
Seorang DJ perempuan memainkan musiknya dengan sangat terampil, ia meliuk-liukkan tubuhnya di atas panggung mengikuti irama musik yang ia mainkan. Bunyi hentakan musik memecahkan adrenalin membuat semua orang yang ada di sana harus bergoyang. Sinar lampu sorot berwarna-warni menghiasi wajah dan tubuh mereka.
David dan Jason menikmati malam ini dengan gembira, mereka menari dengan gadis yang baru saja mereka temui. Gadis itu benar-benar menggoda, dengan pakaian mereka yang seksi mereka menari di depan Jason dan David. Sangat erotis.
"Jason, hanya kita berdua yang masih bisa menikmati surga duniawi ini," teriak David yang memeluk tubuh gadis yang ada di depannya. Membuat tubuh mereka tidak ada jarak sama sekali.
"Hahahaha... Kau benar. Lihatlah Lee dan Yafet, mereka menjadi pria yang nestapa, terikat oleh cinta dan wanita," teriak Jason yang menarik tangan gadis yang ada di depannya untuk mendekat padanya. Menciumi setiap jengkal leher gadis itu.
Hazal mengajak Carina untuk duduk di meja bartender, mereka meminta segelas minuman kepada seorang bartender.
"Alkohol atau non alkohol?" tanya seorang bartender yang ada di depan mereka.
"Non alkohol," jawab Carina.
"Berikan aku yang alkohol," jawab Hazal. Carina terkejut dengan permintaan Hazal. "Kau bisa mabuk, Hazal !!"
"Tenang saja, aku hanya minum satu gelas, aku tidak akan mabuk,"
"Tapi Hazal... "
"Kau tenang saja, jangan beritahu Yafet jika aku minum alkohol. Oke?"
"Baiklah, aku takkan mengatakan pada Yafet. Tapi jangan minum lebih dari segelas."
Bartender itu meletakkan minuman pesanan mereka di meja. Kedua gadis itu saling bersulang, meneguk minuman mereka sampai habis dan bergoyang di kursi mereka dengan irama musik.
"Kau tahu Carina, seumur hidup baru dua kali ini aku datang ke tempat ini dan selalu bersama Yafet. Kau tahu baru kali ini aku minum minuman ini. Rasanya benar-benar enak...."
"Sudah jangan minum lagi, atau nanti kau akan benar-benar mabuk. Lihat Lee dan Yafet datang kemari."
Dengan cepat Hazal memberikan gelas miliknya ke bartender yang ada di depannya. Yafet dan Lee menghampiri mereka dan mengajak kedua gadis itu menari. Mereka berempat pun turun ke lantai bawah, dan menari dengan pasangan mereka. Suara musik remix yang sangat keras, membuat mereka menari dengan semangatnya. Gerakan maju mundur mengikuti irama musik tersebut, bergoyang ke kanan dan ke kiri. Cucuran keringat membasahi wajah dan tubuh mereka.
Hazal merasakan tenggorokannya kering karena kehausan, segera ia menyudahi tariannya. Ia mengajak Yafet untuk duduk di meja bartender. Ketika hendak melangkah, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Yafet. Ternyata teman sekolah Yafet menyapanya. Kedua laki-laki itu saling mengobrol di sudut ruangan.
"Aku menunggumu di sana," kata Hazal kepada Yafet. Gadis itu menunjuk ke arah meja bartender.
"Berikan aku minuman yang tadi," bisik Hazal kepada bartender yang ada di depannya. Segera bartender itu menuangkan minuman ke dalam gelas Hazal, minuman yang sama. Di teguknya minuman itu sampai habis. Badannya terasa sedikit panas.
Dua orang laki-laki yang tidak di kenal, sejak tadi memperhatikan Hazal yang duduk seorang diri, segera menghampiri gadis itu.
"Minum satu gelas, tidak akan membuatmu merasakan kenikmatan minuman ini," ujar seorang laki-laki berbaju hitam yang telah duduk di samping Hazal.
"Oh ya... kau bisa minum berapa gelas?" tanya Hazal.
"Berikan satu botol minuman yang di minum nona ini padaku !!" pinta laki-laki lain yang memakai baju putih kepada bartender. Laki-laki itu meneguk minumannya sampai habis.
"Kau tak mabuk?" tanya Hazal kepada laki-laki itu.
