
Siang ini Hazal berada di tengah jalan raya kota Innsbruck. Kota Innsbruck ini adalah ibu kota Austria, kota kecil yang paling dekat dengan pegunungan Alpen. Kota ini berada di tengah-tengah Pegunungan Alpen yang terkenal dengan salju abadinya. Pegunungan Alpen ini pegunungan terbesar di Eropa yang membentang dari Austria dan Slovenia di timur, melalui Italia, Swiss, Liechtenstein, dan Jerman, sampai ke Prancis di barat.
Di kota ini Hazal sedang mencari beberapa pakaian untuk Kenan dan dirinya. Ia masuk ke dalam sebuah toko pakaian, dilihatnya harga pakaian itu. Kemudian ia merogoh sakunya mencari sisa uangnya. Hanya ada selembar uang 50 Euro.
Uangku hanya cukup untuk membeli satu buah pakaian Kenan. Sementara kami harus bertahan hidup di dalam gudang, entah untuk beberapa hari lagi.
Hazal keluar dari toko pakaian tanpa membeli apapun. Ia masuk ke dalam pasar tradisional yang berada di ujung jalan. Pasar itu menjual barang-barang yang lebih murah daripada toko pakaian yang tadi ia masuki.
Wanita itu berjalan menyusuri pasar, sampailah ia di depan sebuah toko emas. Ia memegang sepasang anting-anting berliannya. Ia mendekati etalase kaca toko perhiasan tersebut.
"Aku ingin menjual anting-antingku," ucap Hazal kepada pemilik toko. Seorang pria dengan rambut dan kumis emasnya.
Hazal melepas sepasang anting-antingnya dari lubang telinganya dan memberikan kepada pemilik toko tersebut.
Pria itu memeriksa keaslian perhiasan Hazal dan batu berlian yang menghiasinya.
"Berapa harganya?" tanya Hazal kemudian.
"200 Euro," jawab pria itu sambil meletakkan kaca pembesarnya di atas meja etalase.
"Apa anda tidak bisa menaikkan harganya?" tanya Hazal dengan wajah yang sedikit memelas. Ia memang sangat membutuhkan uang saat ini. Dompet dan kartu banknya semuanya ikut terbakar di rumah keluarga Fallay.
Pemilik toko itu melihat cincin dan gelang yang dikenakan oleh Hazal. "Mungkin kau mau menjual cincin dan gelangmu juga?"
Hazal melepas gelang dan cincin emasnya dan memberikannya kepada pria itu. Pemilik toko itu menimbang berat kedua perhiasan itu.
"Berapa uang yang aku dapatkan?" tanya Hazal.
"300 Euro," ucap pria itu yang meletakkan ketiga perhiasan Hazal di atas meja etalase.
"Apa? Hanya 300 Euro? Itu emas dan batu berlian asli!" seru Hazal yang kecewa dengan harga tersebut.
"Nona, perhiasan dan batu berlianmu memang asli. Tapi aku tidak bisa memberikanmu harga tinggi karena kau tidak memiliki surat untuk perhiasanmu. Bisa jadi ini hasil curian," jawab sang pemilik toko.
"Apa? Anda pikir aku seorang pencuri? Ini milikku sendiri!" seru Hazal sambil memicingkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Nona. Jika anda tidak berminat, silahkan tinggalkan toko kami," ucap pria tersebut dengan tangannya yang menyilakan Hazal untuk keluar dari tokonya.
Hazal terkejut mendengar perkataan pemilik toko perhiasan itu.
Hanya ini yang aku punya saat ini atau aku dan Kenan akan mati kedinginan dan kelaparan di dalam gudang.
"Baiklah! Berikan aku uangnya!" seru Hazal kepada pemilik toko.
Pemilik toko perhiasan itu memberikan uang sebanyak 300 Euro kepada Hazal. Wanita itu segera meninggalkan toko tersebut dan membeli berbagai kebutuhannya saat ini.
Dia membeli sebuah alat pengisi baterai untuk ponselnya, agar ia bisa menghubungi keluarganya yang ada di Turki. Ia juga membeli beberapa pakaian untuk Kenan dan sebuah selimut. Tak lupa ia membeli makanan dan minuman. Tapi ia tidak membeli untuk kebutuhannya sendiri.
Biaya hidup di sini ternyata sangat mahal. Berbeda dengan hidup di Turki.
Dilihatnya uangnya kini hanya tersisa 100 Euro. Ia memasukkan uang kertas itu ke dalam saku celananya dan kembali mengemudikan mobil tuanya menuju gudang tempat tinggalnya saat ini.
