
".....ini adalah presentasi bisnis saya. Terima kasih atas kesempatan yang sudah di berikan kepada saya pada hari ini." ucap Yafet yang mengakhiri presentasi mata kuliah bisnis nya.
Kelima dosen itu berdiri dan bertepuk tangan setelah mendengar presentasi dari Yafet. Kelima dosen itu terdiri dari dua orang dosen pembimbing dan tiga orang dosen penguji. Tak lupa Yafet berjabat tangan dengan para dosen tersebut. Mereka menepuk pundak Yafet dan mengatakan "Semoga kau sukses"
Yafet melangkahkan kakinya keluar dari ruang presentasi dengan penuh keyakinan. Perasaan nya antara senang dan lega "Akhirnya selesai sudah."
Hari ini adalah ujian terkahir bagi Yafet. Pria itu tinggal menunggu hasil nilai ujian nya keluar dalam dua minggu ke depan. Diambilnya ponsel miliknya yang berada di saku celananya. Sengaja dia mematikan ponsel tersebut agar tidak mengganggu acara presentasi ujian nya.
Ada suara pesan singkat dari ponsel nya. Yafet melihat nama Hazal di notifikasi ponsel tersebut. Rupanya gadis itu sedang mengirim pesan bergambar. Dibukanya pesan dari Hazal. Tampak foto cantik Hazal yang sedang berada di sebuah kafe di mall.
"Kau membuatku semakin merindukan mu, Hazal." senyum Yafet mengembang begitu dia melihat foto Hazal.
Sebuah tangan Jason menepuk pundaknya dengan tiba-tiba. Dengan cepat Yafet menutup aplikasi pesan singkat di ponselnya. Tetapi Jason dengan sigap, sekilas telah melihat foto Hazal.
"Cantik. Siapa dia? Apakah dia pengganti Selina? Apakah dia mahasiswi kampus ini? Jurusan apa dia? Di mana kalian bertemu?" ucap Jason dengan begitu banyak pertanyaan.
"Pertanyaan mu seperti nenek-nenek saja." seru Yafet yang berjalan mendahului Jason.
"Bagaimana ujian presentasi mu hari ini?"
Yafet menunjukkan jari jempol kepada teman nya sambil tersenyum puas.
"Gila....bro. Kau pasti lulus tahun ini."
"Apa kau tidak mau lulus tahun ini juga?"
"Seperti nya aku tidak terlalu yakin."
"Kalau begitu, bersiaplah jadi mahasiswa abadi di sini." seru Yafet terkekeh-kekeh sambil menepuk pundak Jason.
"Awas kau." seru Jason.
******
Siang hari di New York, cuaca sudah mulai panas di negara ini. Yafet merebahkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya. Tangan nya sedang memegang ponsel dan hendak menelepon Hazal.
Tetapi ponsel milik Hazal tidak ada jawaban. Beberapa kali Yafet mencoba menghubunginya, hasilnya tetap sama. Dia melihat jarum panjang di jam tangan nya yang menunjukkan pukul 2 siang waktu New York. Sementara di Istanbul sudah pukul 10 malam.
"Apa Hazal sudah tidur? Dimana dia saat ini? Atau aku coba hubungi ibu?"
Drrt.......drrt........drrt......
Suara ponsel di meja rias Meral berbunyi. Perlahan wanita paruh baya itu mengambil ponsel nya dan menggeser tombol hijau pada ponsel tersebut.
"Halo."
"Ibu.....apa Hazal sudah tidur?"
"Belum....maksud ibu...Hazal belum pulang. Sore tadi temannya yang bernama Ozcan menjemput nya dan mengajak nya keluar."
"Ozcan?"
"Iya....seingat ibu nama teman nya tadi bernama Ozcan. Kurasa dia pemuda yang baik. Dia pasti akan menjaga Hazal. Kau sudah menghubungi ponsel Hazal?"
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Aku akan menghubungi ponsel nya."
Yafet dengan terburu-buru menutup pembicaraannya dengan ibunya. Hati nya saat ini sedang tidak tenang karena Hazal sedang pergi berdua dengan Ozcan.
"Berani sekali dia mengajak Hazal keluar!! Apa mereka sedang berkencan? Sial....aku tidak bisa menghajarnya karena saat ini aku berada jauh dari Hazal" ujar Yafet yang emosi saat itu. Pria itu mengepalkan tangan nya. Dia masih sibuk menghubungi Hazal. Mungkin sudah ada sekitar lima belas panggilan yang tidak di jawab oleh Hazal.
