DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Pesta Lee dan Carina


__ADS_3

Angin malam mulai bersemilir, terasa menusuk ke tulang-tulang. Dengan pakaian yang terbuka di bagian lengannya, membuat Hazal terlihat kedinginan. Gadis itu bersin berkali-kali, kemudian ia mengajak Yafet untuk kembali pulang.


Yafet berdiri dari posisi duduknya, dan kembali berjongkok di depan Hazal. Laki-laki itu bersiap akan menggendong Hazal kembali. "Apa yang kau lakukan?" tanya Hazal.


"Naiklah ke punggung ku, aku akan menggendong mu sampai di mobil."


"Aku bisa jalan sendiri, lagipula kakiku juga sudah sembuh."


Yafet mendongakkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya, " Kau ini keras kepala sekali, lihatlah dirimu, apa kau akan berjalan tanpa alas kaki? Aku tidak ingin kaki mu terluka."


"Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi? Bahwa kau sangat perhatian padaku," ucap Hazal tersipu malu, kemudian ia memegang kedua pundak Yafet dan mengangkat kedua kakinya di atas paha Yafet. Ia tertawa dan tersenyum di balik punggung Yafet yang tegap. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya, menghadapi sikap keras kepala Hazal.


Pelan-pelan Yafet menegakkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju ke tempat parkir mobilnya. Hazal memeluk erat tubuh belakang Yafet, merasakan kehangatan dan aroma tubuh kekasihnya, dan kemudian mencium leher belakang laki-laki itu.


Yafet merasakan suatu benda kenyal dan lembut menyentuh lehernya, laki-laki itu tersenyum dan mendongakkan kepalanya ke atas. Langkah kaki Yafet berhenti di depan sebuah mobil berwarna hitam, kemudian ia membuka pintu depan mobilnya dan menurunkan Hazal. Gadis itu masuk dan duduk di dalam mobil.


Yafet mengambil botol air mineral yang ada di di belakang mobilnya, di tuangkan nya air mineral itu di kedua kaki Hazal. Dibasuhnya telapak kaki kekasihnya. Hazal sangat terkejut melihat apa yang telah di lakukan oleh Yafet. Tapi laki-laki itu memberi isyarat untuk diam dan jangan bertanya. Setelah kaki Hazal bersih dari tanah dan rumput-rumput, Yafet mengambil beberapa lembar tisu di dalam mobilnya dan dia mengeringkan telapak kaki tersebut. Dipasangkan nya kembali sepatu Hazal ke kaki cantik gadis itu.


"Selesai. Kaki mu sudah bersih."


Hazal memegang pipi Yafet dan memberikan senyuman manisnya, kedua iris mata coklatnya memandang dengan lembut kedua mata elang Yafet. Sesaat waktu berhenti berjalan. Diusapnya pipi kekasihnya itu dengan jemarinya yang lentik, bulu-bulu halus berbaris rapi di wajah tampan nya. Yafet memegang telapak tangan Hazal yang menyentuh wajahnya. Sebuah ciuman mendarat di pipi dan telinga Hazal.


"Kau tak perlu melakukan ini padaku, sayang. Kau membuatku seolah-olah aku adalah seorang tuan putri, dan kau adalah pelayan ku."


"Bagiku kau lebih dari sekedar tuan putri. Bagiku kau adalah sebuah berlian yang harus aku jaga untuk selamanya, dan aku tidak ingin berlian ku ini tergores sedikit pun."


"Malam ini kau punya stok kata-kata gombal yang banyak ya," kata Hazal dengan tawa renyah nya.


Yafet mendengus kesal, mendengar perkataan Hazal. Kekasihnya itu sudah menghancurkan momen romantis mereka. Ia pun segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil nya menuju ke apartemen.


Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di depan pintu apartemen, Yafet membuka pintu kayu itu. Terdengar suara tawa yang samar-samar dari balik pintu kayu tersebut.


"Carina... Lee... " sapa Yafet dan Hazal yang melihat kedua teman mereka itu sedang duduk bersama di atas sofa.


"Kemana saja kalian, kupikir setelah dari apartemen Nyonya Baxter kalian akan pulang ke apartemen?" tanya Lee yang memicingkan kedua matanya yang kecil, menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya, mencoba untuk menggoda pasangan kekasih itu. Tetapi kemudian ekspresi wajah nya berubah menjadi senyum dan tawa.

