DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Kau Terlahir Sebagai Seorang Tuan Putri


__ADS_3

Setelah Hazal meninggalkan Mert di kamar Hotel AKSAL, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah terlambat ke kantornya.


Hazal segera berlari setelah pintu lift terbuka di lantai delapan, napasnya masih ngos-ngosan, dada nya nampak naik turun. Manik matanya hampir saja terlepas, ketika ia melihat Kenan sedang duduk di kursi kerjanya.


"A..apa yang kau lakukan di meja kerjaku?" tanya Hazal yang tampak gugup. Ia melihat tangan Kenan ada di tepi mejanya.


Bagaimana jika Kenan menemukan monitor alat penyadap itu?


Kenan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, ia menekuk kedua tangannya di belakang kepalanya. "Aku hanya menunggu sekretaris ku yang sedang berkencan di waktu jam makan siangnya."


"Apa maksudmu berkencan? Aku hanya terlambat tiga puluh menit saja," ujar Hazal yang berjalan mendekati Kenan sambil melihat jam tangannya.


"Tiga puluh menit itu berharga, Nona Aksal!" seru Kenan sambil memutar kursinya ke arah Hazal, ia mendongakkan kepalanya dan menatap tajam sekretarisnya itu. Pikirannya masih mengingat kejadian di restoran, ketika ia melihat Hazal dan Ismail sedang makan siang bersama.


Hazal terdiam. Ia tahu bahwa dirinya memang telah melakukan kesalahan.


"Baiklah, aku minta maaf atas keterlambatan ku. Kau boleh memotong gaji ku atau menyuruhku lembur malam ini untuk mengganti waktu keterlambatan ku," ucap Hazal lirih.


Kenan bangkit berdiri, tangannya memegang lengan Hazal. Bukan mencengkeramnya layaknya jika ia sedang marah. Tetapi pegangan itu terasa sangat hangat.


"Apa kau dan Kapten Polisi itu... maksudku... apa kalian berpacaran?" tanya Kenan setelah ia melepaskan tangannya dari lengan Hazal. Wajah mereka saling berpapasan.


Apakah dia melihatku makan siang bersama dengan Ismail?


Kini Hazal mengerti, Kenan memarahinya bukan karena dirinya terlambat kembali ke kantor. Tetapi karena rasa cemburu Kenan.


"Aku dan Ismail hanya berteman. Tidak lebih," jawab Hazal sedikit tersenyum. Di dalam hatinya ia tersenyum lebar, melihat putra Harun itu telah menggigit umpannya.


Hati Kenan terasa lega setelah mendengar perkataan Hazal. Berarti ia masih punya kesempatan untuk mendekati sekretarisnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu undangan berwarna merah dan memberikannya kepada Hazal.


"Nanti malam, ikutlah denganku ke acara ini. Aku akan menjemputmu."

__ADS_1


Hazal mengambil kartu undangan itu dari tangan Kenan dan membuka kartu tersebut. Sebuah acara pertemuan untuk para pengusaha Turki.


"Aku akan menunggumu," desis Hazal di telinga Kenan. Suara Hazal bagaikan tiupan angin yang lembut di telinga Kenan. Senyum manisnya mampu melelehkan hati Kenan yang membeku karena kematian ibunya.


Putra Harun itu pun masuk ke dalam ruangannya dengan senyum dan tawanya sendiri bak seorang anak kecil yang telah mendapatkan sebuah mainan baru. Perasaannya hari ini mendadak berubah menjadi level bahagia yang paling tinggi. Setiap ia membaca laporannya, wajah dan senyuman Hazal terlintas di pikirannya.


Sinar mentari sudah mulai berpulang ke sarangnya di ufuk barat, senja sudah berakhir. Hazal baru saja memasukkan mobilnya di garasi. Dilihatnya mobil Yafet sudah terparkir di halaman depan.


Hazal segera bergegas menapaki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir, ia mendengar suara ribut-ribut dari balik pintu kamar Yafet. Sekilas Hazal mendengar perkataan Selina, bahwa wanita itu ingin ikut ke pesta bersama suaminya.


Putri angkat Emir itu hanya menggelengkan kepalanya, dan berlalu menuju kamarnya. Segera ia membersihkan dirinya dan mengenakan gaun malamnya. Sebuah gaun malam berwarna hitam dengan model lengan setali memperlihatkan seluruh bahu dan lengannya yang putih bersih. Dengan belahan dada sedikit terlihat. Gaun sepanjang mata kaki itu membuat Hazal terlihat elegan dan glamor.


Sebuah parfum beraroma bunga mawar ia semprotkan di leher, belakang cuping telinganya dan di kedua titik nadinya. Aroma bunga itu seketika menghujani kamar bernuansa merah itu.


