DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Sebuah Anak Kunci


__ADS_3

Di Rumah Sakit


Yafet dan Nuran segera berlari menuju ke ruang resepsionis. Mereka menanyakan keberadaan seorang anak kecil yang bernama Ali Baxter. Suster mengatakan bahwa memang benar ada pasien kecil yang bernama Ali Baxter dan dia adalah korban kecelakaan mobil.


"Ali......." Nuran berteriak memanggil nama anaknya. Kemudian ia dan Yafet berlari menuju ke ruang UGD. Di ruangan itu nampak seorang anak kecil yang sedang berbaring lemah tak berdaya, penuh dengan kucuran darah di mana-mana. Nuran hendak mendekati anaknya, tetapi di cegah oleh suster yang menjaga ruangan itu.


"Apa kalian keluarganya?" tanya suster yang sudah kelihatan berumur.


"Ya, aku ibunya. Bagaimana kondisi anakku, suster?"


"Anak Nyonya harus segera di operasi, ia banyak mengeluarkan darah."


"Lakukan operasi sekarang, suster. Kumohon selamatkan nyawa anak ku," ucap Nuran sambil memohon dengan isak tangisnya.


"Mohon Nyonya segera mengurus biaya operasi di bagian administrasi terlebih dahulu," ucap suster dengan wajah datarnya.


Nuran berjalan menuju ke bagian administrasi yang ada di lantai dua rumah sakit. Tanpa ia sadari, Yafet mengikutinya dari belakang. Petugas administrasi memberikan rincian biaya yang harus ia bayar untuk operasi anaknya.


"Apa? Kalian ingin merampokku !! Kenapa biayanya mahal sekali !!" pekik Nuran kepada petugas administrasi dan melemparkan satu lembar kertas itu ke wajah petugas yang ada di depannya.


"Nyonya, segera lunasi biaya operasi ini, jika anakmu ingin segera ditangani oleh dokter."


Wajah Nuran pucat pasi, tubuh nya gemetar dan merosot ke bawah. Ia terduduk di lantai rumah sakit. Ia tidak punya banyak uang saat ini. Ted tidak pernah memberikannya uang sepeser pun sejak mereka menikah, setiap bulannya ia hanya mengandalkan uang sewa dari rumah mertuanya. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mencoba menghubungi suaminya.


"Halo," kata Ted dengan suara baritonnya.


"Ali...Ali ada di rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan. Aku... aku membutuhkan uang untuk membayar operasinya." Perkataan Nuran penuh dengan getaran.


"Bagaimana kau ini? Kau yang tak becus menjaganya, dan sekarang kau minta uang padaku ??!?!"


"Ted, dia adalah anakmu. Kau ayahnya. Apakah kau akan membiarkan dia mati?" Nuran memohon belas kasihan pada suaminya.


"Aku tidak punya uang, urus saja sendiri anakmu !!"


"Ted...." Nuran tidak melanjutkan perkataannya karena suaminya telah menutup ponselnya.


Nuran semakin menangis histeris, bagaimanapun ia harus menyelamatkan nyawa anaknya. Ia tak mau kehilangan anak semata wayangnya. Meskipun Ali lahir di dunia ini karena kesalahannya, tapi anak itu berhak untuk hidup. Tapi ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa, sementara dirinya sudah tidak punya banyak waktu, anaknya itu harus segera di operasi.


Tatapan matanya kosong. "Ali...Ali...Ali..." Ia terus mengucapkan nama anaknya sambil membenturkan kepalanya di dinding rumah sakit.


Yafet yang melihat kejadian itu, benar-benar tidak habis pikir, "Manusia macam apa kau, Ted Baxter !!"


Yafet berjalan menuju ke meja administrasi. Ia meminta rincian biaya rumah sakit atas nama Ali Baxter kepada petugas. Setelah di lihatnya beberapa digit angka yang tertera di kertas itu, ia mengeluarkan kartu bank miliknya dan memberikannya kepada petugas.


"Aku akan melunasi tagihan ini, segera lakukan operasi pada anak itu. Apabila ada yang kurang, hubungi saja aku," ucap Yafet kepada petugas administrasi.


Kemudian petugas administrasi itu memberikan satu lembar bukti pelunasan biaya operasi kepada Yafet. Ia memberikan bukti pelunasan itu kepada Nuran.


"Anakmu akan segera di operasi. Simpan ini baik-baik."


