DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Malam Mencekam - Ajari Aku Bagaimana Caranya Mencintaimu


__ADS_3

"Ayo lakukan Hazal? Apa yang kau tunggu? Tarik pelatuknya!" tantang Kenan yang melihat tangan Hazal mulai gemetar. Hazal membetulkan letak jarinya berulangkali.


"Mari kita lakukan sama-sama. Tarik pelatukmu juga!" teriak Hazal yang mulai memfokuskan dirinya pada Kenan. Membidikkan pistolnya itu ke dada Kenan.


Mereka berdua menarik pelatuknya bersama-sama. Dalam hitungan ketiga, terdengar bunyi klik dari salah satu pistol itu. Hening.


Hazal memeriksa pistolnya. Ternyata pistol tersebut kosong, tidak ada peluru di dalamnya.


"Lelucon macam apa ini, Kenan?" Dengan amarahnya ia membuang pistol kosongnya ke lantai.


"Ini bukan lelucon, Hazal! Kenyataannya hanya ada satu peluru di sini dan peluru itu ada di pistolku!" seru Kenan yang kembali menodongkan kembali senjatanya.


Kenan sejak tadi tidak menarik pelatuknya, ia hanya menaruh jari telunjuknya di depan pelatuk pistolnya. Ia sengaja memberi kesempatan Hazal untuk menembak dirinya lebih dulu, tetapi ternyata peluru itu ada di dalam pistolnya.


Hazal menatap lubang pistol Kenan yang mengarah ke dadanya.


Apakah ini hari terakhirku? Apakah hidupku akan berakhir di tangan anak pembunuh ini? Ayah... Ibu... apakah kalian akan membawaku pergi malam ini? Aku belum menuntaskan kewajibanku pada kalian.


Hazal memejamkan kedua kelopak matanya, menunggu peluru itu menembus dadanya.


Mungkin dengan cara ini, aku bisa menebus kesalahanku dan kesalahan ibuku pada Kenan. Kenan maafkan aku...


"Ayo tembak aku, Kenan! Kau sudah mengabulkan permintaan terakhirku. Tembak wanita pembohong ini!" tantang Hazal dengan suara lantangnya. Dalam teriakannya ia masih menutup kelopak matanya.


Kenan sudah bersiap-siap menarik pelatuk pistolnya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, ia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halo," ucap Kenan dengan nada marahnya. Ia masih mengarahkan pistol itu ke tubuh Hazal.


"Aku sudah menemukan siapa dalang di balik sabotase lift yang mencelakai Hazal." Terdengar suara Mehmet dari ujung ponselnya.


"Kirim buktinya padaku sekarang!" teriak Kenan dengan wajah garangnya. Manik matanya masih menatap tajam wajah Hazal yang diam mematung di hadapannya.


Dalam hitungan detik, sebuah pesan video masuk ke ponsel Kenan. Ia menempelkan ponselnya di telinganya tanpa melihat gambar video itu.


"Ampun Tuan Harun. Jangan bunuh aku," ucap pria yang dipukul Kenan di gudang tua beberapa waktu yang lalu.


"Bukankah kau telah gagal? Aku menyuruhmu untuk mencelakai Hazal Aksal! Tapi nyatanya wanita itu masih hidup, dan kau malah memberitahu Kenan tentang kejadian ini!" teriak Harun.


Terdengar suara tembakan di sana.


Ponsel itu terlepas dari genggaman tangan Kenan dan terjatuh ke lantai. Manik matanya kembali memerah. Wajahnya bertambah tegang.


Hazal membuka kedua kelopak matanya, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia hanya mendengar ponsel Kenan berbunyi, kemudian pria itu berbicara dengan seseorang dan tiba-tiba ponsel itu jatuh ke lantai.


"Kenapa kau tidak menembakku?" tanya Hazal yang melihat raut wajah Kenan yang nampak terkejut oleh sesuatu hal. "Aku sudah menunggu hari kematianku."


"Kenapa kalian berdua membohongiku, hah? Kau pikir siapa dirimu Hazal Danner? Beraninya kau memerintahku!" teriak Kenan yang berjalan menuju tempat Hazal berdiri.


Hazal memundurkan langkahnya melihat Kenan yang sudah mulai tidak terkontrol emosinya. Manik mata abu-abu gelap itu melotot ke arahnya. Sangat menakutkan, tidak seperti Kenan yang ia kenal selama ini.


"Kau ingin mati? Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu!" teriak Kenan yang menempelkan pistolnya di kepala Hazal yang sudah mulai terpojok di dinding.


Hazal hanya bisa menunggu pelatuk itu di tarik oleh tangan Kenan. Ia memejamkan kembali kelopak matanya. Air matanya sudah mulai meleleh membasahi pipinya.