__ADS_1


"Kaki mu sudah sembuh Hazal?" tanya Carina yang melihat temannya itu sudah berdiri tegak dengan sepatu heels dan sudah bisa berjalan.


Hazal tertawa melihat ekspresi wajah Carina, kemudian ia menceritakan kejadian dirinya dan Yafet yang jatuh terguling di bukit kecil di taman tengah kota. Carina dan Lee tertawa mendengar cerita Hazal, membayangkan kejadian yang sebenarnya.


"Oh iya Carina, apa kau sudah memberitahu Lee tentang tawaran ku yang ingin membantumu melanjutkan studi mu di sini?"tanya Hazal yang duduk di sofa di samping Carina, membuat gadis Italia itu segera bergeser ke samping Lee. Yafet terkejut mendengar perkataan Hazal, raut wajah nya seakan mengatakan kenapa kau tidak menceritakan masalah ini padaku.


"Aku sudah memberitahu Lee tentang tawaran mu itu, dan....," ucap Carina yang menghentikan ucapannya sebentar.


"Dan apa? Kau menyetujui tawaranku kan? Betul kan Lee?" tanya Hazal yang memandang Carina dan Lee secara bergantian.


Tangan kiri Carina memegang tangan Hazal, "Maafkan aku Hazal, aku benar-benar tidak bisa menerima tawaran mu. Aku tahu kau sangat baik dan peduli padaku."


Hazal menatap sedih karena penolakan Carina dan menggelengkan kepalanya, "Tapi kenapa...?"


"Maaf aku menolak tawaranmu karena ini...," jawab Carina dengan senyumnya sambil menunjukkan sebuah cincin emas dengan desain yang simpel dan menarik yang melingkar di jari tangan kanannya. Hazal dan Yafet nampak terkejut melihat cincin yang dikenakan oleh Carina.


"Carina...," ucap Hazal yang memeluk Carina dan memberikan ucapan selamat kepada temannya itu. Dua pasang manik mata itu terlihat berkaca-kaca, mereka mengusap air mata yang mengalir membasahi wajah mereka.


"Kau harus menceritakan padaku bagaimana pria Jepang itu melamar mu," bisik Hazal di telinga Carina yang disambut tawa oleh kedua gadis itu. Ketika Carina menceritakan lamaran Lee kepada dirinya, Yafet menghampiri Lee dan memberikan sebuah minuman kaleng bersoda. Kedua pria itupun berjalan menjauh dari tempat duduk Hazal dan Carina.


Yafet mengucapkan selamat untuk teman Jepangnya itu, kemudian Lee balas memeluk Yafet. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, jika bukan karena dirimu yang menyulut emosiku waktu itu, mungkin aku tidak akan punya keberanian untuk menjalin komitmen dengan seorang wanita."


"Hei, jangan mengejekku... lihatlah dirimu !! Bukankah kau juga sama, takluk pada musuh masa kecilmu, bukankah itu sangat menyedihkan?" ejek Lee dan membuat kedua pria itu tertawa dan meneguk minuman kaleng mereka sampai habis.


"Seperti nya kau harus merayakan hal ini, kapan kau akan mentraktir kami?" tanya Yafet kepada Lee dengan mengangkat kedua alis matanya.


Lee tertawa mendengar permintaan Yafet, "Baiklah, aku akan membuat kalian senang malam ini."


Pria Jepang itu mengambil ponselnya dan menghubungi club' malam yang menjadi langganan mereka. Ia memesan satu ruang VVIP untuk malam ini.


"Aku dan Carina akan menunggu kalian di sana, kau hubungi Jason dan David. Aku berangkat sekarang."


Lee menggandeng tangan Carina, dan mengajak gadis itu keluar dari apartemen Yafet.


Satu jam kemudian, mereka sudah berada di ruang VVIP, ruang berbentuk persegi yang kedap suara. Di ruangan itu hanya terdapat beberapa buah sofa yang berwarna merah, meja kaca berwarna hitam berbentuk persegi panjang dan sebuah home teather. Sebuah pintu kayu terbuka, membuat suara-suara dentuman musik yang ada di luar masuk terdengar. Seorang pelayan pria masuk ke dalam ruangan itu dan membawa minuman pesanan mereka.

__ADS_1


David mengambil sebotol Wine dan mengocoknya dengan keras, kemudian dibukanya botol minuman beralkohol itu, cairan merah segar menyembur keluar dan mengeluarkan bunyi asap di udara. Pria itu menuangkan cairan merah itu ke beberapa gelas yang ada di depannya dan memberikannya kepada teman-temannya.