Nuran berhenti membenturkan kepalanya. Nampak ada noda hijau kebiruan di dahinya karena benturan itu. Kedua manik matanya yang berair memandangi wajah Yafet dan kertas yang ada di tangan laki-laki itu. Pandangannya tertuju pada sebuah stempel yang berwarna ungu, yang bertuliskan LUNAS.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini? Apa kau hendak membohongiku ?"


"Jika kau tak percaya, pergilah ke ruang operasi. Pasti saat ini anakmu sedang di operasi."


Tanpa banyak perdebatan, Nuran segera menuju ke ruang operasi. Ia bertanya kepada salah seorang suster yang baru saja keluar dari ruang operasi, tentang kebenaran bahwa anaknya ada di dalam. Suster mengiyakannya. Ia pun menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ayahnya saja tidak peduli akan hidup matinya, tapi kau...kau.. hanyalah orang asing, kenapa....kenapa...kau membantu kami?" ucap Nuran dengan isak tangisnya.


Yafet mengeluarkan beberapa lembar tisu yang baru saja ia minta kepada petugas administrasi. Ia memberikan tisu itu kepada Nuran. Kemudian wanita itu mengusap matanya dengan tisu pemberian Yafet.


"Jika aku mengatakan, kalau semua ini karena kemanusiaan. Mungkin kau akan menganggap ku orang yang naif," kata Yafet sambil memandang pintu ruang operasi yang masih tertutup.


"Setelah anakku sembuh, aku akan mengganti semua uangmu."


"Aku tidak ingin menerima uangmu."


Nuran memandang Yafet sambil mengernyitkan dahinya, "Ya... aku tahu, kau adalah anak orang kaya. Uang sebanyak itu tidak berarti bagimu dan keluargamu. Baiklah... katakan dengan apa aku harus mengembalikan uangmu ?"


"Katakan saja dengan jujur kepadaku, dimana suamimu berada. Maka aku akan menganggap lunas hutang mu padaku," ucap Yafet yang balas memandang Nuran.


"Sudah aku katakan berulang kali, aku tidak tahu dimana Ted sekarang berada !!" bentak Nuran yang sudah mulai emosi.


"Oke.... baiklah," ucap Yafet berusaha mengalah sedikit. Ia ingin memberi waktu kepada Nuran untuk berpikir.


Beberapa waktu kemudian, Yafet mengajak Nuran untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi. Ia memberikan foto Ted dan potongan artikel surat kabar tentang kejadian dua belas tahun yang lalu di Pegunungan Alpen kepada wanita itu.


"Apa maksudmu dengan memberikan ini padaku?" tanya Nuran sambil membaca potongan artikel surat kabar tersebut.


"Kau menuduh suamiku yang melakukan pembunuhan ini?"


"Seorang temannya yang bernama Max yang memberitahuku. Tapi sayang, temannya itu meninggal karena luka tembak. Seseorang telah membunuhnya."


Nuran menghela nafasnya dalam-dalam, iris matanya berputar memandangi langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Ia mengatupkan mulutnya untuk beberapa saat lamanya. Yafet tidak ingin memaksanya atau mengejar pernyataannya, karena ia ingin membuat wanita itu merasa nyaman dengan kehadirannya.


Belum sempat wanita itu berbicara, lampu merah itu telah padam. Tanda operasi telah selesai di lakukan. Seorang dokter laki-laki keluar dari ruang operasi. Nuran dan Yafet berdiri, wanita itu langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana kondisi anakku?"


"Operasinya telah berhasil, tetapi pasien belum sadarkan diri. Suster akan memindahkannya ke kamar inap."


"Apa aku boleh melihatnya, dokter?"


"Silahkan, Nyonya."


Kemudian dokter itu pun pergi meninggalkan Nuran dan Yafet. Dengan berlari Nuran menuju ke kamar inap anaknya. Yafet mengekornya dari belakang.


Setelah melihat kondisi anaknya yang masih berbaring lemah, wanita itu duduk di ruang tunggu di luar. Yafet memilih duduk di sampingnya.


"Sejak awal aku tahu kau bukanlah temannya Ted. Siapa kau sebenarnya?"


"Aku adalah anak yang orang tuanya telah dibunuh oleh suamimu." Yafet terpaksa membohongi Nuran demi keselamatan Hazal.

__ADS_1


Cairan kristal bening itu mengalir membasahi kedua pipi Nuran, dengan cepat ia mengusap cairan itu, dengan lirih ia berkata, "Kau benar, Ted mampu melakukannya, karena ia adalah pembunuh bayaran."


Yafet terkejut mendengar perkataan wanita itu, ternyata Ted bukanlah montir atau orang biasa.


"Apa dia pernah mengatakan hal ini padamu?" tanya Yafet.