"Hazal...angkat ponsel mu. Angkat Hazal... Dimana kau? Kenapa kau tidak memberitahu ku kalau kau saat ini sedang berkencan dengan Ozcan." ujar Yafet yang berbicara dengan dirinya sendiri dengan penuh emosi sementara tangannya sedang sibuk menunggu jawaban Hazal dari ponselnya. Dia berjalan ke kiri dan ke kanan terus berulang-ulang di dalam kamarnya.
Dilemparkan nya ponsel nya ke ranjang tempat tidurnya. Pria itu sangat gusar, dia mengusap wajahnya dengan cepat. Dia melangkahkan kaki nya menuju dapur dan mengambil minuman kaleng bersoda dari lemari es. Di minum nya minuman kaleng itu, untuk mendinginkan hatinya. Tapi tetap saja tidak berpengaruh, di remasnya kaleng minuman bersoda itu dan dilemparkan nya ke dinding.
Hentakan kaleng minuman itu mampu meluapkan kekesalan hatinya. Tubuh Yafet merosot kebawah, terduduk di lantai dapur.
"Apa aku sedang cemburu? Aku tidak mengerti tentang perasaan ini. Aku sudah berulang kali berkencan dengan banyak gadis, tapi tak satupun dari mereka yang membuat ku seperti ini."
Di tengah kesendiriannya saat ini, hanya terdengar jarum jam yang berbunyi...detik demi detik dan menit demi menit.
****
Sementara itu di Istanbul, Ozcan sedang mengantar Hazal pulang dengan mengendarai mobilnya. Sesampai di depan rumah keluarga Aksal, tiba-tiba Ozcan memegang tangan kanan Hazal. Entah pemuda itu mendapat keberanian dari mana, hingga di malam yang hampir larut ini dia memberanikan diri untuk memegang tangan gadis yang di kagumi nya. Di pandanginya lekat-lekat kedua mata coklat Hazal.
"Ada apa, Ozcan?" tanya Hazal yang terkejut karena tiba-tiba Ozcan memegang tangan nya.
"Hazal, kita sudah lama berteman sejak kita sama-sama duduk di tahun pertama di Senior High School. Aku sudah lama mengagumimu, entah kau sadar atau tidak. Aku...."
"Kau kenapa Ozcan?" Hazal tampak khawatir melihat teman nya yang berbicara sedikit melantur.
Ozcan semakin mengeratkan genggaman tangan nya ke tangan Hazal. Pemuda itu mendekatkan tubuhnya ke arah Hazal. Semakin dekat, ujung pundak mereka saling bertemu. Semakin jelas pahatan elok di wajah Hazal, dagunya yang terbelah, hidung nya yang mancung, wajahnya yang tirus dan bibir merahnya yang mungil. Yang membuat Ozcan menelan saliva nya.
Sebelum mendapat jawaban dari Hazal. Ozcan telah mencium pipi kanan Hazal dan ingin mencium bibir merah gadis itu. Tetapi belum sempat bibir mereka bersentuhan, Hazal mendorong tubuh Ozcan untuk menjauh dari nya. Pegangan tangan Ozcan pun terlepas dari tangan Hazal. Segera Hazal membuka pintu mobil.
"Apa yang kau lakukan, Ozcan !!!" teriak Hazal sambil mengusap pipi kanan nya yang basah karena ciuman dari Ozcan. Dengan keras Hazal menutup pintu mobil tersebut dan berlari masuk ke dalam halaman rumah.
Dengan cepat Ozcan hendak mengejar Hazal. Tapi sial baginya, pagar depan rumah keluarga Aksal sudah tertutup. Dia melihat Hazal berlari menuju pintu rumahnya, semakin lama semakin tidak terlihat.
"Ozcan.....kenapa kau tidak bisa menahan dirimu untuk tidak mencium Hazal !! Arrggh...... semuanya jadi kacau."
Penampilan pemuda itu tampak kacau saat ini. Dia memukul setir kemudi nya dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Aksal.
*******
Hazal menaiki tangga yang ada di rumah nya dengan buru-buru. Meral yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat kedatangan Hazal yang terburu-buru bertanya pada putri nya...