"Ayo kita bersulang untuk Lee dan Carina." Mereka semua mengangkat gelas masing-masing dan melakukan toast.


"Cheers...."


Setelah mereka selesai bersulang, kemudian Lee mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia dan Carina akan pergi ke Australia dua hari lagi. Mungkin malam ini adalah malam terakhir dirinya berkumpul dengan mereka semua.


"Hazal, maafkan aku. Aku dan Carina hanya bisa membantumu sampai di sini. Karena saat ini kakakku sedang sakit keras di Melbourne. Jadi dengan berat hati, aku meninggalkan kalian semua. Jason, David, Yafet kalian adalah teman, sahabat dan saudara yang sangat berarti bagiku. Kita bertemu di kampus yang sama, sebagai orang asing, kalian mau menerima ku dan berteman dengan ku. Terkadang jalan pikiran kita berbeda, tapi aku sangat senang bisa menjadi bagian dari kalian. Jika kalian ada waktu, kunjungi kami di Melbourne, Australia."


"Aku mengerti Lee. Kumohon jaga Carina baik-baik. Jangan kecewakan dirinya," ucap Hazal sambil memeluk Lee.


Semua orang yang ada di ruangan itu benar-benar di buat sedih dengan perkataan Lee. Kedua mata mereka berkaca-kaca. Sebentar lagi Lee akan meninggalkan mereka, entah besok giliran siapa yang akan meninggalkan kumpulan empat sekawan ini. Keempat laki-laki ini saling berpelukan, mereka menyadari suatu hari nanti mereka harus berpisah dan kembali ke tempat asal mereka. Tetapi di manapun kelak mereka berada, persahabatan mereka masih tetap terjalin.


Hazal menghampiri Carina dan memeluk gadis itu. Mereka saling menangis bersama-sama. Hazal menatap wajah Carina, air mata gadis itu meleleh, "Sesaat aku merasakan bahwa aku memiliki teman sekaligus saudara perempuan. Tetapi sesaat itu juga, dia diambil dari ku. Aku pikir... kita akan selalu bersama, berbagi suka dan duka bersama dengan mu. Tapi jika ini adalah jalan dan kehidupan yang terbaik untukmu, maka aku mengikhlaskan kepergian mu. Berbahagialah di sana dengan laki-laki yang kau cintai dan mencintaimu."


Carina mengusap air mata Hazal, dengan sesegukan gadis itu berkata, "Terima kasih Hazal, kau mau menjadi temanku. Aku yang semula selalu putus asa, selalu merasa diriku tidak berharga, dan tidak punya harapan. Tapi kau mau menerimaku, kau mau berteman dengan ku, bahkan kau mau menjadi saudaraku. Aku... aku sangat bahagia Hazal. Belum pernah aku merasakan hal seperti ini, di manusia kan oleh orang lain. Kau benar-benar sangat berarti bagi ku Hazal. Tetaplah seperti ini, tetaplah menjadi saudara dan sahabat terbaikku. Meskipun sebentar lagi kita akan berpisah, tapi aku akan selalu merindukan mu. Kau juga... harus bahagia bersama dengan Yafet. Kekasihmu ini sangat mencintaimu dan rela berkorban untukmu. Aku dan Lee akan menunggu kabar baik dari kalian. Dan semoga pembunuh orang tua mu segera ditemukan dan di hukum."


Kedua gadis itu kembali berpelukan, keempat pria yang mendengar perkataan dua gadis itu ikut hanyut dalam perasaan sedih mereka.


"Kau telah memisahkan kedua gadis itu, lihatlah bagaimana mereka menangis," ucap Jason menepuk pundak Lee. Pria Jepang itu juga merasakan bagaimana dekatnya hubungan Carina dan Hazal, meskipun mereka baru saja bertemu.


"Daripada kita semua menangis di dalam, mari kita rayakan pesta perpisahan ini di luar dengan gembira," seru Jason kepada teman-temannya.


"Ide baik... aku sudah lama tidak bergoyang dengan gadis-gadis di sini," ucap David yang segera keluar dari ruang VVIP tersebut.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel ku ini. Jangan lupa setelah membaca kasih...


🤗Like


🤗Rate bintang lima


🤗 Komentar kalian dan

__ADS_1


🤗Vote kalian ya...


Makasih 😘😘


__ADS_2