Kemudian Nuran menceritakan kisah yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya kepada Yafet. Tanpa Nuran sadari, Yafet menyalakan alat perekam pada ponselnya.


Sebelas tahun yang lalu


Nuran dan Ted adalah tetangga, letak rumah mereka berdekatan. Di suatu malam, hujan turun dengan sangat lebat. Ibunya yang saat itu sedang sakit paru-paru terjatuh dari tempat tidurnya, ia mencoba menghubungi dokter, tetapi saluran telepon rumahnya sedang ada gangguan karena adanya hujan badai di daerah itu.


Dengan rasa panik yang luar biasa, ia keluar rumah mencari pertolongan. Padahal malam itu cuaca sangat dingin. Tidak ada satupun tetangga yang bisa ia temui, mereka sudah masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Kemudian dilihatnya Ted yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, ia pun segera bergegas mengetuk pintu rumah laki-laki itu.


Tak perlu menunggu lama, Ted membuka pintu rumahnya. Ia melihat kondisi Ted yang kacau dan bau alkohol yang menyengat. Tapi ia tak menghiraukannya, yang terpenting ia meminta bantuan Ted dan ibunya bisa segera di bawa ke rumah sakit. Tetapi sebelum ia berbicara, Ted yang melihat baju yang dikenakannya basah kuyup karena hujan segera menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumahnya.


Ia berteriak minta tolong tetapi Ted malah mencengkeram tangannya dengan sangat kuat. Ia mencoba melepaskan tangannya, tetapi tenaga Ted lebih kuat. Laki-laki itu menariknya hingga ke dalam kamarnya. Dalam keadaan mabuk, Ted mengatakan bahwa dirinya telah membunuh seorang pengusaha dan keluarganya di Swiss. Laki-laki itu juga mengatakan bahwa itu bukanlah keinginannya, tetapi ia harus membalas budi kepada seseorang dengan melakukan pekerjaan kotor orang itu.


Belum hilang rasa takutnya, dengan cepat Ted merobek semua pakaian nya dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Malam itu Ted telah mengambil kesuciannya. Setelah melakukan hal biadap itu, Ted tertidur pulas di sampingnya. Sementara dirinya menangis di dalam kamar, di saat ibunya membutuhkan pertolongan darinya, pria setan itu telah menodai dirinya. Beberapa bulan kemudian dirinya hamil.


Dia meminta Ted untuk menikahinya, tetapi awalnya laki-laki itu menolaknya. Kemudian dia mengadukan perbuatan Ted kepada Nyonya Baxter dan tentang pembunuhan yang di lakukan oleh putranya itu. Atas desakan ibunya, akhirnya Ted menikah dengannya.


Yafet mematikan alat perekam yang ada di ponselnya setelah Nuran selesai berbicara.


"Apa kau punya pengakuan Ted?" tanya Yafet pada Nuran.


Nuran mengeluarkan kalung yang melingkar di lehernya, sebuah anak kunci kecil tergantung di kalung emas tersebut. Ia memberikan anak kunci itu kepada Yafet.


"Pergilah ke rumahku, bukalah karpet merah yang ada di ruang tengah. Bukalah lantai kayu itu, maka kau akan menemukan sebuah kotak kecil di dalamnya. Buka kotak itu dengan kunci ini, ada sebuah benda kecil berwarna putih yang akan kau temukan. Aku menyimpan pengakuan Ted di dalam benda putih itu. Jika sesuatu terjadi padaku atau pada Ali, gunakan benda itu untuk menjebloskan Ted ke dalam penjara."


"Anggaplah ini pengganti uang yang sudah aku bayarkan untuk membiayai operasi anakmu, Nuran," ucap Yafet yang memegang anak kunci tersebut.


Yafet pun berdiri dan hendak meninggalkan Nuran, tetapi tiba-tiba Nuran bertanya padanya, "Kenapa kau membantu anak Ted ? Anak dari seorang pembunuh yang telah membunuh orang tuamu?"


"Ayahnya yang bersalah, bukan anaknya. Ali tidak harus menanggung dosa ayahnya." ucap Yafet sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan Nuran. Wanita itu mengerti maksud kata-kata Yafet.


โค๏ธBersambungโค๏ธ


Terimakasih sudah mampir dan membaca novelku ๐Ÿค—


Jangan lupa kasih....


๐Ÿค— Like


๐Ÿค— Rate bintang lima


๐Ÿค— Komentar dan


๐Ÿค— Vote kalian ya...


Terimakasih ๐Ÿ˜˜๐Ÿค—๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2