Sebuah kotak perhiasan ia keluarkan dari dalam brankas kecilnya, ia mengambil satu set perhiasannya yang bertahtakan batu berlian. Ia memulas bibir merahnya dengan lipstik yang merona. Perona pipi menghiasi wajah blasteran nya. Di bentuknya rambut panjang dengan model curly style.


Sebuah ketukan pintu terdengar di dalam kamar Hazal. Tampak Meral sudah berdiri di ambang pintu. Wanita paruh baya itu mencium aroma parfum Hazal dan melihat anak gadisnya yang berdandan bak seorang putri bangsawan.


"Ibu...," sapa Hazal yang segera mengajak masuk Meral.


"Kenan mengajakku ke pesta para pengusaha." Hazal sedang berdiri di depan kaca, ia memutar-mutar tubuhnya sendiri. Ekspresi wajahnya menggambarkan bahwa ia tidak merasa puas dengan penampilannya.


"Ada apa?" Meral nampak mengernyitkan dahinya dan ikut berdiri di belakang Hazal.


"Kelihatannya ini terlalu mewah untuk seorang sekretaris. Apa Ibu punya gaun dan perhiasan yang sedikit lebih sederhana?" tanya Hazal sambil mengerucutkan bibir merahnya.


Meral tertawa mendengar perkataan Hazal, "Kau sudah terlahir sebagai seorang Tuan Putri. Pakaian apapun tidak akan bisa menutupi auramu."


"Aku tidak ingin terlihat wah di pesta itu." Hazal menatap wajah ibu angkatnya dengan lembut.


"Apa kau ingin memakai gaun ibu? Kau akan terlihat seperti nenek-nenek," goda Meral.

__ADS_1


"Ibu...." Hazal tersipu malu mendengar perkataan ibunya.


"Pakailah gaun ini. Gaun ini cocok untukmu, apa seorang sekretaris tidak boleh memakai gaun seperti ini?" Meral memeluk pundak Hazal. Kedua pelipis ibu dan anak ini saling menempel. Kedua wanita beda usia itu tertawa bersama-sama.


Hazal segera mengambil mantel pendeknya sepanjang pinggang. Mantel berwarna hitam yang terbuat dari bulu domba itu mampu menghangatkan tubuh Hazal.


"Aku akan menunggu Kenan di bawa." Hazal mengapit lengan ibunya dan mengajak ibunya untuk turun bersamanya.


Ketika Hazal dan ibunya menuruni tangga, bukan Kenan yang sedang menunggu dirinya. Tapi Yafet yang sedang berdiri, menatap wajahnya tanpa berkedip. Laki-laki itu benar-benar terpesona melihat penampilan Hazal malam ini. Begitu juga dengan Hazal yang menatap wajah Yafet sangat dalam.


Putra Emir itu tampak rapi dan elegan malam ini, ia sudah siap dengan tuksedo nya yang berwarna hitam.


"Yafet, apa kau juga akan pergi ke pesta para pengusaha?" tanya Meral yang sudah berada di lantai bawah.


"Ya," jawab Yafet yang tidak memalingkan sepasang mata elangnya dari wajah Hazal. Manik mata coklat itu juga membalas tatapan Yafet dengan penuh perasaan.


Kau sangat tampan malam ini Yafet.


"Kalau begitu kalian bisa pergi bersama," ucap Meral yang berdiri di tengah-tengah antara Hazal dan Yafet.


Tiba-tiba seorang penjaga rumah masuk ke dalam dengan sedikit tergesa-gesa.


"Nona Hazal, ada seorang pria yang mencari anda."


"Ibu, itu pasti Kenan. Aku pergi dulu," pamit Hazal kemudian mencium kedua pipi Meral.


Yafet tengah membisikkan sesuatu ke telinga Hazal, kemudian mereka pun berpisah. Tanpa sepengetahuan mereka, tampak Selina sedang tersenyum sinis di atas balkon, memperhatikan tingkah laku ketiga anggota keluarga Aksal. Saat ini dirinya sedang kesal, karena Yafet tidak mengajak dirinya.


Beruntung sekali adik ipar ku itu, bisa pergi ke pesta bersama kekasihnya. Siapa nama kekasihnya tadi? Oh ya... Kenan.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa setelah baca, kasih tip ya buat Author 😊 Tip nya gak perlu pakai uang 🤣 cukup kasih Like, Komentar, Rate bintang lima, atau Vote novel Dangerous Love 🤗 Terimakasih 🙏


Dangerous Love up setiap hari... up 1-2 bab 😍😍


__ADS_2