DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Perjalanan Empat Sekawan - Kotak Kayu


__ADS_3

Lee melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Carina. Pria Jepang itu benar-benar sedang mengalami emosi tingkat tinggi. Selama dalam perjalanan, mereka hanya duduk dalam diam. Carina hanya bisa memandang kaca mobil yang ada di sampingnya, sesekali ia melihat wajah Lee, wajah tampan itu sekarang hampir tidak berbentuk dengan sempurna. Penuh dengan luka memar di mana-mana. Carina merasa sangat bersalah, karena dirinya... Lee jadi terluka dan berkelahi dengan temannya. Gadis itu merutuki dirinya sendiri, kenapa ia harus meminta Lee untuk membebaskan dirinya dan kenapa dia bercerita tentang kehidupannya. Tetapi semuanya telah terlambat untuk di sesali.


Tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu, ketika lampu lalu lintas menghentikan perjalanan mereka. Lee melihat bekas air mata yang mengalir di wajah Carina. Tanpa banyak bicara, Lee mengusap wajah Carina yang basah, menyeka cairan bening yang ada di pelupuk mata gadis itu, dan memegang tangannya dengan lembut. "Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir," ucapnya yang seakan ingin menghibur dirinya dan menghibur dirinya sendiri. Gadis itu memegang wajah Lee yang sudah tidak karuan bentuknya, "Pasti terasa sakit." Lee hanya membalas ucapan Carina dengan senyumannya.


Lee menghentikan mobilnya di depan sebuah Mall. Dia memberikan sebuah kartu tanpa batas kepada Carina, "Turunlah, cari kan aku beberapa pakaian dan gunakan kartu ku ini untuk membayar tagihannya," ucap Lee.


Segera Carina turun dari mobil. Memasuki Mall itu dan mencari beberapa pakaian untuk Lee. Tidak sulit untuk Carina menemukan ukuran yang cocok untuk Lee, karena gadis itu sudah mengenal bentuk dan ukuran tubuh Lee meskipun hanya semalam. "Aku rasa pakaian ini sudah cukup banyak," kata Carina yang melihat barang belanjaannya di keranjang dan kemudian membawanya ke meja kasir. Setelah selesai menyelesaikan transaksi nya, Carina keluar dari Mall tersebut dan masuk kembali ke dalam mobil Lee.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Carina. Rumah Carina tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar di dalam rumah tersebut. Carina mengajak Lee untuk duduk di sebuah sofa yang hampir lapuk karena usia. Diambilnya kotak P3K yang ada di dalam kamarnya, serta beberapa butir es batu. Dibalutkannya es batu tersebut dengan handuk kecil. Gadis itu membersihkan darah kering yang ada di mulut dan hidung Lee, memberikan obat antiseptik pada luka tersebut dan mengompres luka memar yang ada di wajah Lee. Kemudian Carina membantu Lee melepaskan kemejanya. Dengan perlahan Carina mengoleskan salep di tubuh Lee. Dirinya tampak ngilu melihat luka memar di sekitar dada, tulang rusuk dan punggung pria itu.


"Apa sebaiknya, aku membawa mu ke rumah sakit?" tanya Carina yang merasa khawatir dengan keadaan Lee.


"Tak perlu... aku baik-baik saja," ucap Lee yang mengarahkan pandangannya ke arah lain.


"Tapi Lee...." Belum sempat Carina melanjutkan ucapannya, Lee telah menutup mulut gadis itu dengan tangannya.


"Kau tak perlu khawatir," kata Lee yang mencoba menenangkan Carina.


Carina hanya bisa menghela nafasnya pelan, "Kenapa dia sangat keras kepala sekali, bagaimana jika ada tulang nya yang patah? Temannya itu sungguh sangat keterlaluan, hingga menghajar Lee sampai seperti ini, sebenarnya apa yang mereka ributkan, dan kenapa teman Lee begitu membenciku?" gerutu Carina kepada dirinya sendiri.


"Lee... boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Carina yang masih sibuk memberikan salep pada tubuh Lee.


"Ada apa?" tanya Lee dengan wajah datarnya.


"Bisa kau menjawab ku dengan jujur, apa yang kau inginkan dari ku selain tubuhku?" tanya Carina dengan wajah seriusnya. Lee sangat terkejut dengan pertanyaan Carina. Kedua iris matanya menatap tajam manik mata Carina. Tapi tidak ada sedikitpun rasa takut dalam manik mata gadis itu. Lee melangkahkan kakinya menjauhi Carina dan membelakanginya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir pria itu. Rasa ingin tahu, mendorong Carina untuk berjalan dan menyentuh pundak kekasih malamnya itu.


"Apa sebenarnya kau tidak tulus mencintaiku, Lee? Apa semua ini hanya permainan mu?" desak Carina yang merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lee terhadap dirinya.


