DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Graduation Istanbul - New York


__ADS_3

Malam ini adalah malam pelepasan seluruh siswa dan siswi International Senior High School of Istanbul. Malam yang di tunggu oleh para siswa setelah beberapa hari yang lalu mereka di nyatakan lulus oleh pihak sekolah. Tampak semua para siswa, orang tua dan para guru memenuhi ruang auditorium sekolah.


Setelah melewati hari ini, mereka akan melanjutkan perjalanan menapaki setiap masa depan yang mereka impikan. Satu persatu seluruh siswa kelas XII sudah naik ke atas panggung, dan kepala sekolah memberikan piagam kelulusan kepada para muridnya. Terdengar tepuk tangan orang-orang yang ada di bawah panggung. Wajah para siswa itu terlihat sangat gembira, tetapi di balik kegembiraan mereka ada sepasang mata yang sedang mencari sosok seseorang yang ia tunggu kedatangan nya. Sepasang mata itu menyapu setiap sudut di tempat duduk para tamu undangan yang ada di bawah panggung. Tidak di lihatnya orang yang ia harapkan kedatangannya.


Seluruh rangkaian acara telah selesai, satu per satu para siswa turun dari panggung. Hazal yang sedang memakai jubah Toga Wisuda berwarna hitam, dengan rambut coklatnya yang ia sanggul ke belakang tertutup oleh topi wisuda miliknya. Tangannya memegang erat piagam kelulusan nya yang berwarna coklat. Perlahan ia berjalan menapaki anak tangga yang lebar nya sepanjang telapak kaki nya saja.


Hitungan lima langkah, Hazal sudah berada di bawah panggung. Gadis muda itu berjalan di hamparan karpet merah yang membelah ruang auditorium tersebut. Di tengah kerumunan orang banyak, Hazal sedang mencari keluarganya.


"Hazal." sapa Meral yang melambaikan tangan ke arah putrinya. Segera gadis itu berjalan menemui ibu angkatnya. Begitu tiba di dekat ibu dan ayah angkatnya, gadis itu mencari anggota keluarganya yang lain.


"Ibu, apa Yafet tidak datang?" tanya Hazal dengan memegang tangan ibu angkatnya.


"Ya....dia tidak pulang ke Istanbul. Mendadak penerbangannya di batalkan, karena dia sedang ada kegiatan di kampusnya." jelas Meral.


"Ayah sudah memesan tempat di sebuah restoran Jepang yang baru buka hari ini. Ayo kita ke sana sekarang." ajak Emir kepada keluarganya.


Terdapat guratan kesedihan di wajah cantik Hazal ketika ibu angkatnya mengatakan hal itu. Tiga anggota keluarga Aksal itu pun segera melangkahkan kaki mereka ke arah pintu keluar ruang auditorium.


Tiba-tiba sebuah suara memanggil nama Hazal dan menghentikan langkah kaki mereka. Ternyata Ozcan sudah berdiri di belakang Hazal, dan memegang lengan gadis itu.


"Tunggu Hazal, bisakah kita bicara sebentar?"


"Kami akan menunggumu di mobil, sayang. Luangkan waktumu sebentar untuk teman mu ini." ucap Emir kepada Hazal.


Kedua orang tua angkat Hazal pergi meninggalkan Hazal dan Ozcan yang masih berada di ruang auditorium. Setelah di lihatnya orang tuanya telah pergi, Hazal membuka percakapannya dengan teman sekolahnya itu.


"Apa yang kau ingin bicarakan, Ozcan?"


"Bisakah kita bicara di pojok sana?" ujar Ozcan sambil menunjuk ke arah sebelah kiri ruang auditorium, jaraknya sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Hazal menyetujui ajakan Ozcan, mereka berdua duduk di sebuah anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah ruang auditorium tersebut. Tidak banyak orang berlalu lalang di sana, sehingga mereka bisa dengan bebas berbicara tanpa gangguan orang lain.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" sekali lagi Hazal mengulangi pertanyaan yang sama.


"Hazal, aku hanya ingin menanyakan jawaban dari pertanyaan ku beberapa hari yang lalu. Apakah kau masih ingat?"


Teman Ozcan ini tampak menghela nafasnya dalam-dalam, jawaban apa yang akan ia katakan kepada temannya itu. Jujur sampai saat ini, dia belum memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di ajukan Ozcan kepadanya sewaktu mereka berdua di dalam mobil. Tiba-tiba Ozcan memegang tangan Hazal.


"Katakan apa saja yang ada di hatimu." ucap Ozcan dengan tatapan matanya yang sendu.

__ADS_1


"Ozcan....maafkan aku. Maaf aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Maafkan aku." ucap Hazal yang menarik tangannya dari genggaman tangan Ozcan.


"Tapi kenapa, Hazal? Apakah kau tidak punya perasaan kepadaku? Kau sangat baik kepadaku."


"Mungkin kau salah mengartikan kebaikan ku, sampai saat ini aku hanya menganggap mu hanya sebagai teman, tidak lebih, Ozcan."


"Apa hanya itu alasannya? Atau di hatimu ada seseorang yang kau cintai?" Ozcan berusaha mencari tahu alasan penolakan Hazal.


"Maafkan aku, Ozcan. Mungkin kau benar ada seseorang yang menjadi bagian di hatiku, tapi untuk saat ini, aku hanya ingin fokus kepada studi ku dulu. Mungkin lebih baik jika kita berteman saja."


"Apakah kau menolak ku, karena aku terlalu lancang telah mencium mu waktu itu?"


"Sudahlah, Ozcan. Aku tidak ingin membahas hal itu."


