segera meninggalkan Mert di kamar hotelnya, ia kemudian bergegas kembali ke Perusahaan Fallay.


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa setelah baca Dangerous Love, kasih tip ya buat Author cantik ini 🤭😆 Gak mahal kok, cuma kasih Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2