"Minuman ini takkan membuatmu mabuk," ujar laki-laki berbaju putih itu.
__ADS_1
Laki-laki berbaju hitam juga meminum minuman yang sama, mereka menantang Hazal untuk menghabiskan satu botol seperti mereka.
"Oke... siapa takut. Berikan aku satu botol seperti mereka," pinta Hazal kepada bartender.
Dengan cepat Hazal meminum minuman itu, dan menghabiskan nya seorang diri. Kepalanya terasa sedikit berat, ia menggelengkan kepalanya. Kedua laki-laki itu tertawa dan menyoraki Hazal.
"Ternyata kau gadis yang hebat, mau tambah lagi?" tanya laki-laki berbaju hitam itu menyeringai.
"Ya...berikan aku sebotol lagi. Minuman ini sangat enak, betapa bodoh nya Yafet yang melarang ku untuk minum minuman ini."
Hazal menghabiskan botol kedua, kepalanya benar-benar pusing, badannya terasa terbakar, dia melihat kedua laki-laki itu seperti bayangan, wajah mereka terlihat banyak. Hazal menggelengkan kepalanya, dan memegang pundak laki-laki berbaju putih yang berdiri di depannya.
"Kurasa jika ia minum sebotol lagi, maka dia akan tumbang."
Laki-laki berbaju putih itu memeluk pundak Hazal, membawa tubuh gadis itu mendekat kepadanya. Hazal menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Sedangkan temannya menuangkan botol minuman itu ke mulut Hazal. Minuman itu tumpah membasahi wajah Hazal, kemudian gadis itu berteriak, "Lepaskan... lepaskan aku."
Yafet, Lee dan Carina mendengar dan melihat Hazal dari kejauhan segera mendatangi gadis itu, Yafet menarik tangan Hazal dari pelukan laki-laki berbaju putih dan menitipkannya kepada Carina. Sementara ia dan Lee menghajar kedua laki-laki kurang ajar itu. Mereka membuat kedua laki-laki itu babak belur dan mematahkan lengan mereka. Kedua laki-laki itu segera keluar dari club' malam dengan ketakutan, begitu mengetahui gadis yang mereka ganggu adalah kekasih Yafet.
Carina membawa Hazal untuk duduk di kursi, ia menepuk-nepuk kedua pipi Hazal, begitu Hazal menutup matanya.
"Apa yang terjadi, kenapa ini seperti adegan film?" tanya Hazal yang kembali membuka matanya.
"Lihatlah dirimu, kau benar-benar mabuk. Aku sudah mengatakan padamu, jangan minum lebih dari segelas."
"Kau menasihati ku seperti ibuku saja, kau salah... minuman itu tidak memabukkan aku. Yafet juga sangat keterlaluan, ia tidak mengijinkan aku minum minuman di tempat ini. Padahal minuman itu enak sekali rasanya. Kau tahu, tubuhku terasa terbakar begitu aku sudah menghabiskan dua botol."
Yafet dan Lee menghampiri mereka, Hazal berdiri dan menyambut mereka, "Kau membohongi ku Yafet, kedua laki-laki itu benar, lihat aku tidak mabuk, kenapa kau malah menghajar mereka?"
Hazal berbicara sambil sempoyongan dan tertawa memandangi Yafet.
Yafet bertanya pada bartender, minuman apa yang diberikan kepada Hazal. Bartender itu memberikannya dua botol Tequila sesuai permintaan Hazal.
"Oh shit !!" umpat Yafet.
Yafet segera membawa Hazal pulang, tetapi gadis itu masih mengoceh tak karuan, kadang tertawa, kadang memarahi Yafet.
Sekitar pukul dua pagi, mereka telah sampai di apartemen. Yafet turun dari mobilnya dan hendak menggendong Hazal. Tetapi gadis itu menangkis tangan Yafet. "Lepaskan aku, jangan sentuh aku, aku bisa jalan sendiri."
Pria itu memilih diam, daripada dirinya harus meladeni kekasihnya yang sudah mabuk. Hazal berjalan sempoyongan. Yafet hendak menuntunnya agar Hazal tidak jatuh, tetapi gadis itu menolaknya.
Mereka berdua sampai di ruang apartemen, Hazal hampir saja menabrak meja karena kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung tangan Yafet segera menariknya dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kau sangat lucu, jika kau mabuk seperti ini."
"Hei kau salah, aku tidak mabuk... aku hanya terlalu bahagia."