"Kau sudah pulang, bagaimana keadaan di luar?" tanya Kenan yang melihat Hazal masuk ke dalam.
Putra Harun itu hendak bangun dari posisi tidurnya, tetapi Hazal segera menjatuhkan tas belanjaanya dan segera berlari mendekati Kenan.
__ADS_1
"Berbaringlah, lukamu belum kering." Hazal menahan tubuh Kenan agar laki-laki itu tidak bangun.
"Aku bisa mati kaku, jika hanya berbaring sepanjang hari," ucapnya sambil tertawa kecil.
Hazal menambah tumpukan jerami di belakang kepala Kenan, agar tubuh kekasihnya itu sedikit lebih terangkat.
"Aku mengijinkanmu hanya sebatas ini, tidak lebih! Jahitan lukamu bisa terbuka, jika kau banyak bergerak! Aku bukan dokter, jadi aku hanya menjahit lukamu asal-asalan!" seru Hazal seperti seorang perawat yang sedang memarahi pasiennya.
Kenan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Hazal yang sedikit galak. "Kau seperti seorang nenek yang sedang memarahi cucunya."
"Apa katamu?" manik mata coklat itu melotot mendengar perkataan Kenan.
Kenan segera menarik tangan Hazal untuk mendekat kepadanya dan merengkuh tubuh ramping itu, "Tapi aku sangat menyukainya."
Hazal tersenyum di balik dada Kenan yang polos tanpa sehelai benang pun sejak semalam. Tubuh Kenan terasa dingin. Ia pun teringat dengan barang belanjaannya.
Hazal segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Kenan. Ia mengambil sebuah kemeja berwarna biru dan mengenakan pakaian baru itu di tubuh Kenan. Jari jemarinya memasukkan deretan kancing itu ke dalam lubangnya.
"Sempurna!" Hazal tersenyum manis melihat kemeja lengan panjang itu pas di tubuh Kenan.
Hazal mengeluarkan selimut barunya dan menutupi tubuh Kenan dengan kain tebal itu. "Kau tidak akan kedinginan malam ini."
Belum sempat Kenan berbicara, Hazal sudah membuka kotak makanannya.
"Kau membeli semua ini?" tanya Kenan sambil melihat begitu banyak tas belanjaan yang dibawa oleh Hazal.
"Tentu saja aku membelinya! Apa aku akan merampok di siang bolong?" Hazal membuka lebar kelopak matanya kemudian tersenyum manis memperlihatkan belahan dagunya.
Kenan menatap wajah Hazal, timbul berbagai pertanyaan di dalam pikirannya.
"Buka mulutmu! Aku akan menyuapimu," kata Hazal yang telah menyiapkan sendok makannya yang terisi penuh di depan mulut Kenan.
"Hazal, bisa aku pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Mehmet agar dia membantu kepulangan kita," ucap Kenan setelah Hazal menyelesaikan makan siangnya.
Hazal memberikan ponsel merahnya itu kepada Kenan. Pria itu segera menghubungi sahabatnya.
"Apa kata Mehmet?" tanya Hazal setelah ia melihat Kenan menutup ponselnya.
"Besok dia akan datang," jawab Kenan. Ia mengembalikan ponsel merah itu kepada pemiliknya.
"Istirahatlah agar kau segera pulih," ucap Hazal yang mengurangi tumpukan jerami di belakang kepala Kenan dan menarik selimutnya ke batas leher pria itu.
Setelah dilihatnya Kenan sudah tertidur, Hazal melihat dari balik jendela keadaan di luar gudang. Seperti waktu-waktu sebelumnya tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Ia menyandarkan dirinya di dinding, menatap tubuh Kenan yang sedang berbaring agak jauh darinya.
Bagaimana reaksi seluruh keluarga Aksal jika aku memberitahu mereka tentang keputusanku untuk menikah dengan Kenan? Apa mereka akan menerima Kenan?
Hazal menghembuskan napasnya dalam-dalam dan menempelkan belakang kepalanya di dinding.
Mungkin terlambat bagiku untuk menyadari bahwa kau pria yang sangat baik, Kenan.
Hazal merebahkan dirinya di samping Kenan. Ia memasukan kedua telapak tangannya yang terasa dingin di balik lipatan lengannya. Hembusan angin dari lereng gunung membuat manik mata coklat itu menyembunyikan dirinya, perlahan-lahan akhirnya tertutup.
Hari menjelang sore, Kenan terbangun. Putra Harun itu melihat Hazal yang tertidur memunggunginya. Tangan kanannya itu membelai rambut coklat Hazal yang menutupi telinganya. Ia mencium tengkuk leher dan cuping telinga Hazal. Sejenak manik mata abu-abu gelap itu melihat ada yang sedikit berbeda.
