
Musim semi sudah berjalan hampir satu bulan, bunga-bunga dan tumbuhan lainnya sudah mulai muncul dan bermekaran. Matahari sudah mulai menunjukkan kekuatannya sebagai penguasa langit di siang hari.
Di sebuah bangunan gudang tua sebelah selatan kota Istanbul. Tampak sebuah mobil Jeep baru saja berhenti di halaman depan yang hanya berupa hamparan semen. Sepasang kaki dari seorang pria berkulit gelap yang menggunakan jaket kulit, melangkah masuk ke dalam ruangan yang minim ventilasi.
Sepasang mata berwarna hitam itu masih melihat dua sosok tawanannya yang kini sedang meringkuk di sebuah sel. Kedua orang itu tengah duduk di bawah lantai, dengan tangan dan kaki yang terikat. Selembar lakban hitam menutupi mulut mereka.
"Buka sel nya!" perintah Mehmet kepada anak buahnya.
Pintu besi itupun terbuka, sontak membuat kedua tawanan itu terjaga dari alam mimpi mereka. Wajah mereka penuh dengan rona ungu kemerahan. Pria bertubuh besar itu mengangkat wajahnya ke atas dan memicingkan kedua matanya seakan ia ingin menantang dan mengejek Mehmet.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku bisa lebih kejam dari temanku!" seru Mehmet sambil menjepit kedua pipi pria itu dengan tangannya dan membuang wajah lebam itu ke samping kiri.
Mehmet menepuk kedua tangannya berulang kali untuk memanggil anak buahnya. Empat orang laki-laki berperawakan tinggi besar dan bertato masuk ke dalam sel.
"Tutup kepala dan wajah mereka! Bawa mereka keluar dan masukkan ke dalam mobil!" perintah Mehmet.
Keempat laki-laki itu melakukan perintah bos mereka. Mereka memasukkan dua orang tawanan itu ke sebuah mobil Van berwarna hitam.
"Jalankan mobilnya!" perintah Mehmet kepada sopir mobil Van tersebut. Sahabat Kenan itu meninggalkan mobil Jeep nya di gudang.
Mobil Van itu melintas di jalan raya, menuju pusat kota. Di pusat kota itu terdapat kerumunan orang yang sedang mengantri untuk acara pembukaan sebuah restoran cepat saji.
"Cari tempat yang sedikit sepi!" perintah Mehmet dengan mata menatap awas di sepanjang jalan.
Sopir mobil Van itu melajukan mobil nya sesuai dengan perintah Mehmet. Mobil yang bentuknya hampir mirip dengan mobil salah satu perusahaan kartu seluler itu akhirnya berhenti di daerah pelabuhan. Mobil hitam itu berhenti di tepi jalan yang jarang di lewati oleh kendaraan bermotor.
"Buka segala ikatan dan tutup kepala mereka! Turunkan mereka di sini!" seru Mehmet yang menoleh ke belakang, tempat anak buahnya dan kedua tawanannya berada.
Kedua tawanan Mehmet itu kini telah bebas. Mehmet dan anak buahnya telah meninggalkan mereka begitu saja di tepi jalan. Tanpa ada orang lain yang melihat kejadian itu.
"Hei...! Kenapa mereka melepaskan kita?" tanya pria berperawakan tinggi besar itu kepada pria kurus yang tampak ketakutan.
"Aku tak tahu. Aku tak tahu. Aku tidak mau ikut campur urusan kalian!" Pria kurus itu menggelengkan kepalanya dengan gugup. Kemudian ia berlari menyeberang jalan meninggalkan pria berperawakan tinggi besar seorang diri.
"Hei...! Pulanglah kepada ibumu! Dasar pecundang kau!" teriak pria berperawakan tinggi besar itu ketika melihat temannya sudah pergi meninggalkannya.
Tanpa di sadari oleh mereka, anak buah Mehmet yang lain sudah mengintai mereka berdua. Pria berperawakan tinggi besar itu mencegat sebuah taksi yang sedang melintas.
"Bos, kedua orang itu sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Selanjutnya bagaimana?" terdengar suara seorang laki-laki dari ujung ponsel Mehmet.
"Tetap awasi mereka kemanapun mereka pergi, siang dan malam. Jangan sampai lengah dan ketahuan!" seru Mehmet yang kini sudah berada di dalam mobil Jeep nya. Ia langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor Fallay.
Ketika mobil Jeep itu sudah sampai di depan kantor Fallay, Mehmet mengurungkan niatnya untuk mendatangi Kenan. Ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu melalui ponsel.
__ADS_1
"Buruan mu sudah ku lepaskan. Aku tinggal mengintainya saja," ucap Mehmet di depan ponselnya ketika Kenan sudah menerima panggilan ponselnya.
"Kabari aku secepatnya, jika kau menemukan sesuatu. Kita akan lihat siapa diantara ayahku atau orang itu yang berbohong!" Suara Kenan terdengar jelas di balik ponselnya.
Mehmet segera memutuskan komunikasinya. Ia segera pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan urusannya yang lain.
Setelah menutup ponselnya, Kenan segera memusatkan perhatiannya kepada layar laptopnya. Ia membaca beberapa pesan masuk yang masuk ke alamat email nya. Mulai dari iklan-iklan perusahaan travel sampai permintaan kerjasama dengan perusahaanya.
Pemilik manik mata abu-abu gelap itu memajukan tubuhnya menatap layar laptop berbentuk persegi panjang. Sebuah pesan masuk dari salah satu perusahaan manufaktur di Swiss mengajak perusahaannya untuk bekerjasama.
Ini penawaran yang menarik. Perusahaan Fallay juga mempunyai cabang di Swiss.