Tiba-tiba Hazal merasakan perut nya bergejolak, ia menutup mulutnya seakan ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Yafet segera melepaskan pelukannya, dan ia menyuruh Hazal untuk segera ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Hazal memuntahkan semua isi perutnya di lubang kloset. Kepalanya terasa berat, ia tidak sanggup berdiri kemudian gadis itu terduduk di lantai kamar mandi.
__ADS_1
Yafet menunggu Hazal di ruang tamu, tetapi gadis itu tidak kunjung keluar dari kamar mandi. "Jangan-jangan dia terjatuh dan terluka," gumam Yafet yang segera berlari menuju kamar mandi.
Dibukanya pintu kamar mandi, di lihatnya Hazal yang duduk di lantai dengan wajah tak karuan dan kelopak mata yang hampir tertutup, "Berdirilah, apa kau ingin tidur di sini."
"Tempat ini sangat indah, lihatlah ada begitu banyak bintang di wajahmu."
"Kau sedang di kamar mandi sayang."
"Kau salah sayang, bukan sepuluh bintang yang ada di langit taman itu. Tapi aku melihat ada bintang tujuh di kepalamu. Bintang itu menari-nari mengelilingi kepalamu, kau seperti Popeye sayang." Hazal tertawa terpingkal-pingkal.
Yafet mendekati Hazal, "Kurasa aku harus menyadarkan mu."
Kemudian laki-laki itu menyalakan keran air kamar mandi. Air mengucur deras dari lubang shower yang ada di atas kepala Hazal. Gadis itu berteriak marah, karena kedinginan. Tetapi Yafet malah menertawakannya, dan memperbesar keran air tersebut.
Hazal memegang ujung bawah kaos Yafet dan menarik kaos itu sehingga Yafet terjatuh di dekatnya. Rambut dan tubuh Yafet basah terkena semburan air. Hazal balas menertawakannya. Pria itu mendengus kesal.
"Apakah kau senang kita main hujan-hujanan di sini?" tanya Hazal dengan suara manjanya.
"Kita tidak sedang main hujan-hujanan sayang, aku akan mematikan keran shower nya."
"Jangan, aku ingin menikmati hujan ini bersama dengan mu."
Hazal menarik kaos Yafet dan mulai mencium bibir kekasihnya itu lebih dulu. Terasa beberapa tetes air masuk ke dalam mulut mereka. Hazal mendorong leher belakang Yafet untuk mendekat padanya, sehingga membuat ciuman itu makin dalam.
Hazal dan Yafet saling memejamkan mata mereka, menikmati setiap permainan bibir mereka. Tiba-tiba tangan Hazal masuk ke dalam kaos Yafet, tangan gadis itu mengusap punggung, dada dan perut Yafet. Gadis itu menjadi sangat agresif ketika dirinya mabuk.
"Hazal, aku bisa gila menahan godaan mu ini. Aku laki-laki normal, kumohon jangan bangunkan singa jantan ini, sayang."
Yafet segera melepaskan ciuman mereka, kedua iris mata mereka saling memandang, menatap dengan sendu, kedua dada mereka naik turun tak karuan, dan nafas mereka saling memburu. Yafet memasukkan kedua tangannya di belakang leher Hazal, kemudian mencium bibir merah Hazal dengan panasnya. Tetapi permainan lidah Hazal makin lama makin melemah, dan tidak merespon ciuman Yafet. Pria itu segera melepaskan bibirnya dari bibir Hazal, dilihatnya Hazal yang sudah tertidur di pelukannya.
Kemudian Yafet menggendong Hazal dan merebahkannya di atas ranjang tempat tidur. Ditariknya selimut putih yang ada di tepi ranjang, hingga menutupi tubuh Hazal.
Yafet terduduk di samping Hazal yang sedang tertidur, ia mengusap kening dan rambut Hazal. Memandang wajah Hazal dengan lembut.
"Bagaimana jadinya jika kedua pria itu membawa mu pergi sayang, kenapa kau bisa mabuk seperti ini? Kau tahu Hazal, betapa sakitnya menahan godaan mu itu, entah sampai berapa lama aku bisa bertahan. Tapi aku janji padamu, aku takkan menyentuh mu sampai kita berdua menikah."
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ku ini. Setelah baca jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian ya...
Makasih 😘😘😘
__ADS_1