"Kenapa kau punya pikiran seperti itu?" tanya Lee dengan sikap santainya, ia memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana panjangnya dan berdiri dengan tegap di depan Carina.


"Karena aku tak sengaja mendengar percakapan antara dirimu dan temanmu, yang mengatakan bahwa kehadiran ku akan mengacaukan rencana kalian. Sepertinya dia sangat membenciku. Dan satu hal lagi... kenapa temanmu itu menaruh alat penyadap di dalam kamar hotel kita? Apa yang ingin di dengarkan nya?" tanya Carina yang menumpahkan segala pertanyaan yang sejak tadi menari-nari di pikirannya.


Lee menghela nafasnya, memegang wajah Carina dengan kedua tangannya dan menatapnya dengan lembut sambil berkata, "Jika aku bilang, bahwa tidak ada alasan untuk itu semua... apa kau percaya?"


Carina menggelengkan kepalanya, dan menepis kedua tangan Lee dari wajahnya, ia berjalan membelakangi laki-laki itu dan berkata, " Lee... aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku."


Lee menatap punggung Carina, hati dan pikirannya tidak sejalan menghadapi situasi ini, "Apa semua permainan ku akan berakhir sampai di sini? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, siapa yang akan dia pilih? Aku atau ayah tirinya? Tapi... cepat atau lambat semuanya akan terbongkar. Entah siapa yang harus disalahkan atas semua ini."


"Semuanya itu benar, Carina," ucap Lee dengan nada datarnya. Lee memejamkan matanya, menunggu reaksi dari Carina. Empat kata yang terucap dari bibir Lee mampu menumpahkan bendungan air di pelupuk mata Carina. Teramat sangat sakit mendengar suatu kejujuran yang sebenarnya tidak ingin di dengarnya.


"Terimakasih atas kejujuran mu," ucap Carina lirih, ia menyeka air matanya yang tumpah agar Lee tidak mengasihani dirinya.

__ADS_1


Pria yang dikiranya mencintai dirinya dengan tulus dan mau menerima masa lalunya, ternyata hanya menipu dirinya dan memanfaatkannya saja. Lee bahkan lebih kejam dari pria hidung belang yang ada di club' malam tempatnya bekerja. Hatinya sangat sesak saat ini, ingin rasanya ia menjerit di dalam rumahnya. Kenapa? ... Kenapa ini terjadi? Ketika dirinya merasa terbang melayang seolah kebahagian akan menghampirinya, tetapi... Sebuah kenyataan pahit menghempaskan nya ke dasar yang paling dalam. Carina pun berlari masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu itu rapat-rapat. Terlambat bagi Lee untuk mencegah kepergian Carina, uluran tangannya hanya menangkap angin lalu saja.


"Carina...," panggil Lee sambil mengetuk pintu kamar tersebut. Berulang kali Lee memanggil nama gadis itu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.


Carina menjatuhkan tubuhnya di ranjang, dia membenamkan wajahnya di atas bantal, air matanya keluar tanpa henti, di tumpahkan nya seluruh kekesalannya atas kebodohannya sendiri, yang terlalu percaya pada perkataan Lee.


"Carina... kumohon buka pintunya, dengarkan penjelasan ku," ucap Lee dengan lirih.


"Pergi !!! Aku tidak ingin melihatmu !!!" jerit Carina dari dalam.


"Aku tidak akan pergi dari sini, sampai kau keluar dari kamar mu," kata Lee dengan memaksa.


"Keluar kau dari rumah ku !!!" teriak Carina yang melemparkan bantalnya ke arah pintu kamarnya.


Lee hanya bisa menatap daun pintu kamar Carina dengan tatapan nanar. "Ia benar-benar marah padaku. Tapi aku tidak mungkin keluar dari rumah ini dengan tangan kosong, saat ini aku sudah berada di kandang singa. Sebelum singa itu datang dan memangsa ku, maka aku akan mencari sesuatu untuk bisa menundukkan nya."


Laki-laki itu berjalan masuk ke kamar ayah tiri Carina. Satu per satu laci meja dan lemari ia buka, berharap ia bisa menemukan suatu petunjuk di tempat ini. Tumpukan-tumpukan kertas yang tidak berguna yang ia temukan di atas meja. Di bukanya laci berikutnya, ia menemukan beberapa buah album foto. Dibukanya album foto tersebut, semuanya tentang foto ayah tiri Carina yang berada di tempat wisata. Di setiap foto, ayah tiri Carina selalu menulis tanggal dan lokasi di mana foto itu diambil.