__ADS_1


Ayah Emir... Ibu Meral... Yafet... selamat tinggal.


Hazal menghitung waktu kematiannya. Satu detik... dua detik... tiga detik... empat detik... lima detik...


"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Hazal yang tampak kebingungan melihat Kenan mengeluarkan pelurunya dari pistolnya. Laki-laki itu membuang begitu saja pistol dan peluru itu ke lantai.


Kenan mengunci tubuh Hazal dengan kedua tangannya. "Aku akan membantumu."


"A...apa maksudmu dengan membantuku?" Hazal semakin tidak mengerti dengan perkataan Kenan.


"Aku akan membantumu membalas dendam atas kematian orang tuamu dan kematian ibuku. Aku tidak membunuhmu, karena aku tidak ingin menjadi seperti ayahku!" ucap Kenan yang menatap tegas manik mata coklat itu.


"Apa kau serius dengan perkataanmu? Apa kau ingin menjadi anak durhaka hanya untuk menolongku?" tanya Hazal.


Ia tidak ingin Kenan membohongi dirinya, karena selama ini ia menganggap Kenan tidak jauh berbeda dari ayahnya.


"Pertolonganku tidak gratis. Aku punya syarat untukmu," ucap Kenan dengan setengah berbisik. Sorot mata abu-abu itu seperti sedang menarik Hazal untuk menerima tawarannya.


Manik mata coklat itu berputar ketika mendengar perkataan Kenan. "Katakan apa syaratmu?"


"Tinggalkan Yafet Aksal! Menikahlah denganku dan cintai aku seperti kau mencintai kakak angkatmu itu," bisik Kenan di telinga Hazal.


Hazal terkejut dan terdiam beberapa saat. Ia memikirkan perkataan Kenan dan tentang pernikahannya.


Apa sudah saatnya aku memilih pasangan hidupku? Aku tidak mungkin berdiri di atas dua perahu. Bagaimana dengan Yafet? Pria itu sudah menikah dan sebentar lagi Selina akan melahirkan anaknya. Apa aku masih berharap akan kembali lagi bersamanya? Aku harus menepati janjiku untuk mengubur cintaku pada Yafet.


"Bagaimana?" tanya Kenan yang menurunkan kedua tangannya yang sejak tadi ia gunakan untuk mengunci Hazal di dinding.


Hazal masih terdiam, memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Kenan.


Tak sabar menunggu jawaban Hazal, Kenan membalikkan badannya menjauhi wanita itu. Ia berpikir Hazal pasti akan menolaknya.


"Kenan, ajari aku bagaimana caranya mencintaimu," ucap Hazal sambil memegang tangan laki-laki itu yang akan menjauh darinya.


Langkah kaki Kenan terhenti, ketika Hazal memegang tangannya. Ia membalikkan badannya menghadap Hazal.


"Artinya? Kau mau menikah denganku?" tanya Kenan dengan raut wajah hampir tidak percaya setelah ia mendengar perkataan Hazal.


Hazal menganggukkan kepalanya, "Ya. Aku mau menikah denganmu."


Kenan memeluk Hazal dengan erat. Ada satu perasaan lega di hati mereka berdua, setelah semua kebenaran itu terungkap.


"Aku mencintaimu Hazal," ucap Kenan dengan lembut.


"Maafkan aku...." Hazal tidak bisa meneruskan perkataannya karena Kenan dengan cepat menutup bibirnya dengan ciumannya yang lembut.


Ada satu getaran yang terjadi di hati Hazal ketika ia membalas ciuman Kenan. Tidak seperti biasanya. Kali ini Hazal menggunakan perasaannya, ia menyentuh wajah Kenan dan mengusap punggung laki-laki itu dengan lembut.


Cairan bening itu mengalir dari sudut mata mereka berdua, mereka masih menyatukan bibir mereka di tengah malam. Mereka saling menempelkan tubuh mereka, membuat lidah mereka saling menjelajahi satu sama lain. Semakin larut malam, ciuman itu semakin panas.


Kenan mampu membangkitkan gairah cinta Hazal yang sudah lama terkubur. Hati Hazal yang semula membeku kini telah mencair seiring dengan ketulusan cinta Kenan kepadanya.


Tanpa disadari oleh mereka berdua, ada sekitar sepuluh orang bersenjata menyerbu rumah itu. Mereka hanya menjalankan satu perintah, "Bunuh wanita itu!"

__ADS_1


Salah satu dari sepuluh orang itu mengarahkan senjatanya ke jendela kamar Hazal. Ia menarik pelatuknya. Dalam hitungan beberapa detik, peluru itu sudah memecahkan kaca jendela kamar Hazal dan menembus dinding lemari pakaian.