Dimana anting-antingnya? Semalam aku masih melihat anting-anting berlian itu terpasang di telinganya.
__ADS_1
Kenan berusaha menegakkan sedikit tubuhnya, rasa sakit menjalar di punggungnya. Ia melihat tangan dan jari Hazal. Tidak ada satu perhiasan pun yang melekat di tangan wanita itu saat ini.
Apa kau menjual perhiasanmu untuk merawatku? Membelikanku pakaian, selimut, obat-obatan dan makanan.
Kenan tampak tertegun melihat wajah Hazal yang sedang tertidur pulas. Ia kemudian menarik selimutnya dan memberikannya kepada Hazal. Ia melihat tumpukan barang-barang yang dibeli oleh kekasihnya.
Tak ada satupun barang wanita di sana. Ia bahkan tidak membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba di tengah lamunannya, Kenan di kejutkan dengan suara ponsel Hazal yang berdering di dekatnya. Ia menggapai ponsel itu dan melihat nama YAFET di layar tersebut.
Kenan segera menggeser tanda hijau itu dan menjawab panggilan Yafet.
"Halo," kata Kenan dengan suara datarnya.
(Di Istanbul, Yafet tampak menjauhkan sedikit ponselnya karena ia terkejut mendengar suara seorang laki-laki yang mengangkat ponsel Hazal)
"Siapa kau?" tanya Yafet dengan menaikkan nada suaranya.
"KENAN FALLAY," ucap putra Harun itu dengan penekanan. "Apa aku perlu mengeja namaku, Yafet Aksal?"
"Dimana Hazal?" tanya Yafet dengan raut wajahnya yang dingin.
"Dia sedang tidur di dalam pelukanku. Ia terlalu lelah untuk berbicara denganmu, karena kami telah menghabiskan malam indah kami bersama," jawab Kenan yang sengaja membuat hati Yafet panas. Ia melihat Hazal yang masih memunggunginya.
"Berikan ponsel itu kepada Hazal! Atau aku akan merobek mulut sampahmu itu**!" teriak Yafet sambil mengepalkan telapak tangannya.
"Sebelum kau merobek mulutku. Ada baiknya kau mendengarkan suara desahannya yang menggairahkan ketika ia memanggil namaku." Kenan menambahkan minyak panas di hati Yafet yang sudah terbakar.
"Beraninya kau menyentuh Hazal! Aku akan menguliti tanganmu!" teriak Yafet dengan suara lantang.
"Memangnya siapa dirimu, hah? Kau bukan siapa-siapa lagi baginya! Hazal Aksal oh aku lupa... lebih tepatnya Hazal Danner adalah kekasihku!" teriak Kenan dengan penuh penekanan, membuatnya memegangi luka di perutnya.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu, brengsek!" teriak Yafet di balik ponselnya.
"Aku akan menunggumu, Yafet Aksal!" seru Kenan yang langsung mematikan ponsel Hazal ketika ia melihat kekasihnya itu membalikkan badannya.
Sorot matanya menatap tajam dinding yang ada di depannya. Rahangnya tampak mengeras setelah mendengar tantangan dari Yafet.
Kelopak mata Hazal mengerjap-ngerjap. Ia samar-samar mendengar suara Kenan sedang berbicara dengan seseorang. Manik mata coklat itu sudah menampakkan dirinya.
"Kau tadi bicara dengan siapa?" tanya Hazal yang bangun dari posisi tidurnya. Ia terduduk di samping Kenan.
"Hanya telepon salah sambung," jawab Kenan singkat. Tapi wajahnya masih terlihat tegang.
"Salah sambung?" Hazal memicingkan kedua matanya menatap pria yang ada di sampingnya. Ia merasa itu bukan telepon salah sambung.
"Ya. Orang dari agen asuransi," jawab Kenan sambil mengalungkan lengannya di pinggang Hazal.
"Berikan ponselku, aku akan mengisi baterainya," ucap Hazal. Kenan segera memberikan ponsel merah itu kepada kekasihnya.
Hazal berdiri memunggungi Kenan untuk mengisi baterai ponselnya, ia melihat sekilas panggilan terakhirnya. Tidak ada nama siapapun di layar ponselnya.
Mungkin Kenan sudah menghapus nomor ponsel agen asuransi itu. Sudahlah. Ada baiknya ia menghapus nomor-nomor yang tidak aku kenal.
"Sayang, bagaimana jika kita menikah minggu depan?" tanya Kenan. Suaranya tiba-tiba sudah terdengar tepat di belakang Hazal. Membuat Hazal hampir saja menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