"Hazal...kau sudah pulang? Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi, kau seperti habis melihat hantu."
"Tidak ada apa-apa, Bu. Aku pikir ayah dan ibu sudah tidur, jadi aku dengan cepat ingin menuju ke kamarku." jawab Hazal dengan kepala tertunduk.
"Baiklah kalau tidak terjadi apa-apa. Naiklah. Istirahatlah. Oh iya...tadi Yafet mencari mu, mungkin dia tidak bisa menghubungi ponsel mu."
"Aku akan menghubungi nya. Selamat malam ibu"
Sesampainya di kamar. Hazal mengambil ponsel nya, terlihat ada dua puluh kali panggilan tak terjawab dan semuanya dari Yafet. Dia baru menyadari jika ponsel nya saat ini masih dalam kondisi silent atau senyap.
"Oh Yafet......aku lupa mengganti mode nya sejak dari tadi pagi di sekolah."
__ADS_1
Sekejap kejadian dirinya dengan Ozcan seakan telah menguap. Di pikiran Hazal, dia hanya ingin berbicara dengan Yafet. Satu hari ini dia tidak mendengar kabar dari kakak angkatnya itu.
Kembali ke kisah sebelumnya, Yafet yang terduduk di lantai dapur apartemen nya....
Drrt.....drtt.......drrtt..........
Terdengar suara ponsel Yafet berbunyi di dalam kamarnya. Yafet segera berdiri dan melangkahkan kaki nya dengan gontai menuju ke kamar. Dilihat nya nama Hazal di panggilan masuk pada ponsel tersebut.
Dengan cepat, Yafet mengambil ponsel nya dan menjawab panggilan dari Hazal.
"Kemana saja kau gadis kecil?" tanya Yafet dengan sarkasme nya.
"Maafkan aku....aku tidak mendengar ada panggilan dari mu. Aku lupa mengubah mode nada dering ku. Maaf." ucap Hazal lirih.
Setelah berdiam beberapa menit, emosi Yafet sudah kembali stabil.
"Aku senang akhirnya aku bisa mendengar suara mu. Aku dengar dari ibu, kalau kau pergi dengan Ozcan malam ini."
Ketika mendengar ucapan Yafet tentang nama Ozcan. Kembali ingatan Hazal teringat akan kejadian yang baru saja terjadi di dalam mobil.
"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu? Kenapa kau diam saja, Hazal?"
"Ti...tidak...tidak ada yang terjadi." jawab Hazal gugup. Dia tidak ingin Yafet marah seperti waktu itu, kakak angkatnya itu hendak memukul Ozcan.
"Kenapa suaramu gugup? Apa kau tidak ingin menceritakan nya kepada ku?"
Hazal menghela nafasnya dalam-dalam. Di tengah kesunyian malam ini, dia menceritakan tentang kepergiannya bersama Ozcan, bertemu dengan teman-teman nya di kafe, sampai kepada tentang pernyataan cinta Ozcan dan perbuatan Ozcan kepada dirinya.
" Apa? Beraninya dia berbuat seperti itu kepadamu !!?! Aku akan mematahkan tangan nya dan menghajar wajahnya jika aku bertemu dengan nya nanti." Yafet mengepalkan tangan nya. Dia lupa kalau saat ini dia berada jauh dari Hazal.
"Sudahlah....kau jangan marah. Aku tak apa-apa. Dia tidak melakukan hal yang lain lagi."
"Kenapa kau masih membelanya? Apakah kau akan menerimanya sebagai kekasih mu?" teriak Yafet dalam kemarahannya.
"Aku....belum memikirkannya. Entahlah." Hazal menjawab nya dengan kalimat yang ambigu.
Jawaban Hazal semakin membuat Yafet marah, kemudian dia mengakhiri pembicaraan nya dengan Hazal, karena gadis itu sangat lelah.
"Berarti ada kemungkinan Hazal akan menerima cinta Ozcan. Brengsek kau Ozcan." gumam Yafet dengan melayangkan pukulan tangan nya ke lemari pakaian.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel pertama ku ini. Semoga kalian menyukai tulisanku ini. Jangan lupa kasih
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komen dan
🤗 Vote kalian ya
Supaya aku makin semangat untuk menyelesaikan novel ini. Nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya. Terimakasih 🙏
__ADS_1