Suara tembakan itu membuat Kenan melepaskan ciumannya. Sepasang kekasih itu tampak terkejut mendengar kedatangan tamu tak diundang.


"Hazal, menunduk!" seru Kenan. Mereka berdua pun bersembunyi di bawah ranjang.


"Siapa mereka?" tanya Hazal kepada Kenan. Putra Harun itu menegakkan sedikit tubuhnya, ia melihat seorang laki-laki yang ia kenal berjalan ke jendela kamarnya yang telah pecah. Laki-laki itu membawa senjata apinya.


"Anak buah ayahku," jawab Kenan sambil mengambil senjatanya di lantai. Ia memasukkan kembali pelurunya.


Suara tembakan itu terdengar kembali semakin dekat. Anak buah Harun menembak rumah itu dengan brutal. Belasan peluru beterbangan di dalam rumah.


"Kenan, kita hanya punya satu peluru. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Hazal yang tidak tahu bagaimana caranya mereka keluar dari rumah ini dalam keadaan hidup.


"Apa kau takut?" tanya Kenan. Ia mengambil ponselnya di lantai.


"Aku tidak takut," ucap Hazal dengan penuh keyakinan.


"Ambil senjataku, lindungi aku! Ayo kita keluar dari rumah ini!" seru Kenan sambil memberikan senjatanya pada Hazal. Ia berjalan menempel di dinding, Hazal mengikutinya dari belakang.


"Apa kau akan melawan mereka dengan tangan kosong?" tanya Hazal sambil menembak anak buah Harun yang masuk ke dalam kamar. Wajah Hazal terlihat pucat setelah ia membunuh anak buah Harun dalam satu tembakan.


"Apa ini pertama kalinya kau menembak manusia?" tanya Kenan sambil tersenyum menatap Hazal kemudian ia mengambil senjata anak buah Harun yang sudah tewas.


"Aku seorang jaksa, bagaimana bisa aku membunuhnya?" Hazal membuang pistol kosongnya ke lantai.


"Dalam keadaan seperti ini, tak peduli kau seorang malaikat atau seorang Iblis, kau harus melindungi dirimu!" seru Kenan yang menembak anak buah Harun di ruang tengah.


"Kalian semua telah membuatku menjadi anak Iblis sekarang!" seru Hazal yang menggelindingkan tubuhnya keluar dari kamar dan mengambil senjata anak buah Harun yang telah di tembak mati oleh Kenan.


Hazal menggunakan sofa ruang tengah sebagai tamengnya. Ia dan Kenan menembak satu per satu anak buah Harun yang masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua pun keluar dari rumah itu, sebuah peluru menyambut mereka. Tetapi Hazal berhasil menghindarinya. Kenan menembak mati orang yang ingin membunuh Hazal.


Anak buah Harun semakin bertambah, mereka menembaki Kenan dan Hazal yang baru saja keluar dari rumah. Mereka berdua membalas tembakan anak buah Harun.


Tiba-tiba mata Kenan tertuju pada beberapa kotak kecil yang menempel di dinding rumah. Angka di kotak kecil itu terus berjalan. Sepuluh... sembilan... delapan...


"Lari Hazal!" teriak Kenan sambil menarik tangan Hazal untuk menjauhi rumah.


Terdengar suara ledakan yang sangat keras menghancurkan rumah itu. Kobaran api membumbung tinggi meluluh lantakkan seluruh bangunan. Kenan dan Hazal melompat menjatuhkan diri mereka di atas rumput. Kenan memeluk dan melindungi kepala Hazal. Kini tubuhnya menindih tubuh Hazal.


"Apa kau terluka?" tanya Kenan. Ia melihat ada noda darah di wajah Hazal, diusapnya cairan merah itu dari wajah kekasihnya.


"Tidak apa, mungkin ini hanya cipratan darah orang yang aku tembak tadi," ucap Hazal.


"Ayo kita keluar dari sini!" ajak Kenan. Mereka berdua bangkit berdiri dan saling melindungi.


Tembak menembak itu masih terus berlangsung, meskipun Kenan dan Hazal sudah menghabisi anak buah Harun. Tetapi orang-orang itu selalu datang silih berganti tidak ada habisnya.


Malam ini Harun telah mengirim semua anak buahnya yang ada Swiss untuk membunuh Hazal. Harun sudah mengetahui bahwa Hazal bukan hanya mencuri kotak besi dan kuncinya tapi rubah tua itu sudah mengetahui bahwa putri Erkan itu tidak meninggal di malam pembunuhan orang tuanya.


Ia hendak membunuh Hazal karena wanita itu adalah saksi kunci pembunuhan Erkan dan Ayla, sama seperti ia membungkam semua anak buahnya yang mengetahui peristiwa pembunuhan itu.

__ADS_1


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2