"Maafkan aku Hazal." ujar Ozcan sambil mengulurkan tangan nya kepada Hazal. Kemudian Hazal membalas uluran tangan Ozcan dan memaafkan perbuatan temannya itu. Mereka berdua bersepakat hanya menjalin pertemanan saja sampai selamanya. Ozcan mengucapkan kata perpisahan kepada Hazal.


"Jaga dirimu Ozcan, semoga kau menemukan seorang gadis yang benar-benar mencintaimu dengan tulus." ujar Hazal tersenyum dan memegang pundak Ozcan.


Setelah mengatakan hal itu, Hazal berdiri dari tempat duduknya. Ketika dia hendak melangkah, dilihatnya sosok pria yang di kenalnya memakai setelan kemeja berwarna biru tua dengan bentuk slim fit lengan pendek, yang memperlihatkan tubuh atletisnya. Pria itu membawa sebuket bunga mawar merah. Pria yang di tunggu nya sejak tadi.


"Yafet." ucap Hazal yang terkejut atas kehadirannya, dengan cepat dia berlari ke arah Yafet dan memeluk erat kakak angkatnya itu. Yafet juga membalas pelukan Hazal. Direngkuhnya tubuh Hazal erat-erat, karena dia juga sangat merindukan adik angkatnya itu.


"Apakah kau tidak ingin aku datang?" tanya Yafet dengan mimik wajah serius.


"Aku sudah menunggu mu dari tadi." ketus Hazal tetapi sebenarnya hatinya sangat berbunga-bunga melihat Yafet ada di depan nya.


Mendengar perkataan Hazal, Yafet tertawa lepas. Kali ini dia berhasil memberikan sebuah kejutan kepada Hazal. Kemudian dia menyerahkan buket bunga mawar itu kepada Hazal. "Selamat atas kelulusan mu." ujar Yafet.


Hazal menerima buket bunga mawar dari Yafet, kemudian di pegang nya buket bunga mawar dan piagam kelulusan nya di tangan kiri. Sementara tangan kanan nya memegang lengan Yafet, dan mengajaknya untuk segera keluar karena orang tua mereka telah menunggu di mobil.


Tanpa mereka sadari, Ozcan melihat hal itu. Dia melihat ekspresi wajah mereka berdua yang tampak begitu bahagia. Ada perasaan cemburu melihat keakraban mereka. Meskipun setahu Ozcan, mereka adalah kakak adik, tapi tatapan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Dengan berat hati, Ozcan melepaskan kepergian Hazal bersama Yafet.


*****


Dua minggu kemudian....


Keempat anggota keluarga Aksal sudah berada di New York. Saat ini mereka sedang menghadiri malam graduation Yafet, putra tunggal mereka.

__ADS_1


Hari ini Yafet dan beberapa mahasiswa lainnya menerim toga dan piagam kelulusan dari rektor Columbia University. Yafet dan ketiga temannya itu telah menyelesaikan kuliahnya di jurusan International Bussines Management.


Tampak di wajah orang tua Yafet kebanggaan dan kegembiraan di hati mereka. Anak yang selama ini "di buang" oleh mereka telah membuat mereka bangga dengan menjadi salah satu lulusan terbaik di Columbia University.


Dengan memakai jubah dan topi wisuda, Yafet berjalan dengan gagah menghampiri keluarganya. Ayah dan ibu nya memeluk Yafet dan mengucapkan selamat kepada nya. Kemudian giliran Hazal yang memakai gaun tertutup berwarna hitam, memeluk Yafet dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Tak lupa gadis berambut coklat itu juga memberikan sebuah hadiah berupa boneka beruang karet yang menggunakan jubah dan topi wisuda.


Mereka berempat melakukan foto sesi yang di sediakan oleh pihak panitia kampus. Tak lupa Yafet meminta foto berdua dengan Hazal, pria itu melingkarkan tangan nya di pinggang Hazal.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata milik Selina yang memperhatikan sikap Yafet kepada Hazal.


"Siapa gadis itu? Apakah dia kekasih Yafet yang baru?"


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Selina.


"Lihat bro... Kelihatan nya ada yang cemburu melihat mantan kekasihnya sudah dapat yang baru." seru David kepada kedua temannya. Ternyata tangan David yang telah menepuk pundaknya. Jason, Lee dan David sedang berdiri di samping Selina.


"Apa kalian tahu, siapa gadis yang bersama Yafet?" tanya Selina kepada ketiga pria itu.


"Apa yang akan kita katakan pada nya, bro?" tanya Lee kepada kedua teman nya. "Lupakanlah Yafet, lebih baik kau dengan ku saja." Lee melanjutkan ucapannya dan diikuti oleh gelak tawa dua temannya yang lain.


"Brengsek kau Lee." teriak Selina yang mendorong tubuh Lee ke belakang.


"Ayolah Selina, kau jangan jual mahal!" seru David. Mendengar hal itu, dengan cepat Selina melangkah pergi meninggalkan ketiga pria itu.


Ketiga pria itu tertawa terbahak-bahak melihat sikap Selina. Sejak putus dari Yafet, gadis itu selalu merepotkan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Yafet. Selina selalu mencari informasi terbaru tentang Yafet terutama hal yang menyangkut tentang kekasih baru Yafet. Tetapi selama ini, ketiga teman Yafet selalu tutup mulut kepada Selina.


❤️ Bersambung ❤️


Halo para readers, terimakasih sudah setia membaca novel pertama ku ini. Aku harap kalian menyukai tulisan ku ini ya dan jangan lupa buat kasih


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian ya

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🤗


__ADS_2