Lee membuka setiap lembarnya. Sampai di suatu foto yang bertuliskan 3 Januari 2000, Pegunungan Alpen, Swiss. Kornea mata Lee membulat membaca tulisan di foto itu, "Foto ini diambil dua belas tahun yang lalu, lokasi dan tahun nya sama persis seperti kejadian terbunuhnya orang tua Hazal. Berarti ayah tiri Carina ada di sana saat kejadian. Tapi siapa laki-laki di sebelahnya?" gumam Lee yang berbicara sendiri menatap foto yang ada di tangannya.


Dikeluarkan foto tersebut dari plastik pembungkusnya, " Max Walden dan Ted Baxter, dua beruang yang menakutkan." Sebuah kalimat yang di tulis dalam bahasa asing yang tidak di pahami oleh Lee. Pria itu hanya bisa mengartikan bahwa laki-laki yang bersama ayah tiri Carina bernama Ted Baxter. Segera Lee melipat lembaran foto itu dan memasukkan nya ke saku kemejanya.


Sementara Lee masih sibuk di kamar ayah tiri Carina, gadis itu keluar dari kamarnya, karena ia tidak lagi mendengar suara Lee. Carina melangkahkan kakinya, pandangannya mencari sosok Lee, tetapi ia tidak menemukan nya. Gadis itu merasa lega, baru berjalan beberapa langkah dari kamarnya, ia mendengar sesuatu di kamar ayah tirinya. "Apa Max sudah pulang? Tapi kenapa aku tidak mendengar teriakannya memanggil nama ku? Atau jangan-jangan ada orang jahat yang masuk ke dalam rumah?" Carina bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


"Lee !!!" pekik Carina dengan nada terkejutnya.


"Apakah kau semarah itu padaku? Hingga kau mau membunuhku dengan tongkat itu?" tanya Lee yang menatap tajam manik mata Carina.


"A...a...ku pikir kau... Kau sudah pulang, dan kukira ada seorang pencuri yang masuk rumahku," ucap Carina gugup dan malu atas tindakannya itu. Kemudian Lee mengambil tongkat pemukul itu dari tangan Carina dan melemparkannya ke lantai. Kemudian ia memegang tangan Carina, dan mengajaknya untuk duduk di ranjang tempat tidur.


"Karena kau sudah keluar dari kamarmu, maka kumohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya ini padamu," kata Lee. Kali ini Carina tidak bisa menolak permohonan Lee. Ingin rasanya ia menutup telinganya rapat-rapat atau melarikan diri dari rumahnya. Ia tidak ingin mendengar kebohongan lagi dari pria yang ada di hadapannya ini. Tetapi ia hanya bisa duduk diam mendengarkan penjelasan Lee.


"Aku tau kau masih marah padaku, bahkan mungkin membenciku. Kali ini aku ingin berbicara jujur padamu. Semuanya bermula dari aku datang ke Italia bersama dengan ketiga teman ku. Tujuan ku kemari adalah untuk membantu mencari pembunuh orang tua Hazal. Dia adalah kekasih Yafet, pria yang kau temui di rumah itu dan yang memukulku. Malam itu kami bersenang-senang di club' malam, tempat di mana kau bekerja. Aku melihatmu dan memandangmu. Perasaanku waktu itu... aku benar-benar sangat tertarik padamu. Sampai kemudian kita bertemu di belakang club' malam, aku melihat ayah tiri mu sedang mencekik lehermu. Sebenarnya aku tidak berniat ikut campur urusan kalian, karena kami adalah orang asing di sini. Tapi rasa kemanusiaan ku mengatakan bahwa aku harus menolong mu," ucap Lee.


Kemudian Lee melanjutkan ceritanya, " Ketika Yafet menyadari, bahwa ayah tiri mu adalah salah satu orang yang kita cari, ia memberikanku sebuah ide untuk mendekatimu. Aku pun menyetujui rencananya, dengan harapan aku bisa mendapatkan informasi tentang ayah tiri mu dari mulutmu dan aku aku bisa bersenang-senang dengan mu."


Mendengar hal itu, Carina hanya bisa menahan amarah di hatinya, genggaman tangannya bergetar. Air matanya kembali membasahi wajahnya, "Jadi semuanya itu hanya kebohongan? Rasa cinta mu padaku? Dan kebebasan yang kau tawarkan padaku? Semua nya itu tidak benar dan tidak akan terjadi?" tanya Carina dengan isak tangisnya. Ia menangis dan menutup mulutnya. Betapa bodoh dirinya.


Lee menghembuskan nafasnya, tatapan matanya memandang ke arah langit-langit kamar tersebut, "Maafkan aku... Sejujurnya saat ini aku tidak tahu perasaan ku sendiri kepadamu. Tapi tentang membebaskan mu dari ayah tiri mu, itu bukan kebohongan. Aku berjanji padamu, aku akan membawamu pergi dari sini. Meskipun aku harus berselisih dengan teman-temanku."