Kenan tersenyum menyambut penawaran tersebut. Ia segera memberikan konfirmasi kehadiran nya. Tetapi setelah ia mengirim konfirmasi kehadirannya, ia tampak teringat sesuatu, lebih tepatnya seseorang.
Bagiamana dengan Hazal? Apa aku akan meninggalkannya sendirian di sini?
Putra Harun itu akhirnya keluar dari ruangannya, ia melihat Hazal yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Ia berdiri di depan meja kayu tersebut.
"Ikutlah denganku ke Swiss!" Suara Kenan lebih terdengar memerintah daripada suatu ajakan.
Hazal mendongakkan wajahnya menatap atasan sekaligus kekasihnya itu.
"Swiss?" Hazal sedikit terkejut mendengar nama negara itu.
"Ya. Ada salah satu perusahaan manufaktur di sana yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Fallay. Kurasa ini kesempatan yang bagus," jelas Kenan sambil tersenyum memandang Hazal.
"Kenan, apakah sebaiknya kau pergi sendirian? Jika kau dan aku pergi, siapa yang akan mengurus pekerjaan kita di sini?" Hazal mencoba memberikan alasan untuk menghindari kepergiannya bersama dengan anak pembunuh itu.
Putra Harun itu menghampiri Hazal, ia memegang kedua lengan kekasihnya itu.
"Ada banyak manager di sini. Aku justru tidak tenang, meninggalkan mu sendirian di Turki. Apa kau lupa kejadian, sewaktu kau terkunci di dalam lift?"
Kenan menatap dalam manik mata coklat yang ada di depannya. Laki-laki itu menghela napasnya panjang.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja lift itu rusak kemudian mati. Apa menurutmu ada orang yang ingin mencelakai ku?" tanya Hazal yang ingin memancing Kenan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Kenan menatap langit-langit yang ada di atas kepala mereka. Ia tampak ragu memberikan jawaban yang sebenarnya kepada Hazal.
"Kau tak usah cemaskan itu. Entah itu sebuah kecelakaan atau ada orang lain yang ingin mencelakai mu. Poin yang paling penting di sini, kau harus ikut pergi dengan ku!" seru Kenan.
Kenan tidak memberi pilihan kepada sekretarisnya itu. Ia memilih untuk tetap merahasiakan masalah sabotase lift itu dari Hazal.
"Jika aku menolak untuk ikut dengan mu?" Manik mata Hazal menatap tajam wajah Kenan.
__ADS_1
Putra Harun itu mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya. Ia sedikit kewalahan menghadapi sikap keras kepala Hazal.
"Kenapa kau selalu membantah perintah ku? Maaf mungkin ini sebenarnya bukan perintah, tapi aku ingin mengajakmu, sayang." Kenan berusaha merendahkan intonasi suaranya tapi masih ada unsur penekanan di sana.
"Aku menolak ajakan mu!" seru Hazal dengan sikap tegasnya.
Raut wajah Kenan mendadak terkejut mendengar penolakan Hazal. Ingin rasanya ia meremas Hazal jika wanita itu adalah selembar kertas.
Apa ada di dunia ini, seorang Presiden Direktur memohon pada sekretarisnya sendiri?
Hazal hanya tersenyum simpul melihat sikap Kenan yang sudah mulai sedikit emosi.
"Baiklah Nona Hazal, aku tidak peduli ini sebuah permintaan atau sebuah ajakan. Aku tidak ingin ada penolakan! Minggu depan kau harus ikut dengan ku ke Swiss!" seru Kenan yang tidak peduli dengan raut wajah Hazal yang ingin mengeluarkan kata-katanya.
Mereka berdua sama-sama bersandar di sebuah dinding terdiam untuk beberapa saat lamanya. Hening tanpa suara.
"Maaf, aku bukan ingin memaksamu. Tapi aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu ketika aku tidak ada disini. Kau jangan khawatir, aku tidak akan melakukan sesuatu padamu," ucap Kenan dengan nada datar.
Pria itu hanya memandang meja kerja Hazal yang ada di depannya. Tangannya tiba-tiba menyentuh dan menggenggam erat tangan Hazal.
"Apa menurutmu sesuatu akan terjadi padaku lagi?" tanya Hazal yang mencoba mengorek keterangan dari Kenan. Mungkin saja pria itu mengetahui tentang rencana ayahnya.
Kenan mengarahkan wajahnya ke samping untuk melihat wajah kekasihnya itu.
"Aku tidak tahu. Semoga itu tidak. Jika kau ikut denganku, setidaknya hatiku bisa tenang. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu," kata Kenan lirih.
Hazal membalas tatapan mata kekasihnya itu. Mencoba mencari kebenaran di balik perkataan dan sosok Kenan yang sebenarnya.
"Kenapa kau peduli padaku? Waktu itu hanya kebetulan saja kau menolongku."
"Karena aku mencintaimu. Aku peduli padamu, aku ingin melindungi mu dan aku ingin menjadi satu-satunya orang yang berarti bagimu," ucap Kenan dengan penuh perasaan sambil memegang kedua pipi Hazal.
Tanpa sadar lelehan cairan bening itu mengalir membasahi wajah Hazal. Manik mata coklat itu tampak berkaca-kaca.
Kenapa aku sampai terbawa perasaan begitu mendengar perkataan Kenan. Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh.
Hazal mengusap cairan bening itu begitu tangan Kenan merengkuh tubuh rampingnya. Ia merasakan tangan laki-laki itu membelai rambut dan punggung nya dengan lembut.
Apa yang terjadi sebenarnya dengan hatiku? Aku tahu sejak awal dia sudah jatuh cinta padaku dan aku hanya memanfaatkannya. Aku hanya menggunakannya sebagai alat balas dendam ku. Tidak... aku tidak boleh jatuh cinta pada anak pembunuh ini! Itu tidak boleh terjadi...!
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1