Carina hanya memandang manik mata Lee. Sama seperti Lee, dirinya juga tidak yakin, apakah perasaannya kepada Lee itu adalah cinta? Jika itu bukan cinta, kenapa hatinya sangat sakit dan sedih mendengar kebenaran ini.

__ADS_1


"Aku tidak memintamu untuk memaafkan aku atau mempercayai perasaan ku, tetapi aku hanya ingin minta bantuan mu, Carina," kata Lee setengah memohon. Ia menyadari Carina masih belum bisa mempercayainya.


Carina mengusap air matanya dan berkata, "Baiklah... aku akan menyampingkan perasaan ku. Aku akan membantumu, karena jika ayah tiri ku adalah pembunuhnya, maka aku akan mendukungmu untuk memasukkan nya ke dalam penjara." Carina tidak sabar melihat kehancuran ayah tirinya. Seorang predator yang telah menghancurkan masa depannya.


Tiba-tiba Carina berdiri dan mengambil sebuah kotak kayu berbentuk persegi dengan ukuran yang tidak terlalu besar yang di sembunyikan di bawah ranjang tempat tidur. "Aku tidak tahu apa yang kau cari ada di dalam kotak ini atau tidak, tetapi sejak lama kotak ini selalu terkunci dan aku tidak berani membukanya," kata Carina yang meletakkan kotak kayu tersebut di atas ranjang.


"Apa kau punya kuncinya?" tanya Lee.


"Tidak... aku tidak tahu di mana ayah tiri ku menyembunyikan kuncinya, dia selalu melarang ku untuk menyentuh atau memindahkan kotak itu dari tempatnya," jawab Carina.


"Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sini. Berikan tongkat pemukul mu itu," pinta Lee. Diambilnya tongkat pemukul itu dari lantai dan diberikannya kepada Lee. Laki-laki itu memukul dengan keras gembok besi itu dengan tongkat yang ada di tangannya. Satu kali... dua kali... tidak ada perubahan... dipukulnya sekali lagi untuk ketiga kalinya, gembok itu terlepas dari pengaitnya.


Lee dan Carina membuka kotak kayu itu bersama-sama, mereka melihat ada tiga buah passport keluaran kedutaan Turki dengan nama Max Walden. "Max Walden adalah nama ayah tiri ku," kata Carina menjelaskan. Tanpa Carina menjelaskan Lee sudah mengetahuinya. Mereka membuka isi passport itu dan ternyata Max telah beberapa kali mengunjungi Turki sejak tahun 2000 hingga sekarang. Selain passport Turki, juga terdapat sebuah buku tabungan milik salah satu bank di Italia atas nama Max Walden dan satu lembar cek non tunai dengan nominal lima ribu dollar Amerika dengan tanggal pencairan Minggu depan. Lee memperhatikan nama si pemberi cek tersebut Ted Baxter. "Apa hubungan dia dengan Max?" tanya Lee.


"Aku tidak tahu, aku bahkan baru mendengar namanya sekarang," jawab Carina. Kemudian Lee mengeluarkan foto Max dari saku kemejanya dan menunjukkannya pada Carina.


"Ini foto Max dan Ted Baxter di Pegunungan Alpen, Swiss dua belas tahun yang lalu, itu artinya Max punya suatu hubungan dengan orang yang bernama Ted Baxter ini. Bahkan Ted sampai memberikan uang kepadanya hampir tiap bulan," jelas Lee yang membuka buku tabungan Max dan melihat transaksi bulanan pada rekening tabungan ayah tiri Carina.


"Ada hubungan apa mereka?" tanya Lee kepada dirinya sendiri dan kepada Carina.


Carina mengambil foto tersebut dan dilihatnya dengan jelas laki-laki yang bernama Ted Baxter tersebut. Samar-samar ia mengingat wajah pria itu, tapi di mana dirinya bertemu dengannya.


"Oh iya... aku ingat sekarang." teriak Carina dengan semangat. "Dia adalah teman Max. Aku bertemu dengan nya di hari pernikahan dan pemakaman ibuku." kata Carina melanjutkan perkataannya.


"Apa Max bisa bahasa Turki?" tanya Lee.


"Ya... aku kerap mendengarnya ketika ia menelepon seseorang. Tapi maaf aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan," jawab Carina.


"BINGO," teriak Lee yang membuat Carina terkejut. Entah ini semua kebetulan atau ia akan menemukan sebuah kebenaran.


"Aku akan membuatnya tidak punya pilihan lagi," ucap Lee yang menatap tajam hasil temuannya itu dan tersenyum penuh misteri. Segera Lee mengumpulkan temuannya yang berharga itu dan menyimpannya di saku celananya. Sedangkan Carina mengembalikan kotak kayu itu ke tempatnya semula.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Komen dan


🤗 Vote kalian ya 😘

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutan kisah mereka hanya di novel ini. Makasih 😘


__ADS_2